NovelToon NovelToon
Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:82.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."


Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.

Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.

Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Permohonan Maaf Yang Terlambat-2

Satu tahun lalu, Ginanjar sengaja datang menyamar dengan pakaian batik biasa tanpa mengendarai mobil mewahnya untuk menjenguk Annisa. Kala itu, Bu Rini bahkan tidak menyuruh Ginanjar duduk di ruang tamu. Bu Rini membiarkan Ginanjar berdiri di teras, menyindirnya sebagai "saudara kampung Annisa yang mau numpang makan", dan menyuruh Annisa segera mengusirnya karena malu dilihat tetangga.

"Saat itu, Ibu Rini menyuruh saya pulang dan bilang bahwa keluarga Rian tidak butuh saudara miskin dari pihak Nisa," lanjut Ginanjar dengan senyum getir yang sangat dingin. "Dan selama tiga tahun ini ... apakah Ibu dan Sisil pernah menganggap keponakan tersayang saya, Annisa, sebagai manusia?"

"K-kami khilaf, Pak Ginanjar! Kami gak tahu kalau Nisa itu anaknya Pak Yusuf!" adu Bu Rini seraya menangis sesenggukan di balik pagar.

"Khilaf?" Ginanjar terkekeh pudar. "Jadi, kalau Annisa benar-benar hanya anak orang biasa dari kampung, artinya Ibu dan Sisil berhak membentaknya setiap hari? Berhak memotong uang belanjanya? Berhak memperlakukannya seperti pembantu dan membiarkan Rian berselingkuh dengan wanita lain?!"

Kata-kata Ginanjar menghantam pertahanan Bu Rini dan Sisil tanpa ampun. Sisil menundukkan kepala dalam-dalam, merasa wajahnya terbakar oleh rasa malu yang luar biasa.

"Nisa adalah putri tunggal keluarga Al Ghazali," ucap Ginanjar tegas, menegakkan posisi tubuhnya. "Dia rela melepas kemewahan demi membela cintanya pada Rian. Tapi kalian meremukkan hatinya, menghina harga dirinya, dan memanjakan kejahatan Rian. Sekarang, saat hukum menagih janji, kalian datang mengemis maaf?"

"Pak Ginanjar ... tolonglah, Pak," ratap Bu Rini mencoba meraih tangan Ginanjar lewat celah pagar.

"Maaf, Bu Rini," potong Ginanjar dingin, melangkah mundur satu tapak. "Keputusan Nisa dan Kak Yusuf sudah mutlak. Saya sendiri yang meminta agar proses hukum ini dikawal sampai tuntas, agar Rian dan kalian paham ... bahwa harga diri seorang wanita Al Ghazali tidak bisa dibeli atau diinjak-injak dengan kata maaf yang terlambat."

"Pak Ginanjar!" jerit Bu Rini saat Ginanjar membalikkan badan tanpa ragu.

"Pak Satpam, tutup dan kunci pintu gerbangnya. Jangan biarkan orang asing membuat kegaduhan di depan rumah," perintah Ginanjar pada petugas keamanannya sebelum melangkah masuk kembali ke dalam rumah.

Brak!

Pintu gerbang besi ditutup dan dikunci dari dalam. Bu Rini terduduk lemas di atas trotoar jalanan Kebayoran Baru, menangis meraung-raung meratapi nasibnya yang kini benar-benar dibuang oleh keluarga penguasa tersebut.

***

Tak mau menyerah begitu saja, dengan sisa-sisa nekat dan rasa putus asa yang membakar kepala, Bu Rini dan Sisil memutuskan berjalan kaki dan menyambung angkot menuju gedung pusat Vantara Tower di kawasan Sudirman. Dalam pikiran Bu Rini, jika ia bisa meloloskan diri ke ruang kerja Annisa dan berlutut di depan para wartawan, Annisa pasti akan terdesak dan mau memaafkan Rian demi menjaga nama baik perusahaan.

Satu jam kemudian, keduanya tiba di depan lobi megah Vantara Tower.

Namun, mimpi picik Bu Rini hancur seketika saat baru menginjakkan kaki di pelataran lobi. Empat orang petugas keamanan bertubuh tegap dengan seragam hitam rapi langsung menghadang langkah mereka.

"Mohon maaf, Ibu dan Mbak tidak diizinkan masuk," tegur salah satu petugas keamanan dengan suara tegas dan bariton.

"Saya ini ibu mertuanya Komisaris Utama kalian! Ini Sisil, adik iparnya Nisa!" bentak Bu Rini mencoba memasang wajah angkuh, meski pakaiannya lusuh dan berbau keringat. "Saya mau ketemu Nisa! Singkirkan tangan kalian!"

"Ibu Rini," sebuah suara berat, tenang, dan sangat berwibawa mendadak bergema dari arah pintu lift khusus direksi.

Seluruh petugas keamanan langsung membungkuk hormat.

Dari dalam lobi, melangkah keluar seorang pria tinggi tegap dengan setelan jas abu-abu gelap yang sangat elegan. Garis wajahnya yang tegas, rahangnya yang kokoh, serta tatapan mata cokelat gelapnya memancarkan aura dominasi seorang pimpinan raksasa bisnis.

Dialah Fandi Prasetyo.

Sebagai pimpinan Prasetyo Group yang baru saja menyuntikkan modal investasi sebesar dua ratus miliar rupiah ke Vantara Group, Fandi memiliki kantor perwakilan khusus dan akses penuh di Vantara Tower. Hari ini, Fandi kebetulan sedang berada di sana untuk mengawasi langsung proses audit keuangan anak perusahaan sebelum kembali ke markas utama bisnisnya sendiri.

Bu Rini dan Sisil membeku saat pria berkuasa itu berhenti dua langkah di hadapan mereka. Aura dingin dan berwibawa dari pimpinan Prasetyo Group itu mendadak membuat keberanian Bu Rini menciut seketika.

Fandi memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana jasnya, menatap Bu Rini dan Sisil dari atas ke bawah dengan pandangan mata yang sangat merendahkan.

"Ibu Rini dan Saudari Sisil, bukan?" tanya Fandi dengan suaranya yang berat nan merdu.

"I-iya, Pak ... Bapak siapa?" tanya Bu Rini gagap, jemarinya yang gemetaran memegangi tas kain lusuhnya.

"Saya Fandi Prasetyo," jawab Fandi tenang. "Ketua Tim Pengawas Investasi sekaligus mitra bisnis utama Mbak Annisa Septiani."

Fandi melangkah satu tapak lebih dekat, membuat Bu Rini dan Sisil secara refleks mundur karena merasa tertekan oleh postur tubuh Fandi yang tinggi tegap.

"Mbak Annisa sudah memprediksi bahwa kalian akan datang mengemis maaf di sini," ucap Fandi dengan nada bicara yang amat halus, namun sarat akan ancaman terselubung. "Dan beliau menugaskan saya untuk menyampaikan satu pesan singkat untuk kalian berdua."

Sisil menelan ludah dengan susah payah, matanya menatap wajah tampan nan dingin Fandi dengan rasa takut yang luar biasa. "P-pesan apa, Pak ...?"

Fandi menyunggingkan senyuman tipis—sebuah senyuman penuh keangkuhan berkelas dari seorang pria berkuasa.

"Mbak Annisa bilang ... jika kalian berdua tidak segera pergi dari area gedung ini dalam waktu lima menit, tim hukum Vantara Group akan melayangkan laporan pidana tambahan atas tuduhan pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan, dan tindak pemerasan," bisik Fandi dengan nada suara yang sangat jelas.

DEG!

Wajah Bu Rini yang tadinya pucat kini berubah membiru bagaikan mayat.

"Dan untuk Saudara Rian," lanjut Fandi dingin, menatap mata Bu Rini lurus-lurus. "...persidangan pidana penggelapan dana dua koma tiga miliar rupiah akan resmi dimulai dua minggu lagi. Saya sarankan Ibu gunakan sisa tenaga Ibu untuk mencari pengacara yang sanggup menahan hukuman penjara delapan tahun untuk putra kesayangan Ibu."

"D-delapan tahun ...?" jerit Bu Rini histeris. Tubuhnya gemetaran hebat hingga kakinya tak sanggup lagi menopang berat badannya. Bu Rini ambruk dan pingsan di atas lantai pelataran lobi Vantara Tower.

"Ibu! Ibu!" jerit Sisil panik setengah mati, mencoba membangunkan ibunya sambil menangis meraung-raung di tengah tontonan para karyawan dan pengunjung gedung yang lalu lalang.

Fandi Prasetyo menatap pemandangan menyedihkan itu tanpa sedikit pun rasa kasihan di matanya. Pria itu merapikan ikatan dasinya, membalikkan badan dengan gerakan sangat anggun, lalu melangkah kembali ke dalam gedung megah Vantara Tower.

Pintu kaca otomatis menutup rapat, memisahkan dunia kemewahan Annisa Septiani dari jeritan histeris keluarga Rian yang kini hancur lebur ditelan jerat hukum yang diciptakan oleh kesombongan mereka sendiri.

Bersambung...

1
Nisa Via
skakmat 😂😂😂
Nisa Via
weeeehhh dah miskin duit miskin kesadaran diri pulak tuh laki"🙃🙃
Kar Genjreng
harusnya si waspada ya kalau sudah perasaan nya enak terus terang sama si pengawal ke naapa harus sungkan ya namanya juga mau celaka kan ga ada permisi,,
Halimah
Anisa ini pdhl udah punya feeling ga enak...Harusnya ditunda dl
vania larasati
lanjut
Mutaharotin Rotin
aduuuh Anisa sembrono 🫣🫣
Mutaharotin Rotin
kok cuma 1 bab Mak ghin 🥰🙏
Nar Sih
cerita mommy slalu bagus👍🥰
Nar Sih
semoga fandi bisa sgra menyelamat ksn mu anisa
Oma Gavin
feeling mu sudah bener kenapa tetap nekat jalan tanpa prasangka buruk
iqha_24
deg2an, mommy lanjuut
I Pehh
lanjut mom, sllu d tunggu upnya💪
Halimah
Udah ga waras nih Rissa
Cicih Sophiana
Rissa dari pada uangdi buang sia sia kan lebih baik untuk bersenang senang... misal nya belanja, ke salon atau jalan jalan ke luar negri kan asik... ini kok malah di buang sia sia ngasih makan orang jahat...
Teh Euis Tea
si rissa bodoh bgt punya uang bukannya hidup tenang pergi jauh dan memperbaiki diri ini malah di pake buat bayar orang untuk nyelakain anissa, mudah2an anissa dan calon bayinya selamat ya dan si rissa membusuk di penjara
Nar Sih
jgn sampai risa berhssil niat jht nya untuk mencelakai anisa
Wiek Soen
semoga saja Anisa selamat
Wiek Soen
rissa menggali kuburnya sendiri ❤️
Herman Lim
waduh moga aja GPP
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!