NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Dewi

Sistem Penakluk Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERJUMPAAN BERTOLAK BELAKANG

Panas matahari sore membakar pelataran parkir berlapis paving block di depan kafe 'Kopi Kala'. Cahaya keemasan membias silau di atas kap mesin sebuah mobil sedan sport putih mengilap yang terparkir menepi. Di samping mobil mewah itu, Clarissa berdiri dengan tubuh gemetar akibat kepanikan yang luar biasa.

Gadis bergaun krem itu mengaduk-aduk isi tas tangan kecilnya dengan gerakan makin liar. Tempat bedak, pemerah bibir, kunci mobil, dan parfum mahal terlempar berantakan ke atas kap mobil. Raut wajah cantiknya yang tadi dipenuhi amarah kini berubah pucat pasi.

"Mana sih?! Kok nggak ada?!" jerit Clarissa frustrasi seraya menepuk-nepuk tas tangannya yang sudah kosong melompong.

Suaranya yang melengking membuat beberapa pejalan kaki yang melintas di tepi jalan raya sempat menoleh heran. Clarissa membungkuk kasar, membuka pintu pengemudi mobilnya, lalu menggeledah sela-sela jok kulit tanpa memedulikan gaun mewahnya yang kini tergesek pintu. Seluruh kartu identitas, kartu kredit tanpa batas, serta uang tunai jutaan rupiah untuk acara sosialnya malam ini mendadak lenyap begitu saja.

Saat gadis itu berbalik dengan mata berkaca-kaca menahan tangis kejengkolan, langkah kakinya mendadak terhenti kaku.

Seorang pemuda berdiri berjarak dua meter di hadapannya. Pemuda itu mengenakan kaus polos kusam yang agak longgar, celana jins lamanya yang pudar di bagian lutut, serta sepatu kain yang tampak usang. Di tangan kanannya yang agak kotor oleh sisa tinta pulpen, pemuda itu menggenggam sebuah dompet lipat kulit berwarna merah marun.

Clarissa membelalakkan matanya, merapikan posisinya dengan dagu terangkat tinggi. Tatapannya meneliti Enzo dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan penuh prasangka dan penghinaan yang tidak disembunyikan.

"Lu mau ngapain mendekat?" sembur Clarissa ketus, suaranya sarat dengan nada ancaman yang sengaja dibuat-buat demi menutupi ketakutannya. "Ngapain lu pegang-pegang dompet gue?!"

Enzo tidak membalas tuduhan kasar itu dengan amarah. Pemuda itu tetap berdiri stabil di posisinya, menatap lurus ke dalam mata Clarissa dengan pandangan datar dan membumi.

"Ini dompet lu, kan?" tanya Enzo tenang seraya mengulurkan dompet merah marun itu ke depan. "Ketinggalan di celah sofa kafe tempat lu duduk tadi."

Clarissa tertegun sejenak. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebagai ucapan terima kasih, gadis itu melangkah lebar dan menyambar dompet mewahnya dari tangan Enzo dengan gerakan sangat kasar.

"Mana sini!" seru Clarissa tajam seraya mengusap permukaan kulit dompetnya secara berlebihan, seolah-olah dompet itu baru saja disentuh oleh sesuatu yang kotor.

Dengan jemarinya yang lentik, Clarissa langsung menarik resleting utama dompetnya. Gadis itu menghitung tumpukan uang kertas merah di dalam slot utama dengan gerakan cepat, lalu memeriksa satu per satu kartu kredit keemasan yang berjejer rapi di selongsong porselen.

Enzo memandangi tingkah Clarissa dalam diam, membiarkan gadis kaya itu menuntaskan kecurigaannya tanpa memotong sedikit pun.

Setelah memastikan bahwa seluruh uang tunai delapan juta setengah rupiah dan empat kartu kreditnya masih utuh tanpa berkurang selembar pun, Clarissa bukannya merasa lega atau berterima kasih. Sebaliknya, rasa malu yang mendadak menyengat dadanya justru memicu pertahanan diri yang sangat defensif. Dagu Clarissa makin terangkat tinggi, matanya menatap Enzo dengan binar curiga yang amat pekat.

"Lu... lu belum sempat buka kan?" tembak Clarissa dengan nada tuduhan yang sengaja ditinggikan. "Atau lu sebenarnya udah ngambil beberapa lembar pas di dalam kafe tadi?"

Enzo menghembuskan napas panjang lewat hidungnya. Pemuda itu menyilangkan kedua tangannya di dada, tetap tenang menghadapi sikap arogan gadis di hadapannya.

"Hitung aja sendiri," jawab Enzo datar, suaranya sangat lugas dan tanpa intonasi tinggi. "Kalau lu merasa uang lu kurang selembar atau ada kartu yang hilang, silakan panggil satpam kafe sekarang juga. Kita cek sama-sama."

Jawaban Enzo yang dingin, jujur, dan sama sekali tidak gentar membuat Clarissa tersentak pelan. Biasanya, orang-orang berstatus sosial rendah yang ia temui akan langsung membungkuk hormat, berbicara manis, atau tampak gugup saat berhadapan dengannya. Namun, pemuda di hadapannya ini menatapnya lurus tanpa ada rasa minder, canggung, apalagi rasa silau terhadap mobil mewah di belakangnya.

Clarissa menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Rasa canggung yang membakar pipinya membuat gengsi gadis itu makin melonjak tinggi. Ia tidak mau merasa berutang budi pada seorang pemuda biasa yang pakaiannya lusuh.

Dengan gerakan cepat, Clarissa membuka kembali dompetnya, menarik tiga lembar uang seratus ribuan dari tumpukan tunainya, lalu menyodorkannya secara kasar ke dada Enzo.

"Nih! Ambil!" perintah Clarissa dengan nada memerintah yang dingin. "Gue kasih lu uang terima kasih tiga ratus ribu. Ambil ini terus lu pergi dari sini. Gue nggak mau punya utang jasa sama orang kaya lu!"

Enzo melirik tiga lembar uang kertas merah yang disodorkan tepat di depan dadanya. Bagi seorang pemuda yang tadi pagi harus memutar otak demi sewa kontrakan, uang tiga ratus ribu rupiah itu tentu sangat berarti. Namun, menukar kejujurannya dengan uang imbalan dari seorang gadis yang menganggap semua hal bisa dibeli dengan materi terasa sangat merendahkan harga dirinya.

Enzo tidak menggerakkan tangannya sedikit pun untuk menyentuh uang tersebut.

"Gue mengembalikan dompet lu karena itu memang milik lu," kata Enzo dengan nada suara yang sangat rendah, tegas, dan membumi. "Bukan karena gue nyari uang tips dari lu."

Clarissa membelalak kaget. Jemarinya yang memegang uang tiga ratus ribu rupiah itu membeku di udara. "Apa-apaan sih lu?" desis Clarissa kesal seraya melipat tangannya. "Semua orang juga butuh duit! Nggak usah sok suci deh! Kemeja lu aja lusuh kaya gitu, paling uang tiga ratus ribu ini setara gaji lu seminggu!"

Kata-kata tajam yang diluncurkan Clarissa bertujuan untuk melukai harga diri Enzo agar pemuda itu terpojok. Namun, Enzo justru menatapnya dengan raut wajah santai yang memancarkan kedewasaan.

"Gue emang butuh uang," sahut Enzo jujur tanpa ada rasa malu sedikit pun. "Tapi gue cuma mau ambil uang dari hasil keringat kerjaan gue sendiri, bukan dari belas kasihan atau uang imbalan orang lain."

Kalimat polos itu menghantam Clarissa tepat di dadanya. Gadis kaya yang terbiasa mengukur segala sesuatu dengan nilai rupiah itu mendadak kehilangan kata-kata. Tidak ada kepalsuan, tidak ada kebohongan manis, dan tidak ada usaha untuk menyenangkan hatinya dari pemuda di hadapannya. Enzo berdiri tegak di atas prinsipnya sendiri, memandang Clarissa bukan sebagai putri pengusaha kaya, melainkan sekadar sebagai seorang gadis pemarah yang sedang kehilangan arah.

Enzo membalikkan badannya tanpa menunggu balasan lagi dari Clarissa. Ia menyusupkan kedua tangannya ke dalam saku celana jins lamanya, melangkah tenang menyusuri pelataran parkir menuju arah trotoar jalan raya.

"Woi! Lu mau ke mana?!" teriak Clarissa dari belakang, suaranya bergetar antara canggung, kesal, dan kebingungan yang amat sangat. "Gue belum selesai ngomong ya!"

Enzo tidak menoleh sedikit pun. Langkah kakinya tetap berirama teratur, meninggalkan Clarissa yang berdiri mematung sendirian di samping mobil mewahnya dengan gengsi yang terkoyak hebat.

Saat Enzo menapak di trotoar bawah naungan pohon peneduh jalan, ponsel tua di saku celananya bergetar halus dua kali secara berurutan.

Enzo merogoh benda itu, membukanya di bawah temaram sinar sore. Layar retak itu menampilkan antarmuka Sistem Penakluk Dewi dengan pendar teks berwarna putih terang.

[Pembaruan Data Target: Clarissa (20 Tahun)]

[Status Interaksi: Pengembalian Benda Tanpa Imbalan.]

[Analisis Respon Target: Benturan Gengsi & Kebingungan Emosional. Target mengalami disonansi kognitif akibat penolakan materi yang belum pernah ia alami sebelumnya.]

[Tingkat Keterikatan Awal Terdeteksi: 10%]

[Catatan Sistem: Topeng kekayaan target telah tergores oleh ketegasan sikap Anda.]

Enzo menyunggingkan senyum tipis seraya memasukkan ponsel tuanya kembali ke dalam saku. Udara sore yang mulai dingin menyapa kulit wajahnya saat ia berjalan menuju halte angkutan umum, siap menyongsong malam di kamar kontrakannya yang sederhana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!