Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Perjanjian Berdarah Dingin
Malam di ibu kota kekaisaran tidak pernah benar-benar tenang, tetapi di dalam ruang kerja pribadi Duke Killian, keheningan terasa begitu pekat hingga detak jarum jam terdengar seperti dentuman genderang perang. Cahaya lilin yang temaram menari-nari di dinding, memantulkan bayangan dua orang yang sedang saling mengukur isi kepala lewat tatapan mata.
Elena berdiri dengan punggung tegap, menolak untuk menunjukkan kelemahan sekecil apa pun di hadapan sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di seluruh negeri. Di kehidupan pertamanya, Elena hanya mengenal Killian dari rumor-rumor mengerikan—seorang monster medan perang yang tidak ragu memenggal kepala musuhnya tanpa berkedip. Namun kini, pria itu duduk tepat di hadapannya, menatapnya dengan sepasang mata kelam yang seolah bisa menembus langsung ke dalam jiwanya.
"Aliansi, Anda bilang, Nona Elena?" Killian memecah kesunyian. Suaranya rendah, serak, dan membawa aura penekanan yang membuat bulu kuduk merinding. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi besar berukir naga, menyilangkan kaki dengan santai namun penuh wibawa. "Seorang Nona Muda dari keluarga bangsawan yang terkenal naif dan lemah lembut, tiba-tiba datang ke kediaman saya di tengah malam demi menawarkan sebuah aliansi? Lelucon apa ini?"
Elena tidak berkedip. Ia tahu bahwa satu langkah salah akan membuatnya berakhir di tiang gantungan atau lebih buruk lagi. Ingatan tentang rasa sakit saat tubuhnya terbakar hidup-hidup di sel penjara bawah tanah milik Gavin dan adik tirinya kembali berputar. Rasa sakit itu tidak melemahkannya; justru menjadi bahan bakar yang membakar habis rasa takutnya.
"Ini bukan lelucon, Yang Mulia Duke," jawab Elena, suaranya terdengar sangat tenang, kontras dengan gemuruh di dadanya. "Saya datang bukan sebagai Nona Muda yang naif seperti yang dunia kenal. Saya datang sebagai seseorang yang memiliki informasi berharga yang bisa mengamankan posisi Anda, sekaligus menghancurkan musuh yang sama-sama kita benci."
Killian mengangkat satu alisnya, tampak sedikit tertarik, meski kilat sinis masih mendominasi wajah tampannya yang dingin. "Musuh yang sama? Siapa yang Anda maksud? Saya tidak punya waktu untuk urusan balas dendam picik kaum bangsawan."
"Gavin," sebut Elena tegas. Nama itu terasa seperti racun di lidahnya. "Pangeran Kedua yang saat ini tengah merangkak mencari pengaruh untuk naik takhta menjadi Kaisar. Saya tahu Anda tidak tertarik pada takhta, Duke Killian. Namun, saya juga tahu bahwa Gavin secara rahasia tengah menyusun rencana untuk menyingkirkan Anda begitu ia mendapatkan kekuasaan. Baginya, militer yang Anda pimpin adalah ancaman terbesar."
Mendengar nama Gavin, tatapan Killian seketika berubah menajam. Atmosfer di dalam ruangan langsung turun drastis, menjadi begitu dingin hingga napas Elena mengembun tipis. Killian bangkit dari kursinya, melangkah perlahan mendekati Elena. Setiap ketukan langkah sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian.
"Dari mana Anda tahu tentang hal itu?" Killian kini berdiri hanya beberapa senti di depan Elena. Tubuhnya yang tinggi besar menjulang, mengintimidasi Elena sepenuhnya. Ia mencengkeram dagu Elena dengan jari-jarinya yang kuat, memaksa wanita itu menatap matanya secara langsung. "Keluarga Anda adalah pendukung utama Gavin. Ayah Anda bahkan berniat menjodohkan Anda dengannya. Mengapa tiba-tiba Anda berbalik mengkhianatinya? Apakah ini taktik baru dari Gavin untuk memata-matai saya?"
Elena merasakan cengkeraman yang kuat di dagunya, tetapi ia tidak meronta. Ia menatap lurus ke dalam manik mata hitam milik Killian yang sedalam lautan malam.
"Jika ini adalah mata-mata, saya tidak akan membawa dokumen ini," Elena perlahan mengangkat tangan kirinya yang bebas, menyodorkan sebuah gulungan perkamen kecil yang telah ia sembunyikan di balik gaun malamnya.
Killian melirik perkamen tersebut, lalu perlahan melepaskan cengkeramannya dari dagu Elena. Ia merebut gulungan itu dengan kasar dan membukanya. Begitu matanya membaca baris demi baris tulisan di dalamnya, kilatan amarah yang pekat melintas di wajah sang Duke. Itu adalah cetak biru pergerakan logistik ilegal dan rute penyelundupan senjata yang dilakukan oleh Gavin secara rahasia—sebuah informasi yang bahkan intelijen terbaik milik Duke Killian pun belum berhasil mengumpulkannya secara utuh.
"Ini..." Killian menggantung kalimatnya, menatap Elena dengan pandangan yang kini dipenuhi rasa tidak percaya sekaligus kewaspadaan yang tinggi. "Bagaimana mungkin seorang wanita yang mengurung diri di kediaman bangsawan bisa mendapatkan informasi sedalam ini?"
Elena tersenyum tipis—sebuah senyuman yang menyimpan kepahitan luar biasa. Tentu saja ia tahu. Di kehidupan pertamanya, dialah yang membantu Gavin menyusun rute-rute ini, menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu pria keparat itu naik takhta. Setiap tinta yang tertulis di perkamen itu adalah darah dan air mata yang pernah ia korbankan sia-sia.
"Bagaimana saya mendapatkannya tidaklah penting, Duke Killian," kata Elena, melangkah mundur satu langkah untuk memberi jarak yang aman. "Yang penting adalah apa yang bisa kita lakukan dengan informasi ini. Gavin mengira dia berada di atas angin karena dukungan keluarga saya. Namun, mulai detik ini, saya akan memotong satu per satu helai sayapnya tanpa dia sadari."
Killian berjalan kembali ke mejanya, melemparkan perkamen itu ke atas tumpukan kertas. Ia mengusap dagunya perlahan, menimbang-nimbang keuntungan dari tawaran wanita misterius di depannya. Sikap Elena yang tenang, tatapan matanya yang penuh dendam yang murni, serta informasi yang dibawanya membuktikan bahwa wanita ini bukan lagi domba penurut yang bisa diinjak-injak.
"Baiklah, katakan apa yang Anda inginkan dari saya sebagai imbalan dari aliansi ini," ucap Killian akhirnya, melipat kedua tangannya di dada.
"Sederhana," Elena menatap Killian dengan keyakinan penuh. "Saya ingin perlindungan dari Anda. Dan ketika waktunya tiba, saya ingin Anda meminjamkan kekuatan militer Anda untuk meratakan siapa saja yang menghalangi jalan saya. Sebagai gantinya, saya akan memastikan Gavin tidak akan pernah menyentuh takhta, dan seluruh informasi rahasia istana akan berada di bawah kendali Anda."
Killian terdiam sejenak, lalu tawa rendah yang terdengar dingin keluar dari bibirnya. "Sebuah kesepakatan yang sangat berani, Nona Elena. Anda meminta perlindungan dari seorang tirani berdarah dingin untuk melawan calon Kaisar."
Pria itu melangkah mendekati meja kerjanya, mengambil sebuah belati kecil berhias permata dari laci, lalu menyodorkannya kepada Elena dengan bagian gagang menghadap ke arah wanita itu.
"Di dunia saya, aliansi tidak ditandatangani dengan tinta di atas kertas putih," Killian menatap Elena dengan senyum tipis yang mengerikan. "Aliansi diikat dengan darah dan sumpah. Jika Anda benar-benar siap menghancurkan masa depan Anda sendiri demi dendam ini, buktikan pada saya."
Elena menatap belati di tangan Killian. Tidak ada keraguan sedikit pun di wajahnya. Ia mengambil belati itu, menekan mata pisaunya yang tajam ke telapak tangan kirinya sendiri, dan menariknya perlahan hingga darah segar berwarna merah pekat mengalir membasahi telapak tangannya.
Tanpa mengeluarkan suara kesakitan, Elena mengulurkan tangannya yang bersimbah darah ke depan Killian. "Dengan darah ini, saya bersumpah akan menyeret mereka ke neraka yang paling dalam. Dan jika saya mengkhianati aliansi ini, Anda boleh mengambil nyawa saya dengan belati yang sama, Yang Mulia."
Killian tertegun sejenak melihat keberanian wanita itu. Tanpa ragu, ia mengambil belati itu dari tangan Elena, menggores telapak tangannya sendiri, lalu menjabat tangan Elena yang terluka. Darah mereka menyatu, mengalir di antara jemari mereka, menjadi saksi bisu lahirnya sebuah aliansi paling berbahaya di kekaisaran.
"Sumpah diterima, Partner," bisik Killian, matanya berkilat puas. "Mari kita lihat seberapa jauh Anda bisa menari di atas panggung sandiwara ini."
Malam itu, di bawah saksi temaram lilin, Elena tahu bahwa jalan menuju balas dendamnya telah resmi dimulai. Ia tidak akan lagi menjadi domba yang penurut; ia telah memilih untuk berjalan bersama sang serigala demi menghancurkan mereka yang telah menginjak-injak harga dirinya.