Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...
Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.
"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"TUAN, MENJAUHLAH DARI SINI! SEKARANG!" Teriak Jonas menggema memenuhi koridor.
Jonas menggenggam kaki pelaku penembak itu, menariknya dan membuat pria itu langsung jatuh ke lantai.
Jonas tak tinggal diam, dengan setengah kekuatan yang ia miliki, pria itu kembali bangkit berdiri.
Pelaku penembak itu juga enggan merasa kalah, ia menodongkan pistol ke arah Jonas, Pria itu menarik pelatuk pistolnya.
DOOORRRRR!
Jonas berhasil berhindar.
"Aish sial, dasar kau pengganggu." Pria itu kembali menodongkan senapan lagi kepada Jonas. Namun, Jonas dengan cepat memukul tangannya, membuat pistol itu terpental.
Tangan pria itu langsung di pelintir oleh Jonas. "AAAAAARRRRGGGHHHHHH"
Teriak pria itu menggema di koridor motel, Jonas dengan cepat mengambil pistol itu. Ia lalu mengarahkannya tepat pada kepala orang yang sempat mengancamnya.
"Lain kali, pelajari dulu lawanmu sebelum kau bertindak, kau tahu, belajar bela diri jauh lebih berguna dari pada kau yang hanya tahu cara menggunakan senapan."
Pria itu kini gemetar ketakutan, posisinya kini berubah. Jonas lah yang sekarang seperti ancaman baginya.
Jonas tak menembaknya, ia justru memukul leher pria itu. Untuk menbuatnya pingsan sementara.
Jonas kini berlari menyusuri koridor motel, menyusul Federic yang sudah lebih dahulu pergi keluar. Namun, suara tembakan kembali terjadi. Bukan di dalam Motel itu, kini suaranya dari luar.
"Tuan Federic" Jonas melihat dari kaca lantai 2, Federic yang telah terkapar tak berdaya di atas batako luar Motel.
Tebakan jonas ternyata benar, kembali terjadi penembakan dan kali ini, berada di luar Motel.
"Sial, siapa yang berani menembaknya." Dengan kaki yang pincang, Jonas berusaha lari secepat mungkin.
Di luar Motel, Federic terlihat sudah sangat-sangat lemah. Tembakan itu berhasil mengenai bahunya. Namun pria itu masih memiliki tekad, ia belum pingsan dan masih setengah sadar.
"Aurora, Lucia, Papa belum boleh mati sekarang, Papa masih harus melindungi kalian. Saya belum boleh pergi bertemu kamu Ivana, Aurora masih membutuhkanku. Dia dalam bahaya." Federic menatap mobil di depannya.
Pria itu kini menyeret tubuhnya, merangkak mendekati mobil.
Pria berpakaian hitam yang berada di atas rooftop, kembali membidiknya.
Kembali mengarahkan pistolnya ke arah Federic. "Masih belum menyerah rupanya," Pria itu membidik Federic.
DOOORRRR!
Kali ini, pistol itu tepat mengenai dadanya, Federic yang semula sadarkan diri. Kini mulai kehilangan pandangannya.
"Aurora..." Ucapnya sebelum akhirnya benar-benar memejamkan matanya.
Dari dalam Motel, Jonas baru saja keluar. Langsung mencari penembak itu tanpa pikir panjang.
Pistol yang sempat ia ambil dari pria dari dalam motel itu, masih berada di tangannya.
Jonas kini menatap ke atas, ia melihat seorang snipper yang tengah membidiknya.
Tanpa pikir panjang, Jonas mengarahkan pistol itu dan juga membidik pria yang berada di atas rooftop.
DOOOORRRR!
Pria itu kalah telak, Jonas jauh lebih dulu meluncurkan tembakan. Pria menghindar, ia langsung mengambil senapan pindad miliknya dan langsung bersembunyi di balik tembok pembatas Rooftop.
"Aish sial." Ucap pria itu yang gagal menghabisi Jonas.
Jonas berjalan mendekati Federic, ia terus meluncurkan tembakan ke arah rooftop itu sehingga tak ada celah bagi snipper untuk menembak ke arahnya.
Setelahnya Jonas langsung membopong Federic, Pria itu menaruhnya di kursi belakang. Setelah itu, Jonas memberikan tembakan terakhir sebelum akhirnya naik ke kursi pengemudi.
DOOOORRRRR!
Jonas kini masuk ke mobil, ia menyalakan mobil milik bosnya, dan setelahnya langsung pergi meninggalkan Motel itu.
Pria yang sempat bertarung senapan dengan Jonas, kini menatap kepergian Jonas dari atas rooftop.
"Mereka kuat juga..." Ucapnya.
***
Di perjalan, Jonas berusaha membawa mobil dengan tenang, ia melihat kakinya yang telah berdarah-darah.
Dari kaca mobil, terlihat Federic yang telah terkapar sekarat. Jonas merasa gagal, ia merasa bersalah.
Mereka datang tak hanya berdua, namun hanya Federic yang mampu ia bawa pulang.
"Kurang ajar, kami telah di bohongi olehnya. AAAARGGGHHHHH!" Jonas benar-benar sangat marah.
Pria itu kemudian mencari ponsel, mengambil earphone kecil dan memasangkannya di telinga.
Jonas menghubungi kantor polisi, untuk membuat laporan penyerangan. "Halo, saya Jonas, dari Darren Grub, ingin membuat laporan."
"Terjadi penyerangan di Motel kosong, dekat dengan rumah keramat agung. Teman-teman saya, semua masih terjebak di sana." Ucap Jonas kepada pihak polisi.
***
"Maaf Nyonya, saya telah lalai." Jonas benar-benar merasa bersalah pada bosnya. Ia seharusnya mencegah bukan malah mengikuti Federic.
Grace sudah berusaha setegar mungkin, namun semua ini benar-benar membuatnya sangat pilu.
"Sudahlah, jangan bahas soal ini lagi, dan maaf tadi sempat membentakmu. Terima kasih, karena kau tidak meninggalkan suamiku walau di saat genting." Ucap Grace dengan tulus dan Jonas pun mengangguk menerima permintaan maaf itu.
Aurora berlari menjauh dari sana, ia keluar dari rumah sakit lalu berjalan ke area taman. Wanita itu kini duduk di sana.
Ia menangis, Jordan tak berani mendekat, ia ingin memberikan ruang untuk Aurora.Memberinya ruang sendiri untuk menangis, dan tetap memastikannya aman dari kejauhan.
"Ini bukan aku, tapi kenapa aku juga merasa sedih. Aku bukan tidak mau menangis, namun ini bukan aku. Aku tak berhak menangis untuknya. Karena dia bukan ayahku." Ucap Aurora dalam hati.
Aurora kini menaikkan kakinya, ia kini meringkuk, memeluk kakinya dan menangis dalam diam.
"Kau bukan Aurora yang asli, kau itu Maudy, kau tak berhak menangis untuknya. Tapi kenapa aku juga merasa hancur, seolah aku benar-benar merasa bahwa ini adalah aku." Ucapnya lirih.
Sebuah ingatan, kini mulai terlintas di kepalanya. Ingatan itu terkesan buruk, di dalam ingatan itu...
"Aurora, ini cake, mama buatkan untuk kamu." Ucap Grace, namun malah mendapatkan tatapan sinis dari putrinya.
Saat itu, Aurora masih SMA, masih belum labil. Ia bahkan menatap sinis ke arah Grace, seolah tak suka dan langsung membuang cake yang di berikan oleh Grace.
"Cukup ya, jangan berpura-pura sok baik padaku. Kamu itu hanya ibu pengganti, ibuku hanya satu, I-va-na, sekali lagi Ivana. Bukan kau, jadi stop mencoba mengambil hatiku, karena aku tak akan pernah mau punya ibu pengganti sepertimu. Camkan itu."
Aurora menginjak cake yang jatuh, sedangkan Grace, hatinya terlihat sangat pilu.
Di lain waktu, Anne datang membawakan bingkisan. "Aurora sayang..." Ucapnya dengan raut wajah yang gembira.
Dari lantai atas, Aurora langsung pergi menemui Anne ke bawah. Ia langsung memeluk sahabatnya.
"Kau tahu Anne, aku sangat-sangat kangen kau."
"Sama..., o iya, aku ingin bertanya padamu."
Anne menatap sekitar, ia mendapati Grace yang tengah bermain bersama putri kecilnya di ruang tengah.
Aurora yang melihat Anne menatap ke arah Grace, kini merasa sangat curiga dengan ibu sambungnya.
"Apa kau mau bicara di tempat lain Anne?" Tanya Aurora dan langsung di balas anggukan kepala oleh Anne.
BERSAMBUNG