NovelToon NovelToon
Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: BAYANGAN YANG BERHENTI MENGHITUNG

#

Radio itu masih mendesis ketika Kenzo menarik pelatuknya.

Peluru menghantam badan plastik hitam itu dari jarak dua langkah, dan benda kecil yang tadi berbicara dengan suara sehangat itu pecah berhamburan di antara lembaran uang, lampu merahnya padam. Tapi suara itu sudah masuk ke kepalanya, dan tidak bisa ditembak. *Aku yang menyuruh.* Ia berdiri dengan lengan masih terulur, dan sarung tangannya basah, dan ia tidak tahu kapan itu terjadi.

"Kenzo... Kenzo, dengar aku... keluar... sekarang..." Suara Axel di telinganya pecah-pecah, ada desis napas yang terputus di sela kata, dan untuk sekali itu mesin datarnya tidak bisa menyembunyikan apa pun. "Radio itu... aku lacak sinyalnya, tiga detik, cuma tiga detik tapi... Kenzo, ada dua mobil masuk gerbang barat. Hitam. Lampunya mati."

"Dia dengar semuanya, Xel." Suaranya serak di dalam porselen. "Dia nunggu... dia nunggu aku di sini."

"Aku tahu. Aku tahu! Tapi kalau kamu nggak gerak, kamu..."

Ia sudah bergerak. Bukan karena perintah, tapi karena tubuhnya, yang empat belas bulan dihajar di ruang tanpa lampu, menarik kakinya lebih dulu daripada pikirannya. Ia melompat ke jendela samping, memecahkan kaca dengan siku, dan jatuh ke atap seng gudang sebelah dengan lutut menekuk redam, cara yang diajarkan lelaki pincang di bawah jembatan itu. Di belakangnya pintu kantor ditendang terbuka. Ia tidak menoleh. Tapi ia mendengar satu langkah sepatu yang berhenti di ambang, ringan, tenang, tidak buru-buru, dan sebuah suara yang ia kenal dari ruang kecil di Kota Tua berkata pelan pada siapa pun yang ada di sana:

"Jangan dikejar. Bayangan itu akan pulang sendiri."

---

Ia tidak pulang. Tidak langsung. Ia berlari di atap-atap seng sampai napasnya serasa disobek, turun di sebuah gang bau ikan busuk, lalu duduk di balik tong bekas dengan punggung menempel dinding dan topeng masih menempel di wajah, karena tangannya tidak mau naik untuk melepasnya. Dadanya naik turun cepat sekali. Di dalam kepalanya satu kalimat berputar tanpa henti, mengikis seperti air pada batu.

*Mereka menghitung tiga karena aku yang menyuruh.*

Kenapa. Kalau orang itu yang memerintahkan pembantaian, kenapa menyuruh menghitung tiga? Kalau ia ingin semua mati, kenapa menyisakan satu angka yang tidak pernah ia kejar sampai tuntas? Dan kenapa, kenapa suara itu terdengar seperti orang yang tersenyum pada anaknya...

"Tidak masuk akal," bisiknya pada tong berkarat itu. "Tidak masuk akal, tidak masuk akal..."

Tangannya mulai bergetar tanpa bisa ditahan, dan ia menekannya ke lutut kuat-kuat, tapi getarannya malah merambat ke bahu, ke rahang, dan akhirnya ia melepas topeng itu dengan kasar dan membungkuk, muntah di selokan sampai perutnya kosong. Hartono Salim. Anak bungsunya baru masuk SD. Ia melihatnya lagi, wajah kosong lelaki itu waktu ditanya tentang peti nomor dua puluh tiga, dan untuk sesaat ia ingin kembali dan menutup mata yang terbuka itu dengan benar.

"Maaf," katanya lagi ke selokan. "Maaf, maaf... aku nggak... aku cuma..."

Tapi siapa yang ia minta maaf? Hartono? Anak-anaknya? Atau anak tujuh tahun yang dulu bersembunyi di balik akar dan bersumpah tidak akan pernah jadi orang yang berdiri dengan senjata di tengah ruangan?

---

Raden tidak marah. Itu yang membuat Kenzo gelisah. Lelaki itu menerimanya di ruang bawah tanah menjelang subuh, masih dengan kemeja digulung dan papan catur yang tak berubah, dan hanya menatap topeng yang diletakkan Kenzo di atas meja, lalu radio yang ia ceritakan, lalu dia sendiri.

"Dia menyebut namamu."

"Iya."

"Dia tahu kamu ada di gudang itu."

"Iya."

"Berarti ada seseorang di dalam Jari Algozo yang memberi tahu dia." Raden meluruskan satu bidak yang miring, perlahan. "Aku tidak mau menuduh siapa pun malam ini. Tapi dari sekarang, tidak ada satu pun misi yang kamu terima lewat selembar kertas. Hanya lewat mulutku. Dan Axel yang memeriksa semuanya."

Kenzo berdiri di sana dengan tangan terkepal. Sudah berjam-jam ia memikirkan satu pertanyaan, dan akhirnya keluar tanpa bisa ia tahan.

"Kenapa dia menyuruh orang menghitung tiga, Don? Kalau dia mau kami mati, kenapa..."

"Aku tidak tahu."

"Anda selalu bilang tidak tahu!"

"Dan kamu selalu kelihatan seperti orang yang mau meninju dinding setiap kali dengar itu." Raden akhirnya mengangkat mata, dan suaranya tetap rendah. "Aku lebih suka bilang tidak tahu daripada memberimu cerita yang enak didengar. Cerita yang enak itulah yang membuat orang mati di tempat yang salah."

Kenzo menunduk. Tinjunya mengendur satu jari demi satu jari. Dari pintu di belakangnya terdengar langkah kaki yang ia kenal, dan sesosok kurus bersandar di kusen tanpa suara, wajahnya kuyu, matanya merah, dan tangannya langsung bergerak sebelum ia sempat berbicara.

*Kamu nggak apa-apa?*

"Aku bunuh dia, Xel."

*Aku tahu.*

"Aku... aku sempat minta maaf."

*Aku dengar.* Axel menatapnya lama, lalu menggerakkan jarinya lebih pelan, hati-hati, seakan sedang meraba permukaan yang bisa retak. *Itu yang kutakutkan. Bukan kamu membunuhnya. Tapi kamu masih minta maaf. Besok-besok kamu bakal berhenti. Dan aku nggak tahu mana yang lebih buruk.*

Kenzo tidak menjawab, karena ia tidak punya jawaban.

---

Misi kedua jatuh dua minggu kemudian. Seorang hakim di Marenta yang menjual putusan seperti barang obral, dan yang dalam satu perkara, menurut berkas Axel, menyatakan seorang buruh pelabuhan bersalah atas pencurian yang tidak pernah ia lakukan. Buruh itu mati di sel tiga hari kemudian. Kenzo masuk lewat jendela kamar mandi rumah dinas hakim itu, menunggu di dalam gelap selama empat puluh menit sementara lelaki itu menonton televisi, dan ketika hakim itu akhirnya masuk dan menyalakan lampu, ia sudah berdiri di belakang pintu dengan topeng retak itu di wajahnya.

Hakim itu tidak memohon. Ia hanya membuka mulut dan menatap, seperti melihat sesuatu yang sudah lama ia tahu akan datang. Kenzo mendengar dirinya bernapas di dalam porselen, teratur, hitung sampai empat seperti diajarkan Axel. Tangannya tidak bergetar. Ia memperhatikan itu dengan rasa aneh, seperti memperhatikan tangan orang lain.

Ia tidak minta maaf.

Di jalan pulang, dari atap kendaraan yang ia tumpangi ke arah pelabuhan, ia memandang lampu-lampu kota yang bergeser, dan ia tidak merasakan apa-apa kecuali lapar. Ia makan sepiring nasi hangat di warung dekat terminal, sendirian, dengan lengan baju masih berbau mesiu, dan baru ketika piringnya kosong ia sadar bahwa ia makan sampai habis. Tanpa muntah. Tanpa bayangan boneka dengan telinga terlipat. Ia menaruh sendoknya pelan dan menatapnya lama, sendok murahan yang bengkok sedikit di ujung, seperti yang pernah Victor pura-pura bersihkan supaya tidak ketahuan menangis.

Ia tidak tahu apakah ia harus merasa lega atau takut. Jadi ia memilih tidak merasakan keduanya.

---

Dalam enam bulan, namanya mulai menyebar di tempat-tempat yang tidak punya telinga resmi.

Pertama hanya bisik-bisik para penjaga gudang yang pernah melihat sesosok bayangan melintas di atap dan hilang sebelum lampu sorot sempat berputar. Lalu cerita seorang sopir truk yang menolak tidur di kabin karena ia bersumpah wajah putih tanpa mulut berdiri di kaca spion. Lalu sebuah koran kecil di Marenta yang berani menulis dua baris di halaman dalam: *Tiga kematian dalam dua bulan, tak satu pun meninggalkan saksi. Warga pelabuhan menyebutnya hanya satu hal: Sang Bayangan.* Para orang kaya yang dulu merasa kebal mulai menyewa pengawal tambahan. Para pejabat yang tidak pernah takut pada hukum mulai takut pada jendela yang terbuka sedikit.

Mereka menyebutnya *the Shadow*. Nama itu tidak dipilih siapa-siapa. Ia tumbuh sendiri, dari ketakutan yang saling menular, dan tak seorang pun yang mengucapkannya pernah melihat wajah di balik topeng.

Di bawah tanah, Laksmi hanya menaikkan alis ketika mendengarnya. "Mereka menamai hantu."

"Aku bukan hantu."

"Tidak," kata Laksmi, sambil memeriksa pistolnya tanpa menoleh. "Tapi kamu semakin bagus dalam berpura-pura."

Kenzo menyadari ia sudah berhenti bermimpi tentang rumah yang terbakar. Mimpinya sekarang kosong, hitam dan datar seperti layar yang dimatikan, dan setiap pagi ia bangun dengan perasaan aneh bahwa sesuatu telah dicuri darinya semalaman tanpa ia tahu apa. Pada telepon bulanannya dengan Victor ia mulai kehabisan kalimat. Kebohongan bedeng dan semen jadi pendek, rapi, dan dingin. Ia mendengar Victor berhenti sebentar setelah ia berkata "baik, Pa", dan dari napasnya ia tahu lelaki itu menyadari bahwa anaknya sedang menjauh, kata demi kata, dengan sopan.

"Suaramu beda," kata Victor di bulan kedelapan.

"Capek aja, Pa."

"Bukan capek." Jeda. Tiga detik. "Papa tahu bedanya."

Kenzo menutup mata, memegang gagang telepon dengan jari yang kini terasa seperti milik orang lain, dan berkata, tanpa jeda, tanpa gemetar, "Aku baik-baik saja."

Itu kebohongan paling rapi yang pernah ia ucapkan. Dan Victor, di ujung sana, tidak membantah. Hanya terdengar hembusan napas panjang seperti seseorang yang kehilangan sesuatu dan baru mengerti bahwa benda itu tidak akan kembali dengan cara yang sama.

---

Misi kelima membawanya ke Sarvenna.

Targetnya seorang kolonel pensiunan bernama Surya Danumaya, yang menurut berkas Axel pernah memimpin satuan pengawal dermaga saat malam-malam tertentu di tahun itu. Ia tinggal di vila di bukit sebelah utara kota dengan dua belas penjaga dan anjing-anjing yang dilatih membaca bau ketakutan. Kenzo menghabiskan sembilan hari mempelajarinya dari kejauhan, dan pada malam kesepuluh ia melangkah masuk lewat taman belakang sambil menahan napas, melewati satu anjing yang menggeram dan berbalik pergi seolah tidak menemukan apa-apa. Pelajaran terbaik dari Laksmi: *hewan paling takut pada orang yang tidak merasa takut.*

Kolonel itu sedang di ruang kerja, bukan tidur. Ia duduk di kursi kulit besar dengan segelas anggur, memandang jendela, seolah sudah menunggu sejak tadi. Di tangannya ada sesuatu yang berkilat.

"Sudah kuduga." Suaranya berat, tenang, tanpa menoleh. "Aku sempat bertanya-tanya siapa yang akan datang duluan. Kamu atau hati nuraniku."

Kenzo berhenti dua meter di belakang kursi dengan pistol terangkat. Lelaki itu memutar kursi perlahan, dan Kenzo melihat bahwa benda di tangannya bukan senjata. Sebuah foto kecil. Seorang gadis remaja berseragam sekolah, tersenyum malu pada kamera.

"Aku punya tiga anak. Yang ini yang paling kecil." Kolonel itu menatap topeng itu tanpa gentar. "Kamu tahu apa yang kuingat dari malam itu? Bukan darah. Bukan tembakan. Aku ingat seorang anak laki-laki kecil di ujung gang, berdiri tanpa alas kaki, menatap rumah yang terbakar, dan tidak menangis. Aku ingat berpikir, *anak itu pasti akan jadi sesuatu.*" Ia meneguk anggurnya. "Aku lalu pergi tanpa menyuruh orang mengejarnya."

Dunia di sekeliling Kenzo menyempit. Suara kipas pendingin, detak jam di dinding, napas lelaki itu, semuanya menjadi sangat jelas dan sangat jauh sekaligus.

"Kamu..." Suaranya hampir tidak keluar. "Kamu ada di sana."

"Aku komandan lapangan malam itu. Tapi aku tidak menembak siapa pun." Lelaki itu mengangkat bahu, senyum kecil yang lelah. "Itu pembelaan yang jelek, kan? Aku berdiri di pinggir. Aku melihat. Aku tidak melakukan apa-apa. Dan malam ini kamu akan membunuhku karena itu, dan aku tidak akan menyalahkanmu."

"Siapa yang memerintahkan?"

"Kamu sudah tahu namanya."

"Aku mau dengar dari mulutmu."

Kolonel itu menatap foto putrinya lama. Lalu ia membaliknya, menaruhnya tertelungkup di atas meja, dan menatap lubang pistol di depannya. "Dua orang. Satu yang memegang uang, satu yang memegang kepercayaan. Yang memegang uang bernama Alexander Gunawan. Yang memegang kepercayaan..." Ia terhenti, dan untuk pertama kalinya matanya bergeser ke belakang Kenzo, ke pintu yang tertutup. "Aku tidak pernah tahu namanya. Aku cuma tahu dia yang bicara di radio. Dia yang sampai sekarang menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap tahun, bocah, seperti ayah yang mencemaskan anaknya."

Kenzo tidak menarik pelatuk.

Detik-detik itu terasa seperti jam. Di telinganya Axel menahan napas, dan ia tahu mesin itu sedang menunggu perintah yang tidak datang. Lelaki di kursi itu menutup mata. Tangannya diletakkan di atas lutut dengan rapi, seperti orang yang bersiap dipotret.

"Kenapa dia menelepon?" tanya Kenzo. "Setiap tahun. Kenapa dia peduli?"

"Aku juga bertanya begitu," kata Kolonel itu pelan, tanpa membuka mata. "Dan satu-satunya jawaban yang masuk akal membuatku tidak bisa tidur selama sembilan belas tahun."

"Apa?"

Lelaki itu tidak sempat menjawab.

Jendela di belakangnya meledak, dan sebelum Kenzo sempat bergerak ia melihat kepala Kolonel itu terdorong ke samping, satu lubang kecil bersih di pelipis, anggur tumpah ke karpet dan menyatu dengan darah yang menetes. Tidak ada bunyi tembakan, hanya kaca yang pecah dan tubuh yang merosot dari kursi. Kenzo berguling ke samping, mengangkat senjatanya ke jendela yang kosong, hanya gelap, hanya angin malam dan tirai yang berkibar.

"Kenzo! Penembak di bukit seberang! Dia... dia pergi, dia sudah pergi, aku nggak lihat..." Axel hampir berteriak. "Dari mana dia tahu kamu di sana?! Cuma kita bertiga yang..."

Dari lantai dua terdengar derap sepatu, banyak, dan anjing-anjing yang akhirnya menggonggong. Tapi Kenzo tidak bergerak. Ia melihat sesuatu di dekat tangan Kolonel yang sudah tidak bernapas itu: selembar kertas kecil yang tadi terselip di bawah foto putrinya. Ia mengambilnya dengan jari bersarung tangan.

Tulisan tangan rapi, tinta masih basah, sebuah kalimat pendek.

*Kalau dia datang malam ini, bilang padanya: tanyakan pada Victor kenapa dia selalu pulang tepat waktu untuk hal-hal yang tidak perlu, dan telat untuk satu-satunya yang penting.*

Kenzo membaca kalimat itu sekali. Dua kali. Tangannya, yang sudah enam bulan tidak pernah gemetar, kini tidak bisa berhenti.

---

Hari-hari setelah itu, Axel tidak mau bicara dengannya.

Bukan marah. Kenzo bisa melihat itu dari caranya mengunci pintu ruang server dari dalam, dari tablet yang tidak lagi diletakkan di meja makan, dari makan malam yang dilewatkan dengan alasan sibuk. Pada hari keempat Kenzo mengetuk pintu itu tiga kali, pelan, berjeda, dan akhirnya terdengar klik kunci dibuka.

Axel menatapnya dari dalam gelap, wajahnya pucat, mata cekung, dan di layar paling besar di belakangnya tertera daftar nama dengan kolom yang Kenzo kenal: manifest, tanda tangan, tanggal. Tapi bukan manifest pelabuhan. Di bagian atas, huruf besar, tertulis *PERINTAH ELIMINASI — JARI ALGOZO*, dan di bawahnya, beberapa baris nama target yang pernah dikerjakan sepuluh tahun terakhir.

Salah satunya diberi tanda merah. Tanggalnya empat belas bulan lalu. Namanya: *Rendra Hadinata.*

Pembunuh yang menyewanya dicatat sebagai: *V. Pradana (07).*

Axel mengetik dengan jari yang hampir tidak bisa ia kendalikan, dan suara mesin itu keluar dari tablet lebih pelan daripada biasanya.

"Aku nggak bilang karena aku takut kamu meledak. Tapi aku udah lihat ini tiga bulan lalu. Victor nggak dapat kontrak Rendra dari orang pelabuhan, Kenzo. Dia dapat dari sini. Dari Jari Algozo. Dari *Raden.*"

Kenzo menatap layar itu, lalu menatap Axel, lalu menatap pintu di belakang mereka, ke arah lorong panjang menuju ruang bawah tanah tempat seorang lelaki berambut perak sedang bermain catur sendirian. Papan catur yang bidaknya tidak pernah bergeser.

Dan di dalam kepalanya, perlahan, sesuatu mulai tersambung dengan bunyi yang dingin dan rapi, seperti kunci yang akhirnya masuk ke lubangnya.

"Kalau Raden yang memerintahkan Rendra mati," bisik Kenzo, "berarti dia nggak pernah mau aku nemuin isi kaleng itu."

Axel mengangguk, sangat pelan.

"Terus kenapa dia ngelatih aku?"

Jari-jari Axel berhenti di atas tablet. Layar di belakangnya berkedip, dan baris baru muncul di bawah daftar itu, otomatis, dari sistem yang tak pernah mereka kira bisa menulis sendiri:

*Pembaruan perintah: target baru. Prioritas tertinggi. Kode: SHADOW-01.*

Nama target itu muncul huruf demi huruf, seperti diketik oleh tangan tak kelihatan.

*KENZO ADRIEL.*

---

*Bersambung ke Bab 12*

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
iih jadi inget.. 🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: yang baca ini.. 🤭🤭
total 4 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu harunya ingat saat pas kalian masih bersama, melewatkan segala susah senang bersama, bahkan saat tersulit pun kalian bisa menghadapinya.. jangan hanya kesalahan yang bahkan membuat Kenzo menyesal seumur hidupnya pun kamu meninggalkan dia, dan juga karena seorang cewek yang sudah memberikan hati ya padanya.. padahal Kenzo sendiri cuek sama dia kan.. dia tidak membalas perasaan Silva...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaahh cinta segitiga gak tuh nantinya... terus Silva gimana dong Ken... kamu jangan memberi harapan palsu ke Silva.. kasihan kan dia.. mana si Axel juga jadi ninggalin kamu kan karena Silva suka sama kamu.. eh kamunya malah suka sama anak musuh mu sendiri.. emang enak ditinggalin sama orang yang pernah kita sayangi dan kita percayai dalam hidup kita....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah Kenzo dong... super hero datang juga akhirnya... kak authornya pinter banget sih, lagi tegangan tinggi langsung datengin hero nya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waahh siapa tuh yang pakee motor🤔🤔🤔
tania Weh
kalau kekasih lama. suka gak😍?
tania Weh
dangdut ya 🤭🤭, yang dak dik duk gitu deh, kayak hatiku padamu loh 🤣
tania Weh
mungkin author nya pernah deh
tania Weh
iiiiihhhn jadi flashback deh saat aku di suapin seseorang 😍😍😍😍
tania Weh
peran jahat lagi ini
tania Weh
romantis bangeeeeett 😍😍, jadi pengen deh di peluk kak author nya 🤭
tania Weh
diskusi apa sih, 😍😍😍😍😍 , apaa jangan jangan aku ya 😄😄
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waah kak authornya mau berdiskusi dulu ternyata.. silahkan kak.. nyantai aja...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaaahh Axel kenapa kamu begitu... ahh tidaaakk.. 😥😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wah apa maksudnya si lord ini.. dia mau memecah Axel sama Kenzo... dan siapa 2 orang yang bertopeng dengan tongkat itu.. apakah dia yang tadinya duduk di kursi roda itu kah? 😱😱😱
EVandri Beloved❤❤: yang jelas bukan penjahat waspadalah... waspadalah.. waspadalah
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaahh Axel hubungan kamu sama kenzo jangan jadi rusak gara² hal ini dong... hati tidak bisa berpindah begitu saja kan.. hati yang memilih.. kamu juga pasti tahu hati tidak bisa ditebak kita akan menyukai siapa didunia ini.. karena kalau jati sudah memilih maka kita tidak bisa menolak... pliisssss jangan jadi renggang sama Kenzo...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa lagi mereka???
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah kamu Kenzo... kenapa kamu tembak mati dulu... harusnya walaupun kamu tembak, tapi jangan di tempat yang fatal duku biar kamu bisa ngorek. informasi yang kamu cari dari dia...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apakah itu adalah ayahnya si Kenzo itu? 🤔🤔🤔
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah cinta segitiga nih.. Axel kamu jangan jadi begitu dong sama Kenzo.. hati tidak bisa dipaksakan untuk mencintai... kita tidak bisa memilih atau menolak haal itu... semoga kamu bisa legowo Axel... ingat kalian sudah tumbuh bersama selama ini, jangan hanya karena hal itu hubungan kalian jadi retak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!