NovelToon NovelToon
Cinta Kedua Di Atas Luka

Cinta Kedua Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.

Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.

Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.

Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18

Di sebuah kamar mewah dalam kediaman keluarga Narendra, seorang wanita paruh baya duduk tenang di atas sofa sambil menatap layar ponselnya. yakni Nyonya Marcella.

Wajahnya terlihat puas ketika melihat berita tentang Jovan dan Serina yang masih menjadi perbincangan hangat di berbagai media. Fotonya Jovan bersama Farel di mall kembali muncul di layar. Di bawahnya, berbagai komentar liar terus bermunculan.

Marcella tersenyum sinis. Kemudian ia membuka aplikasi perbankan. Beberapa detik kemudian, sebuah transaksi transfer berhasil dilakukan kepada salah satu rekening. Nominalnya cukup besar.

Nama penerimanya adalah seorang wartawan hiburan yang selama ini diam-diam mengikuti keberadaan Jovan. Marcella kemudian mengunci ponselnya.

"Cih..." Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Si anak haram itu memang sangat cocok dengan wanita kampungan itu." Tatapannya berubah penuh kebencian.

"Si janda anak satu..." Marcella mengepalkan tangannya. "Semoga saja Jovan benar-benar menikahi wanita itu dan angkat kaki dari rumah ini." Ia tertawa kecil. "Aku tidak sudi nama besar suamiku digunakan olehnya."

Marcella tahu Jovan adalah darah daging suaminya. Namun kenyataan itu justru menjadi sumber kebencian yang selama bertahun-tahun ia pendam. "Meskipun aku tahu Jovan adalah darah daging suamiku..." Ia menatap foto Jovan dengan dingin. "...darah wanita itu tetap mengalir di dalam tubuhnya." Marcella menghela napas. "Aku ingin dia hancur." Ia kemudian kembali membuka ponselnya. Sebuah pesan masuk.

Sudah saya jalankan sesuai permintaan Anda. Foto-foto terbaru akan terus kami sebarkan.

Marcella tersenyum puas.

Pastikan namanya semakin buruk di mata publik. Aku ingin semua orang percaya bahwa dia memang menyembunyikan keluarga.

Pesan itu segera dibalas.

Baik, Nyonya.

Marcella mematikan ponselnya. "Jovan Narendra..." Ia menyeringai tipis. "Kali ini aku ingin melihat seberapa lama kau bisa bertahan."

*

*

Sementara itu, di kantor kepolisian, Darren masih berada di ruang kerjanya. Sudah hampir tengah malam, tetapi ia belum berniat pulang. Beberapa berkas penyelidikan mengenai penyebaran foto Jovan dan Serina terbuka di atas meja. Seorang anak buahnya masuk membawa map tambahan.

"Pak Darren."

Darren mengangkat wajahnya. "Ada perkembangan?"

"Ada, Pak." Pria itu meletakkan sebuah berkas di atas meja.

"Kami berhasil mendapatkan bukti transaksi dari rekening wartawan yang diduga menjadi salah satu orang pertama yang menyebarkan foto-foto Jovan dan Serina."

Darren mengambil berkas tersebut. "Transfer dari siapa?"

"Kami sedang mencocokkan identitas pemilik rekening pengirim." Anak buahnya membuka halaman berikutnya. "Dan kami sudah mendapatkannya."

Darren membaca data transaksi itu. Awalnya ekspresinya biasa saja. Namun beberapa detik kemudian, wajahnya membeku. Matanya terpaku pada sebuah nama. Marcella Narendra.

Darren tidak langsung berbicara. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.

"Mom..."

Anak buahnya diam.

Darren menutup mata beberapa saat. Kemudian ia kembali membaca bukti transaksi tersebut.

Nominal transfer.

Tanggal.

Jam.

Nama rekening penerima.

Semuanya tercatat jelas.

"Jadi selama ini..." Darren menghela napas panjang.

"Mom yang membayar wartawan itu?"

"Indikasinya sangat kuat, Pak. Tapi kami masih akan melengkapi bukti dan menelusuri komunikasi di antara mereka."

Darren mengangguk. "Lanjutkan secara prosedural. Jangan ada yang menyentuh bukti asli."

"Siap."

Setelah anak buahnya keluar, Darren kembali menatap berkas tersebut. Ia bersandar di kursinya. Ingatan masa lalu kembali berputar dalam pikirannya. Ia tahu betapa rumitnya sejarah keluarga Narendra. Ia tahu siapa Jovan. Ia juga tahu siapa Diva, wanita yang selama ini dibenci Marcella. Darren menatap kosong ke depan.

"Mom..." Suaranya terdengar lirih. "Tidak puaskah kau membuat Jovan susah seperti ini?" Ia mengambil foto keluarga Narendra yang tersimpan di dalam laci meja. "Mom boleh membenci Tante Diva." Darren menghela napas. "Tapi semua itu bukan sepenuhnya salah Tante Diva."

Ia terdiam sejenak.

"Yang seharusnya bertanggung jawab atas kekacauan masa lalu itu adalah Daddy."

Darren menggenggam foto tersebut. "Daddy yang seharusnya jujur sejak awal bahwa dirinya sudah menikah." Tatapannya mulai menerawang.

"Aku tahu pernikahan Mommy dan Daddy juga bukan dimulai dari cinta. Kalian menikah karena dijodohkan keluarga."

Darren menunduk. "Sedangkan Tante Diva adalah wanita yang benar-benar Daddy cintai." Ia terdiam lama. "Dan Jovan..." Darren menutup matanya.

"Jovan tidak pernah meminta dilahirkan dalam keadaan seperti itu." Darren teringat masa kecilnya Jovan. Anak laki-laki yang harus hidup dalam situasi yang tidak pernah ia pilih.

"Daddy membawa Jovan masuk ke dalam lingkaran keluarga Narendra karena Daddy tidak ingin anaknya terlantar." Darren mengusap wajahnya. "Jovan tidak salah." Ia menatap kembali nama Marcella yang tercetak di bukti transaksi. "Kenapa Mommy masih tidak bisa melihatnya?"

Darren merasa dadanya berat. Ia mencintai ibunya.

Tetapi sebagai seorang polisi, ia tidak bisa menutup mata terhadap sesuatu yang salah hanya karena pelakunya adalah orang yang paling dekat dengannya.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Darren mengangkatnya.

"Ya?"

"Pak, kami menemukan satu komunikasi antara wartawan tersebut dengan nomor yang terhubung ke pihak Marcella."

Darren langsung duduk tegak.

"Kirimkan semuanya."

"Baik, Pak."

Darren mematikan teleponnya. Ia menatap kembali berkas di atas meja. "Kalau memang Mom yang melakukan ini..." Darren menarik napas panjang.

"Maaf, Mom."

*

*

Keesokan paginya, suasana di pabrik garmen tempat Serina bekerja terasa berbeda. Begitu Serina memasuki ruang produksi, beberapa pasang mata langsung mengarah kepadanya. Bisik-bisik terdengar di berbagai sudut.

"Itu dia."

"Yang ada di berita itu?"

"Iya."

"Katanya dekat sama Jovan Narendra."

"Janda anak satu tapi bisa dekat sama pembalap terkenal."

"Beruntung banget."

Namun tidak semua orang membicarakannya dengan nada kagum.

Beberapa suara terdengar lebih tajam.

"Menurutku dia memanfaatkan rasa bersalah Jovan."

"Benar."

"Suaminya meninggal karena kecelakaan yang melibatkan Jovan, kan?"

"Iya."

"Mungkin saja dia sengaja mendekati Jovan supaya hidupnya berubah."

Serina yang mendengar ucapan itu langsung menghentikan langkah. Wajahnya menegang. Reni yang berjalan di sampingnya ikut menoleh. "Sudahlah, Serin. Jangan didengarkan." Namun Serina tetap diam. Seorang pekerja lain kembali berbisik. "Padahal sudah jelas Jovan juga korban."

"Pelakunya kan sudah ditangkap."

"Jesika, Gio, dan Jenika."

"Iya."

"Jadi kenapa sekarang malah seperti memanfaatkan Jovan?"

Serina menarik napas panjang.bIa ingin membantah. Ingin menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah meminta apa pun dari Jovan.

Bahwa ia bahkan pernah membenci pria itu karena mengira Jovan adalah penyebab kematian Riki.

Namun ia sadar, menjelaskan kepada semua orang tidak akan membuat gosip berhenti. Reni menyentuh lengannya.

"Serin."

Serina menoleh.

"Jangan hiraukan mereka."

"Aku cuma tidak mengerti, Ren."

"Apa?"

"Kenapa orang-orang begitu mudah menuduh seseorang tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi?"

Reni terdiam. Serina menatap mesin jahit di depannya.

"Aku kehilangan suamiku." Suaranya melemah. "Aku juga harus membesarkan Farel seorang diri." Ia menarik napas. "Aku bekerja di sini karena ingin memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anakku." Serina mengusap matanya. "Bukan karena ingin hidup dari belas kasihan Jovan."

Reni menggenggam tangan Serina.

"Aku tahu."

Salma yang sejak tadi mendengarkan ikut mendekat.

"Aku juga tahu, Serin."

Serina menatap kedua sahabatnya.

"Terima kasih."

Salma tersenyum.

"Kalau ada yang ngomong macam-macam, biarkan."

Reni mengangguk.

"Yang penting kami tahu siapa kamu sebenarnya."

Serina tersenyum tipis. Namun belum sempat ia kembali bekerja, seorang supervisor datang menghampiri.

"Serina."

"Iya, Bu?"

"Setelah jam kerja selesai, kamu diminta menemui bagian personalia."

Serina mengernyit.

"Untuk apa, Bu?"

"Saya juga tidak tahu."

Supervisor itu kemudian pergi.

Reni langsung menatap Serina.

"Kok aku jadi khawatir?"

Serina hanya bisa menarik napas.

"Aku juga."

Ia kembali duduk di depan mesin jahit. Tangannya mulai bekerja. Namun pikirannya tidak lagi sepenuhnya berada di sana.

*

*

Di Australia, Jovan baru selesai menjalani sesi latihan.

Leo datang menghampirinya.

"Jo."

"Hm?"

"Berita dari Indonesia masih ramai."

Jovan langsung menghela napas.

"Serina bagaimana?"

"Masih bekerja."

"Farel?"

"Baik."

Jovan mengangguk lega. Kemudian Leo berkata, "Tapi ada satu hal lagi."

"Apa?"

"Katanya Darren sedang menyelidiki siapa yang pertama kali menyebarkan foto kalian."

Jovan mengerutkan keningnya. "Darren?"

"Iya."

Jovan terdiam. Ia mengenal kakaknya. Kalau Darren sudah turun tangan, berarti masalah itu dianggap serius.

"Semoga Kak Darren bisa menemukan orangnya."

Leo mengangguk.

Jovan menatap langit Australia yang mulai berubah warna, Ia teringat wajah Serina. Kemudian Farel.

"Leo."

"Hm?"

"Setelah semua ini selesai, aku ingin pulang."

"Ke Indonesia?"

"Iya."

"Kenapa?"

Jovan tersenyum tipis.

"Aku ingin memastikan Farel baik-baik saja."

Ia berhenti sejenak. "Dan aku juga ingin memastikan Serina tidak menghadapi semuanya sendirian."

Leo menatap Jovan beberapa detik. Kali ini ia tidak menggoda.

Karena dari sorot mata sahabatnya, ia tahu sesuatu dalam diri Jovan telah berubah. Jovan tidak lagi hanya merasa bersalah atas kematian Riki. Ia mulai benar-benar peduli terhadap kehidupan Serina dan Farel.

*

*

Sementara jauh di Indonesia, Darren masih menatap bukti transfer yang mencantumkan nama ibunya. Satu keputusan sulit perlahan menunggu di hadapannya. Sebagai seorang anak, ia ingin melindungi ibunya.

Namun sebagai seorang polisi, ia memiliki kewajiban untuk mencari kebenaran.

Dan untuk pertama kalinya, Darren sadar bahwa orang yang harus ia hadapi mungkin bukan orang asing.

Melainkan seseorang yang selama ini ia panggil...

Mom.

Bersambung...

1
Teh Yen
aku ragu kalau Marcella bisa berubah sih 🤔
Teh Yen
ternyata dalangnya ibunya Darren sendiri yah
Nar Sih
semagat serina ,alm suami mu sdh memberi izin padamu ,jemput bahagia mu dan farel bersama jovan
Teh Yen
siapa lagi orang yg ingin menghancurkan hidup Jovan yah
Teh Yen
wah farel sudha mengagumi om Jovan yah ,,kl ibunya gmn tuh??? 😁
fatmawati (pipit)
jovan udah ada bibit jatuh cinta nih, tinggal perjuangan jovan untuk membuka hati serina untuk menerima dirinya (jovan)
benar kata leo bahwa kamu sudah mulai mencintai serina dan farel sebagai orang tercinta🤭🤭🤭🤭
fatmawati (pipit): /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Serina, bukalah hatimu untuk Jovan, demi Farel 🥰🥰
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Syukurlah ngga sampai nikah paksa saat itu juga. Yawda Jovan, kamu harus cepat pulang ya... besok apel lagi 😅
Nar Sih
untung nya pejelasan mu berhasil diterima warga dan pk rt ya jovan,dan ngk jdi di nikahin dadakan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: selamet mereka berdua🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
nah kan pasti bntr lgi di nikahin dadakan
fatmawati (pipit)
jovan harus tegas dong sama orang orang yg suka julid jangan sampai farel mendengar omongan yg tidak baik.....
mungkin setelah kamu menikah dengan serina adakah nanti kamu akan menggantikan mendiang riki🤔🤔🤔🤔🤔
fatmawati (pipit)
itu ada tetangga julidnya seharusnya pak RT tegas kepada warga jangan hanya dengar dari desas desus gosip murahan dong kayak serina itu apa. bapak Rt gk pernah tahu apa yg dialami serina, farel dan jovan setelah riki meninggalkan jadi coba pikir bagaimana serina ingin memberikan terbaik buat farel
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
kebiasaan bgt asal labrak,bisa mikir dlu ngk sih sebelum bertindak,pantesan ngk maju2 pemikirannya pada kuno
fatmawati (pipit)
jovan ingin mengungkapkan perasaan kepada serina namun dia masih bergelut dengan luka yang ditinggal riki.
untuk darren hatimu sakit wanita yang menjadi cinta pertama akan menikah dengan saudara kandung sendiri namun dirimu kuat untuk tidak mengahancurkan adik kamu.
nanti apa kebenaran tentang masa lalu
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Abang adik jadi saingan nih untuk dapatkan Serina
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Hadir disini Thor 👍🥰
Awal cerita sudah sedih .... 😭
aroem
bagus
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terima kasih, kak
total 1 replies
Nar Sih
kasihan dareen ya ,cinta pertama nya kandas sblm terungkap ,telat sih ngomong nya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul kak, telat mulu dia 🤣🤣🤣
total 1 replies
fatmawati (pipit)
posisi darren tidak mudah dia masih mencintai wanita cinta pertamanya sedangkan jovan ingin menikahi karena fitnahan dari mommy tirinya dan juga hatinya mulai ada benih benih cinta namun blm disadari 🤣🤣🤣🤣
Nar Sih
kmu kurang gercep sih pak polisi daren jdi keduluan kan oleh adik mui
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!