NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Anak Kost

Sisi Gelap Anak Kost

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Lelaki/Pria Miskin / Slice of Life
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Cerita terinspirasi kisah nyata!

Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.

Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.

Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 - Cerita Sebenarnya

Galih menghela napas panjang, berusaha membuang sisa-sisa amarah dan ketegangan yang ditinggalkan oleh Adit. Pintu kamar Adit yang dibanting keras masih menyisakan gema pelan di sepanjang lorong koridor. Galih berbalik, kembali berlutut di samping Indri yang masih bersimpuh lemas di lantai kayu.

"Mbak Indri... Tolong jangan dengerin omongan Mas Adit tadi ya," tutur Galih dengan suara pelan dan lembut. Ia mencoba menenangkan wanita di depannya yang masih bergetar hebat. "Mas Adit cuma salah paham. Dia nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi di kamar ini."

Namun, bukannya merasa tenang, Indri justru menyapu air matanya kasar seraya menggelengkan kepala lambat-lambat. Wajahnya yang pucat pasi tampak sangat memilukan di bawah remang lampu kamar.

"Nggak, Galih... Apa yang diomongin Adit tadi... semuanya benar," bisik Indri parau, suara tangisnya kembali pecah dalam isakan yang amat menyayat hati. "Aku memang cewek nggak benar... Aku sering bawa pria berganti-ganti ke kamar ini... Dan sekarang aku harus menanggung akibatnya..."

Galih tertegun sejenak. Ia memilih tetap diam, mendengarkan tanpa menyela sedikit pun agar Indri bisa meluapkan seluruh beban ganjalan di dadanya.

Indri meremas jemarinya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata menetes deras dari pelupuk matanya, menetes ke atas lantai kayu. "Aku... aku hamil, Galih..."

Suasana kamar sempit itu mendadak hening seketika. Galih terperanjat pelan, matanya sedikit membelalak memandangi Indri.

"Dan yang lebih parahnya lagi..." lanjut Indri seraya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangis meraung-raung secara tertahan. "Aku sendiri nggak tahu siapa ayah dari bayi di dalam kandunganku ini... Aku nggak tahu harus menagih tanggung jawab ke siapa, karena... karena aku tidur dengan banyak pria..."

Pengakuan tulus nan jujur itu menghantam dinding kamar bagaikan badai. Galih mematung di tempatnya. Sebagai pemuda dua puluh tahun yang baru saja menginjakkan kaki di kota, informasi seberat ini terasa begitu mengejutkan dan asing baginya.

"Aku nggak ada pilihan lain, Galih!" seru Indri histeris, seolah ingin membela keadaannya yang terlanjur hancur. "Aku ini anak pertama dari keluarga miskin di desa. Orang tuaku cuma petani penggarap yang sakit-sakitan. Aku datang ke kota berniat cari kerja buat bantu perekonomian keluarga dan biayai sekolah adik-adikku... Tapi cari kerjaan jujur di kota itu susah banget! Biaya hidup makin mencekik, sewa kamar kostan harus dibayar tiap bulan... Sampai akhirnya aku tergiur jalan pintas. Aku terpaksa jadi cewek bayaran..."

Indri meremas ujung kemeja Galih dengan tatapan pudar yang amat lelah. "Aku nggak pernah membayangkan bakalan hamil kayak gini... Kalau orang tuaku di desa sampai tahu anaknya jadi cewek panggilan dan hamil di luar nikah tanpa tahu siapa bapaknya... mereka pasti serangan jantung, Galih. Ibuku bisa meninggal karena menanggung malu dari tetangga desa..."

Isakan tangis Indri kian menjadi-jadi. "Makanya aku merasa satu-satunya cara buat menutup aib ini dan berhenti membebani siapapun... cuma dengan mati. Aku capek... Aku udah nggak sanggup menghadapi kenyataan ini lagi..."

Galih terdiam seribu bahasa. Tenggorokannya terasa tersumbat, tak tahu harus merangkai kata seperti apa untuk merespons kenyataan sepahit itu. Kehidupan di kota perantauan ternyata menyimpan sisi gelap yang jauh lebih kelam dan rumit daripada yang pernah ia bayangkan selama hidup di desa. Namun, melihat Indri yang rapuh dan hancur lebur di hadapannya, Galih menyadari bahwa penghakiman atau celaan sama sekali tidak ada gunanya saat ini.

Galih menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan pikirannya. Ia memegang kedua bahu Indri dengan mantap, menatap lurus ke dalam mata wanita yang sedang tenggelam dalam keputusasaan itu.

"Mbak Indri... Dengarkan aku," kata Galih tegas namun sarat akan ketulusan. "Nasi sudah jadi bubur. Kesalahan di masa lalu memang nggak bisa diubah atau dihapus begitu saja. Tapi mengakhiri hidup... sama sekali bukan jalan keluar."

Indri menatap Galih dengan mata sembapnya yang berkaca-kaca.

"Bayi yang ada di dalam kandungan Mbak Indri itu nggak punya dosa apa-apa," lanjut Galih pelan. "Dia nggak pernah minta dilahirkan ke dunia ini dengan cara seperti ini. Kalau Mbak Indri nekat bunuh diri, Mbak bukan cuma mengakhiri hidup Mbak sendiri, tapi Mbak juga membunuh nyawa polos yang nggak bersalah."

Indri tertegun, bibirnya gemetar mendengar penuturan Galih.

"Mbak Indri bilang Mbak sayang sama orang tua dan adik-adik di desa, kan?" tanya Galih hangat. "Coba Mbak bayangkan... Kalau Mbak mati dalam keadaan gantung diri di kamar kostan ini, berita itu bakal sampai ke desa. Aibnya bakal tetap terbongkar, dan orang tua Mbak bakal menanggung dua pukulan sekaligus, rasa malu dan rasa duka yang mendalam karena kehilangan anak sulung mereka selamanya. Apakah itu yang Mbak mau?"

Indri menggelengkan kepala dengan cepat, air matanya menetes makin deras. "Enggak, Galih... Nggak..."

"Makanya, Mbak... Tolong batalkan niat buruk itu," mohon Galih dengan porsi empati yang begitu besar. "Perbaiki semuanya selagi Mbak masih diberi kesempatan bernapas. Jalani kenyataan ini dengan berani. Memang bakal terasa sangat berat, penuh cacian, dan capek... Tapi bicaralah jujur sama keluarga Mbak di desa pelan-pelan. Bagaimanapun juga, orang tua pasti akan lebih memilih melihat anaknya pulang selamat membawa masalah, daripada menerima kabar anak mereka pulang dalam peti jenazah."

Kata-kata Galih meresap sangat dalam ke lubuk hati Indri. Setiap kalimatnya seolah menjadi pelita kecil yang menerangi kegelapan jiwa wanita itu. Isakan tangis Indri perlahan mereda, berganti dengan helaan napas panjang yang sarat akan rasa penyesalan.

"Terima kasih ya, Galih..." ucap Indri parau, menyapu sisa air mata di pipinya. "Kamu... kamu benar-benar anak muda yang baik. Mulutku sampai malu sendiri karena tadi sempat bentak-bentak kamu..."

Galih tersenyum tipis, merasa lega melihat sirnanya sorot mata ingin mati dari paras Indri. "Nggak apa-apa, Mbak. Yang penting Mbak janji sama aku... Jangan pernah sentuh tali itu lagi. Janji ya?"

Indri mengangguk pelan, menyapu bekas jeratan merah di lehernya. "Iya, Galih. Aku janji..."

Galih membantu Indri merapikan sisa-sisa tali tambang yang terputus di lantai dan mengamankannya ke luar kamar. Setelah memastikan Indri berada dalam keadaan tenang dan siap mengistirahatkan badannya, Galih berpamitan dan melangkah keluar menuju kamarnya di ujung lorong.

Malam itu, Galih merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai yang keras. Meski fisiknya lelah dan kepalanya dipenuhi kerumitan kisah para penghuni kostan, ada rasa hangat yang menyelinap di dadanya. Di tengah pelariannya sendiri dari neraka sang ayah, keberadaannya di kota ini setidaknya telah menyelamatkan sebuah nyawa.

1
Ardan
ingat warung pak susilo, jangan langsung ditinggalkan, kasihan ledua orang paruh baya tsb, bikin warungnya rame dan maju dulu galih
Ardan
misteri nya blm terpecahkan, antara horor atau ada orang usil nih
fara sina
lanjut kak. semangat selalu ya nulisnyaa
fara sina
ini gak adil. indri kamu bener bener jahat. padahal galih ga ada salah apa apa sama kamu. kamu memanfaatkan kebaikan galih.
fara sina
mas Adit gamau bantu?? kenapa ya🥺 inget mas Adit mas Adit 1 piring Indomie kamu ga ada niatan bantuin
fara sina
sangking baiknya kamu ya galih. padahal kenal belum ada seminggu
fara sina
galih orangnya gaenakan ya. serius jadi orang gaenakan itu gaenak. serba salah
fara sina
kenapa ga pernah akur begitu ya
fara sina
Waduh Galih, jangan senyum kecut aja dong... Hati-hati itu Fika tetangga sebelah beneran takut atau cuma modus malam-malam begini?
fara sina
gerak geriknya serem ya kaya bukan manusia
fara sina
ikutan sedih ya lih, banyak banyak berdoa biar warungnya laris manis.
fara sina
yess, cari cuan dulu ya buat modal nantinya. kalo udah ada modal tambahan juga cari kerja yang gajinya lumayan
fara sina
yuk bisa yuk galih cita citanya bisa terwujud
fara sina
tapi kayanya mba Fika bukan orang jahat ya
fara sina
duh, hati hati galih. jangan gampang menerima pemberian orang asing yang baru kenal apalagi makanan
fara sina
🥺 tetap semangat ya galih. semoga nantinya cepet dapet kerjaan
fara sina
gatau, aku bukan laki laki. kayanya gasemua sama dah
Ekka
aneh
fara sina
sekaligus baik dan pengertian. tau galih ga ada duit inisiatif ngasih duit
fara sina
keuntungan biar banyak yang kos wkwkwk pak Yono
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!