“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”
Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.
Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.
Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.
Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Herman mulai runtuh perlahan.
Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.
Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3
Setelah panggilan telepon yang menghancurkan hatinya itu terputus sepihak, Ningsih masih duduk membeku di atas sofa ruang tamu. Kedua tangannya menggenggam ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara air mata terus mengalir deras tanpa suara, membasahi pipinya.
Di pangkuannya, Luna akhirnya tertidur lelap karena kelelahan menangis. Gaun ulang tahun yang sejak pagi dipakainya dengan penuh kebanggaan kini tampak kusut.
Ningsih menatap wajah polos putrinya yang masih menyisakan bekas air mata di sudut pipi. Dadanya terasa begitu sesak, seolah pasokan oksigen di ruangan itu mendadak lenyap.
“Apa salah anak kecil ini, Mas? Apa begitu sulit bagimu untuk meluangkan satu malam saja demi putrimu sendiri?” batin Ningsih nelangsa, meratapi kemalangan nasib mereka.
Jarum jam dinding di ruangan itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat ketika suara deru mesin mobil mewah terdengar memasuki halaman rumah. Ningsih langsung menegakkan punggungnya. Ia memindahkan tubuh Luna yang tertidur ke sofa dengan sangat hati-hati, lalu berdiri.
Sepasang matanya yang sembap menatap lurus ke arah pintu utama dengan tatapan yang tak lagi sama. Tatapan penuh luka yang kini mulai dilapisi oleh dinding es yang dingin.
Ceklek!
Pintu terbuka.
Hendra melangkah masuk dengan santai. Pria itu bahkan tidak melepaskan pandangannya dari layar ponsel pintarnya, berjalan melewati ruang tamu tanpa menoleh sedikit pun pada dekorasi balon atau kue ulang tahun yang mencolok di tengah ruangan.
Tidak ada guratan rasa bersalah di wajah tampannya. Tidak ada penjelasan. Tidak ada juga untaian kata maaf yang keluar dari bibirnya. Ia bersikap seolah-olah malam ini hanyalah malam biasa yang berjalan tanpa cela.
“Mas,” panggil Ningsih.
Hendra menghentikan langkahnya di dekat gantungan jas, menoleh malas dengan sebelah alis terangkat. “Hm? Kamu belum tidur?”
“Kemana saja kamu baru pulang, Mas?”
Hendra mendengus pelan, lalu melepas jas kerjanya dengan gerakan tak acuh.
“Aku kerja, Ningsih. Kan tadi pagi sudah kubilang kalau hari ini jadwalku padat.”
Jawaban itu keluar begitu saja dari mulutnya. Datar, lancar, tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya. Ningsih menatap suaminya lekat-lekat selama beberapa detik, mencoba mencari sisa-sins kejujuran yang mungkin tersembunyi, namun ia tidak menemukan apa pun selain keangkuhan.
“Kerja?” ulang Ningsih dengan menyindir.
“Iya, kerja. Kenapa? Kamu mau menginterogasiku sekarang?” sahut Hendra, mulai tersulut emosi.
“Luna menunggumu sejak jam empat sore, Mas. Dia menolak meniup lilinnya sampai matanya bengkak dan tertidur karena kelelahan menangis,” ucap Ningsih, menunjuk ke arah sofa tempat Luna meringkuk.
Hendra melirik sekilas ke arah putrinya, lalu membuang muka dengan cepat. “Ya mau bagaimana lagi? Aku sibuk. Urusan di kantor tidak bisa ditinggal begitu saja hanya untuk urusan sepele seperti ini.”
“Urusan sepele?” Suara Ningsih mulai bergetar, menahan gejolak amarah yang siap meledak di dadanya. “Mas sudah janji kelingking padanya tadi pagi! Mas berjanji akan datang tepat waktu!”
“Ningsih, tolong ya! Aku sudah bilang kalau ada pekerjaan mendadak. Jangan seperti anak kecil yang tidak tahu skala prioritas!” bentak Hendra, nadanya mulai meninggi.
Ningsih menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan seluruh kekuatan yang tersisa di dalam jiwanya. Biasanya, ia akan memilih diam. Biasanya, ia akan mengalah, meminta maaf, dan menelan semua rasa sakit itu sendiri demi menjaga kedamaian rumah tangga mereka.
Namun, tidak malam ini berbeda. Terlalu banyak kebohongan yang terjadi. Terlalu banyak luka yang sudah ia tahan selama dua tahun terakhir ini.
“Kalau memang Mas sibuk kerja di kantor, kenapa teleponku tadi diangkat oleh wanita lain?” tanya Ningsih langsung, menusuk tepat pada sasaran.
Gerakan tangan Hendra yang hendak melonggarkan dasinya langsung terhenti seketika. Hanya sesaat, sebelum ia dengan cepat menguasai kembali ekspresi wajahnya dan berjalan santai menuju sofa panjang, lalu duduk di sana sambil menyandarkan punggungnya dengan angkuh.
“Wanita lain? Wanita lain siapa maksudmu?” tanya Hendra balik, pura-pura bingung.
“Jangan pura-pura tidak tahu, Mas. Kamu tahu persis siapa yang memegang ponselmu malam ini.”
Hendra mendecak pelan, melemparkan pandangan jengah ke arah langit-langit rumah. “Ningsih, mulailah bicara yang jelas. Jangan membuatku pusing setelah seharian lelah mencari uang.”
“Aku mendengar suara perempuan di teleponmu, Mas! Aku mendengar semuanya dengan sangat jelas!” seru Ningsih, air matanya kembali menetes.
“Lalu? Apa yang kamu dengar dari telepon itu?” tanya Hendra menantang sembari melipat kedua tangannya di dada dengan tenang.
Ningsih melangkah mendekati sofa, mencengkeram ujung bajunya hingga kuku-kukunya memutih.
“Wanita itu bilang Mas sedang mandi.”
“Hahaha!” Hendra tiba-tiba tertawa pendek. Tawa sinis yang justru terasa bagai sembilu yang mengiris-iris hati Ningsih hingga hancur berkeping-keping. “Terus? Cuma karena itu kamu langsung menuduhku yang tidak-tidak?”
“Terus dia memanggil namamu dengan suara yang teramat manja dan akrab,” suara Ningsih semakin bergetar hebat, menahan tangis yang mendesak di tenggorokan.
“Memangnya kenapa kalau dia memanggil namaku? Hak dia, kan?”
Ningsih menatap suaminya dengan pandangan tak percaya.“Mas serius berkata begitu padaku? Mas menganggap itu hal yang wajar?!”
“Ya, wajar saja.”
“Dia itu wanita lain, Mas Hendra! Wanita lain yang mengangkat ponsel pribadimu di malam hari!” teriak Ningsih, tak mampu lagi membendung emosinya.
Hendra mengembuskan napas kasar dari hidungnya, memasang wajah super jengkel. “Ya Tuhan, Ningsih... kamu ini benar-benar picik.”
“Aku juga mendengar suaramu di balik telepon itu, Mas. Aku tidak tuli!”
“Dengar apa lagi kamu, hah?!” bentak Hendra balik, matanya berkilat marah karena privasinya mulai diusik.
“Aku mendengar dengan telingaku sendiri Mas memanggil perempuan itu dengan kata sayang. Mas mau mengelak apa lagi?!”
Suasana ruang tamu mendadak hening mencekam selama beberapa detik setelah kalimat itu meluncur dari bibir Ningsih. Bukannya panik atau ketakutan karena kedoknya terbongkar, Hendra justru kembali menyunggingkan senyum sinis yang teramat meremehkan.
Pria itu berdiri dari duduknya, menatap Ningsih dari atas ke bawah dengan malas.
“Astaga, Ningsih...” Hendra menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Apa? Kenapa Mas menatapku seperti itu?”
“Kamu benar-benar sudah keterlaluan dan tidak punya harga diri.”
Ningsih mengerutkan keningnya dalam-dalam, dadanya terasa sesak seolah dihantam batu besar. “Aku yang keterlaluan? Aku?!”
“Iya, kamu!” Hendra maju satu langkah, mengintimidasi Ningsih dengan postur tubuhnya yang lebih tinggi. “Ningsih, sejak kapan kamu berubah menjadi perempuan paranoid yang suka menuduh suaminya berselingkuh tanpa ada bukti yang jelas, hah? Kamu ini hanya berspekulasi!”
“Aku tidak menuduh tanpa bukti, Mas! Aku mendengar suaramu sendiri di telepon itu!”
“Telingamu yang salah dengar!” Kalimat tegas dan dingin itu meluncur begitu saja dari mulut Hendra, membuat Ningsih seketika terdiam terpaku.
“Tidak mungkin! Aku tidak mungkin salah mendengar suaramu sendiri, Mas,” lirih Ningsih dengan gelengan kepala tanda menyangkal.
“Sangat mungkin! Kamu itu dari dulu memang dasarnya gampang panik dan terlalu curigaan!” cecar Hendra tanpa belas kasihan. “Kamu terlalu banyak berimajinasi di rumah ini.”
“Aku tidak salah dengar, Mas! Suaramu jelas sekali!”
”Aku bilang kamu salah dengar, ya kamu salah dengar! Jangan membantahku!” bentak Hendra.
Ningsih merasa dadanya semakin panas membara, amarahnya sudah mencapai titik didih. “Mas Hendra, aku ini istrimu! Aku mendampingimu selama tujuh tahun, aku tahu betul bagaimana suaramu! Dan aku tidak bodoh!”
“Tapi sikap dan otakmu malam ini benar-benar seperti orang yang tidak pernah menggunakan akal sehat untuk berpikir!”
Deg!
Ucapan kasar itu menusuk tepat di jantung Ningsih. Selama tujuh tahun mengarungi bahtera rumah tangga, sekaya atau sesukses apa pun Hendra belakangan ini, pria itu tidak pernah sekali pun melontarkan kalimat yang penuh dengan penghinaan sekejam ini kepadanya.
Kini, setiap kata yang keluar dari mulut Hendra terasa seperti injakan kaki yang sengaja merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita.
ingat ya Luna sangat cerdas ,,
ooh kalau soal Ningsih mungkin dia akan di incar oleh CEO aditama🤣🤣
Nawang kepengen punya anak agar bisa
dapat warisan
dan Hendra numpang hidup supaya bisa kaya lgi🤣🤣🤣
cari tau dulu
emang orang kere kepingin kaya hanya mengandalkan omongan manis merayu orang😁😁
bermulut tajam merayu orang
justru Hendra yang membuat hidup Ningsih hancur
jangan kau pungut