Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.
Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.
Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.
Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.
Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.
Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAN ADA AKU!
Hening kembali merayap di dalam ruangan yang tak begitu luas itu. Cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip di sudut kamar memantulkan bayangan panjang ke dinding kayu, menyoroti raut wajah setiap orang di sana—mereka yang kini terikat oleh benang takdir yang teramat ganjil dan tak masuk akal.
Shen Munchen masih terpaku, menatap lurus pada benda tipis di tangan Xiao Luo. Pendar cahaya redup dari layar ponsel pintar itu menerangi matanya, menyisakan duka yang teramat dalam: perpaduan antara keterkejutan mental, kebingungan tingkat tinggi, dan sisa-sisa kepedihan atas kepergian Xin Nian yang belum sepenuhnya kering.
Merasa situasinya mulai mereda, Xiao Luo menarik pelan ponselnya. Ia menekan tombol kunci hingga layar benda itu kembali gelap gulita, lalu memasukkannya ke dalam saku celana.
"Sudah kubilang, Tuan Jenderal. Aku ini turis dimensi yang nyasar, bukan mata-mata, dan jelas bukan arwah gentayangan istri Anda," ujar Xiao Luo dengan nada melunak, berusaha mencairkan ketegangan yang membeku di udara.
Ia menunduk, menatap Shen Yu Jin yang mulai menguap kecil dalam gendongannya. "Nah, sepertinya si kecil ini sudah mengantuk. Bibi Ma, ada air panas? Bisa tolong buatkan semangkuk bubur untuk Yu Jin?"
Bibi Ma dan istri Xin Meng Ye, yang baru saja kembali dari dapur dengan nampan berisi teko teh hangat dan mangkuk kosong, langsung mengangguk cepat.
"Ah, iya, Nona Xiao. Silakan dinikmati tehnya dulu selagi hangat," ucap Bibi Ma sopan sambil meletakkan nampan di atas tikar jerami. Setelah itu, ia bergegas kembali ke dapur untuk menyiapkan bubur bagi Shen Yu Jin.
Tuan Xin menatap Shen Munchen, memecah keheningan yang kembali mendera.
"Munchen... apa berita itu benar?" tanyanya serius.
"Berita tentang apa?"
"Bahwa kau bekerja sama dengan pihak musuh. Beritanya simpang siur. Saat persidangan, Jenderal Zhou menyebutkan bahwa di tengah perang, kau berkhianat dan membantu musuh melawan pasukan sendiri. Setelah itu, ia bertarung melawanmu hingga kau terluka, lalu menyeretmu ke barak musuh."
Shen Munchen mendengus dingin, rahangnya mengeras. "Itu bohong besar. Dia memutarbalikkan fakta. Dialah yang sebenarnya menyerahkan peta pertahanan kepada musuh, membuat kami harus kehilangan ribuan prajurit. Dia juga yang meracuniku."
"Racun? Kau terkena racun? Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Sudah membaik. Aku sempat koma selama tiga bulan. Untungnya ada tabib ajaib yang menyelamatkanku."
"Jadi, itu sebabnya kau menghilang tanpa kabar?"
"Benar."
"Lalu, bagaimana dengan berita pernikahanmu dengan putri kerajaan Barat itu? Apakah itu juga bohong?"
"Tentu saja bohong."
"Biadab! Manusia-manusia itu benar-benar bajingan!" geram Tuan Xin geram.
"Sebenarnya, peperangan itu hanyalah skenario busuk untuk menghancurkan pasukanku," ucap Shen Munchen dengan nada getir. "Hanya demi menyingkirkanku, mereka tega memusnahkan prajuritku yang tidak bersalah."
"Maksudmu?"
"Semua itu atas pengetahuan sang Kaisar sendiri. Dan yang sebenarnya memiliki hubungan khusus dengan putri kerajaan Barat bukanlah aku, melainkan Pangeran Kedua. Politik istana benar-benar mengerikan."
Suasana langsung hening. Apa yang dikatakan Shen Munchen memang benar, intrik politik di istana memang mengerikan membuat orang-orang yang mendengarnya merasa
Kehening itu pecah oleh tangisan Shen Munchen.Rupanya anak itu sudah lapar. Untungnya Bibi Ma datang dengan semangkuk bubur ditangannya.
Xiao Luo langsung meminta bubur itu dari tangan Bibi Ma. Kemudian dengan sabar menyuapi Shen Yu Jin. Kehangatan aroma bubur beras yang mengepul tipis perlahan mengusir aroma dingin dan debu kayu yang pekat di dalam ruangan tersebut.
Di bawah temaram cahaya lampu minyak, pemandangan itu terasa begitu kontras: seorang jenderal besar Kekaisaran yang baru saja lolos dari maut dan fitnah keji, duduk berdampingan dengan seorang wanita dari dunia masa depan yang menggendong putranya dengan penuh kelembutan.
Xiao Luo meniup pelan sesendok bubur hangat sebelum menyuapkannya ke mulut kecil Shen Yu Jin. Bocah itu mengunyahnya dengan patuh, matanya yang setengah terpejam menatap Xiao Luo seolah mencari bayangan mendiang ibunya.
Bagi Shen Yu Jin, wanita asing ini memiliki kehangatan yang sama—suara yang menenangkan dan sentuhan tangan yang membuat rasa takutnya lenyap seketika.
"Makan yang pintar, ya, jagoan kecil," bisik Xiao Luo lembut, mengusap ujung bibir sang anak dengan ibu jarinya.
Shen Munchen terus mengawasi setiap gerak-gerik Xiao Luo. Tatapannya menyiratkan badai emosi yang belum sepenuhnya reda. Ada rasa penasaran yang mendalam, sisa-sisa keterkejutan atas benda menyala yang tadi disebut "ponsel pintar," serta rasa terima kasih yang tak diucapkan karena wanita itu telah merawat putranya di saat-saat paling rapuh.
Tuan Xin menghela napas panjang, memecah lamunan berat yang melingkupi para pria di ruangan itu. Ia meremas lututnya sendiri, sorot matanya menajam memikirkan situasi politik yang baru saja dibeberkan oleh sang menantu.
"Jika Kaisar sendiri berada di balik konspirasi ini, artinya posisi keluarga Shen di ibu kota saat ini sudah dihancurkan sampai ke akar-akarnya," ucap Tuan Xin dengan nada prihatin. "Seluruh aset disita, nama baikmu dicemarkan sebagai pengkhianat, dan pasukanku... ah, pasukanmu telah dibubarkan secara paksa atau dipecah-belah."
Suasana kembali merosot dalam ketegangan. Udara malam di pengasingan terasa semakin berat menghimpit dada.
"Apa selamanya kita akan terkurung di tempat ini?" tanya istri Xin Meng Ye dengan bibir gemetar, kekhawatiran terpancar jelas dari garis wajahnya.
"Bukankah kita memang tidak diperbolehkan untuk keluar dari pulau ini," sambungnya lirih. "Aku kira setelah Munchen kembali, kita masih ada kesempatan untuk kembali ke ibu kota..."
"Apa salahnya tetap tinggal di sini?" sergah suara lain dari sudut ruangan, mencoba menepis pesimisme. "Tinggal di sini menurutku bagus juga. Daripada harus kembali dan menghadapi intrik istana yang tidak ada habisnya."
"Jika tetap tinggal di sini, kita masih bisa hidup?"
"Kenapa tidak?"
"Kita kan butuh makan, pakaian, perhiasan, dan banyak hal yang tidak bisa kita dapatkan di tempat terisolasi ini."
Perdebatan kecil itu mencerminkan benturan antara rasa takut akan masa depan dan kelelahan mental akibat politik kekuasaan. Namun, Xiao Luo yang baru saja selesai menidurkan Shen Yu Jin tidak lantas Ciut nyali.
"Kalau tidak ada, ya, diadakan. Bukankah masih ada aku," ucap Xiao Luo ringan, memecah perdebatan. Ia tersenyum kecil, lalu menepuk-nepuk saku pakaiannya sebelum matanya berbinar.
"Ngomong-ngomong soal pakaian, aku hampir melupakan kain yang tadi kubawa. Ada yang melihat ranselku?"
"Ransel apa?" tanya Shen Munchen dengan alis bertaut, bingung dengan istilah asing yang meluncur dari bibir wanita itu.
Shen Tingting langsung tanggap. Ia teringat sesuatu. Gadis itu beranjak cepat menuju teras depan; ia sempat melihat Xiao Luo meletakkan tas punggung yang aneh itu saat pertama kali tiba.
Benar saja, benda berbahan tebal itu masih tergeletak rapi di sana. Tingting segera mengambilnya dan membawanya kembali ke hadapan Xiao Luo.
"Ini kan?" tanya Tingting sambil menyodorkan tas tersebut.
"Benar, terima kasih, Tingting," jawab Xiao Luo semringah. Ia merentangkan ritsleting tasnya.
"Tolong buka dulu. Nanti aku jelaskan lebih lanjut."
Dengan rasa penasaran yang menggelitik, Shen Tingting merogoh bagian dalam ransel dan mengeluarkan isinya satu persatu di hadapan semua orang.
Di hadapan mereka yang terbiasa hidup dalam kesederhanaan pulau terpencil, isi ransel itu tampak begitu ajaib. Tingting menarik keluar tiga gulung kain dengan tekstur dan ketebalan yang sangat berbeda dari kain tenun lokal.
"Kenapa kamu membawa kain sebanyak ini?" seru Shen Tingting terkejut, matanya terbelalak menatap gulungan kain bermotif halus.
"Bukankah sudah kubilang, kain sulaman yang kubawa itu berhasil terjual dengan harga tinggi?" terang Xiao Luo antusias. "Mereka bahkan meminta kerja sama lanjutan. Dua gulung kain ini khusus untuk membuat sulaman baru pesanan mereka. Jarum jahit khusus dan benang warna-warni juga sudah kusediakan semuanya di dalam kantong kecil itu. Nah, kalau satu gulung kain yang ini teksturnya lebih kasar, tapi kuat—ini bisa kita potong dan jahit untuk pakaian sehari-hari disini. "
Semua orang tertegun. Di tengah krisis politik dan ancaman maut yang membayangi, wanita dari dimensi lain ini justru membawa solusi praktis untuk bertahan hidup secara mandiri.
Belum habis kejut mereka, Xiao Luo kembali merogoh bagian paling dasar ranselnya. Ia menarik keluar sebuah bungkusan kecil berlipat rapi dengan mata berbinar-binar penuh semangat.
"Terus, ini apa?" tanya Tingting penasaran, mencondongkan tubuhnya.
"Oh... ini pakaian baru untuk Yu Jin. Coba dibuka..." Xiao Luo menyerahkan pakaian kecil itu dengan senyum bangga. "...apakah bagus?"