💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Di sisi Alana taksi berwarna kuning itu melaju membelah jalanan kota yang lengang. Di bawah pendar lampu jalan yang berkedip suram, Alana mendekap erat tubuh Kai dan Kael di kursi belakang.
Hawa dingin dari AC mobil menusuk pori-pori, namun yang membuat napas Alana bergetar adalah ketakutan luar biasa yang mencengkeram dadanya.
"Kita mau ke mana, Nona?" tanya sang sopir memecah keheningan. Matanya melirik awas dari kaca spion tengah.
"Nona belum menyebutkan tujuan, dan jujur saja... melihat baju anak-anak itu, saya tidak mau cari masalah."
"Jalan aja terus, Pak. Arahkan ke stasiun kereta lama di pinggir kota," jawab Alana cepat, berusaha menekan nada paniknya.
Membawa mereka ke apartemennya adalah tindakan bunuh diri. Hotel pun mustahil tanpa kartu identitas. Jika pembantai mansion Kakaknya Raka, berafiliasi dengan orang kuat, ribuan lensa CCTV di kota ini pasti sedang memburu mereka.
Alana menelan ludah. Ia melepaskan pelukannya sejenak, menahan tubuh si kembar dengan satu lengan, sementara tangan kirinya merogoh ponsel dari dalam tas. Ia membuka aplikasi dengan layar terminal hitam.
Napas Alana tertahan. Ibu jarinya bergerak mengetikkan barisan kode dengan kecepatan yang lahir dari kepanikan absolut. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Ia memanggil server anonim miliknya, meretas celah keamanan sistem lalu lintas kota, lalu memanipulasi looping rekaman pada setiap CCTV yang baru saja dilewati taksi ini. Data pelat nomor kendaraan ia bakar dari sistem.
Layar ponselnya berkedip sekali, lalu kembali ke tampilan wallpaper biasa. Alana membuang napas kasar, menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Untuk saat ini, mereka lenyap dari radar.
____________
Di pusat komando klan Adhitama yang tersembunyi di bawah tanah, udara terasa membekukan. Deretan monitor raksasa menampilkan pergerakan lalu lintas seluruh kota, namun ruangan itu diselimuti keheningan yang mencekik.
Elvano berdiri dengan kedua tangan bertumpu di atas meja komando. Matanya menatap tajam ke arah layar utama yang mendadak menampilkan statik hitam berkedip.
"Jelaskan," desis Elvano. Satu kata, namun cukup membuat suhu ruangan seolah turun drastis.
Tim IT utama klan Adhitama menelan ludah dengan susah payah. Jari-jarinya kaku di atas keyboard. "T-Tuan Muda... kami kehilangan jejak mereka. Sepuluh menit yang lalu sistem mendeteksi ada taksi yang mengambil rute aneh dari area minimarket, tapi..."
"Tapi apa?" potong Elvano dingin.
"Ada yang menyusup ke sistem dari luar. Mereka memanipulasi loop kamera di Jalan Lingkar Barat dan menghapus data secara real-time. Eksekusinya terlalu rapi. Kami bahkan tidak bisa memancing IP address pelakunya. Jejak mereka diputus paksa."
Rahang Elvano mengeras hingga berbunyi kemeretak pelan. Siapa pun yang membawa yang membawa si kembar pasti dia memiliki akses dan kemampuan peretasan tingkat tinggi.
Fakta bahwa Kai dan Kael berada di luar sana bersama sosok misterius yang tak bisa dilacak oleh teknologi terbaik Adhitama, membuat amarah Elvano mendidih hingga ke ubun-ubun.
"Kirim pasukan darat," perintah Elvano mutlak. Matanya yang memerah menatap Jace.
"Sisir setiap stasiun, terminal, gang sempit, dan rumah kontrakan. Jangan gunakan teknologi, gunakan mata kalian. Temukan anak-anak itu sebelum pagi!"
__________
Otak Alana yang jenius langsung mendeteksi ancaman dari jejak fisik taksi yang ia tumpangi. Maka dari itu ia turun jauh sebelum stasiun kereta tua, membayar lebih, dan menyuruh sopir itu melaju ke arah yang berlawanan.
Kini, dengan napas memburu, Alana menyeret koper di tangan kanan, sementara tangan kirinya menggenggam erat jemari Kai dan Kael. Ia membawa dua balita itu menyusuri gang-gang sempit dan lembap, masuk semakin dalam ke area permukiman padat di pinggiran kota yang berbau pesing dan sampah basah.
Di tempat kumuh seperti ini, orang terlalu sibuk memikirkan perut sendiri daripada peduli urusan orang lain.
Langkah Alana berhenti di depan sebuah kontrakan petak dua lantai yang catnya mengelupas. Ia mengetuk keras pintu pemilik kontrakan. Seorang wanita paruh baya berdaster membuka pintu, menatap mereka dari atas ke bawah dengan curiga.
"Maaf, Bu. Saya butuh satu kamar malam ini juga," ucap Alana langsung menyodorkan lima lembar uang ratusan ribu tunai.
"Dompet saya kecopetan di stasiun, jadi tidak ada KTP. Anak-anak saya sudah sangat kelelahan."
Melihat lembaran uang merah itu, kecurigaan sang ibu kontrakan seketika menguap. Ia merampas uang itu dan memberikan sebuah kunci besi pada Alana.
"Kamarnya ada di lantai dua nomor 12."
Begitu pintu kayu kamar nomor dua belas terkunci rapat, tubuh Alana merosot ke lantai yang dingin. Adrenalinnya menguap, digantikan oleh kelelahan yang meremukkan tulang.
Ia menatap Kai dan Kael yang duduk meringkuk di atas kasur tipis tanpa seprei. Keduanya masih membisu. Pakaian tidur sutra mereka yang robek dan bernoda darah terlihat sangat salah di tempat kumuh ini. Identitas masa lalu mereka terlalu mencolok.
Alana bangkit dengan susah payah. Ia membuka koper, mengambil gunting kecil dari tas kosmetiknya, lalu berlutut di hadapan kedua keponakannya. Ia menangkup wajah pucat Kael dan Kai dengan tangannya yang masih bergetar.
"Sayang, dengar Tante Al," bisik Alana. Suaranya serak menahan tangis. "Mulai detik ini, kita sedang main petak umpet sama orang jahat. Biar kita menang, kita harus menyamar ok!"
Alana menatap mata kosong kedua balita itu lekat-lekat.
"Kalau ada orang bertanya... kalian harus panggil Tante dengan sebutan Bunda. Kalian berdua sekarang anak-anak Bunda. Paham?"
Air mata yang mati-matian ia tahan ditahan akhirnya jatuh menetes ke punggung tangan Kael. Bocah lima tahun itu menatap mata Alana lama. Perlahan, kepalanya mengangguk kecil.
"Iya... Bunda," bisik Kael parau.
Satu panggilan itu meruntuhkan sisa kewarasan Alana. Ia memeluk kedua tubuh mungil itu, menyembunyikan isak tangisnya di antara helaian rambut mereka.
Malam ini, seorang mahasiswi muda telah mati. Ia terlahir kembali sebagai seorang ibu pelindung.
Alana mengurai pelukannya, mengangkat gunting, dan mulai memotong rambut rapi si kembar.
Krek.
Krek.
Helaian rambut halus itu berjatuhan ke lantai kotor. Ia memangkasnya menjadi pendek dan berantakan, menghapus paksa jejak tuan muda dari wajah mereka.
Di dalam kamar pengap yang jauh dari kemewahan mansion itu, pewaris dari tangan kanan klan Adhitama mengubur identitas mereka, memulai pelarian sunyi demi bertahan hidup untuk sebuah pembalasan dendam di masa depan.
Bersambung...