**"Bagaimana jika seseorang yang ingin kau sembuhkan justru menjadi alasan hatimu sendiri terluka?"**
Setiap orang memiliki masa lalu yang ingin dilupakan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskan kenangan yang pernah membuatnya bahagia.
Begitu pula dengan seorang lelaki yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya. Di balik sikap dingin dan tatapan kosongnya, tersimpan sebuah kisah cinta yang belum selesai. Ia terus menunggu seseorang yang entah akan kembali atau tidak, seolah waktu berhenti sejak hari ketika ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Hingga suatu hari, seorang murid baru datang ke sekolahnya.
Gadis pendiam yang awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang itu tanpa sengaja menaruh rasa penasaran pada sosok lelaki yang selalu terlihat menyendiri.
"Aku datang karena pena dengan kisahmu. Namun tanpa sadar, aku justru ingin menjadi bagian dari kisah yang baru dalam hidupmu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bammoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji yang Tak Ditepati
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mobil yang ditumpangi Hikari akhirnya tiba di halaman rumah. Begitu kendaraan berhenti, Hikari segera mengambil tas yang berada di sampingnya. Sebelum turun, dia tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Pak Damar yang sudah mengantarnya pulang seperti biasa.
Selama perjalanan tadi, Pak Damar sempat memperhatikan plester kecil yang menempel di pipi Hikari. Awalnya pria itu hanya melirik sekilas, tetapi rasa khawatir membuatnya akhirnya bertanya apakah ada seseorang yang telah memukul atau mengganggu Hikari di sekolah. Pak Damar takut gadis itu mengalami masalah dengan teman-temannya, terlebih karena Hikari masih tergolong murid baru di sekolah tersebut.
Namun, Hikari segera menenangkan pria itu. Dia mengatakan bahwa luka di pipinya hanya disebabkan oleh kecerobohannya sendiri dan tidak ada seorang pun yang mengganggunya. Meskipun awalnya masih terlihat ragu, Pak Damar akhirnya menghela napas lega setelah mendengar penjelasan tersebut.
Hikari kemudian turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama. Baru beberapa langkah memasuki rumah, dia sudah disambut oleh Bi Sumi yang kebetulan sedang berada di ruang tengah. Perempuan paruh baya itu langsung menghampirinya ketika menyadari ada plester yang menempel di pipi Hikari.
"Ya ampun, Non! Pipi Non kenapa? Ada yang mukul, ya?" tanya Bi Sumi dengan wajah khawatir.
Hikari tersenyum kecil mendengar pertanyaan tersebut. Rupanya bukan hanya Pak Damar yang mengkhawatirkan keadaan pipinya. Dia kemudian memberikan jawaban yang sama, mengatakan bahwa dirinya hanya sedikit ceroboh sehingga tidak sengaja terluka. Bi Sumi yang mendengar penjelasan tersebut akhirnya bernapas lega, meskipun sesekali masih memperhatikan plester di wajah Hikari.
Sebelum Hikari meninggalkan ruangan, Bi Sumi sempat menawarkan makanan karena mengira gadis itu belum makan sejak pulang sekolah. Hikari menerima tawaran tersebut, tetapi meminta waktu untuk mengganti pakaian terlebih dahulu. Setelah itu, dia segera menaiki tangga menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Hikari meletakkan tas di atas meja belajar sebelum mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian yang lebih nyaman. Dia sempat berdiri di depan cermin untuk memperhatikan luka di pipinya. Memarnya memang tidak terlalu parah, tetapi bagian tersebut masih terasa sedikit nyeri ketika disentuh.
Tanpa sadar, pikirannya kembali pada kejadian di sekolah. Dia masih mengingat bagaimana pertengkaran antara Keiran dan Agatha berlangsung begitu panas. Semuanya bermula ketika Agatha mengatakan kata "pembunuh", yang entah mengapa langsung membuat Keiran kehilangan kendali. Hikari yang saat itu berusaha melerai justru tidak sengaja terkena pukulan laki-laki tersebut.
Hikari sebenarnya masih penasaran mengenai maksud perkataan Agatha. Dia tidak mengetahui mengapa satu kata tersebut bisa membuat Keiran begitu marah. Namun, karena merasa hal itu bukan urusannya, Hikari memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.
Setelah selesai berganti pakaian, Hikari kembali turun menuju dapur. Bi Sumi ternyata masih menyiapkan makanan, sehingga dia memutuskan menunggu sambil duduk di salah satu kursi meja makan. Untuk menghilangkan rasa bosan, Hikari mengeluarkan ponselnya dan mulai memeriksa beberapa pemberitahuan yang masuk.
Tidak ada sesuatu yang terlalu menarik. Sebagian besar pesan berasal dari grup kelas barunya yang sedang membahas tugas sekolah. Hikari hanya membaca sekilas sebelum kembali menggulir layar ponselnya tanpa tujuan.
Beberapa menit kemudian, Bi Sumi datang membawa makanan yang baru saja selesai dimasak. Hikari langsung tersenyum ketika melihat hidangan kesukaannya tersaji di atas meja. Dia segera menyantap makanan tersebut dengan lahap, sementara Bi Sumi sesekali mengajaknya berbicara mengenai kegiatan sekolah hari ini.
Setelah selesai makan, Hikari mengucapkan terima kasih sebelum kembali menuju kamarnya. Dia berniat beristirahat sebentar karena sore nanti masih memiliki janji dengan seseorang.
Keiran.
Mengingat nama tersebut membuat Hikari tanpa sadar tersenyum kecil. Laki-laki itu sebelumnya sudah berjanji akan mentraktirnya sebagai bentuk permintaan maaf atas kejadian di sekolah. Meskipun Hikari sebenarnya tidak mengharapkan imbalan apa pun, dia akhirnya menerima ajakan tersebut karena Keiran terlihat cukup bersungguh-sungguh.
Mereka sepakat bertemu di sebuah taman pada pukul setengah enam sore. Keiran sendiri yang menentukan waktu pertemuan tersebut, sehingga Hikari merasa tidak ada alasan untuk meragukannya.
Setelah memasang alarm agar tidak terlambat, Hikari merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia hanya berniat memejamkan mata sebentar untuk menghilangkan rasa lelah setelah seharian berada di sekolah. Namun, tanpa disadari, rasa kantuk membuatnya tertidur cukup pulas.
Waktu berlalu hingga akhirnya suara alarm dari ponselnya terdengar. Hikari perlahan membuka mata dan meraih benda tersebut dari atas meja kecil di samping tempat tidur. Ketika melihat waktu yang tertera di layar menunjukkan pukul 17.05, dia langsung bangkit dari kasur.
Hikari segera merapikan rambutnya dan mengambil barang-barang yang diperlukan. Dia tidak ingin datang terlambat, terlebih karena pertemuan tersebut merupakan permintaan Keiran sendiri.
Setelah memastikan penampilannya sudah cukup rapi, Hikari segera keluar kamar dan menuruni tangga dengan langkah tergesa-gesa.
"Bi, aku keluar dulu, ya!" serunya dari arah ruang tengah.
Bi Sumi yang berada di dapur hanya membalas dengan mengatakan agar Hikari berhati-hati. Gadis itu kemudian keluar rumah dan mengambil sepeda yang biasa digunakannya untuk bepergian ke tempat yang tidak terlalu jauh.
Hikari segera mengayuh sepedanya meninggalkan halaman rumah. Angin sore menerpa wajahnya, membuat beberapa helai rambutnya bergerak mengikuti arah angin. Sesekali dia mempercepat kayuhannya ketika mengingat waktu yang semakin mendekati pukul setengah enam.
Sebenarnya, jarak antara rumah dan taman tempat mereka berjanji untuk bertemu tidak terlalu jauh. Hikari hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk sampai ke sana. Namun, entah mengapa, perjalanan sore itu terasa sedikit lebih lama dari biasanya.
Sejak siang tadi, Hikari memang beberapa kali memikirkan pertemuan tersebut. Dia bertanya-tanya apakah Keiran hanya ingin mentraktirnya atau masih memiliki sesuatu yang ingin dibicarakan mengenai kejadian sebelumnya.
Hikari berharap pertemuan mereka berlangsung dengan baik. Bagaimanapun, dia tidak ingin terus merasa canggung setiap kali bertemu Keiran di sekolah. Terlebih setelah laki-laki itu secara langsung meminta maaf dan mengakui kesalahannya.
Setelah beberapa menit mengayuh sepeda, akhirnya Hikari sampai di taman yang dimaksud. Dia segera turun dan menuntun sepedanya menuju tempat parkir yang berada tidak jauh dari pintu masuk.
Suasana taman sore itu masih cukup ramai. Beberapa anak kecil terlihat bermain di sekitar area permainan, sementara sejumlah pengunjung duduk menikmati udara sore di bangku-bangku yang tersedia. Hikari mengedarkan pandangannya, berusaha mencari sosok Keiran di antara orang-orang yang berada di sana.
Namun, dia tidak menemukannya.
Hikari kemudian memeriksa waktu melalui ponselnya. Jam menunjukkan pukul 17.24, yang berarti dirinya memang datang beberapa menit lebih awal. Karena itu, dia memutuskan duduk di salah satu bangku panjang yang berada di bawah pohon besar sambil menunggu kedatangan Keiran.
Awalnya, Hikari tidak merasa keberatan. Dia justru menikmati suasana taman sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang. Sesekali dia membuka ponselnya untuk memeriksa pemberitahuan, kemudian kembali memasukkannya ke dalam saku.
Lima menit berlalu, kemudian sepuluh menit. Hikari kembali melihat jam yang kini sudah menunjukkan pukul 17.36. Keiran masih belum terlihat, tetapi Hikari berusaha berpikir positif. Mungkin laki-laki itu sedang berada di perjalanan atau mengalami sedikit keterlambatan.
Dia memutuskan untuk menunggu lebih lama.
Namun, waktu terus berjalan tanpa ada tanda-tanda kedatangan Keiran. Keramaian taman perlahan mulai berkurang, sementara langit yang sebelumnya cerah mulai berubah menjadi jingga keabu-abuan. Hikari yang sejak tadi duduk dengan tenang mulai merasa gelisah.
Pandangannya berulang kali tertuju pada pintu masuk taman. Setiap kali melihat seseorang dengan postur tubuh menyerupai Keiran, dia akan sedikit menegakkan duduknya. Namun, setelah memperhatikan lebih jelas, orang tersebut ternyata bukan laki-laki yang sedang ditunggunya.
Hikari kembali membuka ponselnya.
17.58.
Hampir setengah jam berlalu sejak waktu yang mereka sepakati. Hikari mulai bertanya-tanya apakah Keiran melupakan janji mereka. Padahal, laki-laki itu sendiri yang menentukan tempat dan waktu pertemuan tersebut.
Hikari sebenarnya ingin menghubungi Keiran untuk memastikan apakah laki-laki itu masih akan datang. Namun, dia baru teringat bahwa dirinya bahkan tidak memiliki nomor telepon Keiran.
Hal tersebut membuat Hikari semakin bingung. Dia tidak tahu harus menghubungi siapa untuk menanyakan keberadaan laki-laki itu. Sempat terlintas keinginan untuk meminta bantuan Neta, tetapi Hikari segera mengurungkan niat tersebut karena tidak ingin membuat masalah sederhana ini menjadi semakin rumit.
Akhirnya, Hikari hanya bisa menunggu sambil terus memperhatikan orang-orang yang memasuki taman. Setiap kali melihat seseorang dengan postur tubuh menyerupai Keiran, dia selalu berharap bahwa orang tersebut adalah laki-laki yang sedang ditunggunya. Namun, harapannya terus berakhir dengan kekecewaan.
Waktu terus berjalan hingga langit mulai berubah gelap. Hikari yang sejak tadi duduk di bangku taman mulai merasa gelisah. Sesekali dia memeriksa jam di ponselnya, kemudian kembali memperhatikan pintu masuk taman, berharap Keiran segera muncul.
Jam sudah menunjukkan pukul 18.20. Hampir satu jam berlalu sejak waktu yang mereka sepakati, tetapi laki-laki itu masih belum terlihat. Hikari sebenarnya ingin menghubunginya untuk memastikan apakah dia masih akan datang. Namun, dia kembali teringat bahwa dirinya bahkan tidak memiliki nomor telepon Keiran.
Hal tersebut membuat Hikari semakin bingung. Dia tidak tahu harus menghubungi siapa untuk menanyakan keberadaan laki-laki itu. Sempat terlintas keinginan untuk meminta bantuan Neta, tetapi Hikari segera mengurungkan niat tersebut karena tidak ingin membuat masalah sederhana ini menjadi semakin rumit.
Akhirnya, Hikari hanya bisa menunggu sambil terus memperhatikan orang-orang yang memasuki taman. Setiap kali melihat seseorang dengan postur tubuh menyerupai Keiran, dia selalu berharap bahwa orang tersebut adalah laki-laki yang sedang ditunggunya. Namun, harapannya terus berakhir dengan kekecewaan.
Ketika waktu menunjukkan pukul 18.47, Hikari akhirnya memutuskan pulang. Dia sudah menunggu lebih dari satu jam tanpa mendapatkan kepastian apa pun. Perasaan kecewa mulai memenuhi pikirannya, terlebih karena Keiran sendiri yang membuat janji tersebut.
Hikari berdiri dari bangku, kemudian merapikan pakaiannya sebelum mulai berjalan menuju tempat parkir sepeda. Langkahnya terasa lebih berat dibandingkan ketika pertama kali datang.
Sesekali dia masih menoleh ke belakang, seolah berharap Keiran tiba-tiba muncul dan memanggil namanya. Namun, sampai Hikari tiba di tempat parkir, tidak ada seorang pun yang datang menghampirinya.
Hikari kemudian mengambil sepedanya. Untuk beberapa saat, dia hanya berdiri sambil memperhatikan jalanan yang mulai dipenuhi cahaya lampu kendaraan.
Perasaan kecewa kini benar-benar memenuhi pikirannya.
Bukan karena Keiran tidak jadi mentraktirnya. Sejak awal, Hikari bahkan tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Dia hanya menerima ajakan itu karena menganggap Keiran memang bersungguh-sungguh ingin meminta maaf.
Namun, setelah apa yang terjadi sore ini, Hikari mulai meragukan kesungguhan laki-laki tersebut.
Jika memang tidak berniat datang, mengapa Keiran harus membuat janji?
Pertanyaan itu terus berputar dalam pikirannya, tetapi tidak ada jawaban yang bisa ditemukannya.
Akhirnya, Hikari menaiki sepeda dan mulai mengayuh meninggalkan taman. Perjalanan pulang terasa begitu berbeda dibandingkan ketika berangkat. Jika sebelumnya dia merasa cukup bersemangat, kini wajahnya terlihat murung dan pandangannya hanya tertuju pada jalanan.
Angin malam menyentuh pipinya yang masih tertutup plester. Hikari sedikit meringis ketika tanpa sengaja menyentuh bagian tersebut. Rasa nyeri kecil itu kembali mengingatkannya pada kejadian di sekolah, terutama ketika Keiran meminta maaf dengan wajah yang terlihat begitu menyesal.
Hikari sebenarnya ingin percaya bahwa permintaan maaf laki-laki itu memang tulus. Namun, kejadian sore ini membuatnya merasa seolah sudah terlalu mudah mempercayai seseorang yang belum benar-benar dikenalnya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, Hikari akhirnya sampai di rumah. Dia segera menyimpan sepedanya sebelum berjalan menuju pintu utama.
Suasana rumah terlihat cukup tenang. Bi Sumi yang sedang merapikan meja makan langsung menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka. Perempuan itu menyambut Hikari seperti biasa, kemudian menanyakan apakah gadis tersebut sudah makan malam.
"Belum, Bi. Tapi aku masih kenyang. Nanti aja, ya," jawab Hikari pelan.
Bi Sumi memperhatikan wajah Hikari yang terlihat berbeda dari biasanya. Gadis itu tampak tidak bersemangat, bahkan senyum yang biasanya menghiasi wajahnya kini hampir tidak terlihat.
"Non kenapa? Kok kelihatannya murung?"
Hikari sedikit terdiam sebelum menggeleng.
"Nggak apa-apa, Bi. Cuma capek."
Bi Sumi sebenarnya masih ingin bertanya, tetapi akhirnya memilih tidak melanjutkannya. Dia hanya mengingatkan Hikari agar segera turun jika nanti merasa lapar. Hikari mengangguk sambil mengucapkan terima kasih sebelum menaiki tangga menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Hikari menutup pintu perlahan dan meletakkan ponselnya di atas meja. Dia kemudian merebahkan tubuhnya di kasur sambil menatap langit-langit kamar.
Kejadian sore tadi terus berputar dalam pikirannya.
Hikari merasa sedikit bodoh karena sudah menunggu begitu lama. Bahkan ketika hari mulai gelap, dirinya masih berharap Keiran akan datang. Padahal, sejak awal tidak ada kepastian bahwa laki-laki itu benar-benar sedang menuju taman.
Dia memiringkan tubuhnya dan menarik bantal ke dalam pelukan. Matanya kemudian tertuju pada ponsel yang tergeletak tidak jauh darinya.
Untuk beberapa saat, Hikari masih berharap bisa mengetahui alasan Keiran tidak datang. Namun, dia tidak memiliki cara untuk menghubungi laki-laki tersebut. Mereka bahkan belum pernah bertukar nomor telepon.
"Kalau nggak mau datang, kenapa harus janji?" gumamnya lirih.
Hikari menghela napas panjang. Dia tidak ingin terlalu memikirkan kejadian tersebut, tetapi rasa kecewa membuatnya sulit mengalihkan perhatian.
Padahal, dia sudah berusaha menerima permintaan maaf Keiran dan menganggap kejadian di sekolah sebagai sesuatu yang tidak disengaja. Hikari bahkan berharap mereka bisa kembali berbicara seperti biasa tanpa harus merasa canggung setiap kali bertemu.
Namun, sekarang dia justru tidak tahu harus bersikap bagaimana jika bertemu Keiran lagi.
Di tengah lamunannya, Hikari tiba-tiba teringat perkataan Neta mengenai Fio. Sahabatnya itu sempat mengatakan bahwa Fio merupakan salah satu teman yang cukup dekat dengan Keiran.
Hikari sebenarnya sudah memiliki beberapa pertanyaan mengenai laki-laki tersebut, terutama setelah melihat bagaimana Keiran bersikap ketika pertengkaran terjadi di sekolah.
Dia masih penasaran dengan kehidupan pribadi Keiran, termasuk apakah laki-laki itu sudah memiliki pacar atau belum. Entah mengapa, pertanyaan sederhana tersebut sempat terlintas dalam pikirannya sejak kejadian di sekolah.
Hikari juga masih mengingat ucapan Agatha yang mengatakan kata "pembunuh" hingga membuat Keiran begitu marah. Namun, dia tidak ingin terlalu jauh mencampuri masalah yang tidak diketahuinya.
Mungkin jika memiliki kesempatan, dia bisa menanyakan beberapa hal kepada Fio.
Setidaknya, gadis itu mungkin lebih mengenal Keiran dibandingkan dirinya.
Hikari kembali meletakkan ponselnya di meja, kemudian menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya. Rasa lelah setelah seharian beraktivitas perlahan mulai terasa, meskipun pikirannya masih belum sepenuhnya tenang.
Dia memutuskan untuk tidak lagi memikirkan Keiran malam ini. Menurutnya, menunggu lebih dari satu jam di taman sudah cukup melelahkan. Dia tidak ingin terus menghabiskan waktunya hanya untuk memikirkan seseorang yang bahkan tidak datang menepati janjinya.
Jika Keiran memang memiliki alasan, biarlah laki-laki itu sendiri yang menjelaskannya nanti.
Hikari tidak ingin terus-menerus menunggu sesuatu yang belum tentu datang.
Sebelum memejamkan mata, dia sempat melirik jam di ponselnya untuk terakhir kali. Hari sudah semakin malam, tetapi pikirannya masih dipenuhi kejadian sore tadi.
Hikari kemudian memalingkan wajahnya dan berusaha tidur.
Mungkin besok dia akan bertemu Keiran di sekolah. Jika itu terjadi, Hikari ingin mendengar langsung alasan laki-laki tersebut tidak datang ke taman.
Namun, untuk saat ini, dia masih menganggap Keiran telah mengingkari janjinya.
Hikari sama sekali tidak mengetahui bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi pada laki-laki tersebut. Sesuatu yang mungkin bisa menjelaskan mengapa Keiran tidak datang menemuinya.
Dan ketidaktahuan itulah yang membuat Hikari mengakhiri malam dengan perasaan kecewa.