Sebuah kisah tentang seorang pria dari masa lalu yang bangkit di masa ini.
Di masa ini, ia bertemu dengan perempuan yang mirip dengan seseorang yang ia cintai di masa lalunya. Seseorang yang tidak berani ia gapai karena kondisi fisiknya yang seperti monster saat itu.
Akankah ia berhasil menyingkirkan kenangan buruk masa lalunya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dukungan Berbalik
Suasana di dalam kedai itu kini benar-benar hening. Orang-orang yang sebelumnya begitu bersemangat mendukung Tan Xuong bahkan tidak berani mengeluarkan suara.
Mereka benar-benar tidak menyangka pria yang baru saja menghajar Tuan Muda Keluarga Tan ternyata memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi daripada yang mereka bayangkan.
Bukan sekadar seorang pendekar kuat. Pria yang baru saja mereka soraki itu adalah salah satu pahlawan Kekaisaran Zhou. Sosok yang namanya telah dikenal seluruh Kota Weiyang setelah peristiwa di Istana Kekaisaran sebulan lalu.
Beberapa orang mulai merasa malu. Terutama mereka yang tadi berteriak agar Komandan Yuso menangkap Sha Nuo.
Seorang pria yang sebelumnya paling lantang berteriak bahkan mulai gemetar. Ia menatap Sha Nuo dari kejauhan. Kemudian tanpa sadar, tubuhnya bergerak mundur.
“Aku...”
Pria itu menelan ludah.
“Aku tadi tidak tahu.”
Tidak ada yang menjawab. Wajahnya semakin pucat.
Tiba-tiba ia berteriak kepada semua orang.
“Sebenarnya Tan Xuong yang salah!”
Semua orang langsung menoleh kepadanya. Pria itu menunjuk ke arah Tan Xuong yang masih terbaring.
“Benar! Aku melihatnya dengan jelas!”
Suaranya semakin lantang.
“Tan Xuong yang pertama kali menyenggol tubuh Pendekar Sha Nuo!”
Beberapa orang terdiam. Pria itu semakin bersemangat setelah menyadari tidak ada yang membantah.
“Pendekar Sha Nuo bahkan tidak melakukan apa-apa pada awalnya!”
“Tan Xuong sendiri yang terus memaki dan mencari masalah!”
Seorang pelanggan lain langsung mengangguk.
“Benar!”
“Aku juga melihatnya.”
“Tan Xuong memang yang mulai lebih dulu.”
Orang lain ikut berbicara.
“Kalau dipikir-pikir, Pendekar Sha Nuo sudah cukup menahan diri.”
“Benar.”
“Kalau aku berada di posisi Pendekar Sha Nuo, mungkin aku juga akan marah.”
Dalam waktu singkat, suasana di kedai berubah. Orang-orang yang sebelumnya mendukung Tan Xuong mulai membela Sha Nuo. Mereka jelas sedang mencari aman.
“Senior Sha Nuo tidak salah!”
“Tan Xuong memang terlalu sombong!”
“Berani sekali dia mencari masalah dengan Pendekar Sha Nuo.”
Bahkan seseorang yang tadi berteriak agar Xai Yuso menangkap Sha Nuo kini buru-buru berkata,
“Aku sebenarnya tadi hanya salah paham!”
“Aku juga!”
“Aku tidak tahu kalau itu Pendekar Sha Nuo!”
Sha Nuo yang mendengar semua itu hanya menghela napas.
“...”
Ia tidak menyangka keadaan bisa berubah secepat ini.
Beberapa saat lalu, semua orang memandangnya seperti seorang penjahat. Sekarang mereka hampir seperti sedang membentuk barisan untuk membelanya.
Namun Sha Nuo tidak terlalu peduli. Sebenarnya, orang-orang itu bukan benar-benar membelanya karena mereka tiba-tiba menyukainya. Mereka hanya takut jika dirinya benar-benar marah kepada mereka. Dengan kekuatan yang baru saja mereka lihat, tidak ada seorang pun yang ingin menjadi orang berikutnya yang dibanting ke lantai.
Sha Nuo mengusap dagunya. Ia berbicara dalam hatinya.
“Jadi ini rasanya terkenal...”
Ia melirik orang-orang di sekitarnya.
“Pantas saja Tuan Muda Chang sangat menikmatinya.”
Sudut bibir Sha Nuo sedikit terangkat.
Ia akhirnya memahami mengapa Boqin Changing kadang terlihat begitu santai ketika berjalan di tengah kerumunan. Ternyata dikenal banyak orang memang memiliki sisi yang cukup menyenangkan namun juga merepotkan.
Sha Nuo kemudian menatap sekeliling kedai. Begitu tatapannya bergerak kepada mereka, beberapa orang langsung menegakkan tubuh. Bahkan beberapa pelanggan tanpa sadar mundur satu langkah.
Sha Nuo melihat reaksi tersebut.
“...”
Ia sedikit bingung.
“Aku tidak akan memakan kalian. Hahaha!”
Namun tidak ada yang berani tertawa.
Sha Nuo akhirnya berdiri. Begitu tubuh besarnya bangkit dari kursi, beberapa orang langsung mundur lagi.
Suasana kembali menegang. Mereka mengira Sha Nuo hendak melakukan sesuatu.
Sha Nuo menatap meja makannya. Tangannya masuk ke dalam pakaian. Kemudian ia mengeluarkan beberapa keping koin emas.
“Cling! Cling!”
Beberapa keping koin emas jatuh di atas meja. Suara tersebut membuat semua orang terdiam.
Sha Nuo menatap seorang pelayan yang sejak tadi berdiri tidak jauh darinya.
“Ini sebagai ganti kerusakan.”
Pelayan itu langsung menggelengkan kepala dengan panik.
“Ti-tidak perlu, Senior!”
Ia bahkan melambaikan kedua tangannya.
“Tidak perlu membayar. Lantai itu bisa diperbaiki.”
Sha Nuo menggeleng.
“Ambil saja.”
“Tapi, Senior...”
“Aku yang merusaknya.”
Sha Nuo menunjuk lantai yang retak.
“Jadi aku yang membayar.”
Pelayan itu tidak berani menolak lagi. Ia hanya mengangguk cepat.
“Baik... terima kasih, Senior.”
Sha Nuo kemudian berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, ia berhenti. Tatapannya beralih kepada Tan Xuong yang masih terkapar di lantai. Kedua teman Tan Xuong langsung menegang.
Sha Nuo menatap mereka.
“Tenang saja.”
Kedua pemuda itu menelan ludah.
“Dia tidak mati.”
Mereka terlihat sedikit lega.
Sha Nuo melanjutkan,
“Aku sudah mengurangi tenagaku saat membantingnya.”
Kedua pemuda itu mengangguk cepat.
“Terima kasih, Senior.”
Sha Nuo tidak mengatakan apa-apa lagi.
Ia kemudian melangkah keluar dari kedai. Pintu kedai perlahan tertutup di belakangnya.
Beberapa detik berlalu. Tidak ada seorang pun yang bergerak. Semua orang masih menatap pintu tersebut.
Baru setelah suara langkah Sha Nuo benar-benar menghilang dari kejauhan, seseorang menghela napas panjang.
“Haaah...”
Orang lain ikut menarik napas.
“Ah...”
Seolah baru saja terbebas dari tekanan besar, seluruh kedai perlahan kembali bernapas. Beberapa orang bahkan saling menatap dengan wajah lega.
“Dia sudah pergi...”
“Syukurlah.”
“Entah kenapa sejak tadi aku merasa tidak berani bernapas.”
Seorang pelayan mengusap keringat di dahinya.
“Padahal Pendekar Sha Nuo tidak melakukan apa-apa kepada kita.”
Seorang pelanggan tertawa kering.
“Justru itu yang membuatku takut.”
Ia menatap pintu.
“Kalau orang sekuat dia benar-benar marah, aku tidak ingin menjadi lawannya.”
Di lantai, Tan Xuong masih belum sadar. Kedua temannya segera menghampiri dan memeriksa keadaannya.
Sementara itu, para pelanggan mulai kembali berbicara. Namun kali ini tidak ada seorang pun yang berani mengatakan sesuatu yang buruk tentang Sha Nuo.
Hari itu, seluruh orang di kedai tersebut akhirnya mendapatkan satu pelajaran. Jangan pernah mencari masalah dengan seseorang sebelum mengetahui siapa orang tersebut. Terutama jika orang itu bernama Sha Nuo.
******
Di tempat lain, suasana sebuah kedai makan tampak jauh lebih tenang. Tidak ada keributan dan tidak ada orang-orang yang saling berteriak. Para pelanggan sibuk menikmati makanan masing-masing, sementara suara percakapan ringan terdengar memenuhi ruangan.
Di salah satu meja dekat jendela, Lan Suya sedang duduk berhadapan dengan seorang pria. Keduanya tampak cukup akrab.
Pria itu memiliki wajah tampan dengan senyum yang mudah muncul di wajahnya. Usianya nampak tidak jauh berbeda dari Lan Suya. Pakaian yang dikenakannya juga terlihat rapi, menunjukkan bahwa ia berasal dari keluarga yang cukup berada.
Saat mendengar sesuatu dari Lan Suya, pria itu tiba-tiba tertawa.
“Hahaha! Ya jiejie, kau masih saja seperti dulu.”
Lan Suya ikut tertawa kecil.
“Kau juga tidak berubah, Guan'er.”
Pria itu menggeleng sambil tersenyum.
“Tidak berubah?”
Ia menunjuk dirinya sendiri.
“Aku sudah jauh lebih dewasa sekarang.”
Lan Suya memandangnya dari atas sampai bawah. Kemudian ia berkata dengan santai,
“Menurutku tidak.”
“...”
Senyum pria itu langsung menghilang.
“Ya jiejie, kau benar-benar tidak berubah.”
Lan Suya tertawa melihat ekspresinya.
Pria itu akhirnya ikut tertawa. Hubungan mereka terlihat begitu dekat, seperti dua saudara yang sudah lama tidak bertemu. Pria tersebut adalah Lan Guan. Ia merupakan adik kandung Lan Suya.
Lan Guan baru tiba di Kota Weiyang kemarin. Saat ini ia ada urusan di ibukota dan sekalian juga menemui kakaknya. Hari ini merupakan salah satu kesempatan pertama mereka untuk benar-benar duduk bersama dan berbicara dengan santai.
Lan Guan mengambil cangkir teh di hadapannya.
“Ya jiejie, aku masih tidak menyangka kau bisa mengembangkan Harta Langit sebesar ini.”
Lan Suya tersenyum.
“Bukankah dulu kau juga sering mengejekku?”
Lan Guan segera menjawab.
“Itu dulu.”
“Sekarang aku sudah tahu kalau kakakku ternyata sangat hebat.”
Lan Suya menggeleng.
“Jangan terlalu memujiku. Aku masih memiliki banyak hal yang harus dipelajari.”
Lan Guan menatap kakaknya beberapa saat. Kemudian ia tersenyum.
“Ya jiejie masih rendah hati seperti biasa.”
Lan Suya mengambil sepotong makanan.
“Kau sendiri bagaimana? Baru datang kemarin, tapi sudah langsung mengajakku makan.”
Lan Guan tertawa.
“Hahaha.. Aku sudah lama tidak bertemu denganmu....”
“Lagipula ada seseuatu yang ingin kusampaikan padamu...”
“Tentang Ayah...”
jgn buat penasaraan