Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eh, Jangan Dong!
Isakan kecil lolos dari bibir Ayara begitu sambungan telepon itu ia putuskan secara sepihak. Ia melempar ponselnya ke atas kasur, lalu membenamkan wajahnya ke dalam bantal tipis dan membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan tumpah membasahi sarung bantalnya.
Bagi Ayara, keputusan ini adalah yang paling tepat dan logis. Ia sadar diri bahwa memaksakan hubungan dengan pria dari dunia yang begitu jauh berbeda hanya akan mendatangkan penderitaan di kemudian hari, terutama setelah melihat reaksi dingin dan sorot mata merendahkan dari Papa Aditya.
"Maafin aku, Mas... ini yang terbaik untuk kita berdua," gumam Ayara lirih di tengah gelapnya kamar.
Sementara itu, di dalam kamarnya, Althaf terpaku menatap layar ponsel yang tiba-tiba menunjukkan panggilan terputus. Pria itu mengerutkan kening, mencoba menghubungi nomor Ayara kembali, namun suara operator langsung menyambut, menandakan nomornya tidak bisa dijangkau atau telah diblokir.
Althaf mengepalkan tangannya. Ia bukan pria bodoh, ia tahu persis apa yang memicu perubahan sikap drastis Ayara ini. Tidak lain dan tidak bukan adalah kedatangan mendadak Papa Aditya ke kantornya beberapa hari lalu.
"Sial," umpat Althaf pelan, rahangnya mengeras.
Althaf tidak bisa diam saja, ia segera mengambil jaket lalu mengambil kunci motornya dan akan menemui Ayara.
Langkah kaki Althaf yang tergesa-gesa terhenti seketika menuruni tangga dan menuju pintu utama, dimana terdengar suara lembut bernada riang dari arah ruang tamu.
"Althaf? Mau ke mana malam-malam begini?" tanya Mama Hasna.
Mama Hasna duduk di sofa ruang keluarga bersama Papa Aditya, Kak Indira dan Kak Bima. Di hadapan mereka, sebuah majalah katalog pernikahan dan beberapa lembar kertas berisi catatan kecil tampak berserakan di atas meja kaca.
Althaf mendengus pelan, menahan gejolak emosi di dadanya. Ia berbalik dan melangkah turun perlahan menghampiri keluarganya yang tengah berkumpul.
"Althaf mau keluar sebentar," jawab Althaf.
"Tunggu dulu, kata Papa kamu, kamu mau melamar perempuan yang pernah kamu bikang waktu itu... gimana? Jadi, kan? Ini Mama sama Kakak kamu sudah catat seserahan buat lamaran kamu," tanya Mama Hasna memastikan.
Bukannya menjawab pertanyaan Mama Hasna, Althaf justru nenatap Papa Aditya. Papa Aditya yang ditatap pun bingung, bahkan Mama Hasna, Kak Indira dan Kak Bima juga bertanya-tanya.
"Kenapa kamu lihat Papa kayak gitu?" tanya Papa Aditya.
"Ayara menolak lamaran Althaf," ucap Althaf, yang tidak mengalihkan tatapannya dari Papa Aditya.
"Kok bisa?" tanya Mama Hasna.
"Mama tanya aja sama Papa," ucap Althaf.
"Loh, Papa salah apa? Papa nggak salah apa-apa ya," tanya Papa Aditya.
"Tunggu, kamu bilang apa yang terjadi? Mama bingung ini," tanya Mama Hasna.
"Althaf juga nggak tahu pasti kenapa Ayara tiba-tiba nolak aku, Ma. Tapi, sikapnya berubah setelah dia ketemu Papa dua hari lalu, mungkin karena sikap Papa yang ketus dan tidak suka sama dia, makanya Ayara berubah. Sekarang Althaf mau ketemu Ayara dan jelasin semuanya," ucap Althaf.
"Papa ketemu sama Ayara?" tanya Mama Hasna.
"Nggak sengaja, Ma. Papa ketemunya pad ke kantor buat bahas masalahnya Pak Atmaja dan ternyata ada dia di ruang kerjanya Althaf," jawab Papa Aditya.
"Awas saja kalau sampai Ayara tetap nggak mau nikah sama aku, ini semua salah Papa. Kalau nggak sama Ayara, aku nggak akan nikah," ucap Althaf.
"Eh, jangan dong! Yaudah, kamu temui Ayara sekarang. Pokoknya kamu bujuk terus sampai dia mau sama kamu," ucap Mama Hasna.
"Althaf pergi dulu," pamit Althaf, lalu meninggalkan keluarganya.
Setelah kepergian Althaf, Mama Hasna menatap Papa Aditya. "Emangnya Papa salah? Papa kan mau yang terbaik buat Althaf," tanya Papa Aditya berusaha santai, walaupun ia gugup.
"Papa ini, kalau maunya Althaf... Ayara, ya artinya yang terbaik itu Ayara. Yang menikah itu Althaf bukan Papa," ucap Kak Indira.
"Iya-iya. Papa juga kan nggak melarang," balas Papa Aditya.
Deru mesin motor Althaf memecah keheningan malam kota Bandung yang basah oleh sisa hujan. Pria itu memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, mengabaikan dinginnya udara malam yang menusuk pori-pori jas kerjanya. Pikirannya hanya dipenuhi satu nama yaitu Ayara, ia tidak akan membiarkan gadis itu pergi begitu saja hanya karena kesalahpahaman yang disebabkan oleh sang ayah.
Setelah menempuh perjalanan sekitar empat puluh lima menit, Althaf tiba di kawasan perkampungan padat penduduk tempat tinggal Ayara. Ia memarkirkan motornya di depan rumah Ayara, lalu berjalan cepat ke rumah sang pujaan hati.
Sesampainya di depan rumah kecil berpagar seng milik Ayara, Althaf langsung mengetuk pintu kayu. Tidak lama kemudian, pintu terbuka pelan. Arlan terbelalak kaget saat melihat sosok Althaf berdiri di hadapannya dengan napas sedikit memburu.
"Bang Althaf? Malam-malam begini ada apa, Bang?" tanya Arlan heran.
"Arlan, bisa panggilkan Mbak kamu. ada harus Abang bicara sama dia sekarang juga," ucap Althaf dengan nada tegas namun tersirat kepanikan.
Ibu Yati yang mendengar suara keributan di depan turut keluar dari kamarnya, mengenakan daster panjang dan kerudung lusuh.
"Nak Althaf, ada apa ke sini?" tanya Ibu Yati.
"Bu, ada yang mau bicarakan dengan Ayara. Makanya, saya kesini," jawab Althaf, dengan menyalami tangan Ibu Yati.
"Masalah lamaran?" tanya Ibu Yati.
"Iya, Bu," jawab Althaf.
"Bicarakan baik-baik ya, jangan paksa Ayara. Kalau dia memang tidak mau, kamu harus menerima keputusannya," ucap Ibu Yati.
"Iya, Bu. Saya akan bicarakan baik-baik," jawab Althaf.
"Mbak... Mbak Ayara!" panggil Arlan sambil mengetuk pintu kamar Ayara beberapa kali dengan nada tergesa-gesa.
Di dalam kamar, Ayara yang sedang merenung di atas tempat tidur dengan mata sembab langsung tersentak. Ia mengira adiknya hanya berniat meminta sesuatu, namun kalimat selanjutnya dari balik pintu membuat jantung Ayara mencelos seketika.
"Mbak, cepat keluar! Bang Althaf datang ke sini malam-malam, dia mau ketemu sama Mbak!" seru Arlan.
Ayara menggelengkan kepalanya panik, "Bilang sama dia, Mbak lagi tidur, Lan! Mbak nggak mau keluar!" tolak Ayara dengan suara tertahan.
"Nggak bisa gitu, Mbak! Bang Althaf kelihatannya serius banget, kasihan dia nunggu di ruang tamu," sahut Arlan tak mau kalah.
Sebelum Ayara sempat melayangkan penolakan lanjutan, gagang pintu kamarnya tiba-tiba berderit pelan. Pintu itu terbuka, memperlihatkan sosok Ibu Yati yang melangkah masuk dengan tatapan teduh namun penuh pengertian.
"Nduk, temui dia," ucap Ibu Yati lembut seraya duduk di tepi kasur dan mengusap lembut punggung putri sulungnya.
"Jangan lari dari masalah. Kalau kamu memang mau menolak, katakan langsung di depan orangnya dengan jujur, jangan bersembunyi seperti ini."
Ayara menggigit bibir bawahnya, menahan isak tangis yang kembali mendesak. Dengan sisa keberanian yang ada, ia akhirnya mengangguk pelan dan bangkit berdiri merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita