Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.
Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Jayden duduk di samping Nadia. Yang sebenarnya di sana sudah ada orang yang menempati. yaitu sahabat Nadia yaitu, Mela.
"Ini tem6pal Mela ya Jay."
"Bodo amat, suruh cari tempat yang lain!" desis Jay yang tak mau di ganggu gugat.
Mela yang baru saja datang merasa bingung dengan kehadiran seorang cowok yang tak ia kenal dan main duduk di kursinya.
"Itu siapa anjir?" lirih Mela bertanya.
"Nanti gue jelasin, lo duduk di depan dulu deh," Nadia emmebri isyarat pada Mela r sahabatnya itu mau duduk di depanya.
Mela sedikit menyelidik ke arah Jay yang kini memejamkan matanya. "Ganteng," Mela kembali berbisisk.
"Ganteng pala lo," pekik Nadia tak suka jika ada yang memuja Jayden ganteng, takut gede kepala nantinya.
Bu Astri masuk ke dalam kelas, tapi anehnya bu Astri tsk mempemasalahkan Jay yang kini terlelep di dalam kelas, guru itu lanjut mengajar hingga bel istirahat berbunyi.
Jay terbangun," Udah istirahat ya?" tanyanya sedikit mneggeliat.
"Lo kalau ngak niat sekolah mending di rumah aja nggak sih?" ketus Nadia.
"Kalau gue di rumah, siapa yang bakal ngawasin lo? nanti yang ada lo keenakan ketemu sama cowok tengik itu."
"Dia nggak tengik ya!'" tegas Nadia tak terima jika Kevin di hina oleh Jay.
"Dan gue nggak suka lo belain cowok lain!' ucapan Jay begitu tegas namun terdengar mendominasi dirinya, seolah ada anca man bahwa Nadia tak boleh berhubungan dengan cowok lain, atau hal apapun itu.
"lo harus inget kalau lo itu udah resmi jadi.. mmmm..." Jay tak bisa melanjutkan ucapanya karena Nadia membungkan mulutnya dengan telapak tanganya.
Nadia masih takut jika para murid yang belum keluar dari kelas akan mendengar perkataan Jay, dan juga Mela sebagai sahabatnya pun Nadia masih belum bisa jujur dengan kondisi yang sangat tiba -tiba itu.
"Istirahat yuk," ajak Nadia menggaet lengan mela dan berjalan keluar tanpa peduli dengn Jay lagi.
"Baby, Don't forget me."
Jay menyusul langkah Nadia juga Mela, merangkul; bahu Nadia dengan entengnya tanpa takut dengan apa yang akan para murid ikirkan tentang mereka berdua.
"Itu kan anak baru itu kan? kok udah akrab aja sih sama Nadia?bahkan tadi juga dia di kelas lamgsung idur aja, tanpa ada perkenalan diri dulu, dan anehnya lagi, Bu Astri diem aja dong." oceh Laura dengan gengnya
"Iya ya, aneh banget nggak sih? atau jangan-jangan si cowok itu adalah anak dari donatur terbesar di sekolah kita? makanya dia bebas aja gitu di sekolahan," timpal Echi dan Laura mengangguk mengerti.
"Info bagus nggak sih ini kalau emang bener cowok itu adalah donatur terbesar di sekolah kita? lo semua harus bantu gue buat deketin cowok itu," Laura tersenyum, "kalau di liat - liat cowok itu ganteng banget asli, hidungnya mancung, jakunya naik turu, please banget pengen gue gigit rasanya." kata Laura, Echi dan Wina sebagai sahabat Laura hanya bisa enggelengken kepalanya karena tau bagaimana Laura jika melihat cowok yang ganteng.
"Pokoknya lo harus gercep, bia nggak keduluan sama itu Nadia. kan lo juga tau kalau Nadia juga bukan orang sembarangan kan?"
Laura mengangguk pelan, kiranya langsung menyusun strategi.
Beralih ke bangku Nadia.
"Lo bisa nggak sih duduknya jangan deket -deket gue mulu? gue mau makan ya anjir!" ketus Nadia yang belum nyaman dengan kehadiran Jay yang tiba-tiba di sekolahnya.
"Nggak bisa! lo lupa kalau lo itu adalah is...
'''Nadia kembali membungkam mulut Jay agar cowok itu tak sembarangan ngomong jika berada di sekolah.
"Satu kali lo bungkam gue, berati itu satu ciu man yang harus lo tanggung nanti kalau di rumah," desis Jay membuat Nadia terbeblalak.
Sementara Mela hanya bisa bengong melihat dua sejoli yang bahkan Mela sendiri belum tau kondisi di antara keduanya.
"Lo belum jelasin ke gue anjir trus ini gue liat kalian berdua udah akrab aja, sebenarnya kalian ini apa? udah jadian? tapi kok feeling gue kalian berdua dijodohin ya?"
"Sttttt.... jangan kenceng- kenceng ngomongnya, nanti anak - anak yang lain bisa denger," bisik Nadia neoleh ke arah sekitaran kantin karena saat ini mereka sedang makan.
"Hah... serius? emang lo udah putus sama Kevin?" tanya Mela yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Jay.
"Apaan? kok dia natap gue begitu? jangan -jangan lo belum putus ya?" selidik Mela pada Nadia.
Nadia merasa frustasi dengan apa yang ia alami saat ini.
"Mana Hp lo?" tanya Jay yang bahkan belum menyentuh bakso dalam mangkoknya.
"Mau ngapain lo?'" ketus Nadia yang langsung mengenggam bagian saku kemejanya.
"Lo mau ngasih sendiri atau mau gue yang ambil?" terlihat seringaian di bibir Jay membuat Nadia bergidik ngeri.
"Awas lo macem-macem!" Ancam Nadia tapi tak di dengar oleh Jay. Cowok itu membuka apk chatingan yang di gunakan oleh Nadia.
"Cih.. my honey," cibir Jay yang langsung mengetik suatu pesan, yang berbunyi bahwa Nadia meminta putus dan jangan menghubungi atau menganggu dirinya lagi. Setelah itu tak lupa Jay menghapus kontak bernama 'my honey' itu.
"Nih," Jay mengembalikan ponsel Nadia.
Cewek itu langsung mengecek HP-nya. Mencari keberadaan kontak Kevin yang tak ia temukan.
"Lo Hapus kontak Kevin?" Seru Nadia terlihat tak suka dari tatapannya.
"Kenapa? Mau protes? Lo lupa lo siapa sekarang?"
"Stres ya lo?!" Ketus Nadia yang langsung meninggalkan area kantin, dan mencari keberadaan Kevin.
Jay sengaja membiarkan Nadia pergi begitu saja, dan tinggalkan kini hanya ada Mela dan Jay yang masih duduk di kursi kantin.
Mela menatap Jay sedikit takut," Kenapa lo? Takut? Lo nggak perlu takut sama gue, gue masih doyan nasi," ucap Jay dan Mela mengangguk.
"Lo kok nggak kejar Nadia? Dia pasti nemuin Kevin."
Jay menggeleng, "Dari segi manapun Nadia udah jadi milik gue, jadi kalau cowok itu berani macem-macem ke cewek gue, itu tandanya dia berhadapan sama gue!"
Mela semakin terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Nama lo?" Tanya Mela yang memang belum tahu nama Jayden.
"Jayden Mahendra!" Mela mengangguk mengerti.
"Lo!!!!!" Mela terkejut saat ia mencoba mencari atas nama 'Jayden Mahendra '
"Apa?" Jay pun bingung.
Mela tak bisa menjawab, ia hanya bisa menunjukkan hasil pencarian di benda pintar itu ke Jay.
"Hem...." Sahut Jay santai.
"Ini beneran lo?" Mela memastikan dan Jay menganggukkan sebagai jawaban.
"Kok bisa?" Tanya Mela semakin kepo.
"Jangan cari tahu tentang gue lebih dalem lagi kalau lo nggak mau punya penyakit jantung!"
Jay berlalu meninggalkan Mela yang masih menganga karena terkejut. Di sisi lain, ada Nadia yang tengah menemui Kevin di sebuah kelas yang sudah lama tak terpakai.
"Ini beneran kamu yang ngetik?" Tanya Kevin dengan menggenggam HP-nya.
"Itu bukan aku yang ngetik," sahut Nadia yang rasanya ingin menangis saat itu juga.
"Kenapa tiba-tiba Nad? Aku ada salah sama kamu?" Kevin mengenggam tangan Nadia dengan erat.
Nadia menggeleng, air mata yang sudah ia tahan kini mengalir membasahi pipinya yang sedikit chuby.
"Aku nggak pengen ini terjadi, tapi demi kebaikan kamu, mungkin seharusnya kita memang harus saling menjauh," ucap Nadia di antara isak tangis nya.
"Hah...! Maksudnya gimana Nad? Jauh gimana? Kamu mau hubungan kita benar-benar berakhir?" Tanya Kevin yang sudah mulai emosi. "Siapa? Siapa cowok itu? Jangan kamu pikir aku nggak ngeliat kamu di rangkul oleh cowok tadi!" Nada suara Kevin mulai meninggi.
"Aku minta maaf, ini semua terjadi gitu aja, orang tua aku yang ngejodohin aku sama cowok itu, aku udah berusaha nolak, tapi orang tua aku dan orang tua dia...." Nadia tak bisa melanjutkan ucapannya. Hatinya terasa sakit saat ia ingin jujur bahwa sebenarnya dia sudah menikah.
Tiba-tiba Kevin mendekatkan wajahnya dan sedioit menunduk, mengangkat tengkuk leher Nadia, mendaratkan bib birnya di bi bir Nadia.
Saat Kevin hendak membuat gerakan untuk memperdalam, tiba - tiba dari arah samping seorang cowok menari lenganya dengan kasar, memberikan bebrerapa kali bogem ke arah ajah Kevin.
"Aaaaa.....!!!!!'' Nadia histeris, ia ingn meminta tolong tapi juga takut jika nanti akan semakin rumit urusanya
"Stop! please stop!" teriak Nadia mencoba melerai Jay semakin membabi buta memebrika bogem pada Kevin.
Dengan nafas yang masih terengah, Jay menarik lengan Nadia agar mengikuti dirinya.
Dengan masih air mata yang mengalir di pipi, Nadia tak tega meningalkan Kevin seorag diri tergeletak di ruangan itu dengan wajah yang epnuh lebab.
Jay menarik paksa Nadia dan memasukan Nadia ke dalam mobil dengan sedikit kasar.
Banyak mata yang memandang ke arah Nadia juga Jay, banyak bisikan yang Nadia dengar mengatakan bahwa Nadia terciduk selingkuh.
"Itu siapa sih? anak baru kan? kok mereka udah deket? aau jangan- jagan itu cwowok Nadia dari sekolahan lain, dan cowok iotu relapindah sekolah cuma mau mergokin Nadia selingkuh, gitu nggak Dan masih banyakl lagi bisikan yang semakin membuat kuping Nadia panas saat itu juga.
Brak!!
Jay menutup pintu mobhil dengan kencang, membuat jantung Nadia bahkan hampir lompat dari tempatnya.
Tak ada yang berani menghalangin mobil Jay, bahkan satpan langsung membukakan gerbag sekolah, padahal jam pulang sekolah masih sangat lama.
Mobil Jay sudah memasuki halaman kediamanya yang luas.
Jay mengitari mobilnya untuk membuka pintu dan menggendong Nadia di bahunya.
Nadia berontak, cewek itu terus memukul bagian punggung Jay, beraharap Jay menurunkanya.
Dengan entengnya jay membawa badan Nadia menaiki anak tangga dan kini sudah berada di lantai dua.
Bruk.
Jay melempar badan Nadua ke atas tempat tidurnya dengan ukuran king size itu.
Tatapan tajam Jay membuat Nadia memundurkan badanya hingga mentok ke bahu ranjang.
Jay membuka dasi sekolah dan melemparkan ke asal arah, membuka semua kancing hingga memperlihatkan roti sobek di perutnya.
"Mau ngapain Lo?" kata Nadia dengan suara bergetar karena takut.
"Menurut lo?" Jayden semakin mendekatkan dirinyadan kini hanya tinggal berjarak beberapa centi saja.
Deru nafas Jay yang tercium wangi mint membuat nafas Nadia semakin tercekat di teggorokanya.
"Bisa bisanya lo nangisin cowok lain, bahkan dengan rela lo mau di sentuh sama dia, sedangkan lo selalu galak sama suami lo sendiri, apa menurut lo itu adil?" Desis Jay yang semakin mendekatkan wajahnya.
"Gue nggak suka! apa yang udah jadi milik gue di sentuh sama cowok lain!" jemari Jay menjelajah ke wajah Nadia.
Dengan susah payah Nadia menelan ludahnya sendiri, karena saat ini aura Jay begitu berbeda dar hari kemarin.
"Gue harus mastiin sendiri kalau nggak ada sisa sentuhan itu."
Slhrupp... Jay mendaratkan bib irnya di atas Bi bir Nadia dengan rakus, memakanya dan tak memeberikan celah sedikit pun untuk Nadia bernafas sejenak.
Ingin berontak pun Nadia takut, ia takit juka Jay akan berlaku lebih kasar dari ini.
Karena sudah kepalang hampir kehabisan nafas, Nadia memukul dada Jay dan sedikit mendorong
Hah hah hah....
Deru nafas keduanya saling bersaut, netra Nadia menatap netra Jay secara bergantian.
"Lo udah janji sama ortu gue kalau lo nggak bakal nyakitin gue!" pekik Nadia.
"Gue nggak lupa baby, tapi gue juga harus mastiin kalau istri gue juga nggak macem-macem di belakang gue!" desis Jay menjawab, " Dan satu lagi," tambah Jay.
"Apa?' tanya Nadia bingung.
"Gue harus bener- bener ngehapus jejak siapun itu, karena sekarang lo hanya milik gue, dan itu harus lo inget biar lo nggak berani buat macem-mcaem lagi!"
Jay kembali mendaratkan bibirnya di bi bir Nadia.Dan yang awalnya Nadia mencoba berontak atau menolak, kini cewek itu hanya bisa pasrah dan menikmati setiap sentuhan yang di berikan Jay pada dirinya.
Nadia menggigit bibirnya sendiri saat jemari Jaymulai menelusup masuk ke dalam kemeja yang ia gunakan.
"Please jangan sekarang!" Dengan suara Nadia yang terengah, ia mencoba mencegah jemari Jay yang akan semakin menelusup.
"Why? Gue suami lo Baby," Nadia mengangguk.
"Gue tahu, tapi gue mohon tunggu gue sampai siap," ucapnya yang kini sudah berani menatap netra Jay.
Cup. Cup. Cup. Cup.
Jay memberikan kecupan singkat di setiap inci wajah Nadia. Membuat wajah sang empu merona.
Dan setelah itu, Jay tak beranjak, ia
merebahkan badanya di atas badan Nadia. Mendusel di ceruk leher Nadia.
"Lo bukan bocil anjay, berat Jay!!" Pekik Nadia tapi tak di dengar oleh Jay.
"Peluk gue!" Titah Jay dan anehnya Nadia menurutinya secara langsung.
Jay menarik sudut bibirnya yang tak di lihat oleh Nadia.
"Gue ngantuk."
"Tidurnya di samping anjir, jangan di atas gue! Badan lo kan gede!" Seru Nadia dan Jay terkekeh.
"Ketawa lagi lo."
"Bukan badan gue aja yang gede, tapi dede gue juga gede. Panjang berurat kalau kata buku novel yang pernah gue liat."
"Lo baca buku novel?" Tanya Nadia tak percaya.
"Nggak! Cuma liat judulnya doang,"
anjir." "Ke samping dong, badan Lo bener bener berat
"Tapi jangan di lepas peluknya," rengek Jay yang amarahnya kini sudah mereda.
"Iya bawel!"
Jay menelisik ke samping, tapi cowok itu tak melepas pelukannya sama sekali.
"Benar-benar lo ya!" Seru Nadia.
"Hem...."
Tak lama dari itu Jay tertidur pulas, terdengar dari suara dengkuran yang teratur.
Nadia yang melihat Jay bak anak kecil saat ini seolah melihat sisi yang lain dari diri Jayden Mahendra.
"Gue kan baru aja jadi istri lo, nikah dadakan, tanpa ada rasa, dan lo seposesif ini sama gue? Lo seolah udha kenal gue lama dan jadi suami gue udah lama juga," gumam Nadia dengan menyisir ramhut Jay dengan jemari tangannya.
"Hemm..." Jay berdehem, dan Nadia pun terbelalak, ia merasa Jay seolah mendengar apa yang ia gumamkan.