Farel Kurniawan, yang dijuluki Dewa Kesenangan — eksistensi di puncak Tujuh Dunia Tanpa Batas — dikhianati muridnya sendiri dan dibunuh dengan cara menghancurkan sebuah Dunia Kecil menggunakan Pagoda Giok yang meledak. Saat kematiannya, ia bertemu Nyai Sekar Lestari, entitas yang jauh melampaui Dewa Sejati, yang memberinya "hadiah": kesempatan kedua. Ia terbangun di tubuhnya sendiri yang berusia 16 tahun, sebagai murid sampah di sekte kultivasi ganda paling rendah, dengan ingatan utuh dan sebuah segel misterius di jiwanya.
Tujuan Farel bukan hanya menjadi kuat lagi. Ia harus memahami siapa yang membawanya ke sekte ini, siapa Roro Ayu Kinasih sebenarnya, dan siapa Nyai Sekar Lestari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 — PEDANG YANG PATAH dan Kesempatan Kedua
Farel Kurniawan melintasi kompleks Pengadilan Luar yang lengang. Langkahnya ringan, namun matanya merekam segalanya.
Deretan rumah-rumah kecil dengan halaman mungil yang hanya cukup untuk menjemur jubah dan menanam satu petak rumput obat, berjejer di pinggiran sekte yang paling tidak dianggap. Di sinilah para murid buangan ditempatkan. Karena hakikat dari sekte ini adalah kultivasi ganda, setiap murid — bahkan yang paling rendah — diberi tempat tinggal pribadi yang tertutup rapat. Bukan kemewahan, melainkan kebutuhan. Privasi adalah segalanya ketika kultivasi itu sendiri melibatkan dua orang.
Rumahnya adalah yang paling ujung, yang paling lembab dan paling jauh dari pusat Qi.
Begitu pintu kayu itu ia tutup, keheningan langsung memeluknya. Farel berjalan mendekati cermin perunggu buram yang menempel di dinding.
Dan ia menatap dirinya sendiri.
Wajah yang sama. Rahang tegas yang belum sepenuhnya terbentuk, mata yang tajam, alis tebal. Wajahnya sendiri saat berusia enam belas tahun, sebelum darah dan pertempuran mengukirnya menjadi sosok yang disebut Dewa. Tubuh ini kurus, pundaknya belum bidang, tapi sensasi kulit, detak jantung, aliran darah di nadinya — semuanya terasa miliknya. Bukan tubuh pinjaman. Ini adalah tubuhnya.
"Pikiran pertamaku... ilusi?"
Itu adalah kesimpulan paling logis bagi seorang kultivator selevelnya. Wanita itu, Nyai Sekar Lestari, adalah entitas yang bahkan keberadaannya melampaui akal sehat. Jika ada yang bisa menciptakan ilusi yang sempurna, dialah orangnya.
Ada satu hukum besi tentang ilusi di dunia kultivasi: sekuat apapun ilusi itu, selama sang korban masih bisa meragukan dan mempertanyakan keasliannya — "Apakah ini ilusi?" — maka ilusi itu akan retak dengan sendirinya. Keraguan adalah kuncinya.
Namun Farel segera membuang pikiran itu. Ilusi tidak pernah terasa sekompleks ini. Rasa pahit sisa racun ular di lidahnya, rasa gatal keringat dingin yang mengering di punggungnya, bahkan rasa malu yang samar dari ingatan tubuh ini — terlalu nyata, terlalu berantakan untuk menjadi sebuah ilusi yang dirancang.
Ia lalu mengingat kata-kata terakhir wanita itu sebelum kesadarannya lenyap.
'Sebagai hadiah...'
Hadiah.
Jika ia berimajinasi liar, ini adalah kesempatan kedua. Kembali ke masa muda. Tapi ia tidak pernah menginjakkan kaki di Istana Persatuan Yin Yang seumur hidupnya. Pada masa mudanya dulu, sekte kultivasi ganda adalah sesuatu yang dianggap sesat dan langka, bersembunyi di sudut dunia. Tidak mungkin ia memiliki ingatan tentang tempat ini.
Kemungkinan kedua adalah reinkarnasi.
Reinkarnasi memang ada. Itu adalah fakta yang dikonfirmasi, karena untuk memahami hukum Samsara dan melangkah menuju keabadian, seorang kultivator harus merenungkannya. Namun ada satu hukum alam yang mutlak dan tidak bisa dilawan, bahkan oleh para Dewa sekalipun: saat memasuki roda reinkarnasi, ingatan kehidupan lampau akan terhapus bersih. Tidak ada yang bisa melacak kapan, di mana, dan sebagai siapa seseorang akan terlahir kembali. Pemahaman tentang kematian bukanlah kontrol atas kematian.
Tapi di sinilah ia berdiri. Dengan seluruh ingatan kehidupan masa lalunya sebagai Dewa yang utuh, di dalam tubuhnya sendiri yang berusia enam belas tahun.
Ini bukan ilusi. Ini bukan reinkarnasi biasa. Ini adalah sesuatu yang melanggar hukum alam itu sendiri.
Dan kenyataan itu membuat dadanya sesak oleh emosi yang campur aduk — antara ngeri, takjub, dan... harapan.
'Hadiah ini...' Kilatan tajam yang sudah lama tidak muncul, kilatan milik seorang predator di puncak rantai makanan, muncul jauh di dalam mata remaja itu. '...aku harus bekerja keras untuk menjadi layak mendapatkannya.'
Tentu saja ada bayangan wajah-wajah yang ia tinggalkan. Teman, lawan, dan orang-orang yang ia sayangi. Rasa khawatir itu menusuk seperti duri. Tapi Farel Kurniawan yang lama sudah mati. Mengkhawatirkan sesuatu yang tidak bisa ia jangkau sekarang hanyalah kemewahan yang bodoh. Satu-satunya cara untuk kembali, satu-satunya cara untuk menagih hutang darah kepada Raden Joko Anggoro dan Prabu Suryo Atmaja, adalah dengan memanfaatkan kesempatan keji ini sebaik-baiknya.
"Dulu aku terlahir di keluarga fana tanpa warisan kultivasi," gumamnya, kepalan tangannya mengepal. "Aku membangun fondasiku dengan teknik-teknik sampah kelas rendah yang kupungut di sepanjang jalan. Karena itu, semakin tinggi aku mendaki, semakin berat langkahku. Fondasiku retak."
Senyum perlahan terukir di wajahnya. Senyum yang bukan milik anak enam belas tahun.
"Tapi sekarang... sekarang aku memulai dari nol, dengan semua pengetahuan dari puncak. Aku bisa menempa tubuh ini dengan teknik terbaik yang pernah ada di alam semesta sejak napas pertamaku. Di kehidupan ini, aku tidak hanya akan mencapai ketinggian yang sama... aku akan melampauinya. Dan aku akan melakukannya dengan kecepatan yang belum pernah dilihat dunia ini."
Tanpa membuang waktu lagi, ia naik ke dipan kayunya yang keras, duduk bersila dalam posisi lotus. Matanya terpejam.
Selama tiga jam penuh, ia tidak berkultivasi. Ia hanya... mengingat. Ia menyisir setiap sudut ingatan baru tubuh ini, setiap meridian yang tersumbat, setiap luka kecil di organ dalamnya, memeriksa kondisinya seperti seorang pandai besi memeriksa sebongkah besi karat sebelum ditempa.
Ketika matanya kembali terbuka, kegembiraan yang meluap-luap tadi telah mengkristal menjadi sesuatu yang lebih dingin dan terkendali. Namun ekspresinya kini menjadi aneh, campuran antara tidak percaya dan ironi yang pahit.
"Pedangku... rusak?" katanya lantang, suaranya memecah keheningan gubuk.
Di sekte kultivasi ganda, harta paling berharga bagi seorang murid laki-laki bukanlah pedang spiritual di cincin penyimpanannya, melainkan 'pedang' di antara kedua kakinya. Dan milik tubuh ini... tidak bisa berdiri. Mati total.
Ingatan itu segera mengalir masuk, begitu memalukan hingga bahkan Farel yang sudah hidup ribuan tahun pun merasakan wajahnya sedikit memanas.
Saat pertama kali dibawa masuk oleh Ki Harjo Wicaksono lima bulan lalu, dengan wajahnya yang luar biasa tampan — warisan dari kehidupan lamanya — ia segera menjadi pusat perhatian. Banyak murid perempuan Pengadilan Luar, seperti Mbakyu Sari Ayu dan Mbakyu Rini Wulandari, mendekatinya dengan alasan ingin berlatih kultivasi bersama. Di sekte ini, itu adalah ajakan yang terang-terangan.
Namun masalahnya dengan cepat terungkap. Kabar menyebar lebih cepat dari teknik transmisi suara. Ditambah lagi dengan sifatnya yang hilang ingatan, pendiam, dan tampak bodoh saat itu, pada minggu kedua, ia sudah mendapat julukan baru.
Si Anak Bodoh Yang Tidak Bisa Berdiri.
Harapan apapun untuk berkultivasi ganda lenyap seketika. Sebagai murid Pengadilan Luar dengan basis kultivasi terburuk dan cacat fatal seperti itu, ia dengan cepat ditinggalkan, dilupakan, dan bahkan dijadikan bahan olok-olok. Jika bukan karena beberapa tetua yang kasihan padanya, seperti Ki Harjo dan Nyai Indah Lestari, yang memberinya misi-misi kecil mencari rumput obat agar ia bisa mendapatkan poin kontribusi untuk sekadar makan, ia bahkan tidak akan bisa bertahan hidup, apalagi mendapatkan sumber daya kultivasi.
"Heh..." Farel menyandarkan punggungnya ke dinding, tawa kecut lolos dari bibirnya. Tawa yang penuh luka. "Siapa yang akan menyangka... aku, yang dijuluki Dewa Kesenangan, yang membuat para Kaisar iri karena dikelilingi wanita-wanita tercantik di Tujuh Dunia... berakhir dalam situasi seperti ini. Ironis sekali."
Namun keputusasaan itu hanya singgah sesaat. Ia tidak panik. Justru karena ia adalah Dewa Kesenangan, ia tahu ratusan cara untuk memperbaiki kondisi ini. Tubuh ini hanya tersumbat, bukan hancur.
Ia memejamkan mata lagi. Kali ini, ia berkonsentrasi penuh.
Di dalam lautan ingatannya, ia menarik keluar salah satu teknik paling berharga yang pernah ia dapatkan — sebuah teknik yang bahkan tidak sempat ia latih di kehidupan sebelumnya karena sudah terlambat.
'Seni Penempaan Tubuh Penyempurnaan Kekacauan'.
Teknik legendaris yang ia rampas dari reruntuhan Klan Raksasa Agung, klan prajurit terhebat yang pernah menguasai alam semesta pada zaman purba. Mereka runtuh bukan karena musuh, melainkan karena perselisihan internal yang panjang. Semua kekuatan besar saat itu bersekongkol untuk menghapus mereka, namun gagal total. Klan itu hanya menutup dunia mereka sendiri dan menghilang, membawa serta rahasia inti mereka yang paling dijaga — teknik ini.
Baru berabad-abad kemudian, Farel berhasil menemukannya di sebuah dimensi yang terlupakan. Sayang, kultivasinya saat itu sudah terlalu tinggi untuk memulai dari awal. Ia hanya bisa meratapi.
Teknik ini memiliki prinsip yang gila: ia mampu menyempurnakan energi apapun yang disentuhnya — bahkan racun dan kotoran — menjadi Qi Spiritual murni miliknya sendiri, sekaligus mengeluarkan semua ketidakmurnian tanpa sisa.
Dan di dalam tubuh ini, masih ada sisa-sisa racun Ular Sisik Hitam dan sisa obat penawar pahit yang diberikan Ki Harjo yang belum tercerna.
Sempurna.
Farel mulai bernafas dengan ritme kuno. Perlahan, Qi Spiritual yang tipis di udara sekitar gubuknya, bersama dengan sisa racun dan obat di dalam darahnya, mulai bergetar dan tersedot ke dalam pori-porinya. Rasa sakit yang membakar menjalari meridiannya saat energi asing itu dimurnikan secara paksa.
Sepanjang malam ia berkultivasi. Keringat hitam, lengket, dan berbau busuk mulai merembes keluar dari pori-porinya — itu adalah ketidakmurnian yang telah mengendap selama enam belas tahun di tubuh ini.
Kelemahan, rasa kebas, dan dingin akibat racun itu lenyap dengan cepat, digantikan oleh rasa hangat dan kekuatan yang mengalir deras, menguatkan setiap serat otot dan tulangnya.
Kultivasinya saat ini berada di Alam Transformasi Tubuh, langkah pertama di jalan kultivasi, di mana seorang kultivator menggunakan Qi Spiritual di atmosfer untuk mencuci dan mengubah tubuh fananya agar mampu menampung energi spiritual.
Saat berkultivasi, alis Farel berkerut. Kualitas Qi Spiritual di sini... sangat buruk. Bahkan tanah paling terpencil di Tiga Alam Suci pun tidak akan semiskin ini. Qi di sini keruh, tipis, dan bercampur dengan aura yang aneh, aura nafsu dan keinginan yang menjadi ciri khas sekte ganda.
Namun ia mengabaikannya. Tidak ada gunanya merenungkan lingkungan saat ia bahkan belum memiliki pijakan untuk berdiri. Kekuatan dulu, pemahaman kemudian.
Menjelang tengah malam, ketika bulan sudah tinggi di luar, tubuhnya bergetar hebat.
Retak.
Sebuah penghalang tak terlihat di dalam tubuhnya pecah.
Level Ketiga Alam Transformasi Tubuh!
Terobosan pertamanya sejak tiba di sekte ini. Sebelumnya, tubuh ini sama sekali tidak bisa berkultivasi dengan baik karena meridian yang tersumbat.
Farel membuka matanya. Nafasnya stabil, matanya berkilat seperti bintang. Tubuhnya terasa ringan dan penuh tenaga.
"Hmm, sebagai seorang kultivator ganda, cukup beruntung aku berakhir di sekte ini," pikirnya sambil mengepalkan tangannya, merasakan kekuatan baru itu. "Tapi dengan pedang yang masih rusak, aku tidak akan bisa berkultivasi dengan kecepatan optimal. Fondasi ganda membutuhkan kedua belah pihak. Aku harus memperbaiki ini terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh."
Di luar sudah gelap gulita. Angin malam Gunung Wilis berdesir pelan.
Ia memutuskan untuk bergerak besok pagi. Untuk malam ini, ia perlu membersihkan diri.
Ia berjalan ke kamar mandi kecil di belakang gubuk, mengguyur tubuhnya yang penuh dengan kotoran hitam lengket hasil pemurnian tadi dengan air dingin, lalu merebahkan dirinya di atas dipan. Untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun, ia tertidur sebagai Farel Kurniawan yang baru.
BERSAMBUNG...