Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'
Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.
Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!
Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!
Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!
Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Pusat Perbelanjaan Elit dan Golok Keramat Malam Hari
"Sama aja kali, Dit. Intinya kan kita berdua sama-sama melakukan aktivitas tanda tangan dokumen resmi perusahaan kehidupan. Bedanya, kalau yang ini bonus transaksinya dapat istri sah, bukan komisi persentase saham korporasi. Lagian lo harusnya banyak-banyak bersyukur, Sella itu aslinya cantik banget, aset masa depan yang luar biasa. Gue aja kemarin pas kebagian tugas mengojek dia sempat terpesona sesaat—ya, sebelum dia nekat ngasih lembaran struk belanjaan lecek buat bayar ongkos bensin, sih."
Adit memilih untuk tidak menyahut ucapan sepupunya itu. Ia hanya memiliki satu keinginan sederhana malam ini: ingin malam jahanam ini bisa cepat berlalu, atau setidaknya ia ingin segera terbangun dari tidur dan menyadari bahwa insiden segelas jus jeruk di Kota Paris itu hanyalah sebatas mimpi buruk belaka. Ia memijat pelipis kepalanya yang terasa sangat nyut-nyutan, merasakan denyut nadi di kepalanya yang seakan-akan ingin meledak saat itu juga.
Sebelum menuju ke agenda selanjutnya yang diajukan Reno secara mendadak, mereka berdua terpaksa melakukan aksi tancap gas pol menuju ke salah satu pusat perbelanjaan elit di kawasan Jakarta Selatan. Di dalam butik perhiasan ternama yang suhunya sangat dingin dan dipenuhi oleh aroma parfum mahal, kedua pria itu tampak berdiri dengan ekspresi kaku. Mereka persis seperti dua orang terpidana yang sedang dipaksa memilih jenis hukuman mati mereka sendiri di atas meja eksekusi.
Adit menatap dengan pandangan nanar ke arah kantong kertas perhiasan (paper bag) yang kini berisi setelan jas mewah baru dan sepasang cincin emas putih yang tampak berkilau indah—yang seluruh total biayanya terpaksa dibayar menggunakan kartu kredit black card milik Adit yang tanpa limit.
“Dit, gue beneran berterima kasih banyak dari lubuk hati yang paling dalam. Lo emang sah jadi sahabat terbaik gue se-Galaksi Bimasakti,” ucap Reno tulus sembari memeluk erat kantong kertas perhiasan tersebut.
Adit mendengus kasar, tangan kanan eksekutifnya bergerak merapikan kembali kerah kemeja putihnya yang posisinya masih sedikit koyak akibat cengkeraman Kaizen di bandara tadi.
“Gak usah lebay. Anggap saja semua barang mewah itu sebagai bentuk biaya kompensasi karena lo sudah bersedia mengajukan diri jadi CEO Cadangan sementara di kantor pusat. Meskipun besok subuh status sosial kita berdua bakal resmi naik pangkat jadi Tahanan KUA,” sahut Adit dengan nada suara lesu tak berdaya.
Pikiran Adit kembali melayang jauh pada sosok Sella; gadis berusia 19 tahun yang beberapa jam lagi akan resmi berubah status menjadi tanggung jawab hukum penuh dalam hidupnya. Padahal dirinya sendiri saat ini masih mengalami trauma psikologis tingkat tinggi dengan segala hal yang berbau Paris. Bagaimana mungkin seorang mahasiswi mode semester awal bisa menjungkirbalikkan hidupnya yang tertata rapi?
“Lalu soal urusan penandatanganan kontrak proyek di Paris kemarin gimana, Dit? Lo mau nekat kabur dari tanggung jawab urusan bisnis internasional juga?” tanya Reno memecah keheningan malam saat mobil mereka mulai membelah jalanan aspal ibu kota yang mulai lengang.
“Urusannya belum beres total. Gara-gara insiden skandal balkon hotel terkutuk itu gue terpaksa mengambil penerbangan darurat balik mendadak ke Jakarta. Mungkin lusa setelah urusan KUA ini selesai, gue harus terbang lagi ke sana,” jawab Adit sembari menyandarkan kepala peningnya ke jok mobil Tesla.
Bayangan wajah garang dan galak milik Papa Kaizen yang melotot ke arahnya langsung membuatnya bergidik ngeri seketika. Bagaimana mungkin seorang CEO utama dari Abraham Company yang terhormat harus memulai lembaran pernikahan pertamanya karena digusur paksa oleh seorang bapak-bapak mantan tentara?
“Sekarang lo arahkan kemudi anterin gue ke rumah kediaman Baba Hartono,” perintah Reno mantap secara mendadak.
Adit langsung membelalakkan kedua matanya karena terkejut. “Siapa lagi itu Baba Hartono? Lo malam-malam buta begini mau cari dukun sakti buat membatalkan pernikahan besok subuh? Atau lo mau beli minyak pelet buat menjerat hati Sindy?”
“Bukan, sialan! Gue mau beli balik koleksi golok keramat warisan kakek gue, Dit!”
Adit menarik napas panjang sedalam-dalamnya, mencoba menahan diri sekuat tenaga agar tidak menendang tubuh sahabat sablengnya itu keluar dari dalam mobil yang sedang melaju.
“Gila lo ya, Ren! Besok subuh kita berdua mau menghadapi eksekusi nikah, dan lo masih sempat-sempatnya mikirin urusan golok? Gue ini perlu pulang ke rumah sekarang, nyiapin mental buat eksekusi mati... eh, maksud gue nemuin Mami sama Opa di rumah utama buat menjelaskan kenapa cucu laki-laki kebanggaan mereka tiba-tiba harus menikah dadakan dari Paris!”
****
Tepat pukul 22.14 malam, mobil Tesla milik Adit akhirnya berhenti dengan presisi di depan sebuah pintu gerbang kayu jati berukuran raksasa. Adit menatap ngeri ke arah deretan patung antik kuno yang tampak sangat angker di halaman depan rumah kediaman Baba Hartono.
“Ren, lo sebenarnya mau ngajak gue jadi komplotan maling barang antik ya?” tanya Adit penuh curiga, sepasang mata elangnya bergerak menyisir letak kamera CCTV yang terpasang di atas tembok pagar beton. “Gue gak mau ya menambahkan catatan kriminal baru dengan pasal pencurian dengan pemberatan di kantor polisi, setelah siang tadi diterpa skandal di hotel Paris.”
“Enggaklah, pikiran lo negatif mulu! Gue cuma mau bertransaksi beli balik tuh golok keramat. Tapi... gue pinjam duit cash lo dulu ya malam ini? Besok siang gue janji bakal ganti utuh pakai bunga-bunganya sekalian!” Reno menyengir lebar tanpa dosa.
Adit menghela napas panjang hingga kedua bahunya bergerak naik-turun tanda pasrah pada takdirnya yang semakin absurd. Ia mengeluarkan dompet kulit mahalnya dari balik saku dengan gerakan tangan yang sangat mekanis, persis seperti robot protokol perusahaan. “Oke, gue pinjemin. Tapi jangan pakai lama urusannya. Gue butuh waktu luang buat latihan mengatur napas sebelum besok pagi leher gue dijepit oleh bapak penghulu.”
Baru saja kedua kaki mereka melangkah turun dari mobil, suara gonggongan nyaring dari seekor anjing penjaga berukuran besar langsung menyambut kehadiran mereka, disusul oleh suara teriakan menggelegar dari arah balkon lantai dua rumah.
“SIAPA ITU DI LUAR?! MALAM-MALAM BUTA DATANG MAU NYOLONG OE PUNYA GUCI DINASTI YA?!”
Adit tersentak kaget setengah mati, secara refleks langsung menggeser tubuhnya dan menjadikan punggung tegap Reno sebagai tameng hidup dari pandangan atas.
“Waduh, Ren! Aki-aki pemilik rumah itu nadanya lebih galak dan mengintimidasi daripada instruktur militer bokapnya Sella!” bisik Adit ngeri dengan tubuh gemetar.
"Kalem aja, Dit. Jangan panik. Gue bakal menggunakan pesona jadi cucu kesayangannya. Nyokap gue kan saat ini lagi proses pendekatan sama anaknya yang bernama Dilan Galaksi. Sebentar lagi status gue bukan pengangguran lagi, tapi resmi jadi calon sultan!" pamer Reno dengan dada yang membusung bangga.
Adit sudah tidak memedulikan ucapan bualan sahabatnya itu lagi. Ia hanya sibuk meratapi nasib garis hidupnya yang semakin lama terasa semakin tidak logis.
Kemarin siang ia masih duduk dengan anggun di sebuah kafe estetik Kota Paris membahas pergerakan grafik saham korporasi bersama jajaran direksi internasional. Namun, malam ini ia justru harus berdiri kaku di depan rumah seorang kolektor barang antik angker, menemani sahabatnya menebus sebilah golok keramat, demi mempersiapkan mental menghadapi vonis pernikahan paksa massal besok pagi.
Pintu pagar besi akhirnya terbuka, menampilkan sosok Baba Hartono yang keluar dengan cerutu yang mengepulkan asap tebal. “Heh! Lu olang lagi! Lu olang lagi! Mau latihan aksi lompat kodok masuk rumah oe lagi lu?”