NovelToon NovelToon
RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiawan

Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 Satu Lawan Banyak

Gudang kontainer terbengkalai di kawasan pelabuhan lama itu berdiri kokoh seperti monster besi raksasa yang menantang kegelapan malam [Dewantara]. Dinding-dinding sengnya yang berkarat dipenuhi coretan pilox berlogo kepala serigala. Di dalam ruangan luas berlantai semen kasar yang retak-retak, belasan anggota geng motor "Srigala Jalanan" sedang berpesta. Suara tawa terbahak-bahak yang serak, dentingan botol-botol minuman keras murah yang beradu, dan kepulan asap rokok murahan memenuhi atmosfer yang pengap.

Di ujung ruangan, di bawah sorot lampu neon kuning yang berkedip-kedip lesu, Tyson duduk di atas sebuah sofa usang yang sobek. Ia sedang menghitung tumpukan uang taruhan judi bola dengan seringai puas di wajah plontosnya. Di dekat kakinya, sisa-sisa kacamata Rian yang hancur berkeping-keping masih tergeletak di atas lantai bersama pecahan botol kaca.

"Bocah informatika sialan itu bener-bener lemah," tawa Tyson menggelegar, disambut sorak-sorai anak buahnya yang berjumlah empat belas orang. "Cuma digertak dikit sama dipukul beberapa kali langsung nangis-nangis meluk tasnya. Hahaha! Itu peringatan buat si Gavin biar gak sok jagoan lagi di jalanan lingkar luar!"

BOOOM!

Sebuah dentuman keras yang luar biasa memotong tawa Tyson di tengah jalan. Pintu besi setinggi tiga meter di gerbang gudang terdorong ke dalam, jebol dari engselnya akibat satu tendangan dorong (front kick) yang sangat bertenaga. Debu-debu semen dan karat beterbangan ke udara.

Di ambang pintu yang terbuka, siluet seorang pria berdiri tegak berlatar belakang cahaya bulan malam yang dingin. Gavin Dewantara berdiri di sana sendirian. Ia tidak lagi mengenakan cengiran slengean yang konyol. Kaos oblong hitamnya melekat erat pada tubuh tegapnya yang atletis. Kedua pergelangan tangannya dibalut perban hitam yang mengikat erat buku-buku jarinya. Tatapan matanya lurus memaku sosok Tyson di ujung ruangan—tatapan yang memancarkan aura membunuh begitu pekat, sedingin es, dan mutlak.

"Gavin?" Tyson bangkit dari sofanya, matanya menyipit terkejut namun dengan cepat berubah menjadi seringai kejam. "Gila lu ya, berani datang sendiri ke sarang gue. Nyari mati lu, hah?!"

Tyson memberikan isyarat tangan. Dalam sekejap, empat belas anak buahnya langsung bergerak mengepung Gavin, membentuk formasi lingkaran yang rapat. Beberapa dari mereka mencabut pisau lipat yang berkilau di bawah lampu neon, dua orang memegang balok kayu dengan paku yang menonjol, dan sisanya memegang rantai besi motor yang tebal.

Gavin tidak mengucapkan satu patah kata pun. Ia perlahan mengangkat kedua tangannya ke depan dada, membuka telapak tangannya yang terbalut perban hitam sebelum mengepalkannya kembali secara perlahan. Urat-urat di lengan bawahnya menonjol tajam. Ia mengambil satu napas dalam-dalam, menstabilkan detak jantungnya ke dalam mode bertarung taktis yang efisien.

"Hajar dia sampai gak bisa jalan seumur hidup!" teriak Tyson memberi komando.

Dua orang preman yang memegang rantai besi bergerak maju paling dulu. Preman pertama mengayunkan rantai besinya secara vertikal, menyasar langsung ke arah tempurung kepala Gavin. Gavin menunggu hingga rantai itu berada beberapa inci dari wajahnya. Dengan refleks yang luar biasa presisi, ia memiringkan kepalanya setipis rambut ke sisi kanan, membiarkan rantai besi itu menghantam lantai semen hingga mengeluarkan percikan api.

Sebelum preman pertama sempat menarik kembali rantainya, Gavin melangkah maju ke dalam jarak jangkau lawan. Tangan kirinya bergerak secepat kilat mencengkeram pergelangan tangan si preman, sementara tangan kanannya melayangkan pukulan straight yang sangat bertenaga tepat ke arah ulu hati lawan.

DUAK!

Pria itu langsung kehilangan napasnya dan membungkuk kesakitan. Gavin tidak berhenti di situ; ia memanfaatkan tubuh preman pertama yang setengah sadar sebagai perisai manusia saat preman kedua mengayunkan rantai besinya secara horizontal. Rantai besi itu justru menghantam punggung temannya sendiri. Bersamaan dengan momentum tersebut, Gavin melepaskan cengkeramannya, memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat, dan melepaskan tendangan memutar tumit (spinning heel kick) yang menghantam rahang preman kedua dengan telak.

BRAKK!

Dua preman pertama langsung tumbang ke lantai semen, pingsan seketika dengan mulut berdarah.

Melihat dua temannya dilumpuhkan dalam hitungan detik, tiga preman yang membawa balok kayu langsung maju bersamaan dari arah depan dan kiri. Serangan mereka datang bertubi-tubi tanpa pola yang teratur. Gavin mengandalkan insting pertahanan diri jalanan dikombinasikan dengan teknik efisiensi ruang yang pernah diajarkan tutor militernya dulu.

Ia merunduk di bawah ayunan balok pertama, lalu menangkap lengan preman yang mengayunkan balok kedua dari sisi kiri. Menggunakan teknik kuncian sendi praktis, Gavin memutar pergelangan tangan pria itu ke arah luar hingga terdengar bunyi retakan tulang rawan yang mengerikan.

KRETEK!

Pria itu menjerit histeris saat balok kayunya terlepas. Gavin merebut balok kayu tersebut di udara sebelum sempat menyentuh lantai, lalu menggunakannya untuk menangkis hantaman balok dari preman ketiga. Benturan kayu melawan kayu bergema keras di dalam gudang yang sepi.

Gavin tidak membuang waktu untuk beradu kekuatan. Ia menurunkan titik berat tubuhnya, menyapu kaki kiri preman ketiga dengan sapuan rendah yang brutal, lalu menghantamkan balok kayu di tangannya tepat ke arah tulang selangka lawan hingga pria itu terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi.

Pertarungan berubah menjadi kekacauan total di tengah gudang kontainer. Sisa anak buah Tyson yang membawa pisau lipat mulai menyerang secara membabi buta dari segala arah, mencoba menyayat kulit Gavin. Namun, gerakan Gavin terlalu cair untuk dikunci. Ia bergerak seperti bayangan hitam di antara kepungan musuh. Gerakannya sangat kotor, kejam, dan efisien: ia menggunakan colokan dua jari ke mata untuk membutakan lawan yang mencoba memeluknya dari belakang, melepaskan tendangan lutut (knee strike) ke arah selangkangan musuh yang membawa pisau, dan mengirimkan pukulan siku (elbow strike) beruntun ke arah pelipis dan hidung siapa saja yang berada di jarak jangkauannya.

Setiap pukulan Gavin mendarat dengan suara benturan daging dan tulang yang presisi. Baju oblong hitamnya mulai basah oleh keringat dan beberapa cipratan darah milik musuh, namun tidak ada satu pun serangan lawan yang berhasil mengenai area vitalnya. Wajah Gavin tetap datar, dingin, tanpa emosi—seolah-olah ia sedang melakukan pekerjaan mekanis membetulkan mesin motor tua, bukan menghancurkan belasan preman terminal.

Dalam waktu kurang dari lima belas menit, lantai semen gudang kontainer itu telah dipenuhi oleh dua belas preman yang terkapar bersimbah darah, mengerang kesakitan memegangi bagian tubuh mereka yang patah atau lebam. Hanya tersisa dua orang anak buah Tyson yang masih berdiri, namun lutut mereka gemetar hebat dan pisau di tangan mereka bergetar parah karena ketakutan melihat monster jalanan yang berdiri di depan mereka.

Gavin melemparkan balok kayu yang sudah patah di tangannya ke lantai, mengeluarkan bunyi dentingan yang bergema memotong keheningan. Ia menatap dua preman terakhir dengan kilatan mata yang dingin. "Buang pisaunya sebelum gue yang buang tangan kalian ke selokan," bisik Gavin, suaranya sangat rendah namun penuh dengan tekanan psikologis yang mematikan.

TING! TING!

Kedua preman itu langsung menjatuhkan pisau mereka ke lantai, lalu berbalik dan berlari tunggang-langgang keluar dari gudang melalui celah pintu yang jebol, meninggalkan bos mereka sendirian.

Kini, di bawah sorot lampu neon kuning yang berkedip, hanya tersisa Gavin dan Tyson. Tyson yang tadinya merasa di atas angin kini wajah plontosnya dipenuhi keringat dingin. Ia perlahan mundur hingga punggungnya membentur dinding kontainer besi di belakangnya. Rasa takut yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya kini menjalar dari ujung kaki hingga ke kepala saat melihat Gavin berjalan mendekatinya dengan langkah yang santai namun pasti.

Tyson mencoba mengumpulkan sisa-sisa nyalinya, mencabut sebuah celurit besar yang tersembunyi di balik sofanya. "J-jangan belagu lu, bocah sialan! Gue Tyson! Penguasa jalur lingkar luar! Gue bakal potong-potong tubuh lu—"

Tyson melompat maju, mengayunkan celuritnya dengan tebasan melengkung horizontal yang sangat cepat ke arah leher Gavin.

Gavin tidak menghindar ke belakang. Ia justru melangkah maju ke depan menantang arah tebasan, memotong ruang gerak celurit sebelum senjata itu mencapai kecepatan maksimalnya. Tangan kiri Gavin yang terbalut perban menangkap pergelangan tangan Tyson yang memegang senjata dengan cengkeraman sekuat catok besi, menahannya di udara.

Bersamaan dengan itu, tangan kanan Gavin terkepal kuat, ditarik ke belakang pinggang, lalu dilepaskan dengan seluruh bobot tubuhnya dalam sebuah pukulan uppercut mentah yang menghantam rahang bawah Tyson secara telak dari bawah.

DUAARR!

Hantaman itu begitu keras hingga tubuh kekar Tyson sempat terangkat beberapa sentimeter dari lantai sebelum akhirnya ambruk telentang ke atas tanah. Celuritnya terlepas, berdenting jauh ke sudut ruangan. Tyson terengah-engah, hidungnya patah dan mulutnya mengeluarkan darah segar, matanya berkunang-kunang mencoba mempertahankan kesadaran.

Gavin berjalan mendekat, lalu menginjak dada Tyson dengan kaki kanannya yang mengenakan sepatu kanvas murah, menekan tubuh bos geng motor itu ke lantai semen dengan sangat kuat hingga Tyson kesulitan bernapas. Gavin menundukkan tubuhnya, mencengkeram sisa kerah baju jaket kulit Tyson dengan tangan kirinya, memaksa pria itu menatap matanya yang sedingin es.

"Dengerin gue baik-baik, 'Penguasa Jalur Lingkar Luar'," bisik Gavin tepat di depan wajah Tyson yang gemetar ketakutan. "Uang taruhan judi bola yang lu ambil dari Dono, malam ini juga harus lu balikin utuh. Dan lu dengerin ini: Rian itu sahabat gue. Kalau sampai besok pagi gue denger lu atau anak buah lu berani nginjekin kaki di sekitar kampus atau Kos Bu Broto lagi... gue pastikan sisa hidup lu bakal dihabisin di atas kursi roda tanpa bisa jalan seumur hidup. Paham lu?!"

Tyson mengangguk dengan sangat cepat, air mata ketakutan mengalir di sudut matanya yang lebam. "P-paham... paham, Bang... ampun, Bang..." ratap Tyson dengan suara parau yang menyedihkan.

Gavin melepaskan injakannya dengan kasar, membuat Tyson terbatuk-batuk memegangi dadanya. Gavin berbalik, berjalan santai menuju pintu keluar gudang yang hancur. Saat melangkah keluar melewati genangan air hujan di pelataran pelabuhan lama, ia membuka lilitan perban hitam di tangannya yang kini sudah ternoda bercak darah musuh, lalu membuangnya ke dalam tempat sampah.

Hawa pembunuh di wajahnya perlahan memudar, berganti kembali dengan ekspresi lelah dan slengean seorang mahasiswa yang merindukan kasur busa kosannya. Utang darah malam ini telah dibayar lunas dengan hukum jalanan yang ia hormati, dan harga diri sahabatnya telah kembali ke tempatnya yang benar.

1
Mey-mey89
lanjut
Azmi Zildiawan: Terima kasih sudah membaca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!