Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18. Sensasi Aneh
Dea berada dalam pelukan Elden.
Untuk beberapa detik, pria itu hanya menunduk, menatap wajah pucat yang berada begitu dekat dengannya. Tangannya masih menyangga tubuh Dea, memastikan perempuan itu tidak terjatuh.
Ada sesuatu yang terasa ganjil.
Kehangatan tubuh Dea, aroma lembut yang samar-samar diingatnya, dan keberadaan perempuan itu dalam rengkuhannya menghadirkan perasaan nyaman yang sulit dijelaskan.
Elden mengerutkan kening.
'*Apa-apaan ini*?'
Ia membenci perempuan ini. Bahkan sangat membencinya. Seharusnya, menyentuh Dea saja sudah cukup membuatnya muak, tetapi mengapa justru ada bagian dalam dirinya yang enggan melepaskan perempuan itu?
Belum sempat ia menemukan jawabannya, Dea tersentak.
Matanya terbuka dengan sangat lebar. Begitu menyadari siapa yang sedang memeluknya, seluruh tubuhnya menegang. Napas yang baru saja mulai teratur kembali tercekat di tenggorokan.
'*Tidak. Jangan dia. Jangan orang itu lagi*.'
Dea meronta sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri dari pelukan Elden.
“Jangan sentuh aku!”
Suaranya pecah. Tangannya mendorong dada pria itu hingga Elden terpaksa melonggarkan pegangannya.
Dea segera bangkit dengan gerakan terburu-buru. Kakinya sempat goyah, tetapi ia tidak peduli. Ia beringsut mundur hingga punggungnya hampir menyentuh dinding koridor.
“Jangan mendekat!”
Kedua tangannya terangkat di depan dada, menjadi perisai antara dirinya dan pria yang berjongkok kurang satu meter di hadapannya.
Dea menggeleng berkali-kali.
'*Tidak. Aku tak mau kembali ke sana*.'
Namun, semakin keras ia berusaha mengusir ingatan itu, semakin jelas semuanya terasa. Suara dingin Elden pada malam pernikahan mereka. Tatapan penuh kebencian itu. Rasa sakit yang dahulu membuatnya memohon agar pria itu berhenti.
Dan yang paling menyakitkan, tidak seorang pun mendengarkan permohonannya.
Jari-jari Dea mulai bergetar. Ia mengepalkannya erat-erat, berusaha menghentikan getaran yang menjalar hingga ke pergelangan tangannya.
Ia menarik napas.
Ia mencoba melakukannya, tetapi udara seakan berhenti di tengah jalan. Dadanya terasa sesak. Setiap tarikan napas berikutnya justru terdengar semakin pendek dan terburu-buru.
Dea menunduk, berusaha memusatkan pandangan pada lantai.
'*Satu*.'
'*Dua*.'
'*Tiga*.'
Ia mencoba menghitung dalam hati, tetapi pikirannya terus kembali kepada pria di hadapannya.
Elden.
Orang yang menjadi suaminya selama beberapa jam. Pria yang membuatnya takut pada sentuhan, bahkan walau sentuhan itu tidak dimaksudkan untuk menyakitinya.
Dea menggeleng lagi. Air matanya mulai menggenang, tetapi ia buru-buru mengedipkannya. Ia tidak ingin menangis di hadapan pria itu. Ia tidak ingin Elden melihat betapa besar pengaruhnya terhadap hidup yang susah payah ia bangun kembali.
Namun, tubuhnya seolah tidak memedulikan keinginannya.
Lututnya masih lemas. Telapak tangannya dingin dan berkeringat. Bahkan suara langkah kaki orang-orang yang berlalu-lalang terdengar begitu jauh, seolah ia terpisah dari dunia di sekelilingnya.
Lalu, sebuah sensasi getaran samar terasa di bagian bawah perutnya.
Dea spontan menekan perut dengan satu tangan.
'*Jangan sekarang*.'
'*Tolong, jangan sekarang*.'
Pikirannya langsung tertuju pada kehidupan kecil yang sedang ia jaga.
'*Jangan, Nak. Jangan ikut merasakan ketakutanku*.'
Ia menelan ludah, berusaha mengatur napas yang masih tersengal.
'*Jangan mentang-mentang ada ayahmu di sini, kamu malah membuatku seperti ini*.'
Pikiran itu membuat dadanya semakin sesak.
Ayah anaknya berdiri tepat di hadapannya. Pria yang belum mengetahui keberadaan darah dagingnya sendiri. Pria yang, jika mengetahui kebenarannya sekarang, mungkin akan kembali merampas ketenangan yang sudah perjuangkannya.
'*Tidak*.'
Ia tidak boleh membiarkan itu terjadi.
Dea mengusap perutnya perlahan, menyembunyikan gerakan itu dengan tubuh yang sedikit membungkuk. Ia tidak tahu apakah sensasi tadi hanya akibat ketegangan yang melanda tubuhnya atau sesuatu yang lain. Ia hanya tahu bahwa ia harus menenangkan diri dan memastikan dirinya baik-baik saja.
Satu hal yang pasti: ia tidak akan membiarkan Elden mengetahui rahasia itu.
Kak Dea
Suara Ellea terdengar dari samping.
Perempuan itu menatap Dea dengan kening berkerut. Ia tidak pernah menyaksikan seseorang bereaksi sedemikian rupa hanya karena ditangkap saat hampir jatuh.
Dea bahkan tampak seperti sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada seorang manusia.
“Kak Eld—” Ellea menghentikan ucapannya, lalu mencoba mendekat setengah langkah. “Kak Dea, kamu dengar aku?”
Dea langsung tersentak. Tubuhnya sudah tak bisa bergerak lagi karena terhalang oleh dinding.
“Jangan!”
Ellea membeku. Ia segera mengangkat kedua tangannya, menunjukkan bahwa ia tidak berniat menyentuh Dea.
“Baik. Aku tidak akan menyentuhmu,” katanya pelan. “Aku hanya ingin membantumu.”
Namun, Dea masih menggeleng. Pandangannya bergerak gelisah, mencari jalan keluar dari koridor itu. Ia ingin pergi. Ia harus pergi sebelum pria itu kembali mendekat.
“Aku harus pergi,” bisiknya.
Suaranya nyaris tenggelam oleh napasnya sendiri.
“Kak, kamu baru saja hampir jatuh. Sebaiknya kamu menenangkan diri dulu dan—”
“Aku bilang, aku harus pergi!”
Kali ini suara Dea terdengar lebih keras, tetapi ujungnya bergetar. Ia sendiri terkejut mendengar suaranya meninggi.
Ellea terdiam.
Di belakangnya, Elden mengamati semua itu dengan rahang mengeras.
bersambung
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella