Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.
Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.
Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.
Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.
Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.
Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18. Hanya Mimpi??
Selama perjalanan pulang, kedua anak kembar Kinanti lebih banyak diam. Tidak ada percakapan seperti biasanya. Naufal dan Naura hanya duduk berdampingan di kursi belakang sambil sesekali memandang keluar jendela dengan tatapan kosong.
Kinanti sangat memahami perasaan kedua anaknya. Bagaimanapun juga, tidak ada seorang anak pun yang menginginkan kedua orang tuanya bercerai. Begitu pula dengan Naufal dan Naura yang usianya baru menginjak kurang lebih delapan tahun.
Mereka mungkin belum sepenuhnya memahami permasalahan rumah tangga orang tuanya, tetapi mereka cukup mengerti bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi di antara Mama dan Papanya.
Kanaya, adik Kinanti, beberapa kali mencoba menghibur kedua keponakannya. Ia mengajak mereka berbicara, bercanda, bahkan menawarkan untuk bermain game bersama. Namun, Naufal dan Naura hanya menolak dengan halus. Mereka tampaknya belum ingin melakukan apa pun.
Kinanti melirik kedua anaknya melalui kaca spion. Hatinya terasa sesak melihat wajah polos kedua buah hatinya yang mendadak murung.
“Maafin Mama, Sayang. Mama melakukan semua ini karena Mama sudah nggak sanggup lagi hidup dalam kepura-puraan,” ucap Kinanti lirih.
Tangannya tetap kokoh memegang kemudi, tetapi sorot matanya terlihat sendu.
“Papa kalian pasti akan kembali menyakiti hati dan fisik Mama kalau suatu hari Papa kalian sembuh dan ingatannya kembali,” gumam Kinanti dalam hati sembari menghela nafas panjang.
Ia tidak ingin mengambil keputusan ini. Namun, jika tetap bertahan, ia takut luka yang sama akan kembali terjadi.
Beberapa saat kemudian…
Mobil mewah yang dikendarai Kinanti mulai memasuki sebuah kompleks perumahan yang sangat eksklusif. Jalanannya begitu luas dan bersih, dihiasi pepohonan yang tertata rapi serta lampu-lampu taman yang memancarkan cahaya hangat.
Bangunan-bangunan megah berdiri di balik pagar tinggi dengan desain yang berbeda-beda. Bahkan dari luar saja, tempat itu sudah terlihat bukanlah kompleks perumahan biasa.
Kanaya yang sejak tadi hanya diam akhirnya mengangkat kepalanya. Ia mengamati lingkungan sekitar dengan dahi berkerut.
“Mbak, malam-malam begini kita ke sini ngapain?” tanyanya penasaran.
Naufal dan Naura pun ikut mengedarkan pandangan. Mata keduanya mulai menunjukkan rasa ingin tahu.
“Ma, kita nggak salah alamat, kan?” tanya Naura.
Naufal ikut menyahut. “Iya, Ma. Bukannya di sini khusus orang-orang kalangan atas? Papa memang kaya, tapi kata Papa, beli rumah di sini saja belum tentu mampu.”
Kinanti tersenyum tipis tanpa menjawab panjang.
“Sebentar lagi kalian akan tahu. Nanti juga kalian tahu apakah Mama salah jalan atau tidak.”
Rasa penasaran ketiganya semakin besar. Mobil terus melaju hingga akhirnya berhenti di depan sebuah rumah yang ukurannya jauh lebih besar daripada rumah-rumah yang mereka lihat sebelumnya.
Ketiganya spontan terdiam. Kanaya bahkan sampai melongokkan kepalanya ke depan, berusaha memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.
“Ya ampun, Mbak...” Kanaya berbisik dengan mata membulat. “Kita benar-benar berhenti di depan rumah sebesar ini?”
Naura menempelkan kedua tangannya pada kaca jendela.
“Bang Naufal, itu rumah apa hotel?”
Naufal yang biasanya lebih banyak bertanya kini justru terlihat kehilangan kata-kata.
“Kayaknya bukan rumah deh, Naura. Lihat saja... gede banget.”
Naura menggeleng cepat.
“Nggak mungkin ini rumah kita.”
Kanaya ikut terkekeh kecil karena tidak percaya.
“Aku juga berpikir begitu. Jangan-jangan Mbak Kinanti salah masuk kompleks.”
Rumah itu berdiri megah di balik pagar tinggi berwarna gelap. Bangunannya memadukan arsitektur modern dengan sentuhan klasik Eropa yang begitu elegan.
Pilar-pilar besar menghiasi bagian depan rumah, sementara lampu-lampu taman menerangi halaman luas yang dipenuhi tanaman hias dan pepohonan yang tertata sempurna.
Di bagian tengah halaman bahkan terdapat sebuah taman kecil dengan air mancur yang membuat suasana rumah itu semakin menyerupai sebuah kediaman mewah milik keluarga bangsawan.
Kinanti menghentikan mobil tepat di depan gerbang utama.
“Alhamdulillah, akhirnya kita sampai di rumah,” ucapnya santai.
Seketika Kanaya, Naufal, dan Naura saling berpandangan.
“Rumah?” tanya mereka hampir bersamaan.
Kanaya bahkan menunjuk bangunan di hadapan mereka dengan wajah tidak percaya.
“Mbak... jangan bercanda. Ini benar-benar rumah?”
Naura ikut menatap Kinanti dengan mata membulat.
“Ma, Mama bilang kita sudah sampai di rumah?”
Naufal menggeleng-gelengkan kepala.
“Tapi rumah kita yang dulu nggak sebesar ini.”
Kinanti mengangguk. “Iya. Rumah.”
Ketiganya kembali menatap bangunan megah di hadapan mereka.
“Ini... rumah kita?” Kanaya bertanya dengan suara hampir tidak terdengar.
Kinanti tidak langsung menjawab. Ia justru turun dari mobil, kemudian berjalan menuju sebuah panel digital yang berada di samping gerbang.
Beberapa angka ditekan olehnya.
Bip!
Gerbang otomatis yang menjulang tinggi itu perlahan terbuka.
Naufal dan Naura semakin melongo.
“Wah...” Naura spontan berseru.
“Bang Naufal, gerbangnya buka sendiri!”
Naufal sampai mendekatkan wajahnya ke kaca mobil.
“Ma, rumah kita pakai gerbang otomatis?”
Naura mengangguk cepat dengan mata berbinar.
“Ini kayak rumah yang sering ada di film!”
Mobil kembali bergerak memasuki halaman.
Begitu berada di dalam, keduanya semakin dibuat takjub.
Halaman rumah itu ternyata jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar. Di sisi kanan terdapat taman hijau yang tertata seperti taman hotel bintang lima. Di sisi kiri terdapat kolam renang besar dengan lampu-lampu di dalam air yang membuat permukaannya berkilauan.
Kanaya sampai membuka mulutnya lebar-lebar.
“Ya Allah...”
Ia benar-benar tidak menyangka. Selama ini ia tahu kakaknya memiliki kehidupan yang cukup berada. Namun, ia sama sekali tidak pernah membayangkan Kinanti memiliki rumah semegah ini.
“Ini serius rumah Mbak?” Kanaya bertanya lagi, seolah masih berharap ada seseorang yang mengatakan bahwa semua ini hanyalah salah paham.
Kanaya menatap ke arah kolam renang, kemudian ke taman luas di sekeliling rumah.
“Mbak, ini rumah atau resort pribadi?”
Ia kemudian menunjuk bangunan utama.
“Dan itu... berapa kamar? Kok kelihatannya kayak hotel?”
Kinanti hanya terkekeh kecil.
“Iya, ini rumah Mbak.”
Naufal langsung berseru dari kursi belakang.
“Ma, aku boleh berenang?”
Naura ikut menyahut dengan penuh semangat.
“Aku juga! Ya Allah, kolamnya besar banget! Kita benar-benar bisa berenang di situ?”
Naufal mengangguk-angguk takjub.
“Ini lebih besar dari kolam renang yang pernah aku lihat!”
Naura kemudian menunjuk ke arah taman.
“Ma, itu ada air mancurnya! Terus tamannya juga luas banget. Kita bisa main petak umpet di sana!”
Kanaya tertawa kecil melihat antusiasme kedua keponakannya.
“Baru lihat halaman saja kalian sudah heboh. Nanti kalau lihat bagian dalam rumah, mungkin kalian bisa pingsan.”
“Memangnya bagian dalamnya lebih besar lagi, Tante?” tanya Naufal polos.
Kanaya mengangkat kedua alisnya.
“Entahlah. Tante juga belum pernah masuk.”
Naufal dan Naura langsung saling berpandangan.
“Berarti Tante juga sama kayak kami?” tanya Naura.
Kanaya mengangguk.
“Sama. Tante juga masih nggak percaya kalau ini benar-benar rumah Mama kalian.”
Mobil akhirnya berhenti di depan pintu utama.
Beberapa pelayan sudah berdiri berjajar di sana. Seorang kepala pelayan yang mengenakan pakaian berbeda dari pelayan lainnya berdiri paling depan.
Begitu Kinanti turun dari mobil, mereka langsung membungkukkan badan dengan sopan.
“Selamat datang, Nyonya Kinanti. Selamat datang, Tuan Muda dan Nona Muda.”
Suara mereka terdengar bersamaan.
Naufal dan Naura langsung membeku. Mereka saling berpandangan, kemudian kembali melihat para pelayan yang berdiri rapi di depan rumah.
Naura perlahan mendekati Naufal.
“Bang... mereka tadi manggil kita Tuan Muda sama Nona Muda?”
Naufal mengangguk pelan. “Iya.”
Naura menelan ludah.
“Berarti kita kayak anak orang kaya di film-film, dong?”
Naufal berbisik dengan wajah serius.
“Jangan keras-keras. Nanti mereka dengar.”
Naura justru semakin penasaran.
“Tapi mereka banyak banget, Bang.”
Naufal mengedarkan pandangan ke sekeliling.
“Berarti Mama punya banyak orang yang bekerja di rumah ini?”
“Ma...” panggil Naufal pelan.
“Iya, Sayang?”
“Kenapa mereka manggil Mama Nyonya?”
Kinanti tersenyum. “Nanti Mama jelaskan.”
Kanaya masih berdiri di tempatnya dengan ekspresi tidak percaya.
“Gila... Mbak...” gumamnya.
Tatapannya perlahan menyapu seluruh bagian rumah.
“Selama ini aku pikir Mbak cuma punya rumah biasa. Ternyata...” Kanaya menelan ludah.
Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa kecil.
“Ini bukan rumah, Mbak. Ini istana!”
Naufal ikut mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Ia memandangi bangunan rumah tersebut dengan mata berbinar.
“Mama, rumah kita besar banget!”
Naura bahkan sampai memegang tangan kakaknya.
“Bang Naufal, lihat! Itu ada kolam renang!”
“Terus taman di sana juga besar!”
“Lihat lampunya!”
Keduanya mulai melupakan kesedihan mereka untuk sesaat. Rasa takjub berhasil mengalihkan perhatian mereka dari masalah yang sejak tadi memenuhi pikiran.
Naura kemudian menoleh kepada Kinanti.
“Kalau ini benar-benar rumah Mama, berarti Mama lebih kaya daripada Papa Yudha, dong?”
Kinanti hanya tersenyum simpul.
“Nggak perlu dibandingkan dengan siapa-siapa. Yang penting, rumah ini sekarang menjadi tempat tinggal kalian.”
Naufal langsung berlari kecil menuju pintu utama.
“Ma! Aku mau lihat kamar kita!”
Naura ikut berlari mengejarnya.
“Aku juga! Semoga kamarnya besar!”
Naufal menoleh sambil tertawa.
“Kalau rumahnya sebesar ini, pasti kamar kita juga besar!”
Naura langsung berseru penuh harap.
“Aku mau kamar yang ada jendelanya besar!”
Kanaya yang melihat tingkah kedua keponakannya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
“Baru beberapa menit sampai, kalian sudah lupa sama kesedihan tadi.”
Namun, bibir Kanaya ikut tersenyum. Setidaknya malam ini, ia bisa melihat kembali keceriaan kedua keponakannya yang sempat hilang.
Sementara Kinanti berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Ia memperhatikan Naufal dan Naura yang berlari memasuki rumah dengan tatapan penuh haru.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia berharap rumah ini benar-benar bisa menjadi tempat bagi kedua anaknya untuk merasa aman dan bahagia.