Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Pukul sepuluh pagi. Sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela kaca tinggi di ruang istirahat pribadi lantai dua markas klan Argantara. Suasana begitu tenang, bertolak belakang dengan kekacauan mendadak yang terjadi di fasilitas latihan bawah tanah beberapa jam lalu. Aroma antiseptik bercampur wangi minyak esensial lavender melayang tipis di udara, mencoba mengikis sisa-sisa bau hangus yang sempat terbawa dari lorong evakuasi.
Aria duduk di tepi ranjang perawatan. Ia mengenakan kemeja longgar berwarna putih polos dan celana kain hitam—menggantikan pakaian taktisnya yang sudah dikirim ke ruang pembuangan. Bahu kirinya terbebat kain kasa tebal setelah tim medis internal menyuntikkan pereda nyeri dan mengobati memar akibat benturan platform baja.
Di depannya, sebuah cangkir porselen berisi teh herbal hangat masih mengepulkan uap tipis. Namun, perhatian Aria tidak tertuju pada minuman itu. Pandangannya tertambat pada ujung jemari tangannya sendiri yang terpaut kaku di atas pangkuan.
Setiap kali ia memejamkan mata, ingatan tentang kejadian tadi malam berputar kembali dengan sangat jelas. Bayangan Devan yang menerobos pintu baja yang hampir menutup, rasa panas percikan api yang membakar punggung pria itu demi melindunginya, hingga getaran halus pada jemari Devan saat menangkup wajahnya di lorong evakuasi... semuanya membekas begitu dalam.
KLAK.
Pintu kayu jati ruang istirahat bergeser halus. Aria refleks menegakkan posisinya, menghentikan lamunannya seketika.
Devan Argantara melangkah masuk.
Pria itu telah berganti pakaian. Kemeja hitam berlengan panjang yang bagian sikunya dilipat rapi membungkus tubuh tegapnya. Jas mahal Italia yang terbakar tadi malam sudah tidak ada lagi. Meski garis-garis wajah Devan memancarkan ketegasan yang sama seperti biasa, ada sebersit bayangan lelah yang tersirat di bawah matanya. Di balik kain kemeja hitamnya, Aria tahu ada luka bakar ringan yang diolesi salep medis oleh dokter klan beberapa jam yang lalu.
Mata mereka bertabrakan di udara.
Sekejap, keheningan yang aneh dan canggung merebak di antara mereka. Keheningan yang sangat berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya atmosfer di antara Devan dan Aria selalu diisi oleh adu argumen yang tajam, sindiran dingin, atau ketegangan taktis yang lugas, kali ini ada kecanggokan yang begitu kaku—sebuah tembok tak kasat mata yang terbangun akibat luapan emosi mentah yang terlanjur keluar tadi malam.
Aria mendadak merasa bingung harus menaruh pandangannya di mana. Ia berdeham pelan, mengalihkan matanya ke arah cangkir teh di atas meja kecil.
"Dokter bilang kamu sudah boleh kembali ke ruang komando siang nanti," suara Devan memecah keheningan. Suaranya terdengar datar, berat, dan terlalu terkontrol—seolah pria itu sengaja membangun kembali benteng profesionalismenya yang sempat runtuh total.
"Aku... aku sudah merasa lebih baik," balas Aria pelan. Suaranya tidak selincah atau setajam biasanya. "Memarnya cuma terasa nyeri sedikit kalau aku menggerakkan bahu terlalu kencang."
Devan melangkah mendekat. Setiap tapakan pantofel kulitnya di atas lantai kayu memicu desiran halus di dada Aria. Pria itu menghentikan langkahnya tepat di samping ranjang, menjaga jarak sekitar satu meter—sebuah jarak aman yang terasa sangat tidak alami jika dibandingkan dengan seberapa rapat tubuh Devan mendekapnya tadi malam.
Devan meraih botol obat berisi vitamin dan pereda nyeri di atas meja, membacanya sejenak, lalu meletakkannya kembali dengan ketukan pelan.
"Insiden tadi malam sudah diinvestigasi," ujar Devan, membelakangi Aria sembari menatap ke luar jendela. "Terjadi lonjakan arus mendadak dari trafo cadangan yang terkontaminasi korosi lama. Bukan sabotase internal, tapi murni kelalaian perawatan berkala oleh tim teknis Sektor Tiga."
"Bagaimana dengan orang yang bertanggung jawab?" tanya Aria, mencoba mengarahkan percakapan ke topik pekerjaan agar suasana tidak makin menghimpit.
"Marco sudah memindahkan seluruh tim perawatan itu ke pos perbatasan luar," jawab Devan dingin. "Tidak ada toleransi untuk kesalahan yang mengancam nyawa anggota operasi."
Aria menggigit bibir bawahnya pelan. Pria di depannya ini telah kembali menjadi sosok penguasa klan Argantara yang tak tersentuh dan berdarah dingin. Seolah-olah pria panik yang memeluknya di tengah asap pekat tadi malam hanyalah ilusi dari kepalanya sendiri.
Aria menarik napas panjang, mengumpulkan keberaniannya. Ia memutar tubuhnya sedikit menghadap ke arah Devan.
"Devan..." panggil Aria halus.
Devan memutar tubuhnya perlahan, menatap Aria dengan iris mata kelamnya yang sukar dibaca. "Ya?"
"Tentang... punggungmu," bisik Aria, tatapan matanya tertuju pada bahu kanan Devan. "Dokter bilang percikan besi panas tadi malam sempat menembus kemejamu. Kamu... tidak apa-apa?"
Devan membeku sejenak. Sorot matanya bergetar tipis mendengarkan nada nada kekhawatiran murni yang meluncur dari bibir Aria—bukan pertanyaan formalitas seorang bawahan, melainkan pertanyaan dari seorang wanita yang benar-benar memikirkannya.
Kecanggokan di antara mereka mendadak menebal, berubah menjadi udara panas yang membuat ruang dada terasa menyempit.
Devan mengalihkan pandangannya sebentar, merapikan manset kemejanya sebelum menjawab. "Cuma luka gores kecil. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Tapi kamu tidak seharusnya melompat ke dalam ruangan itu," lanjut Aria, suaranya makin pelan namun menuntut. "Pintu baja itu hampir menutup, Devan. Kalau kamu terlambat setengah detik saja, kamu bisa terjebak di dalam sana bersamaku. Kamu itu pimpinan klan ini. Kalau kamu mati atau terluka parah cuma gara-gara menyelamatkan seorang peretas, seluruh operasi Kasino Royale bakal hancur."
Devan melangkah satu tahap lebih rapat ke arah ranjang. Bayangan tubuhnya yang jangkung perlahan menutupi sebagian pendar sinar matahari yang menerpa tubuh Aria.
"Aku tidak membuat keputusan berdasarkan kalkulasi kerugian klan saat aku melihatmu terjebak di dalam sana, Aria," pungkasi Devan, suara beratnya mendadak berubah menjadi bisikan rendah yang sarat akan penekanan mutlak.
Aria menengadah, menatap lurus ke dalam iris mata kelam pria itu. "Lalu berdasarkan apa?"
Pertanyaan itu melayang di udara, menuntut jawaban jujur yang selama ini selalu mereka hindari di balik kesepakatan bisnis dan protokol taktis.
Devan tidak langsung menjawab. Pria itu menundukkan pandangannya, menatap jemari Aria yang masih mengepal kaku di atas paha. Tanpa sadar, tangan kanan Devan terangkat, bergerak perlahan mendekati bahu Aria yang tidak terbalut perban.
Namun, tepat saat ujung jemari Devan hampir menyentuh kain kemeja Aria, Devan menghentikan pergerakan tangannya di udara. Pria itu menyadari adanya sedikit tarikan napas kaget dari Aria—sebuah reaksi refleks yang menunjukkan betapa peka dan tegangnya wanita itu saat ini.
Devan menarik kembali tangannya perlahan, memasukkannya ke dalam saku celananya. Sebuah senyum tipis yang sarat akan pengendalian diri terukir di bibirnya.
"Berdasarkan fakta bahwa aku tidak suka milikku dirusak oleh kelalaian orang lain," ujar Devan, mengembalikan topeng dominannya, walau suaranya terdengar sedikit serak di ujung kalimat.
Aria menahan napasnya. Kata 'milikku' yang biasanya terdengar seperti klaim otoriter seorang bos mafia kini terasa memiliki bobot lain—sebuah sebutan terselubung untuk menyembunyikan rasa kepemilikan dan proteksi mendalam yang tak sanggup Devan akui secara terbuka.
Aria memalingkan wajahnya ke samping, merasakan hangat yang mendadak menjalar hingga ke ujung telinganya. "Aku bukan barang milik siapa pun, Devan."
"Kamu berada di bawah perlindunganku selama operasi ini berjalan, Little Bird," balas Devan datar, meski tatapan matanya tetap mengunci profil samping wajah Aria dengan intensitas yang memabukkan. "Itu membuatmu menjadi tanggung jawabku secara mutlak. Suka atau tidak suka."
TOK! TOK! TOK!
Ketukan di pintu luar memecah ketegangan yang kian pekat di antara mereka. Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan Marco yang berdiri dengan raut wajah serius.
"Tuan Devan, tim taktis sudah berkumpul di ruang komando utama. Dokumen pemetaan jalur patroli terbaru Kasino Royale sudah selesai dienkripsi oleh tim siber," lapor Marco.
Devan mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari Aria. "Aku turun dalam dua menit."
Marco membungkuk hormat lalu kembali menutup pintu, meninggalkan Devan dan Aria kembali dalam keheningan mereka.
Devan merapikan kerah kemejanya, lalu menatap Aria untuk terakhir kalinya sebelum keluar.
"Istirahatlah satu jam lagi," kata Devan dengan nada suara yang kembali formal. "Setelah itu, aku tunggu di ruang komando. Kita harus mematangkan rencana penyusupan lantai tiga bawah tanah."
Devan berbalik dan melangkah menuju pintu keluar. Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, Aria kembali bersuara:
"Devan."
Pria itu menghentikan langkahnya, tanpa memutar tubuhnya. "Ya?"
"...Terima kasih," bisik Aria pelan, tulus dari dasar hatinya. "Untuk yang tadi malam."
Devan membeku sejenak di ambang pintu. Sebuah ukiran senyum tipis yang amat halus—yang tidak sempat dilihat oleh Aria—terbentuk di wajahnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Devan mengangguk pelan lalu melangkah keluar, menutup pintu rapat-rapat.
Aria menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Di dalam ruangan yang kembali hening itu, Aria tahu bahwa meski mereka berdua bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, dinding pembatas profesional di antara dirinya dan Devan Argantara telah runtuh sepenuhnya—menyisakan kecanggokan berbahaya yang justru makin mempererat keterikatan batin mereka menuju misi paling mematikan yang siap menjelang.