Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Hujan deras mengguyur ibu kota sejak dini hari, menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke dalam kamar.
Di atas tempat tidur, Maya terbaring lelah dengan selimut tebal menutupi dadanya.
Wajahnya pucat pasi, sementara dahinya terasa membakar akibat demam tinggi yang tak kunjung turun sejak semalam.
Di ambang pintu kamar, Bagas berdiri rapi. Ia mengenakan kemeja linen bersih dan kacamata hitam yang terselip di saku dadanya. Di tangannya, sebuah koper pakaian ukuran sedang sudah siap untuk ditarik.
"Mas... kamu beneran mau pergi sekarang?" suara Maya terdengar parau dan lirih.
Ia berusaha menegakkan posisinya, namun tubuhnya terlalu lemas untuk sekadar bersandar di kepala ranjang.
Bagas melirik jam tangan peraknya dengan raut wajah datar. Tidak ada sorot rasa cemas, apalagi niat untuk melangkah mendekati ranjang istrinya.
"Kan aku sudah bilang dari kemarin, May," jawab Bagas dingin, nadanya seperti pembicaraan bisnis yang tidak bisa diganggu gugat.
"Agenda dinas ke Bali ini sudah dijadwalkan dari bulan lalu. Dokumen dan tiketnya sudah siap semua."
"Tapi aku sakit, Mas..." air mata Maya menetes pelan, membasahi bantal yang ia tiduri. "Kepalaku pusing banget, dari semalam aku muntah-muntah. Cuma buat ambil minum ke dapur aja aku gak kuat.
Boleh gak kamu tunda keberangkatannya sebentar? Atau setidaknya izinkan aku ikut kalau kamu gak bisa batalkan?"
Bagas menghembuskan napas panjang, menunjukkan rasa risih yang tak ditutup-tutupi.
"Jangan manja dan egois, Maya," potong Bagas tegas. "Ini tugas dinas penting, bukan acara jalan-jalan.
Lagipula, kalau kamu ikut dalam kondisi sakit begini, cuma bakal ngerepotin aku dan Rania di sana."
Mendengar nama itu disebut, dada Maya makin terasa sesak. "Rania... jadi Rania juga ikut pergi sama kamu?"
"Tentu saja Rania ikut. Dia kan staf ahli yang pegang berkas laporan audit," balas Bagas santai tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Dia profesional.
Gak kayak kamu yang selalu drama tiap kali aku ada tugas luar kota."
"Drama?" Maya tertawa sumbang di tengah isak tangisnya.
"Mas, aku ini istri sah kamu! Aku lagi demam tinggi di rumah sendirian, dan kamu lebih milih pergi berhari-hari sama perempuan lain berkedok dinas?!"
"Jaga bicaramu, Maya!" suara Bagas meninggi, matanya menatap tajam ke arah Maya. "Rania itu rekan kerja aku.
Jangan bawa-bawa kecemburuan buta kamu ke urusan pekerjaanku! Aku kerja keras begini juga buat mencukupi kebutuhan rumah tangga ini!"
"Mencukupi kebutuhan siapa, Mas?!" seru Maya dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Yang aku butuhkan itu perhatian kamu! Kehadiran kamu! Mana janji kamu waktu nikahin aku dulu?"
Suara klakson mobil dari luar pagar rumah terdengar dua kali, memecah perdebatan panas di kamar itu.
Bagas melirik ke arah jendela, lalu kembali menatap Maya tanpa penyesalan.
"Rania dan supir kantor sudah sampai di depan," kata Bagas dingin seraya meraih gagang kopernya.
"Aku sudah taruh obat penurun panas dan uang di meja makan. Kalau kamu memang gak kuat berdiri, telepon saja Bibi atau panggil dokter klinik depan."
"Mas Bagas, tolong... jangan tinggalkan aku..." panggil Maya memohon, tangannya menggapai ke udara secara sia-sia.
Bagas tidak memutar badannya lagi. Ia membalikkan tubuh, melangkah keluar kamar dengan ketukan sepatu yang konstan dan tegap.
Di depan pintu rumah, Rania sudah menunggu di dalam mobil serba hitam ber-AC dingin. Ia membuka sedikit kaca jendela saat melihat Bagas keluar sambil membawa koper.
"Gimana, Mas? Maya izin kan?" tanya Rania halus saat Bagas masuk dan duduk di kursi belakang di sampingnya.
Bagas menyandarkan punggungnya ke jok kulit, merapikan kerah kemejanya tanpa menoleh ke arah rumah yang baru saja ia tinggalkan.
"Gak usah dipikirkan. Dia cuma agak lelah," jawab Bagas singkat, lalu menatap lurus ke depan.
"Jalan sekarang, Pak. Jangan sampai kita terlambat masuk boarding gate."
Mobil melaju perlahan meninggalkan pekarangan rumah, menghilang di balik derasnya sisa hujan pagi itu.
Sementara di dalam kamar yang dingin dan sepi, Maya menangis sesenggukan meratapi nasibnya—menyadari bahwa di hati suaminya, keberadaannya kini telah sepenuhnya tergantikan oleh sosok lain.