Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menelfon Liu Yue
Setelah berhasil mengecoh para kultivator iblis yang membuntutinya dengan pergerakan semu, Jia Li akhirnya tiba di sebuah kawasan tertutup.
Dari kejauhan, matanya yang tajam langsung menangkap siluet beberapa pria berjas hitam yang berdiri tegap menjaga ketat area tersebut.
Tanah hijau seluas dua hektar dengan hamparan sekitar 20.000 meter persegi itu jelas bukan lahan sembarangan; atmosfer pertahanannya menandakan bahwa tempat ini adalah wilayah yang dilindungi secara hukum maupun militer pribadi.
Meskipun penjagaan begitu rapat, hal itu tidak membuat langkah Jia Li surut. Dengan satu hentakan kaki, ia melompati sebuah pohon besar tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Gerakannya secepat kilat, membuat tubuhnya seolah menyatu dengan embusan angin malam.
Ia melewati beberapa penjaga berjas hitam itu dengan santai, bahkan rambutnya sempat menggeser udara di dekat mereka tanpa ada satu pun yang menyadarinya. Langkahnya baru terhenti tepat di tengah-tengah lahan hijau yang luas dan sunyi.
"Jadi, ini tempatnya," gumam Jia Li sembari menyunggingkan senyum tipis. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, mengagumi tanah yang begitu strategis. "Tempat yang sangat cocok untuk membangun bunker perlindungan dari bencana masa depan. Tapi... sepertinya menguasai lahan ini tidak akan mudah."
Ding!
Sebuah suara mekanis yang familiar tiba-tiba menggema langsung di dalam kesadarannya, memecah keheningan malam.
【 Mendeteksi bahwa Nona telah tiba di lokasi koordinat yang diberikan oleh sistem. 】
Suara sistem terdengar datar namun berwibawa.
【 Pemberitahuan: Sistem hanya bertugas memberikan rekomendasi lokasi yang paling sesuai dengan standar keselamatan tinggi. Namun, untuk mulai membangun fondasi pertahanan bunker pertama, Nona membutuhkan izin resmi dari pemilik sah lahan ini secara hukum. 】
Jia Li mengernyitkan dahi, melipat kedua tangannya di dada. "Izin resmi? Siapa pemilik lahan ini?"
【 Menganalisis basis data dunia saat ini... 】 Sistem merespons cepat.
【 Pemilik sah dari lahan seluas dua hektar ini terdaftar atas nama: Liu Han. Jabatan: CEO sekaligus penguasa tertinggi dari Liu Group. 】
"Jia Li terdiam sejenak, mengulang nama konglomerat itu di dalam benaknya. "Liu Group?" Detik berikutnya, sebuah ingatan melintas di kepalanya. "Tunggu dulu... Bukankah Liu Yue adalah anak perempuan dari keluarga utama Liu Group itu?"
Sebuah senyuman penuh arti kembali tersungging di bibir indahnya. "Dunia ini ternyata sangat sempit. Sepertinya aku tahu harus meminta bantuan kepada siapa untuk urusan tanah ini."
Sementara itu, disisi lain—di dalam sebuah mobil Van mewah yang sedang melaju membelah jalanan malam yang gemerlap.
Tampak Liu Yue sedang duduk bersandar dengan anggun. Tatapannya terpaku pada layar ponselnya yang menyala, memperlihatkan sebuah foto seorang pemuda berambut panjang yang sempat ia ambil secara diam-diam. Foto itu adalah foto Yun Shadom.
"Menarik," gumam Liu Yue lirih, sudut bibirnya sedikit terangkat mengingat interaksi unik mereka beberapa jam yang lalu.
Ia kembali teringat momen saat dirinya mencoba menawarkan sebuah kesepakatan besar kepada pemuda misterius itu untuk menjadi partner model utamanya.
Pada awalnya, Liu Yue bisa melihat binar ketertarikan di mata Yun Shadom saat mendengar kata 'bayaran tinggi'. Namun, segalanya berubah drastis ketika Liu Yue menambahkan satu syarat demi tuntutan tren fesyen modern saat ini.
"Ada satu hal yang harus kau lakukan sebelum tanda tangan kontrak," ujar Liu Yue kala itu dengan nada profesional. "Kau harus memotong rambut panjangmu itu agar terlihat lebih rapi."
Mengingat respons Yun Shadom saat itu, Liu Yue tidak bisa menahan tawa kecilnya di dalam mobil yang sepi.
Pemuda itu langsung mundur selangkah, menatapnya dengan pandangan tersinggung seolah-olah Liu Yue baru saja mengajaknya melakukan kejahatan besar. Dengan tegas dan tanpa ragu sedikit pun, Yun Shadom menolak mentah-mentah tawaran bernilai jutaan Yuan tersebut.
"Lebih baik aku tidur di jalanan dan kelaparan, daripada aku harus menukar uang dengan memotong rambut yang menjadi lambang kehormatanku sebagai seorang pria!" tegas Yun Shadom dengan suara lantang beberapa jam yang lalu, sebelum akhirnya berbalik pergi begitu saja membiarkan Liu Yue tercengang sendirian.
Liu Yue menggelengkan kepalanya perlahan, mengunci layar ponselnya sembari menatap keluar jendela mobil. "Di zaman modern seperti ini, masih ada orang aneh yang menganggap rambut panjang lebih berharga daripada tumpukan uang. Yun Shadom... kau benar-benar membuatku penasaran."
Tiba-tiba—lamunan Liu Yue buyar. Ponsel di genggamannya berbunyi nyaring, memecah keheningan di dalam mobil van mewah itu. Layar pintarnya menyala, menampilkan nama Jia Li (My Friend) di sana.
Liu Yue tersenyum kecil lalu menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya. "Halo," sapa Liu Yue dengan nada santai. "Tumben sekali kau menghubungi ku terlebih dahulu?"
Di seberang sana, Jia Li hanya tersenyum tipis mendengar nada menggoda sahabatnya. "Karena aku membutuhkan bantuanmu," ucap Jia Li langsung pada intinya, tanpa membuang-buang waktu untuk berbasa-basi.
Liu Yue mengangkat sebelah alisnya dengan raut heran. "Bantuanku?" ulangnya sedikit terkejut.
Wajar saja ia merasa heran, karena selama bertahun-tahun berteman, Jia Li hampir tidak pernah meminta bantuan apa pun darinya ataupun dari Song Ying, meskipun mereka berdua selalu menawarkan diri dengan sukarela.
"Aku ingin kau membantuku bertemu dengan Liu Han," lanjut Jia Li dengan suara tenang namun tegas.
Mendengar nama sang kakak disebut, mata Liu Yue seketika melotot sempurna. Ia bahkan hampir saja tersedak ludahnya sendiri karena syok.
"Kak Han?!" ulang Liu Yue dengan nada meninggi, berharap indra pendengarannya sedang salah berfungsi saat ini. "Jia Li, sepertinya ada yang salah dengan otakmu hari ini... Untuk apa kau ingin menemui beruang kutub berdarah dingin itu?" kata Liu Yue tak habis pikir, membayangkan wajah kakaknya yang selalu datar dan mengerikan seperti monster es.
Di tempatnya, Jia Li menatap hamparan tanah luas yang membentang di depannya. Matanya menerawang jauh, namun senyum tipis tetap terukir di wajahnya. "Aku hanya ingin meminta bantuan pada Kakakmu..." jawabnya misterius. "Tolong, bantu aku bertemu dengannya."
Liu Yue terdiam sejenak. Ia memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut, menimbang-nimbang risiko mempertemukan sahabatnya dengan kakaknya yang kejam. Namun akhirnya, ia menghela nafas pasrah. "Baiklah, nanti akan kuatur jadwalnya—"
Belum sempat Liu Yue menyelesaikan kalimatnya, sebuah hantaman rem yang luar biasa keras terdengar. Mobil Van yang ia tumpangi tiba-tiba berhenti mendadak di tengah jalan yang sepi.
Membuat tubuh Liu Yue terdorong hebat ke depan hingga kepalanya hampir membentur kursi pengemudi. Ponsel yang tengah digenggamnya terlepas dan terjatuh ke lantai mobil.
"Ssssss, ah! Apa yang kau lakukan?!" bentak Liu Yue dengan nada marah sambil memegangi dahinya yang terasa pening.
Supir pribadinya yang duduk di kursi kemudi tidak langsung menjawab. Pria itu gemetar hebat, wajahnya pucat pasi tanpa darah saat menoleh ke belakang melalui kaca spion tengah. "A-ada beberapa orang yang menghadang jalan kita, Nona," katanya dengan suara yang bergetar penuh ketakutan.
Di saat yang bersamaan...
Keheningan di sekitar Jia Li mendadak pecah oleh sebuah suara mekanis yang menggema langsung di dalam kesadarannya. Sistem di kepala Jia Li memberikan informasi darurat yang berkedip merah secara mendadak.
[ Peringatan: Bahaya tingkat menengah terdeteksi mengancam keselamatan target Liu Yue. Lokasi: Sektor 4 Jalan Lingkar Barat. Waktu tersisa sebelum kontak fisik: 10 menit. ]
Mata Jia Li yang semula tenang langsung menegang. Tangannya mengepal kuat pada ponsel yang kini hanya mengeluarkan suara kresek-kresek dari seberang sana.
Mendengar suara itu, tubuh Jia Li langsung menegang sempurna. Pupil matanya melebar dan seluruh indranya seketika menajam. Belum sempat ia mencerna peringatan pertama, suara mekanis sistem di dalam kepalanya kembali berbunyi, kali ini dengan nada yang jauh lebih mendesak.
[ Mendeteksi adanya kekuatan spiritual hitam dari para kultivator iblis yang menghadang jalan Nona Liu Yue. Alasan pemblokiran: Mereka juga mengincar koordinat lahan tersebut untuk melakukan ritual terlarang. ]
Mendengar penjelasan sistem, tatapan Jia Li langsung menggelap. Lahan yang ia inginkan kini menjadi incaran kultivator iblis di era modern ini.
Tangan Jia Li seketika mengepal sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih, matanya menggelap. Dalam sekejap, ia menghilang bersama angin malam.