Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Kehebohan di SMA Taruna Bakti
Toyota Alphard hitam mewah itu perlahan memperlambat lajunya begitu mendekati area gerbang utama SMA Taruna Bakti. Pukul enam lewat empat puluh lima menit pagi adalah puncak keramaian sekolah. Ratusan murid yang baru turun dari motor, angkutan umum, atau mobil jemputan tampak memadati area depan sekolah, menciptakan riuh rendah obrolan pagi yang khas.
Di dalam mobil, kecanggungan pascainsiden rem mendadak tadi masih tersisa di udara. Aletha meremas tali ranselnya erat-erat, matanya menatap horor ke arah luar jendela.
"Langit, turunin gue di depan ruko seberang jalan aja, please," pinta Aletha dengan nada memohon yang jarang sekali ia gunakan.
"Kalau mobil ini berhenti tepat di depan gerbang, gue bisa jadi bahan gosip nasional sampai lulus!"
Langit tidak mengalihkan pandangannya dari layar tablet digital yang sudah menyala kembali.
"Keputusan bokap lo adalah mengantar lo sampai depan sekolah, Aletha. Bukan di seberang jalan."
"Tapi lo lihat sendiri kan di luar seramai apa?! Gosip balapan semalam aja belum reda!" desis Aletha frustrasi.
Klek.
Mobil Alphard itu berhenti total tepat di depan lobi gerbang utama. Pak Joko dengan sigap turun dari kursi kemudi, lalu berjalan memutar untuk membukakan pintu geser otomatis baris kedua.
Pintu terbuka perlahan, menarik perhatian beberapa murid yang sedang berjalan di dekat gerbang.
Sebuah mobil mewah seri terbaru dengan plat nomor khusus keluarga konglomerat Voss jelas bukan pemandangan yang biasa dilewati di area jemputan siswa biasa.
Langit turun lebih dulu. Tubuh tingginya yang menjulang berbalut seragam putih-abu-abu yang sangat rapi langsung menjadi pusat perhatian. Begitu wajah tampannya terlihat dengan jelas, ditambah bekas lebam samar di sudut bibirnya yang justru membuat aura bad boy-nya naik kelas, kasak-kusuk di antara siswi-siswi yang berdiri di koridor depan gerbang langsung pecah.
"Eh, itu Langit, kan? Gila, ganteng banget pagi ini!"
"Bibirnya kenapa tuh? Berarti gosip balapan semalam sama Tommy beneran?"
Namun, kehebohan itu belum ada apa-apanya. Sedetik kemudian, Langit tidak langsung melangkah pergi. Ia justru berbalik badan, mengulurkan satu tangan panjangnya ke dalam mobil seolah sedang menunggu seseorang.
Dari dalam kabin, Aletha menghembuskan napas pasrah. Dengan wajah yang sudah sewarna kepiting rebus, ia menyambut uluran tangan Langit terpaksa, karena jika ia menolak, drama di depan gerbang ini akan berlangsung lebih lama.
Begitu kaki mungil Aletha menapak di aspal dan tubuhnya muncul dari dalam mobil yang sama dengan Langit, atmosfer di sekitar gerbang SMA Taruna Bakti mendadak hening seketika. Ratusan pasang mata melotot sempurna. Obrolan pagi tentang tugas sekolah langsung lenyap, digantikan oleh rahang-rahang yang hampir jatuh ke tanah.
Di dekat tiang mading luar, Fika yang baru saja memarkirkan motor matiknya sampai menjatuhkan botol minumnya ke lantai. Di sudut lain dekat parkiran motor, Reza dan tiga anggota geng Griffin yang tersisa mematung dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa tidak percaya sekaligus kemarahan yang tertahan. Raja jalanan mereka baru saja runtuh semalam, dan pagi ini, gadis yang menjadi rebutan justru berangkat bersama sang pemenang dengan mobil mewah.
"Letha! Lo beneran berangkat bareng Langit?!" teriak Fika setengah berlari menghampiri mereka setelah berhasil menguasai rasa syoknya.
Aletha buru-buru melepaskan genggaman tangan Langit, berjalan kikuk.
"Fik, ini... ini ada penjelasannya…"
"Nggak perlu ada yang dijelaskan, Fika," potong Langit dengan suara baritonnya yang berat dan dingin, terdengar sangat jelas di tengah keheningan gerbang yang masih mencekam. Langit melangkah maju, kembali mengambil posisi tepat di samping Aletha, menyamakan ritme jalan mereka.
Reza dan anak buahnya melangkah menghadang dari jarak beberapa meter. Wajah Reza tampak mengeras, matanya menatap tajam ke arah lebam di bibir Langit.
"Jadi lo beneran mau pamer di depan kita setelah semalam, hah?" desis Reza penuh dendam.
Langit menghentikan langkahnya. Ia menatap Reza dan sisa-sisa anak buah Tommy dengan pandangan yang teramat datar dan meremehkan, sorot mata hazel yang sanggup mengunci keberanian lawan dalam sekejap.
"Gue nggak punya waktu buat pamer ke pecundang," sahut Langit dingin, tanpa riak emosi sedikit pun. Ia menepuk pundak ransel Aletha dengan pelan, sebuah gerakan minimalis yang terlihat sangat posesif di depan mata semua orang.
"Ayo masuk kelas, Babu. Tugas lo mencatat rangkuman rumus Fisika gue hari ini belum selesai."
Mendengar kata 'babu' yang diucapkan dengan nada se-intim itu di depan umum, wajah Aletha kembali terasa terbakar. Namun, ia tahu Langit sedang menggunakan perannya untuk menegaskan perlindungan mutlak di depan anak-anak geng Griffin agar mereka tidak berani menyentuhnya lagi.
Reza mengepalkan tangan kuat-kuat, namun mengingat ancaman hukum dan kekuasaan keluarga Voss yang diucapkan Langit semalam di Jalan Baru, ia terpaksa menahan diri dan mundur selangkah, membiarkan jalan terbuka.
Langit melangkah lebih dulu membelah kerumunan murid yang masih berbisik heboh, sementara Aletha mengekor di sampingnya dengan perasaan yang campur aduk.
Benci yang biasanya meledak-ledak setiap kali berhadapan dengan Langit, kini entah mengapa mulai terkikis oleh rasa aman yang begitu kokoh. Pagi ini, di depan seluruh warga sekolah, status pertunangan rahasia mereka mungkin belum diumumkan secara resmi, namun semua orang tahu satu hal yang pasti.
Aletha kini berada di bawah perlindungan penuh seorang Langit Sagara Voss.