NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cinta

Dua Wajah Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Raka merapikan berkas-berkas di atas meja ballroom saat jarum jam menunjukkan pukul enam malam.

Rapat maraton dengan para kolega bisnis baru saja usai.

Namun, kelelahan fisik Raka menguap begitu saja; pikirannya masih dipenuhi rasa kopi yang sangat akrab di lidahnya serta rasa penasaran yang membakar dada.

Saat Raka hendak melangkah keluar dari ruangan, sebuah langkah kaki yang sengaja diperberat terdengar mengarah padanya.

Praduta mendekat ke arah Raka. Seringai dingin dan provokatif kembali bertengger di wajah adik tirinya itu.

Dengki dan intrik jelas memancar dari balik tatapan matanya yang penuh rasa penasaran akan gerak-gerik Raka sedari tadi.

"Meeting-nya sangat mengesan ya, Kak?" ujar Praduta dengan suara pelan yang sarat akan intimidasi, memotong jalan Raka.

"Tapi aku perhatikan, konsentrasimu sama sekali tidak ada di dalam ruangan ini. Ada apa? Apa bayangan Gladys masih terus mengejarmu sampai ke Jawa Tengah ini?"

Raka menghentikan langkahnya, menegakkan bahunya, lalu menatap Praduta dengan tatapan dingin sekeras baja.

"Urus saja urusanmu sendiri, Praduta," balas Raka datar namun menusuk.

"Dan, berhenti menjual nama Gladys untuk menutupi ketakutanmu."

Praduta tertawa kecil, melipat kedua tangannya di dada.

"Ketakutan? Kenapa aku harus takut? Aku sudah memiliki segalanya—Devandra Corp, kekayaan Papa, dan tempat Gladys berpulang. Kamu yang datang ke sini tanpa membawa apa-apa, Kak."

Raka menahan gejolak emosi di dadanya. Ia tidak ingin lagi terpancing emosi seperti tadi pagi di pelataran parkir.

Mengingat pesan rahasia dari Pak Minto yang menyebutkan bahwa ucapan Praduta adalah kebohongan besar, Raka kini tahu Praduta hanya sedang memanjakan ego kosongnya.

"Kita lihat saja nanti," bisik Raka tepat di samping telinga Praduta saat ia menerobos melewatinya.

"siapa yang pada akhirnya akan kehilangan segalanya."

Praduta mengepalkan tangannya rapat-rapat saat Raka melangkah meninggalkannya menuju area lobi.

Dalam hatinya, Praduta merasa ada yang tidak beres—terutama saat mengingat reaksi Raka sewaktu meminum kopi acara tadi.

Di tempat lain, di dalam ruko yang mulai tenang, Bima telah merapikan diri dan bersiap untuk berangkat ke hotel.

Sebelum melangkah keluar, ia menemui Gladys yang sedang duduk santai di meja makan.

"Bu, saya berangkat dulu ya ke hotel buat bayar ganti rugi mobil," pamit Bima sopan.

Gladys mendongak dan tersenyum tipis. "Iya, hati-hati di jalan, Bim. Oh ya, nanti kalau sudah selesai, bawa lagi buku harianku ya, jangan sampai ketinggalan di sana."

"Siap, Bu!" jawab Bima sigap sambil menepuk tas selempangnya.

Setelah Bima pergi, Gladys kembali duduk seorang diri, menikmati sepiring nasi goreng sederhana buatan tangannya sendiri sambil merenungkan hari yang melelahkan ini.

Sementara itu di hotel bintang lima, Bima baru saja tiba dan memarkirkan mobil pengantar di area parkir.

Ia melangkah terburu-buru menuju ke lobi utama tempat ia berjanji akan menemui pemilik mobil yang ditabraknya.

Dari kejauhan, Raka yang sudah menunggu sejak tadi langsung melihat kedatangan pemuda tersebut. Raka melambaikan tangannya untuk memberikan tanda.

"Mas yang menabrak mobil saya, kan?" sapa Raka begitu Bima tiba di hadapannya.

Bima menelan ludah, sedikit menciut di hadapan aura karismatik Raka.

"I-iya, Pak. Benar."

"Mari, kita duduk di restoran hotel sambil ngopi sebentar," ajak Raka ramah namun tetap tegas.

Bima menganggukkan kepalanya gugup dan mengekori Raka menuju area restoran outdoor hotel yang tenang.

Begitu mereka duduk, seorang pelayan menghampiri, dan Raka memesan dua cangkir kopi hitam hangat untuk mereka berdua.

Bima merogoh tas selempangnya, berniat mengeluarkan uang ganti rugi dari dalam buku harian Gladys.

Namun, saat ia menarik buku harian itu keluar dengan agak tergesa-gesa, selembar foto tercetak di dalamnya terselip jatuh dan melayang turun ke lantai tepat di bawah meja.

Bima tidak menyadarinya. Ia langsung membuka buku harian, mengambil dua lembar uang pecahan seratus ribu, dan menyerahkannya kepada Raka.

"P-Pak, ini uang ganti rugi dari bos saya dua juta rupiah," ucap Bima gemetar.

Raka menerima uang tersebut, menghitungnya sekilas, lalu meletakkannya di atas meja.

"Terima kasih, Mas. Lain kali kalau parkir lebih berhati-hati."

Tak lama kemudian, pesanan kopi mereka tiba. Raka dan Bima sama-sama menyeruput kopi hangat di hadapan mereka.

Rasa kopi hitam itu kembali mengingatkan Raka pada racikan Gladys, membuat dadanya bergemuruh aneh.

Merasa urusannya sudah selesai dan tidak enak berlama-lama dengan pria berwibawa di depannya, Bima segera berdiri.

"Pak, kalau begitu saya permisi dulu ya, mau langsung pulang," pamit Bima.

"Silakan, hati-hati di jalan, Mas," balas Raka singkat.

Bima berbalik dan melangkah cepat meninggalkan meja restoran, sama sekali tidak menyadari ada selembar foto tertinggal di lantai.

Beberapa detik setelah Bima berlalu, seorang pelayan hotel yang membereskan meja di sebelah mereka menunduk untuk memungut sesuatu yang jatuh di dekat kursi Bima.

Pelayan itu mengerutkan kening, lalu berjalan cepat menyusul Raka yang baru saja bangkit dari duduknya hendak kembali ke kamar.

"Pak, tunggu!" panggil sang pelayan dengan suara agak nyaring.

Raka menghentikan langkahnya dan berbalik. "Ada apa?" tanya Raka heran.

Pelayan itu mengulurkan telapak tangannya, memperlihatkan secarik foto polaroid lama yang agak kusam.

"Bukankah foto ini milik bapak? Jatuh dari meja tadi."

Raka menautkan alisnya, menatap bingung. "Maksud kamu?"

"Iya, orang yang tadi duduk bersama bapak menjatuhkan ini. Yang ada di foto ini, bukankah bapak?" tanya pelayan itu memastikan.

Raka merendahkan tangan dan mengambil foto di telapak tangan sang pelayan.

Seketika itu juga, dunia di sekitar Raka seolah berhenti berputar.

Matanya langsung membelalak lebar hingga nyaris keluar dari soketnya. Napasnya tercekat keras di tenggorokan.

Di dalam foto itu, terpampang wajah Raka yang sedang tersenyum lebar, dirangkul hangat oleh seorang wanita berambut panjang dengan senyuman paling manis di dunia—istrinya, Gladys.

Foto itu adalah potret kenangan lama mereka berdua yang selama ini selalu disimpan Gladys di dalam buku hariannya.

"G-Gladys," desis Raka, air matanya langsung tumpah tanpa bisa ia bendung lagi.

Kesadaran menghantam telak kepalanya. Pemuda tadi, kopi, tulisan, semuanya terhubung! Gladys berada di kota ini! Istrinya benar-benar ada di dekatnya!

Tanpa memperdulikan tatapan orang-orang di sekitar, Raka berbalik dan berlari kencang menerobos lobi hotel menuju area parkir.

"Tunggu! Mas! Tunggu!" teriak Raka histeris saat melihat mobil pengantar yang dikemudikan Bima baru saja melaju kencang meninggalkan gerbang hotel, membawa serta harapan terbesarnya yang meluncur pergi menjauh ke dalam gelapnya malam.

Raka berlari kembali ke dalam lobi dengan jantung yang menderu hebat.

Tanpa membuang waktu lagi, ia mencengkeram ponselnya dan menekan nomor telepon penabrak mobilnya—nomor yang selama ini ia kira milik Bima.

"Ayo angkat, Mas. Tolong angkat." bisik Raka penuh kepanikan, melangkah bolak-balik di lobi dengan napas memburu.

Sementara itu, di lantai dasar ruko, Gladys baru saja meletakkan piring bekas nasi gorengnya ke dalam bak cuci piring.

Tiba-tiba, suara dering ponselnya bergema nyaring di meja.

Gladys mendekat, menyeka tangannya yang basah dengan serbet, lalu mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat nama pemanggil.

"Halo, selamat malam," ucap Gladys ramah.

Di seberang saluran, Raka seketika membeku. Suara lembut yang teramat ia rindukan selama 365 hari terakhir mengalun begitu jernih di telinganya. Suara istrinya. Suara Gladys.

Raka tertahan, tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.

Tenggorokannya serasa tercekat oleh lelehan air mata yang mendadak menyeruak memenuhi pelupuk matanya.

"Halo? Ini siapa ya?" tanya Gladys lagi karena tidak mendengar sahutan dari seberang telepon.

Raka masih terdiam kaku, mengatupkan bibirnya rapat-rapat, merasai getaran emosi yang begitu hebat mencabik dadanya.

"Halo? Apa Anda mau memesan kopi atau donat untuk besok?" desak Gladys, mengira itu adalah pelanggan kafenya.

"Halo?"

Karena tetap tidak ada suara selain hembusan napas yang berat, Gladys menghela napas panjang dan berdecak kesal.

"Dasar iseng," gumam Gladys pelan, lalu memutus sambungan telepon tersebut secara sepihak.

Klik.

Ponsel di genggaman Raka perlahan turun. Air mata pria itu menetes membasahi pipinya, jatuh mengenai lantai keramik lobi hotel.

"Jadi benar. Kopi tadi memang buatan Gladys." bisik Raka parau dengan senyuman haru yang menyeruak di balik kepedihannya.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Raka berbalik arah dan berlari kencang menuju kantor sekretariat panitia acara di area ballroom.

Di sana, Pak Faris baru saja merapikan jasnya dan bersiap-siap untuk pulang.

Pria paruh baya itu tersentak kaget saat pintu ruangannya didobrak pelan dan Raka muncul dengan napas terengah-engah serta mata yang memerah.

"Ada apa, Pak Raka?" tanya Pak Faris bingung melihat penampilan pengusaha muda yang biasanya selalu tenang dan berwibawa itu kini terlihat sangat panik.

"Pak Faris. Apa Anda mempunyai alamat kafe atau supplier yang menyediakan kopi dan donat untuk acara ini?!" tanya Raka cepat, suaranya gemetar menahan desakan emosi.

Pak Faris mengedipkan matanya, sedikit heran, namun tetap merogoh saku kemejanya.

"Ada, Pak. Ini kartu namanya."

Pak Faris menyerahkan sebuah kartu nama minimalis berwarna cokelat muda.

Di sana tertera nama kafe beserta alamat lengkap rukonya.

"Memang ada apa, Pak Raka? Ada masalah dengan hidangannya?" tanya Pak Faris penasaran.

Namun Raka tidak sempat menjawab. Begitu jemarinya mencengkeram kartu nama itu, ia langsung berbalik dan berlari sekuat tenaga menuju pelataran parkir VVIP.

Raka menstarter mesin sedan hitamnya, menancap gas sekencang mungkin membelah kegelapan malam, menyusuri rute alamat yang tertera di kartu nama tersebut.

Sementara itu di dalam kamar VVIP lantai atas, Praduta sedang duduk santai sambil menyesap segelas wine, sama sekali tidak menyadari bahwa Raka kini telah memegang alamat rahasia keberadaan Gladys dan sedang bergerak cepat menjemput takdirnya.

1
nining cahyaningrum
akur jelas cerita bagud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!