Alina adalah seorang mahasiswa semester akhir yang tiba-tiba dijodohkan dengan anak sahabat orang tua nya yang merupakan dosen di tempatnya menimbah ilmu.
Sayangnya Farhan sudah memiliki kekasih yang sangat ia cintai.
Suatu hari Alina tidak sengaja melihat Farhan dan kekasihnya melakukan sesuatu hal yang menjijikan.
Bagaimana reaksi Alina saat tau laki-laki yang akan menjadi suaminya adalah orang yang sangat dia benci.
Ikuti cerita dari Mengejar Kesempatan ke dua setelah perceraian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Tidak lama kemudian kedua orang tua Farhan datang, tadi mama Farhan sudah bertanya dimana ruangan Alina dirawat.
Benar saja dari jauh mama Farhan berjalan tergesa-gesa diikuti papa Farhan.
"Farhannnn!!!." panggil mama nya.
Farhan menoleh melihat kedatangan mereka.
"Bagaimana keadaan Alina?." tanya mama Farhan dengan nafas tersengal.
"Tenang ma, duduk dulu." Farhan mengarahkan mamanya untuk menenangkan diri.
"Jadi bagaimana keadaan Alina? Kamu ini bagaimana sih masa ga tau kalau Alina sakit." Benar seperti tebakan Farhan jika dia di omelin mamanya.
"Maa, aku juga baru tau kalau Alina sakit, tadi dia telpon aku, waktu aku sampai rumahnya dia udah pingsan." Farhan menceritakan kejadian yang dialami oleh Alina.
"Ya ampun, mama udah bilang buat tinggal di rumah biar ada yang mengawasi." Mama Farhan merasa bersalah karena membiarkan Alina sendiri di rumahnya.
"Kamu sudah kasih ruangan yang bagus buat Alina?." papa Farhan yang dari tadi menyimak akhirnya buka suara.
"Sudah pa." jawab Farhan.
"Kalau gitu mama mau lihat Alina dulu,ayo pa." mama menarik tangan papa.
Farhan menghela nafas melihat kelakuan mama nya.
Mereka memasuki ruang rawat Alina,disana Alina terlihat tenang dalam tidurnya. Mama Farhan mendekat kemudian mengelus rambut Alina, dia tidak tega melihat wajah pucat Alina.
"Cepat sembuh sayang." ucap mama Farhan dengan mata berkaca-kaca.
Farhan hanya melihat dari belakang, dia menyadari jika mamanya menjadi emosional karena teringat adik Farhan yang sudah tiada.
Alina mulai membuka matanya,yang pertama dia lihat adalah mama Lara.
"Tante." ucap Alina dengan suara pelan.
"Alina, sayang kamu udah bangun." Farhan dan papanya langsung mendekat untuk melihat Alina.
Kemudian mata Alina menatap Farhan, dalam sekejap pandangan mata mereka beradu, tetapi Alina memutuskan lebih dulu.
"Aku dimana?." tanya Alina,sambil merasakan pusing dikepala nya.
"Kamu di rumah sakit sayang, tadi kamu pingsan." jelas mama Lara.
Alina mencoba mengingat kejadian sebelum dia tidak sadarkan diri, seingatnya dia tadi menelpon seseorang, Alina membelalakkan matanya, apakah orang itu adalah Farhan?.
"Tadi kamu menelpon saya, waktu saya sampai di rumah, kamu sudah tidak sadarkan diri." Farhan menjelaskan kebingungan Alina.
Sekarang yang ada dipikiran Alina adalah bagaimana Farhan membawanya, apakah dia digendong?
"Bagaimana keadaan kamu sayang?." Lamunan Alina disadarkan oleh suara mama Lara.
"Udah mendingan Tante." jawab Alina.
"Jangan panggil Tante, mama!."
"Mama." Alina mengulangi perkataan mama Farhan.
"Good job, sekarang kamu istirahat, kalau butuh sesuatu bilang aja ya." mama Farhan berkata sambil mengelus rambut Alina.
Alina mengangguk sebagai tanda setuju.
Mama dan papa Farhan pergi untuk mencari makanan, tinggallah Alina dan Farhan yang diliputi kecanggungan.
"Bagaimana keadaan kamu?." Farhan mencoba mencairkan suasana.
"Sudah lebih baik." jawab Alina dengan pelan.
Kembali kesunyian melanda mereka berdua.
"Terima kasih." ucap Alina.
Farhan menatap Alina .
"Terima kasih sudah menolong saya,tadi saya tidak tau siapa yang saya hubungi."
"Lain kali kalau kamu sakit kamu bisa langsung hubungi saya, jangan seperti hari ini, kamu tidak tau seberapa panik waktu kamu tidak sadarkan diri." baru kali ini Alina melihat kekhawatiran Farhan untuknya.
Perasaan Alina menjadi aneh, tetapi dia mengangguk sebagai tanda setuju.
Kemudian Alina merasakan jika dia ingin buang air kecil. Alina bangun perlahan dari tidurnya, Farhan yang melihat langsung membantu Alina bangun dengan pelan.
"Ada apa? Ada yang sakit?." tanya Farhan dengan nada khawatir.
Alina menggeleng, dengan malu dia berkata," aku mau ke kamar mandi." Alina menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajah nya yang memerah.
Farhan menghela nafas, dia langsung menggendong Alina.
"Pakkkk." pekik Alina.
"Ambil infusnya." bak anak kecil dia langsung menurut.
Farhan langsung membawanya ke kamar mandi,disana Alina di turunkan di close agar Alina bisa duduk.
"Kalau udah selesai panggil saya." Alina langsung mengangguk agar Farhan segera pergi.
Setelah Farhan menutup pintu,Alina langsung memegang dadanya yang berdetak kencang.
"Sadar Alina, jangan terbawa perasaan." Alina memegang pipinya yang terasa panas.
Sudah lima menit Farhan menunggu di depan kamar mandi, dia takut terjadi sesuatu kepada Alina.
"Alina apakah sudah selesai?." Farhan mencoba memastikan.
"Sebentar pak." saut Alina dari dalam.
Tidak lama dari itu pintu kamar mandi terbuka.
"Kenapa tidak memanggil saya?." terselip nada khawatir dari perkataan Farhan.
"Pak saya cuma demam bukan lumpuh, jadi saya bisa jalan sendiri." Alina menjelaskan kepada Farhan.
Seolah tidak mendengar perkataan Alina kembali Farhan mengendong Alina, tepat pada saat itu kedua orang tua Farhan masuk.
"Eh." mama dan papa Farhan terkejut melihat Alina di gendongan Farhan, Alina yang ada di situasi ini langsung menyembunyikan wajahnya di dada Farhan.
Farhan juga merasa canggung dengan situasi ini, Berbeda dari pasangan suami istri dadakan itu para orang tua merasa jika mereka terlihat romantis.
Farhan menurunkan Alina di ranjang, kemudian menaruh infus ke tempatnya.
"Mama dari mana?." Farhan mencoba mengalihkan suasana, sembari menyelimuti Alina,perlakuan Farhan yang seperti ini membuat Alina berdebar.
"Ini mama beli makanan buat kamu, kalau Alina makan - makanan rumah sakit aja ya sayang." Alina mengangguk.
"Biar mama sama papa yang jaga Alina." ucap mama Farhan.
"Ga usah, mama sama papa pulang aja,besok aja gantian waktu aku ngajar." Farhan menyuruh orang tuanya pulang.
"Begitu?." tanya mama Farhan.
"Iya maaa, lagian lihat pakaian mama sama papa."
Orang tua Farhan baru sadar jika mereka menggunakan pakaian berkebun, karena saat Farhan mengatakan jika Alina di rawat di rumah sakit mereka langsung pergi tanpa mengganti pakaiannya.
"Kalau ketemu teman sosialita mama gimana?." Farhan menggoda mamanya, pasalnya mama Farhan adalah orang yang memiliki image rapi dan anggun.
"Kalau gitu mama sama papa pulang dulu,Alina sayang kalau Farhan nakal langsung telpon mama,biar mama jewer telinganya."
"Maaaa." rengek Farhan.
Alina tertawa kecil melihat interaksi ibu dan anak itu.
"Alina kalau ada apa-apa, langsung kabari ya, sekarang kamu anak papa dan mama." Papa Farhan yang terlihat tenang mengeluarkan kata-kata yang membuat Alina mengingat ayahnya.
"Terima kasih pa." ucap Alina
"Alin minta tolong agar tidak memberi tahu ayah sama bunda kalau Alin sakit." terlihat kekhawatiran di mata Alina.
Papa Farhan mengangguk,"Baiklah kalau itu yang membuat kamu tenang." ucap papa Farhan sambil tersenyum.
"Terima kasih pa,ma, pak Farhan." Ucap Alina sambil memandangi mereka satu persatu.
"eitss, kok masih manggil suami kamu pak, yang mesra dong." protes mama Farhan.
"Ma, senyamannya Alina aja lah." Farhan tidak ingin membebani Alina.
"Harus diganti ya sayang panggilannya." Alina mengangguk untuk menyenangkan mama Farhan yang sangat baik kepadanya.
Kemudian kedua orang tua Farhan berpamitan.
"Saya antar mereka dulu ya." ucap Farhan kepada Alina, Alina mengangguk.
Senyum Alina muncul saat melihat Farhan dan kedua orangtuanya,dia merasa seperti ada di keramaian,bukan di tempat luas tetapi terasa sepi.