Kembali ke Meja yang Sama
Romance • Office Romance • Second Chance
Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Alya pikir dia sudah move on — sampai hari pertama kerja di kantor baru, dia sadar atasannya sendiri adalah mantan yang paling ingin dia lupakan.
Raka. Dingin. Profesional. Seolah tak pernah mengenalnya.
Tapi di balik topeng atasan yang terkontrol itu, ada rahasia yang selama ini disembunyikan — alasan sebenarnya kenapa dia pergi dulu, tanpa kata, tanpa jejak.
Setiap rapat jadi medan perang batin. Setiap proyek yang mempertemukan mereka berdua jadi ujian rasa yang belum sepenuhnya mati. Alya harus memilih: bertahan profesional, atau membiarkan luka lama terbuka lagi demi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya — atau menyatukan mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gugatan
Alya berdiri terpaku di tengah keramaian kantor yang perlahan mulai bubar, amplop cokelat itu masih tergenggam di tangannya yang gemetar. Ibu Sinta sudah berlalu pergi setelah menyerahkan dokumen itu, meninggalkan Alya sendirian dengan kekhawatiran yang tiba-tiba menghantam di tengah momen yang seharusnya penuh kebahagiaan.
"Alya?" suara Raka mendekat, wajahnya berubah cemas begitu melihat ekspresi Alya yang pucat. "Ada apa? Siapa yang tadi ngomong sama kamu?"
Alya menyerahkan amplop itu ke tangan Raka tanpa berkata apa-apa, tangannya masih terasa dingin. Raka membuka amplop itu dengan cepat, matanya menyusuri isi dokumen dengan raut wajah yang semakin tegang.
"Gugatan pencemaran nama baik," gumam Raka, membaca ulang bagian penting dari dokumen itu. "Keluarga Dimas menuduh kamu dan perusahaan telah merusak reputasinya tanpa dasar yang kuat."
"Tapi aku nggak pernah nyebarin apa pun ke publik," kata Alya, suaranya bergetar antara marah dan takut. "Semuanya udah lewat jalur internal, sesuai prosedur perusahaan."
"Aku tau," jawab Raka, mencoba menenangkan Alya meski ia sendiri jelas terlihat khawatir. "Ini kemungkinan besar cuma taktik keluarganya buat menekan perusahaan, berharap ada penyelesaian di luar pengadilan biar Dimas dapat kompensasi atau reputasinya bisa dipulihkan sebagian."
Malam itu, Alya tidak bisa tidur, pikirannya dipenuhi bayangan skenario terburuk—reputasinya yang baru saja mulai bersinar dengan promosi besar, kini terancam hancur oleh gugatan hukum yang bahkan belum tentu memiliki dasar kuat.
---
Keesokan paginya, perusahaan segera mengadakan rapat darurat yang melibatkan tim legal internal, Alya, Raka, dan beberapa anggota dewan direksi. Seorang pengacara perusahaan bernama Pak Bayu memimpin diskusi dengan tenang, mencoba menenangkan kepanikan yang mulai menyebar.
"Berdasarkan dokumen gugatan yang kita terima," kata Pak Bayu, membuka laptopnya, "keluarga Aditya mengklaim bahwa pemberhentian Dimas dilakukan tanpa proses yang adil, dan bahwa informasi soal masa lalunya di perusahaan sebelumnya disebarkan secara tidak sah, merusak reputasinya di industri."
"Tapi semua proses pemberhentian Dimas sesuai dengan kebijakan perusahaan," bantah salah satu anggota dewan direksi. "Dia sendiri yang mengakui kesalahannya, termasuk membocorkan dokumen rahasia."
"Benar," jawab Pak Bayu, "dan kita punya bukti kuat untuk itu—rekaman pertemuan, pengakuan tertulis dari Dimas sendiri, serta log akses sistem yang menunjukkan dia yang membocorkan dokumen itu. Tapi gugatan ini sepertinya lebih fokus pada tuduhan pencemaran nama baik terhadap Alya secara personal, bukan terhadap keputusan pemberhentian perusahaan."
Semua mata beralih ke Alya, yang duduk dengan tangan terkepal di pangkuannya, mencoba menjaga ketenangan di tengah tekanan yang semakin berat.
"Apa maksudnya?" tanya Alya, suaranya sedikit bergetar.
"Kemungkinan," jelas Pak Bayu, "mereka mencoba mengklaim bahwa Anda secara pribadi menyebarkan informasi soal masa lalu Dimas ke rekan-rekan kerja, meski kita tau kebocoran itu justru berasal dari Dimas sendiri. Mereka mungkin berharap dengan gugatan ini, mereka bisa memaksa penyelesaian finansial atau setidaknya membuat kekacauan yang cukup besar untuk menekan reputasi Anda."
Alya merasakan amarah yang mulai bercampur dengan ketakutan. "Jadi mereka sengaja memutarbalikkan fakta untuk menyerang saya?"
"Sepertinya begitu," jawab Pak Bayu. "Tapi jangan khawatir, kita punya bukti kuat untuk melawan gugatan ini. Yang terpenting sekarang, Anda tidak boleh memberikan pernyataan apa pun ke pihak luar atau media sosial soal kasus ini sampai proses hukum selesai."
---
Berita soal gugatan itu, meski belum resmi diumumkan ke publik, mulai bocor di kalangan internal kantor, memicu gelombang gosip baru yang membuat minggu-minggu berikutnya terasa jauh lebih berat bagi Alya. Beberapa rekan kerja mulai menjaga jarak, tidak yakin harus bersikap seperti apa di tengah situasi yang belum jelas ujungnya, sementara yang lain justru menunjukkan dukungan penuh, termasuk Nadia yang selalu berada di sisinya setiap saat dibutuhkan.
"Aku tau ini berat," kata Nadia suatu siang, duduk di samping Alya yang tampak lelah menatap layar laptopnya tanpa benar-benar bekerja. "Tapi kamu harus inget, kamu nggak salah apa-apa di sini. Semua orang yang kenal kamu tau itu."
"Masalahnya bukan cuma soal kenyataan," jawab Alya lelah. "Tapi soal persepsi publik. Kalau ini sampai ke media, reputasi aku bisa hancur, terlepas dari benar atau salahnya tuduhan itu."
Sore harinya, Raka mengajak Alya untuk berjalan-jalan sebentar keluar kantor, mencoba memberinya jeda dari tekanan yang terus menumpuk. Mereka duduk di taman yang sama tempat mereka pernah berbicara jujur soal perasaan mereka beberapa bulan lalu, kini dengan beban yang berbeda menggantung di antara mereka.
"Aku tau ini terasa berat banget," kata Raka, menggenggam tangan Alya erat. "Tapi aku percaya kita bakal lewatin ini bareng-bareng, kayak yang udah-udah."
"Aku takut, Raka," aku Alya, air matanya mulai menggenang. "Aku takut semua yang udah aku bangun—karier aku, reputasi aku—bisa hancur cuma karena tuduhan yang nggak sepenuhnya benar."
"Aku nggak akan biarin itu terjadi," jawab Raka tegas. "Kita punya bukti, kita punya tim legal yang kuat, dan yang paling penting, kita punya satu sama lain. Apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada di sisi kamu."
---
Beberapa minggu kemudian, setelah proses mediasi yang panjang dan melelahkan antara tim legal perusahaan dan pihak keluarga Aditya, kabar baik akhirnya datang. Pak Bayu mengumumkan hasilnya dalam sebuah pertemuan singkat dengan Alya dan Raka.
"Gugatan itu resmi dicabut," kata Pak Bayu, tersenyum lega. "Setelah kami menunjukkan bukti-bukti kuat—termasuk pengakuan tertulis Dimas sendiri dan log akses sistem—pihak keluarga Aditya menyadari bahwa mereka tidak punya dasar hukum yang cukup untuk melanjutkan gugatan ini. Mereka memutuskan untuk mencabutnya sebelum masuk ke tahap pengadilan resmi."
Alya merasakan beban besar yang selama ini menghimpitnya perlahan terangkat, air mata kelegaan mulai mengalir di pipinya. "Jadi ini udah selesai?"
"Sepenuhnya," jawab Pak Bayu, mengangguk. "Anda bisa kembali fokus pada pekerjaan Anda tanpa perlu khawatir lagi soal gugatan ini."
Raka memeluk Alya erat begitu mereka keluar dari ruangan itu, kelegaan yang sama juga terlihat jelas di wajahnya. "Kita berhasil lewatin ini," katanya pelan, mengusap punggung Alya yang masih sedikit gemetar.
"Berkat kamu, dan semua orang yang percaya sama aku," jawab Alya, tersenyum di tengah air mata yang masih mengalir.
Namun, di tengah kelegaan besar itu, sebuah pesan masuk ke ponsel Alya dari nomor yang tidak ia kenal, mengejutkannya kembali ke kewaspadaan setelah minggu-minggu penuh tekanan yang baru saja berlalu:
*"Selamat, Alya. Kamu menang kali ini. Tapi jangan senang dulu—ini baru permulaan."*