NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Era Majapahit

Terlempar Ke Era Majapahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Tiga Puluh Lima Hari

Fajar datang pelan-pelan ke lembah itu, seakan segan menyaksikan apa yang tersisa.

Para prajurit yang terluka dibaringkan di bawah pohon jati, luka-luka mereka dibalut sobekan kain. Tarub, dengan lengan kiri tergores dalam, sibuk memeriksa korban satu per satu sambil menggerutu pelan. Jaka duduk di tepi halaman dengan wajah tertunduk, tak berani mengucapkan apa pun, sampai Raka menghampirinya dan menepuk bahunya.

"Kau menyelamatkan nyawa kami," katanya. "Tanpa saluran itu, kami tak akan sampai ke Sekar."

"Tapi aku yang mengantar orang itu ke tungku ini," bisik Jaka.

"Dan kau yang membawa kami kembali." Raka tersenyum lelah. "Impas."

Anak itu mengusap hidung dengan lengan baju, tak menjawab, tapi bahunya sedikit mengendur.

Di tengah halaman yang berantakan, Wirabhaya berdiri berhadapan dengan Anggada.

Raka tidak sengaja menahan napas. Semua orang menahan napas. Dua lelaki itu berdiri berjarak empat langkah, di antara serpihan bata dan abu. Anggada tidak lagi memegang pedang. Senjata itu tergeletak di tanah di antara mereka, bilahnya masih berlumur noda gelap.

"Aku tidak akan membela diri," kata Anggada pelan. Suaranya hampir tak terdengar. "Aku mengkhianatimu, Wira. Aku membuat dua orang kita mati. Aku pantas dihukum."

Wirabhaya tak menjawab. Ia menatap sahabat masa kecilnya, seorang lelaki yang pernah menyelamatkan nyawanya di perbatasan Daha, seorang lelaki yang kini berlutut di hadapannya dengan kepala tertunduk.

Lalu, tanpa suara, Wirabhaya melangkah maju dan memungut pedang itu dari tanah.

Raka merasakan Tarub, di sampingnya, menegang. Sekar menggenggam lengan Raka.

Wirabhaya mengangkat pedang itu, menatap bilahnya, lalu membalikkannya dan menyodorkan gagangnya pada Anggada.

"Ambil."

Anggada mendongak, tak percaya. "Gusti..."

"Ambil. Dan berdirilah." Suara Wirabhaya serak, tetapi tegas. "Kau memang berutang pada dua orang yang tewas itu. Dan pada keluarga mereka. Itu utang yang harus kau bayar setiap hari, bukan dengan kematian."

"Tapi hukum..."

"Aku yang menentukan apa yang kuserahkan kepada Mahapatih. Dan aku akan bilang bahwa kau membuka mata di saat terakhir." Wirabhaya menatapnya lurus. "Itu kenyataan, bukan? Kau yang menghadang orang-orang Hendar demi seorang gadis yang tak kau kenal."

Anggada menggenggam gagang pedang itu dengan tangan gemetar, lalu berdiri. Air matanya mengalir tanpa ia sembunyikan.

"Aku tak pantas dimaafkan."

"Aku tak bilang aku memaafkanmu." Wirabhaya menepuk bahunya dengan kasar, hampir seperti pukulan. "Aku bilang kau masih sahabatku. Itu dua hal berbeda."

Untuk sesaat, kedua lelaki itu hanya berdiri berdampingan. Lalu Anggada menunduk dalam dan menangis tanpa suara, dan Wirabhaya membiarkannya, menatap ke arah fajar dengan wajah yang tidak sepenuhnya tenang.

Mereka kembali ke Trowulan menjelang siang. Raka menunggang kuda di samping Anggada, dan sepanjang jalan, lelaki itu tak berkata apa-apa. Tapi ketika mereka melewati gerbang timur dan gang-gang kota mulai ramai, ia akhirnya membuka mulut.

"Kau bilang akan mencoba menolong Bayu."

"Saya serius."

"Rumahku dekat. Maukah kau melihatnya?"

Rumah Anggada adalah bangunan kayu kecil di pinggir kanal, dengan halaman sempit yang ditumbuhi bunga sepatu. Seorang perempuan muda, istrinya, menyambut mereka di pintu dengan wajah pucat penuh kecemasan. Begitu melihat suaminya, ia menutup mulutnya dengan tangan dan terisak.

"Dia aman," kata Anggada lirih, memeluknya sebentar. "Aku akan jelaskan nanti. Di mana Bayu?"

"Di halaman belakang."

Raka mengikuti mereka melewati rumah. Di halaman belakang, di bawah pohon belimbing, seorang anak lelaki kecil berusia enam tahun sedang berjongkok mengejar seekor ayam dengan semangat luar biasa. Wajahnya merah karena berlari, rambutnya acak-acakan, dan ia tertawa tanpa henti.

Raka berhenti.

Tak ada yang tampak sakit pada anak itu. Matanya jernih. Geraknya lincah. Kulitnya tak panas ketika ia akhirnya menariknya mendekat dan menyentuh dahinya dengan punggung tangan. Raka memeriksa dengan hati-hati, bertanya pada istri Anggada tentang makan dan tidurnya, kapan terakhir kali demam, apakah ada batuk atau mual.

"Tiga hari terakhir tak ada demam sama sekali," kata perempuan itu. "Dia makan seperti biasa."

Raka mengangguk pelan. Ia bukan dokter. Ia tak punya alat apa pun. Tapi ia tahu cukup untuk mengerti bahwa anak yang sehat tak butuh apa-apa selain makanan baik dan air bersih.

"Pak Anggada," katanya, berdiri dan menghadapi lelaki itu. "Saya tidak bisa menjamin sepenuhnya. Tapi anak ini tampak sembuh. Obat yang Hendar berikan sudah bekerja."

"Tapi dia bilang kalau obatnya dihentikan..."

"Dia berbohong." Raka berkata pelan tapi tegas. "Atau paling tidak, melebih-lebihkan. Sakit seperti itu tidak akan kembali hanya karena obat selesai diminum. Dia memakai ketakutan Anda untuk mengikat Anda."

Anggada menatapnya lama. Perlahan, ekspresi di wajahnya berubah, bukan lega, melainkan sesuatu yang lebih rumit: amarah yang sangat dalam bercampur rasa malu.

"Dia mempermainkanku," bisiknya.

"Ya."

"Aku mengkhianati sahabatku untuk kebohongan."

"Ya." Raka tak mau menghibur dengan dusta. "Tapi Anda juga yang berbalik di saat terakhir. Itu yang paling penting."

Istri Anggada, yang mendengarkan dari jauh, mendekap bahu suaminya dalam diam. Bayu, entah mengapa, berlari menghampiri Raka dan menyodorkan sebuah batu kecil mengilap dengan wajah bangga, seolah menunjukkan harta karun. Raka berlutut dan menerimanya dengan serius, membuat anak itu terkikik.

Sore itu, di balai kepatihan, Gajah Mada mendengarkan laporan Wirabhaya tanpa memotong sedikit pun. Wajahnya tak berubah, tapi urat di rahangnya terus berdenyut.

"Dia kabur sebelum kuperintahkan penjagaan," katanya akhirnya. "Meninggalkan taman tepat setelah Baginda menyuruhnya pergi. Aku mengira dia kembali ke penginapan."

"Dia sudah menyiapkan semuanya, Mahapatih," kata Mpu Kalandara, yang duduk di sisi ruangan dengan wajah letih. Di pangkuannya tergeletak dua belahan bata merah yang retak. "Dan sekarang dia membawa cincin itu."

"Jadi dia bisa membuka gerbang sendiri?"

"Tidak sendiri." Mpu Kalandara mengangkat belahan bata dan menunjukkan retakannya. "Aku sudah mempelajarinya sejak tadi. Gerbang itu terbuka ketika tiga hal bertemu: bata ini, cincin itu, dan seseorang yang gerbang itu pilih. Dalam kasus kita, Raka dan Sekar. Tanpa bata, cincin hanya sebongkah emas."

"Dan bata itu sudah rusak," kata Raka.

"Retak, bukan hancur. Aku masih bisa mencoba memperbaikinya." Mpu Kalandara menghela napas. "Tapi yang lebih penting: gerbang itu mengikuti siklus. Tiga puluh lima hari sekali, pada malam Jumat Kliwon. Malam tadi adalah titik puncaknya. Gerbang berikutnya akan terbuka tepat tiga puluh lima hari dari sekarang."

"Berarti kita punya waktu tiga puluh lima hari," kata Wirabhaya.

"Untuk apa?"

"Untuk menemukan Hendar sebelum dia menemukan cara membukanya." Mpu menatap mereka satu per satu. "Atau untuk menutup gerbang itu selamanya."

Hening. Di luar jendela, matahari mulai tenggelam, dan bayang-bayang panjang jatuh di lantai batu.

Gajah Mada berdiri, berjalan mondar-mandir sejenak dengan tangan di belakang punggung. Lalu ia berhenti di depan Sekar, yang sejak tadi duduk diam di sudut ruangan, wajahnya letih tapi tegak.

"Nyai Sekar," katanya.

Sekar menegakkan punggung. "Ya, Mahapatih."

"Aku mengenal ayahmu."

Sekar menahan napas. "Kata Mahapatih sendiri kepada Mpu Kalandara."

"Ya." Gajah Mada menatapnya dalam-dalam, dan untuk pertama kalinya, Raka melihat kelembutan yang sangat samar di wajah batu itu. "Rakai Wiratanu menyelamatkan nyawaku pada malam Sri Jayanegara wafat. Aku berutang padanya. Utang yang tak pernah sempat kulunasi."

"Aku tidak pernah mengenalnya sebagai Wiratanu."

"Tentu tidak. Itu yang diinginkannya." Gajah Mada mengangguk perlahan. "Aku tidak akan membahayakanmu, Nyai. Itu janjiku. Tapi ada sesuatu yang perlu kau ketahui."

"Apa itu?"

"Ada seseorang di istana ini yang sudah dua puluh dua tahun mencari bayi itu." Gajah Mada merendahkan suaranya. "Dan dia bukan orang yang tidak menginginkanmu."

1
mimief
mang sial
pinter bet dia🫣
mimief
ya..mau sebesar apapun jabatan mu
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
mimief
oooooooo....MG
wahhhhhh
mimief
sang ratu bukan?
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
mimief: mungkin beliau yg nyari ya, bagaimana pun ttp darah dari saudara sendiri 🥹
total 2 replies
mimief
tapi kayaknya,kalau bukan sama yg punya
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
Kam1la
Sekar akhirnya bakal menemukan keluarga kandungnya
Kam1la
Hendar punya ambisi yg membahayakan seseorang
Ranti Calvin
👍
mimief
wah....pulang Raka
apakah ada yg kebawa juga🥹
Kam1la
apakah akan terbuka seperti duaan, malam jumat Kliwon..
Kam1la
Sekar diculik. kebakaran modus nya untuk pengalihan saja...
Kam1la
Pernikahan itu akhirnya bakal tetap terjadi...
Kam1la
Raka berhadapan langsung dengan hayam Wuruk....
mimief
apakah Raka akan membawa sekar ke masa depan?
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
mimief
apakah sebenarnya Hayam Wuruk tau keberadaan Sekar
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
mimief
tapi emang pada saat itu
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
mimief
wah ..berat Baginda
kalau aku melarang mu,akankah kau mendengar ku?
mimief
sama...aku juga🫣🤣🤣🤣
mimief
wah...
memang aura pemimpin ga bisa boong ya
pantes dia legenda tak terbantahkan 🥹
mimief
iy bener..
walaupun sejarah tidak menulis kan kita
bukan berarti kita tidak ada,hanya tidak terlalu penting saja untuk dikenang🥹.
tapi...baru beberapa saat ini
ada sebuah jendral besar di China yg tertulis di sejarah sebagai penghianat bangsa .
yg meninggal nya pun tragis karena tubuhnya hancur karena hukuman di tarik kuda.
tapi... ternyata faktanya jendral itu terlalu kuat pengaruh nya karena selalu menang di Medan perang
sampe raja nya pun khawatir akan kekuasaan nya,mknya difitnah sedemikian rupa. hingga sejarah pun menuliskan nya seperti itu🥹🥹.
yg artinya, terkadang sejarah pun belum tentu menuliskan kebenaran.
mereka hanya menulis apa yg orang ingin tulis.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!