Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Jarum jam tangan Bima bergeser tepat ke angka enam sore.
Perlahan, ia bangkit dari kursi kafe itu, meninggalkan meja di sudut ruangan tempatnya tadi puas mengamati gerak-gerik musuhnya.
Langkah kakinya terasa begitu ringan menuruni eskalator mal yang membawanya menuju lantai dasar.
Rasa panas di dadanya kini sedikit mereda, terbayar separuh, tetapi api pembalasan ini masih jauh dari kata padam.
Masih ada babak-babak mengerikan berikutnya yang sengaja ia siapkan khusus untuk menyiksa keluarga Hendra perlahan-lahan.
Bima memesan taksi online untuk membawanya kembali ke paviliun tempat tinggalnya yang tenang dan tersembunyi dari hiruk-pikuk kota.
Duduk di kursi belakang taksi, tatapannya menerawang ke luar jendela, menikmati kerlip lampu kota yang mulai menyala satu persatu menembus temaram senja.
"Ayah, Rina, dan Kevin... nikmati malam pertama kalian sebagai gelandangan jalanan," batin Bima, diwarnai senyum kepuasan yang terukir di sudut bibirnya.
Deritan halus mesin mobil mengantar Bima meluncur mulus, meninggalkan kawasan perumahan elit yang kini tinggal kenangan pahit bagi musuhnya.
Tanpa sadar, pikirannya melayang menembus lorong waktu, kembali pada masa-masa kelam saat ia tertahan di bawah atap rumah mewah penuh kepalsuan itu.
Setiap jengkal sudut ruangan di istana megah tersebut menyimpan memori getir serta siksaan batin yang menguras air mata.
Statusnya sebagai darah daging Hendra sama sekali tidak berarti; ia diperlakukan tak lebih dari seorang pesuruh rendahan di rumah sendiri.
Jangankan kasih sayang, setiap kali hari raya tiba, pakaian baru yang dijanjikan ayah kandungnya selalu jatuh ke pelukan Kevin seorang.
Ia hanya mampu menggigit bibir dari balik celah pintu kamar yang sempit, menyaksikan Rina dan Kevin tertawa lepas merayakan kebahagiaan di ruang keluarga.
"Sekarang, tawa meremehkan itu telah berubah menjadi ratapan keputusasaan," gumam Bima dingin dalam hati.
Luka lama yang bernanah itu seolah disiram air sejuk tatkala ia menyaksikan pemandangan menyedihkan di pinggir jalan tadi sore.
Tak lama berselang, armada taksi yang membawanya memelankan laju dan berhenti tepat di mulut gang paviliun tempat tinggalnya.
Dengan gestur santai, ia merogoh saku dan membayar tarif perjalanan kepada sang pengemudi disertai senyum tipis yang ramah.
"Terima kasih banyak, Bang," ucap Bima sopan sambil menyerahkan selembar uang pecahan seratus ribu rupiah.
"Sama-sama, Mas, silakan turun," balas sopir taksi ramah sembari mengulurkan uang kembalian.
Bima mendorong pintu mobil, lalu melangkah tenang menyusuri gang sempit yang jauh dari deru bising kendaraan.
Suara jangkrik malam menyambut kedatangannya, bersahut-sahutan memecah keheningan di sekitar halaman belakang paviliun.
Jemarinya mendorong gerbang besi kecil, lalu membawanya berjalan mantap menuju kamar paviliun nomor tiga yang menjadi tempat peristirahatan amannya.
Klotak...
Suara besi gembok yang terbuka berderit nyaring, memecah kesunyian malam yang mulai merayap.
Ia mendorong daun pintu kayu kamarnya lebar-lebar, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan minimalis tersebut.
Tangannya meraba saklar lampu dinding, menyalakannya hingga temaram hangat menerangi ruangan, tempat ia lantas menaruh tas kecilnya di atas meja kerja sederhana.
Atmosfer di dalam kamar ini selalu berhasil menghadirkan rasa tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota besar yang melelahkan.
Sekalipun ukurannya sederhana, tempat ini menyimpan kedamaian sejati yang tak pernah ia temukan di rumah mewah milik Hendra yang sarat kepalsuan.
Bima membiarkan tubuhnya jatuh merebah di atas kasur empuk, melepaskan napas panjang lewat helaannya yang terasa begitu lega.
Raga lelahnya terasa remuk setelah seharian penuh memantau detik-detik kehancuran harta benda musuhnya dari kejauhan.
Namun, rasa penat itu seolah sirna seketika, tertelan oleh gelombang kepuasan batin yang menghujam relung jiwanya.
"Besok, aku harus mulai mengeksekusi langkah kedua untuk mencengkeram kendali penuh atas perusahaan itu," batin Bima dengan tatapan tajam dan penuh perhitungan.
Akuisisi saham minoritas kemarin hanyalah pemanasan kecil dari rangkaian badai kehancuran yang telah ia rancang matang.
Target utamanya adalah duduk sebagai pemegang saham mayoritas mutlak, lalu menendang Hendra keluar secara tidak hormat dari kursi dewan komisaris untuk selamanya.
Di tengah keheningan, layar ponsel di atas meja mendadak menyala, menampilkan nama Pak Hartawan di deretan panggilan masuk.
Bzzrt...
Tanpa buang waktu, Bima menggeser ikon hijau, mengangkat sambungan dari sekutu tua yang kini berdiri di sisinya.
"Halo, Bima, apa kamu sudah mendengarkan kabar burung yang sangat menarik sore ini?" sapa Pak Hartawan dengan nada antusias dari ujung sambungan.
"Saya bahkan menyaksikan detik-detik kejatuhan itu secara langsung, Pak," jawab Bima tenang diiringi senyum penuh kemenangan.
"Luar biasa! Seluruh jajaran direksi dan komisaris lama kini gempar membicarakan kebangkrutan total perusahaan Hendra," seru Pak Hartawan diiringi tawa renyah penuh kepuasan.
"Mereka pasti tidak akan pernah menduga bahwa dalang di balik kehancuran mutlak ini adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahun," puji Pak Hartawan terkagum-kagum.
"Ini baru babak pembuka, Pak Hartawan. Masih ada kejutan yang jauh lebih mematikan menanti mereka minggu depan," balas Bima dengan suara dingin berwibawa.
"Bagus sekali. Aku akan pasang badan mendukungmu dari dalam untuk memuluskan jalannya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa nanti," jamin Pak Hartawan mantap.
"Terima kasih atas loyalitas dukungannya, Pak. Mari kita pastikan riwayat Hendra benar-benar tamat," kata Bima menutup rangkaian percakapan.
"Baiklah, sampai jumpa di pertemuan penting kita berikutnya," balas Pak Hartawan sebelum mengakhiri sambungan.
Pip...
Layar ponsel pun gelap, meninggalkan kamar paviliun dalam keheningan malam yang pekat.
Bima meraih lampu meja, mematikannya, lalu merebahkan diri untuk menyambut istirahat malam.
Ia memejamkan kelopak matanya dengan damai di tengah pekatnya malam yang merengkuh kamarnya.
Kontras dengan kedamaian itu, di luar sana, keluarga Hendra terpaksa meringkuk di atas bangku keras taman kota dengan selimut angin malam yang menusuk tulang.
Keluarga yang dulunya angkuh dan toksik itu kini merasakan langsung betapa kejamnya roda kehidupan ketika harta serta kekuasaan dirampas habis.
Dan sialnya bagi mereka, penderitaan malam ini hanyalah prolog dari neraka abadi yang telah dirajut oleh Bima.
Waktu merayap semakin larut, sementara embusan angin malam semakin menggila membekukan sendi-sendi di sudut taman tempat keluarga Hendra berlindung.
Hendra duduk meringkuk menyedihkan di atas bangku kayu publik, memeluk erat kedua lututnya demi mencari sedikit kehangatan tubuh yang nihil.
"Bagaimana bisa hidup kita hancur lebur dalam sekejap mata seperti ini...?" rintih Hendra putus asa dengan suara bergetar hebat.
Di sisi lain bangku, Rina menangis sesenggukan tanpa henti, membiarkan air mata kepedihan membasahi pipinya yang kuyu.
"Semua ini gara-gara Ayah! Kenapa semalam Ayah begitu bodoh menandatangani surat perjanjian sialan itu tanpa membaca isinya?!" bentak Rina kalap, melampiaskan amarah pada sang suami.
"Kalau aku menolak menandainya, perusahaan sudah ludes disita sejak siang tadi! Pilihannya tetap sama saja hancur!" balas Hendra tak kalah sengit, membentak nyaring di tengah malam buta.
Sementara itu, Kevin yang terbaring kedinginan di atas rumput taman beralaskan jaket tipis hanya bisa mengerang lemah.
"Perutku perih, Pa... dari siang tadi aku belum memasukkan makanan apa pun ke mulut," rengek Kevin dengan suara parau nyaris tak terdengar.
"Uang sepeser pun kita tidak punya di dompet, Kevin! Memangnya kita mau beli makanan pakai apa?!" teriak Hendra frustrasi, melampiaskan kekesalannya pada sang anak tiri.
Kevin mendengus jengkel, membuang muka ke arah jalan raya yang masih dilintasi kendaraan mewah milik orang-orang beruntung.
Di bawah temaram lampu jalan yang redup, mereka bertiga terus-menerus saling melempar kesalahan dalam gulita malam tanpa satu pun orang yang sudi peduli.
Topeng senyuman palsu serta pameran kemewahan harta benda yang biasa mereka unggah di media sosial kini musnah tak bersisa.
Ratusan relasi bisnis Hendra dan kawan-kawan sosialita Rina kompak memblokir nomor telepon mereka seketika begitu berita kebangkrutan ini meledak.
Nyatalah sudah betapa rapuhnya tahta kekuasaan dan kekayaan duniawi ketika seseorang terhempas ke titik paling dasar jurang kemiskinan.
Dan di tempat terpisah yang jauh dari penderitaan itu, Bima terlelap pulas dengan sisa senyum kemenangan yang masih menghiasi bibirnya.
Hari ini resmi tercatat sebagai lembaran paling membahagiakan dalam hidupnya sejak kepergian sang ibunda tercinta untuk selamanya.