**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**
Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.
Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.
Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.
Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.
Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...
**suamiku sendiri membunuhku.**
Aku pikir kematian adalah akhir.
Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.
Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.
Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.
Suamiku masih belum menjadi suamiku.
Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.
Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.
Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.
Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.
Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 - GUNCANGAN DI LANTAI BURSA
Deru baling-baling ganda helikopter AgustaWestland AW139 milik Varell Group meredam deburan ombak saat armada udara itu lepas landas dari landasan helipad Pulau Ayer.
Di bawah kaca jendela kabin yang dilapisi filter anti-radiasi matahari, perairan biru Teluk Jakarta perlahan berubah menjadi hamparan dermaga peti kemas yang padat, lalu berganti menjadi bentangan belantara beton pencakar langit ibu kota yang memantulkan terik fajar pukul delapan lewat lima belas menit.
Di dalam kabin mewah kedap suara itu, aroma laut dan sisa mesiu telah sepenuhnya tergantikan oleh wangi kulit jok anak sapi dan aroma kopi espresso yang baru diseduh dari mesin mini bar.
Aku telah berganti pakaian menggunakan setelan blazer sutra berpotongan asimetris warna merah anggur pekat—warna yang melambangkan kekuasaan darah dinasti Arlena yang lama padam—dipadukan dengan celana palazzo hitam berpinggang tinggi. Rambutku yang tadi basah kini telah dikeringkan dan ditata bergelombang rapi di atas bahu. Di leher jenjangku, sebuah syal sutra tipis bermotif geometris melingkar anggun, menutupi tanda kemerahan yang ditinggalkan Adrian di atas tulang selangkaku beberapa jam lalu di dalam dek kapal.
Di hadapanku, Adrian duduk dengan kemeja putih bersih tanpa dasi, jas arang gelapnya dibiarkan terbuka. Di pangkuannya, sebuah laptop khusus dengan koneksi satelit kuantum militer menampilkan grafik indeks gabungan bursa efek Singapura (SGX) dan bursa efek Indonesia (BEI) yang bersiap membuka bel perdagangan pagi tepat pukul sembilan.
Di antara kami, di atas meja lipat kayu kenari, tergeletak kalung batangan platinum milik mendiang Gavin Zhou. Kabel data berpelindung serat karbon telah menancap di ujung stik memori tersebut, menghubungkan puluhan gigabita data gelap sindikat Sembilan Teratai ke dalam sistem pemrosesan terenkripsi milik tim peretas finansial Varell di Jenewa.
"Proses dekripsi lapisan kelima selesai," suara Bastian terdengar dari pelantang telinga Bluetooth yang kukenakan. "Data portofolio tersembunyi telah terbuka seratus persen, Nona Besar. Sindikat Sembilan Teratai menempatkan dana pencucian uang mereka di empat puluh delapan perusahaan cangkang yang terdaftar di Kepulauan Cayman, dengan portofolio mayoritas ditanamkan pada surat berharga sektor pelabuhan, energi, dan pinjaman subordinasi Arkana Group."
Jemariku menyentuh cangkir porselen hitam, menyesap espresso panas yang pahit pekat, membiarkan kafein itu menajamkan fokus di kepalaku.
"Berapa total nilai eksposur mereka terhadap surat utang Arkana yang kita sita kemarin?" tanyaku dingin.
"Tiga koma dua miliar dolar Amerika," jawab Bastian tanpa jeda. "Jika surat utang itu dinyatakan gagal bayar secara permanen hari ini dan hak tagih eksekusi asetnya dipublikasikan ke lembaga pemeringkat internasional, seluruh empat puluh delapan entitas cangkang Sembilan Teratai di Singapura akan mengalami krisis likuiditas berantai dalam hitungan menit."
Adrian mengangkat kepalanya dari layar monitor, menatapku lurus. Sepasang mata hitam kelamnya berkilat tajam di bawah pendar cahaya kabin helikopter. Tatapan yang beberapa jam lalu memancarkan intensitas mendalam di kabin kapal, kini telah kembali dingin, terfokus, dan mematikan bagai pedang algojo bursa.
"Dewan tetua di Singapura masih belum mengetahui bahwa Gavin Zhou telah tumbang di Pulau Damar Barat," ucap Adrian, nada suaranya mengalun rendah dan berwibawa. "Mereka mengira kapal kargo MV Leviathan hanya mengalami gangguan komunikasi radar akibat cuaca buruk di perbatasan. Jika kita melepaskan bom data ini sekarang, mereka tidak akan sempat menarik modal keluar dari sistem kliring sebelum rekening penampung mereka dibekukan oleh otoritas moneter."
"Bukan sekadar membekukan rekening mereka, Adrian," sahutku seraya memiringkan kepala, menatap pantulan gedung Arlena Holding yang mulai mendekat di cakrawala. "Saya ingin mereka menyaksikan dari seberang selat bagaimana seluruh fondasi finansial yang mereka bangun selama empat dekade di negeri ini dirampas oleh darah yang mereka coba musnahkan sembilan belas tahun lalu."
Adrian tersenyum tipis—senyuman yang sarat akan kepuasan berbahaya. Tangannya yang kokoh terulur melintasi meja kayu kenari, jemarinya yang hangat menyentuh pergelangan tanganku, menelusuri denyut nadiku yang berdetak stabil sebelum meremas jemariku dengan ketegasan tanpa kata.
"Instruksi berada di tanganmu, Ratuku," bisik Adrian rendah, suaranya sarat akan pengakuan mutlak atas kepemimpinanku di papan catur ini. "Tekan tombolnya."
Aku tidak ragu sedetik pun.
Tanganku meraih tetikus nirkabel di samping laptop, mengarahkan kursor ke sebuah tombol merah bertuliskan EXECUTE DEBT FORFEITURE & BROADCAST DOSSIER.
Klik.
Perintah eksekusi terkirim melalui jaringan satelit berkecepatan tinggi.
Tepat pada detik itu, helikopter kami melakukan pendaratan mulus di atas landasan helipad lantai tiga puluh enam gedung Arlena Holding. Suara dentuman hidrolik roda pendarat menyatu dengan dengung sirene peringatan helipad yang mulai padam.
Pintu kabin helikopter ditarik terbuka dari luar oleh dua pengawal bersenjata berjas abu-abu. Udara pagi Jakarta yang hangat menyambut kami berdua.
Aku melangkah turun ke atas karpet hijau landasan helipad dengan langkah mantap. Ujung blazer merah anggurku berkibar ditiup angin ketinggian, sementara Adrian melangkah sejajar di sampingku, tangan kanannya berada tepat di belakang punggungku, memberi perlindungan tanpa mengurangi otoritas mutlak yang kupancarkan.
Begitu kami melangkah melewati pintu akses atap menuju koridor eksekutif lantai tiga puluh enam, Risa—sekretaris pribadiku—sudah menunggu dengan membawa tiga tablet digital yang layarnya berkedip panik.
"Nona Besar! Tuan Adrian!" seru Risa dengan napas sedikit tersengal, matanya membelalak lebar menatap layar tabletnya. "Bursa Efek baru saja dibuka tepat lima menit yang lalu, dan kepanikan total sedang terjadi di lantai perdagangan!"
Kami berdua melangkah masuk ke dalam ruang kerja Direktur Utama.
Pintu kaca tebal menutup otomatis. Empat layar monitor raksasa di dinding depan ruangan kini menyala dengan grafik-grafik bursa efek yang menunjukkan garis-garis kejatuhan ekstrem berwarna merah darah.
Di layar televisi berita internasional Bloomberg dan CNBC Asia, seorang penyiar wanita bersuara cepat dengan ekspresi tegang luar biasa:
[BREAKING FINANCIAL PANIC] LEMBAGA PEMERINGKAT S&P DAN MOODY'S SECARA SIMULTAN MEMOTONG PERINGKAT UTANG KONSORSIUM SEMBILAN TERATAI DARI 'INVESTMENT GRADE' MENJADI 'DEFAULT MUTLAK' (D).
[SPECIAL REPORT] OTORITAS JASA KEUANGAN BERSAMA UNIT KEJAHATAN KEUANGAN BARESKRIM POLRI MEMBEKUKAN TIGA PULUH DUA REKENING OPERASIONAL PERUSAHAAN LOGISTIK MARITIM TERKAIT DOKUMEN PENCUCIAN UANG SINDIKAT INTERNASIONAL.
[MARKET CRASH] INDEKS EMITEN SEKTOR TRANSPORTASI LAUT ANJLOK LIMA BELAS PERSEN; ENTITAS VARELL GROUP DAN ARLENA HOLDING MENGAMBIL ALIH KONSESI DERMAGA STRATEGIS DENGAN NILAI DISKON TUJUH PULUH PERSEN.
"Bursa Efek Singapura (SGX) baru saja menghentikan sementara perdagangan sepuluh emiten utama yang terafiliasi dengan keluarga Zhou," lapor Risa cepat seraya menunjukkan data arus kas di tabletnya. "Para pialang saham di Raffles Place panik membuang seluruh portofolio mereka. Nilai kapitalisasi pasar sindikat Sembilan Teratai menguap sebesar empat koma delapan miliar dolar hanya dalam kurun waktu dua puluh menit!"
Aku berjalan tenang menuju kursi kepemimpinanku, duduk di atas kulit hitam yang dingin, lalu menyilangkan kaki dengan anggun.
Setiap tetes keringat, ketegangan di mercusuar tua tadi malam, dan harga darah yang ditebus di atas karang Pulau Damar Barat kini terbayar lunas dalam angka-angka digital yang runtuh di layar monitor di hadapanku.
"Bagaimana reaksi dari pihak keluarga Arkana?" tanyaku datar seraya melirik Risa.
Risa menelan ludah sebelum menjawab. "Darmawan Arkana... terkena serangan stroke iskemik berat di ruang tahanan titipan kejaksaan negeri subuh tadi setelah melihat rumah pribadinya di Simprug dipasangi plang sita eksekusi oleh kurator Varell. Saat ini dia dilarikan ke rumah sakit polri dalam kondisi kritis."
Aku tersenyum dingin tanpa secuil pun belas kasihan di mataku.
Darmawan Arkana di masa laluku tertawa riang saat Ayah terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit akibat manipulasi utang yang sama. Keadilan takdir sering kali berjalan lambat, namun ketika roda pembalasan dendam ini kuputar dengan tanganku sendiri, kejatuhan mereka terjadi dengan kecepatan yang mengerikan.
"Dan Ryan Arkana?" suaraku terdengar begitu lembut, namun memiliki ketegasan yang membuat Risa menundukkan kepalanya penuh rasa hormat.
"Tuan Muda Ryan telah selesai menjalani interogasi awal oleh tim penyidik Bareskrim di klinik distrik empat," jawab Risa hati-hati. "Hasil forensik dari bengkel modifikasi di Bekasi membuktikan secara otentik bahwa selang rem mobil Porsche yang dikendarai Tuan Muda Ethan dipotong atas instruksi langsung dari ponsel Ryan. Jaksa penuntut umum telah menandatangani berkas dakwaan percobaan pembunuhan berencana tingkat satu dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup."
"Pindahkan pemuda itu ke Rumah Tahanan Cipinang blok pengawasan ketat siang ini juga," titahku tanpa ragu. "Cabut seluruh fasilitas medis mewahnya. Biarkan dia menjalani masa penahanannya di sel semen bersama para tahanan kriminal umum. Pastikan rasa sakit di tulang rusuknya menjadi pengingat abadi atas apa yang ia coba lakukan pada adik saya."
"Perintah segera dieksekusi, Nona Besar," Risa membungkuk hormat lalu melangkah mundur keluar dari ruangan untuk menjalankan tugasnya.
Di dalam ruangan yang kini kembali sunyi, hanya tersisa dengung lembut pendingin udara saat Adrian menanggalkan jas arangnya, menyampirkannya ke sandaran sofa kulit, lalu berjalan menghampiri mejaku.
Pria itu berhenti di samping kursiku. Tangannya yang besar bertumpu di sandaran lengan kursi putarku, tubuhnya mencondongkan diri ke arahku hingga aroma kayu cedar dan tembakau dinginnya kembali menyelimuti ruang di sekelilingku.
"Dua hari yang lalu, kamu dianggap sekadar pelengkap di meja makan keluargamu, Nadia," bisik Adrian rendah, jemarinya menyentuh daguku, mengangkat wajahku agar tatapan kami bertaut lurus. "Hari ini, kamu telah meruntuhkan dua dinasti bisnis di ibu kota, melumpuhkan armada logistik bayangan, dan memaksa bursa saham di dua negara tunduk di bawah kendalimu."
"Dan semua itu baru permulaan dari Babak Kedua, Adrian," sahutku pelan, membiarkan jemariku menyentuh pergelangan tangannya yang kokoh, merasakan kehangatan kulitnya yang kontras dengan dinginnya cincin giok hitam di jemariku. "Keluarga Arkana dan perwakilan Sembilan Teratai di Jakarta sudah hancur. Namun dewan tetua di Singapura masih berdiri tegak di seberang lautan. Mereka tidak akan tinggal diam setelah kehilangan Gavin dan aset triliunan rupiah mereka."
Adrian terkekeh rendah—tawa bariton yang sarat akan dominasi dingin seorang penguasa pasar.
Ibu jarinya menyapu pelan bibir bawahku, sebuah sentuhan tegas yang sarat keintiman tertahan, mengunci pandangan kami dalam tarikan magnetik yang tak pernah pudar.
"Biarkan mereka mencoba membalas, Nadia," bisik Adrian serak, tatapannya menyapu wajahku dengan intensitas yang tak berubah. "Mulai detik ini, seluruh kekuatan armada maritim dan instrumen perbankan Varell Group berdiri di bawah komandomu. Dan jika dewan tetua itu berani mengirimkan ancaman lain melintasi Selat Malaka... kita akan melumpuhkan mereka tepat di meja perundingan."
Aku menatap mata kelam pria di hadapanku dengan senyuman tenang yang terbit di sudut bibirku.
Di kehidupanku yang dulu, aku menggantungkan nasib pada pria pengecut seperti Ryan Arkana, yang pada akhirnya membalas kepercayaanku dengan tusukan belati berdarah di apartemen lantai tiga puluh dua.
Namun di kesempatan kedua ini, aku berdiri berdampingan dengan penguasa paling berbahaya di negeri ini. Pria yang menantangku untuk melangkah sejajar dengannya di puncak pusaran kekuasaan.
Tiba-tiba, suara dering telepon internal jalur khusus di atas mejaku berbunyi nyaring.
Lampu indikator merah berkedip pelan.
Itu adalah jalur terenkripsi langsung yang menghubungkan ruang kerja Direktur Utama dengan kamar rawat inap VVIP Ethan di Rumah Sakit Pusat Pertamina.
Aku melepaskan sentuhan Adrian perlahan, lalu mengangkat gagang telepon tersebut.
"Halo, Nadia?" Suara seorang pria paruh baya terdengar di seberang sambungan. Suara yang berat dan sarat akan kelegaan mendalam.
Ayah. Edward Arlena.
"Ya, Yah. Saya di sini," jawabku, nada suaraku seketika melembut dari nada seorang pimpinan korporasi menjadi nada seorang putri keluarga.
"Adikmu... Ethan baru saja sadar sepenuhnya," ucap Ayah dengan suara yang sedikit bergetar oleh haru. "Kondisinya membaik dan dia sudah bisa berbicara. Dia bilang... dia ingin makan bubur ayam bersama kita bertiga seperti dulu."
Rasa lega yang hangat mengalir di dadaku.
Di masa lalu, momen sederhana ini terenggut selamanya oleh persekongkolan keji Ryan dan Selena. Pemakaman dingin di bawah guyuran hujan adalah akhir tragis dari pemuda malang itu. Namun hari ini, adikku selamat. Keluargaku bertahan di balik benteng perlindungan yang kubangun sendiri.
"Katakan pada Ethan, Yah," bisikku serak seraya menahan getaran di tenggorokanku, "aku akan datang ke rumah sakit siang ini membawa makanan kesukaannya. Dan katakan padanya... tidak ada lagi yang perlu ia cemaskan. Semua pihak yang berniat mencelakai keluarga kita telah menerima ganjaran mereka."
Edward terdiam sejenak di seberang sana. Suara tarikan napas panjangnya terdengar berat, dipenuhi rasa syukur kepada putri yang telah menyelamatkan keluarganya dari kehancuran total.
"Terima kasih, Nadia... terima kasih, Nak," bisik Ayah sebelum menutup sambungan telepon.
Aku meletakkan gagang telepon kembali ke dudukannya perlahan.
Sebuah embusan napas panjang terlepas dari dadaku, membersihkan ketegangan yang menumpuk selama empat puluh delapan jam terakhir sejak aku membuka mata di depan cermin kamar lamaku pada tanggal 17 Maret 2016.
Adrian melangkah mendekat, berdiri di belakang kursiku. Kedua tangannya mendarat di pundakku, memijat lembut otot leherku yang kaku dengan keteguhan yang menenangkan, membiarkan kehangatan kehadirannya meredakan badai di dalam pikiranku.
"Pergilah ke rumah sakit dan temui keluargamu, Nadia," bisik Adrian rendah di samping telingaku. "Biar saya dan Bastian yang mengawasi penyelesaian sisa-sisa portofolio Arkana di bursa saham siang ini."
Aku memutar kursiku perlahan, mendongak menatap wajah tegas pria itu. Tanganku terulur menyentuh rahang kokohnya, membalas tatapannya dengan senyuman yang jarang kuperlihatkan di hadapan orang lain.
"Kamu tidak ikut ke rumah sakit, Tuan Varell?" tanyaku dengan nada sedikit menantang.
Sudut bibir Adrian terangkat membentuk seringai tipis.
"Keluargamu belum siap melihat mitra bisnismu duduk santai di samping ranjang adikmu sambil memegang mangkuk bubur, Ratuku," jawab Adrian seraya membungkuk sedikit, mendaratkan kecupan singkat di dahiku yang sarat akan rasa memiliki. "Tapi malam nanti... di griya tawang saya di distrik satu... kamu berutang sebuah makan malam privat untuk menandai keberhasilan pertama kita."
"Sebuah makan malam privat?" Aku mengangkat alisku seraya berdiri dari kursi, merapikan blazer merah anggurku dengan tenang. "Menu di griya tawangmu harus sepadan dengan risiko yang kita ambil, Adrian."
Adrian terkekeh rendah—tawa dalam yang bergetar penuh keyakinan.
"Kamu yang menentukan arahnya, Nadia," bisik Adrian seraya membukakan jalan bagiku untuk melangkah keluar. "Dan saya pastikan malam itu sepadan dengan setiap langkah yang kita ambil."
Aku melangkah mantap menyusuri lorong marmer lantai tiga puluh enam, diiringi tatapan penuh hormat dari para staf eksekutif Arlena Holding yang berbaris rapi di sepanjang koridor.
Peta jalan pertempuran ini baru saja menyelesaikan bagian awal Babak Kedua dengan keunggulan mutlak.
Langkah pertama para pengkhianat telah dipatahkan: Ryan Arkana menunggu proses hukum di balik jeruji besi, Selena Marvia terisolasi di rutan wanita, Darmawan Arkana terkapar kehilangan pengaruh finansialnya, dan Gavin Zhou telah lenyap di perairan terpencil.
Namun di seberang perbatasan laut, konfrontasi dengan dewan tetua Konsorsium Sembilan Teratai dan tabir masa lalu tentang garis keturunanku yang sebenarnya baru saja mengumpulkan awan badai baru.
Aku melangkah masuk ke dalam lift eksekutif dengan kepala tegak dan tatapan yang tak tergoyahkan.
Biarkan babak berikutnya bergulir.
Kini, akulah yang memegang kendali atas permainan ini.
Bersambung...