NovelToon NovelToon
Hacker Cantik Incaran Mafia

Hacker Cantik Incaran Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Ibu Pengganti
Popularitas:19.7k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍

Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.

​Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.

Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.

​Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Gemuruh api yang melahap pabrik farmasi itu seolah menjadi musik latar yang meredam kewarasan mereka.

​Di balik deretan peti kemas beton, ciuman itu berlanjut dengan intensitas yang membutakan. Elvano menuntut dengan dominasi seorang raja, sementara Alana membalas dengan gigitan liar yang menolak untuk sekadar tunduk.

Adrenalin dari desingan peluru dan ledakan bom berbaur dengan rasa mint serta aroma mesiu di bibir mereka, menciptakan candu baru yang berbahaya.

​Butuh waktu beberapa belas detik yang terasa seperti keabadian sebelum Alana akhirnya mendorong dada bidang pria itu, memaksa mereka berpisah untuk meraup oksigen. Dada keduanya naik-turun dengan cepat.

​Mata Alana berkilat tajam, menatap lurus ke dalam sepasang obsidian yang masih menyala gelap oleh gairah dan ego. Ia mengusap bibirnya yang sedikit membengkak dengan punggung tangan, menyeringai dengan keangkuhan yang mematikan.

​"Itu tadi untuk merayakan setengah miliar dolar yang kita curi, atau sekadar caramu menutupi fakta bahwa kau hampir kehilangan nyawamu demi melindungiku, Tuan Mafia?" goda Alana, napasnya masih tersengal.

​Elvano mendengus, tawa seraknya yang maskulin bergetar di udara malam. Pria itu mengusap sisa debu dari pipi Alana dengan ibu jarinya, menatap wanita itu dengan kepemilikan mutlak yang tak lagi repot-repot ia sembunyikan.

​"Keduanya, Singa Betinaku," bisik Elvano dalam. Ia lalu menarik tangan Alana, menautkan jemari mereka erat-erat tanpa peduli pada noda darah dan debu yang menempel. "Ayo kita pulang. Ada keponakan yang harus kita temui sebelum mereka benar-benar meracuni kopiku besok pagi."

​Perjalanan kembali ke Mansion Adhitama terasa jauh lebih lengang, namun diwarnai oleh ketegangan emosional yang benar-benar berbeda.

Taut tangan mereka terlepas saat naik ke dalam mobil, namun pundak yang bersinggungan di kursi belakang SUV sudah cukup untuk membakar saraf-saraf di kulit mereka.

_________

​Begitu pintu ruang server utama di sayap timur mansion menjeblak terbuka, tepuk tangan meriah dari Bastian langsung menyambut mereka.

​"Lihat siapa yang baru saja kembali dari neraka dan memenangkan undian setengah miliar dolar!" seru Bastian, memutar kursinya dengan senyum lebar. Namun, senyum jenaka pria itu sedikit memudar saat matanya yang awas menangkap rambut cepol Alana yang berantakan, serta bibir wanita itu yang terlihat jauh lebih merah dari biasanya.

​Bastian melirik Elvano yang masuk dengan rahang terangkat angkuh dan jas yang disampirkan di bahu. Seringai penuh arti kembali terbit di wajah Bastian.

"Wow. Kalian berdua terlihat seperti baru saja meledakkan satu kota... atau baru saja melakukan hal lain di luar meledakkan kota."

​"Tutup mulutmu dan laporkan status uangnya, Bastian," geram Elvano, mengabaikan godaan sepupunya meski telinganya terasa sedikit panas.

​Bastian terkekeh pelan, kembali menghadap monitor raksasanya.

"Dana berhasil dicuci melewati delapan belas peladen proxy di berbagai negara. Tujuh puluh persen sudah masuk ke kas gelap klan Adhitama." Ia menoleh menatap Alana sambil mengedipkan sebelah mata.

"Dan untuk sisa tiga puluh persennya... aku membuatkan dana darurat rahasia khusus untukmu, Al. Kusembunyikan di rekening cangkang menggunakan nama pena lama yang kau pakai saat kita mengacak-acak sistem Eropa dulu.... The Ice Queen. Tidak akan ada satu pun anjing pelacak Sindikat Bayangan yang bisa mengendus nama itu."

​Alana tersenyum tipis, sebuah kelegaan nyata tergambar di wajahnya. Nama alias itu adalah identitas hantu yang tak pernah tersentuh radar. "Kerja bagus, Kak Bas. Setidaknya sekarang Kael dan Kai punya tabungan masa depan yang cukup untuk membeli satu pulau pribadi jika mereka mau."

​"Bunda!"

​Belum sempat Elvano memprotes interaksi akrab antara Alana dan Bastian lagi, dua sosok kecil melesat masuk ke dalam ruang server. Kael dan Kai berlari menghampiri Alana yang langsung berlutut dan merengkuh kedua balita itu ke dalam pelukannya.

​"Kalian belum tidur? Ini sudah lewat tengah malam," omel Alana lembut, mengecup puncak kepala mereka bergantian.

​Kai melepaskan pelukannya lebih dulu. Mata bulat bocah jenius itu memindai seluruh tubuh Alana dari atas ke bawah dengan kecepatan kilat, layaknya agen intelijen yang sedang melakukan inspeksi visual. Pandangannya berhenti tepat pada pelipis Alana yang masih menyisakan bekas goresan darah kering akibat insiden kaca retak di mobil tadi pagi.

​Wajah polos Kai mendadak berubah sangat datar dan mematikan. Ia berputar perlahan, menatap lurus ke arah Elvano yang berdiri tak jauh dari mereka.

​"Paman El," panggil Kai dengan nada dingin yang nyaris tidak masuk akal untuk seorang anak yang baru duduk di bangku kelas dasar. Tangan kecilnya merogoh saku piyamanya, mengeluarkan sebuah botol kaca mungil berisi cairan bening.

"Itu goresan luka. Sesuai kesepakatan, Paman tahu apa yang akan aku tuangkan ke dalam cangkir kopi Paman besok pagi, kan?"

​Seluruh orang di ruangan itu menahan napas. Jace yang berdiri di ambang pintu bahkan nyaris memegang gagang senjatanya melihat keberanian seorang balita mengancam sang bos.

​Elvano menunduk menatap Kai. Alih-alih marah karena harga dirinya diinjak oleh anak kecil, mata elang pria itu justru memancarkan kebanggaan luar biasa. Ia berjongkok, menyejajarkan tingginya dengan Kai, lalu menunjuk ke arah pelipis Alana.

​"Goresan itu terjadi sebelum aku sempat mencabut senjataku pagi tadi, Kai. Tapi malam ini, di tengah puluhan penembak jitu dan ledakan yang menghancurkan gedung..." Elvano mengalihkan pandangannya pada Alana, menatap wanita itu dengan intensitas yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan apa pun.

"...aku tidak membiarkan satu peluru pun menyentuh kulit Bunda-mu. Aku memenuhi janjiku."

​Kael, yang sejak tadi sibuk memeriksa log data di tabletnya, mengangguk membenarkan. Ia membetulkan kacamata bacanya dan melirik Kai.

"Paman El benar, Kai. Sensor termal di rompi Bunda tidak mencatat adanya trauma benturan baru. Paman El menjadikannya perisai yang cukup efisien. Probabilitas Bunda selamat jika Paman El tidak ada di sana hanya sebesar empat belas koma dua persen. Singkirkan racunmu."

​Kai mendengus pelan, memasukkan kembali botol mungil itu ke dalam sakunya dengan enggan. "Baiklah. Paman lolos untuk hari ini."

​Bastian meledak dalam tawa yang tak tertahankan, memukul mejanya dengan keras.

"Astaga, El! Keponakan kita benar-benar monster kecil yang mengerikan! Aku berani bertaruh, lima belas tahun lagi mereka yang akan mengkudeta posisimu sebagai penguasa klan Adhitama!"

​Alana ikut tersenyum, hatinya menghangat melihat bagaimana Elvano memperlakukan si kembar. Tidak ada kemarahan arogan, hanya pembuktian tulus layaknya seorang pelindung yang setara.

​Namun, kedamaian sesaat itu terputus saat sistem komputer utama tiba-tiba mengeluarkan bunyi dengung panjang yang menyayat telinga. Layar raksasa di depan Bastian berkedip merah terang, menampilkan sebuah kotak obrolan enkripsi yang muncul dengan sendirinya, menerobos firewall mansion tanpa peringatan.

​Tawa Bastian lenyap tak berbekas. Jemarinya langsung terbang di atas keyboard.

"Mustahil... tidak ada yang bisa membongkar firewall ini secara real-time kecuali..."

​"Kecuali mereka menggunakan kunci algoritma dari mainframe yang baru saja kita curi," potong Alana cepat, langsung berdiri dan mengambil alih satu komputer di sebelah Bastian. Wajahnya menegang.

​Di layar utama, sebuah pesan singkat diketik perlahan dari antah berantah.

​"Selamat atas kemenangan kecilmu, Elvano Adhitama. Kau merampas uangku. Tapi aku memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang."

​Jantung Elvano berdetak lebih cepat. Ia menekan earpiece-nya. "Jace! Periksa setiap sudut mansion! Pastikan Tuan Besar, Nyonya besar, Sonia dan Lea aman!"

​"Keluargamu utuh di sangkar emas itu," pesan di layar kembali berlanjut seolah tahu kepanikan yang melanda ruangan tersebut.

"Tapi, pelindung kecilmu sepertinya melupakan sesuatu."

​Alana membeku. Matanya melebar membaca kalimat terakhir.

​"Malam pembantaian satu tahun lalu, ada satu orang lagi yang sangat berharga yang mungkin kalian pikir sudah mati malam itu, Nona Alana?"

"Mbok Darmi?" gumam Alana pelan.

"Benar sekali! Dia masih hidup, dan dia sedang duduk di hadapanku sekarang. Datanglah ke dermaga barat sendirian besok malam, atau aku akan mengirimkan kepalanya ke sekolah keponakanmu."

​Layar seketika menjadi hitam. Sinyal terputus murni, tanpa meninggalkan jejak pantulan atau IP Address yang bisa dilacak oleh Kael maupun Bastian.

​Udara di ruang server seakan tersedot habis.

​Alana mundur selangkah, kakinya terasa lemas hingga ia nyaris kehilangan keseimbangan jika lengan kokoh Elvano tidak dengan sigap menahan pinggangnya dari belakang.

​"Mbok Darmi..." bisik Alana lirih, matanya nanar menatap layar yang kini gelap gulita.

Wanita tua yang merawat Kak Raka dan Alana sejak kami kecil dan berlanjut menjadi pengasuh si kembar... dia selamat dari malam pembantaian itu. Dan selama setahun ini mereka menyanderanya."

​Elvano mengencangkan pelukannya di pinggang Alana. Rahang bos mafia itu mengeras, aura pembunuh yang jauh lebih kejam dari sebelumnya menguar pekat memenuhi seluruh penjuru ruangan.

​Sindikat Bayangan baru saja membalikkan keadaan. Mereka mengincar titik terlemah Alana, masa lalu yang mengikat sisi kemanusiaannya.

​"Kita tidak akan membiarkanmu pergi ke sana sendirian," geram Elvano mutlak, suaranya berat dan menakutkan, bagaikan janji kematian bagi siapa pun yang berani mengancam miliknya.

"Kita akan menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya. Bersama."

Bersambung...

1
riniasyifa
terima kasih semua yang udah meluangkan waktunya untuk tinggalkan jejak kalian di setiap bab😍 author doain semoga kalian semua selalu dalam lindungan Allah SWT dan di mudahkan rejekinya amin.
Munas Tuti
duuuhalahhh genius banget Al 💪💪💪
Munas Tuti
ternyata musuh masih mengintai.....kapan damainya ni mbak ?
riniasyifa: haha dunia mafia gak pernah damai kak🤭🤣
total 1 replies
Munas Tuti
beuuuuh...ada2 ajha jawaban papa El
Munas Tuti
pasangan serasi 👍👍👍
Munas Tuti
horeeee....akhirnya Al tunduk jg 😄😄
Munas Tuti
keren....keren...
Munas Tuti
peranf lagiii niii...
Munas Tuti
huuuuh ikutab capek mbak...sampe megap2 tegang banget, hebat banget siiiih bikin ceritanya 👍👍👍
riniasyifa: 🤭 terima kasih kak, senang rasanya karya ini ada yang suka, jadi tambah semangat buat lanjut nulisnya💪💪😍😍
total 1 replies
Erna Wati
keren abis raja dan ratu Aditama..👍
Munas Tuti
lanjuuut..
Munas Tuti
duuuuh pagi2 ambyar dehhh, kek judul acara tv 😄😄😄
riniasyifa: haha kok tiba-tiba ke ingat acara tv ambyar kak 🤣🤣
total 1 replies
Munas Tuti
hi..hi..hi...Al dan El digoreng klgnya, apa fak panas tuuuh..
Lucyana H
aku doakan semoga author selalu sehat biar bisa update tiap hari,bsk episode yg paling menegangkan.....💪😘😍👍🏼
riniasyifa: amin ya rabbal alami, doa yang sama buat kakaknya ya. insyaallah kita coba buat lebih greget lagi ya kak🤣👍
total 1 replies
Lucyana H
wih..bakal .seru nih......🥰😍👍😘😁
riniasyifa: lanjut baca kak 😍😍
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
Baru di awal sudah merinding disco bulu romaku thooorrr
PengGeng EN SifHa: kebawa arus cerita e thooorrr
total 2 replies
Munas Tuti
aduduuu El dah manggil sayang uuuy 😄😄
Munas Tuti
brangkaaat El...
Munas Tuti
weidiiih El segitu pd nya diaa 😄
Munas Tuti
akhirnya El akan sll mekindungi c kembar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!