NovelToon NovelToon
Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sibee

Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."

Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.

Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.

sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Sarapan Pagi dan Kembang Desa yang Genit

Kembang Desa yang Genit

Suara kokokan ayam jantan yang saling bersahutan di luar jendela membuat mata Arkan terbuka paksa. Pria berusia 25 tahun itu mengerang kesal, meraba punggungnya yang terasa kaku dan pegal luar biasa akibat tidur di atas kasur kapuk yang keras semalaman. Jam dinding di kamar sederhana itu baru menunjukkan pukul lima pagi. Di Jakarta, jam segini biasanya Arkan baru saja memarkirkan mobil sport-nya setelah pulang dari kelab malam termahal di ibu kota untuk tidur, bukan malah terbangun dalam kondisi tubuh penuh peluh.

Dengan langkah gontai dan wajah yang ditekuk masam, Arkan keluar dari kamar kecilnya. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti saat aroma harum masakan dengan bumbu tradisional yang sangat gurih langsung menusuk hidungnya. Perut Arkan yang belum terisi apa pun sejak kemarin siang seketika berbunyi nyaring, memprotes rasa lapar yang tak tertahankan.

Di ruang makan sederhana berlantai keramik polos, seorang wanita paruh baya bermata hangat dan berwajah keibuan sedang sibuk menata piring-piring di atas meja kayu. Begitu menyadari kehadiran Arkan, wanita itu langsung menghentikan kegiatannya dan melempar senyuman yang sangat cerah.

"Eh, Tuan Muda Arkan sudah bangun? Selamat pagi," sapa Bude Lastri dengan nada suara yang sangat ramah dan meneduhkan. "Ayo langsung duduk saja, Le. Bude sudah masak nasi goreng kampung pakai kecap manis, lengkap sama telur dadar krispi yang masih hangat. Pasti perutnya sudah keroncongan, kan?"

Sebelum Arkan sempat membalas sapaan ramah itu, seorang remaja laki-laki yang mengenakan seragam celana abu-abu SMA mendadak muncul dari arah pintu depan dengan tergesa-gesa. Begitu sepasang mata remaja itu bertatapan dengan sosok Arkan, langkahnya langsung terkunci. Matanya berbinar takjub penuh kekaguman.

"Wah! Ini Mas Arkan yang baru datang dari Jakarta kemarin ya?!" seru Reno antusias dengan suara lantang, langsung mengambil posisi duduk di kursi sebelah Arkan tanpa permisi. "Gila, aslinya ganteng banget kayak aktor-aktor di film aksi Netflix! Kulitnya putih bersih banget lagi. Mas, itu potongan rambutnya model apa namanya? Keren banget! Terus jam tangan mewah yang Mas taruh di atas lemari kamar itu mereknya apa? Kelihatan mahal banget!"

Arkan yang nyawanya belum terkumpul sepenuhnya agak tersentak mendengar kehebohan beruntun dari cucu Mbah Harjo itu. Sifat angkuhnya sempat terusik karena merasa privasinya terganggu di pagi buta. Namun, pujian jujur dan polos dari remaja desa itu entah kenapa membuat ego Arkan yang terluka sejak kemarin sedikit terbuai.

"Itu namanya model undercut. Dan jam tangannya merek Rolex," jawab Arkan dengan nada suara ketus, namun ia tetap berusaha menegakkan punggungnya agar terlihat berwibawa di depan pengagum barunya.

"Wih, Rolex! Berarti harganya bisa sampai ratusan juta ya, Mas?" Reno berdecak kagum dengan mata melotot, membuat Pak Barkah yang baru saja masuk dari pintu dapur belakang langsung berdeham dengan sangat keras.

Ehem!

Reno seketika menciut. Pria remaja itu buru-buru meraih sendok dan menyendok nasi gorengnya dengan takzim begitu melihat tatapan tajam sang ayah. Pak Barkah melangkah masuk, menarik kursi di kepala meja, lalu menatap Arkan dengan pandangan datar namun menuntut kepatuhan.

"Habiskan sarapanmu, Arkan. Setengah jam lagi Nayla akan berjalan melewati depan rumah ini menuju balai desa, dan kamu harus sudah bersiap untuk ikut saya ke ladang timur," tegur Pak Barkah dengan suara beratnya yang tanpa bantahan.

Mendengar nama wanita desa yang kemarin menghinanya itu disebut, selera makan Arkan langsung menurun setengah. Dengan terpaksa, ia menyuap nasi goreng kampung buatan Bude Lastri ke dalam mulutnya. Namun, mata Arkan mendadak melebar sesaat setelah mengunyahnya. Sialan. Nasi goreng kampung yang sangat sederhana dengan pelengkap telur dadar ini justru terasa jauh lebih nikmat dan gurih di lidahnya dibandingkan dengan menu sarapan hotel berbintang lima yang biasa ia pesan di Jakarta. Arkan terpaksa menghabiskan seluruh isi piringnya dalam diam demi memuaskan perutnya yang kelaparan.

Setelah selesai sarapan, Arkan masuk kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Atas perintah mutlak Pak Barkah, Arkan dilarang keras mengenakan kemeja sutra atau celana kain bermerek mahalnya ke ladang. Alhasil, pagi itu Arkan terpaksa keluar rumah dengan hanya mengenakan kaus oblong putih polos dan celana kain hitam longgar yang ikat pinggangnya terbuat dari seutas tali karet—semuanya adalah pakaian pinjaman milik Pak Barkah. Meskipun pakaian yang dikenakannya sangat sederhana dan terkesan murah, tubuh Arkan yang tinggi tegap, atletis, serta wajahnya yang tampan dengan rahang tegas tetap membuatnya terlihat sangat menonjol dan memikat mata siapa pun yang melihat.

Saat Arkan sedang berdiri di halaman teras rumah bersama Pak Barkah yang sedang memakai caping, sebuah suara perempuan yang dibuat-buat dengan nada super manis mendadak terdengar dari arah pagar depan halaman rumah.

"Assalamualaikum.. Selamat pagi, Pak Barkah! Selamat pagi, Bude Lastri!"

"Waalaikumsalam..." Sambut Pak Barkah dan Bude Lastri.

Seorang gadis muda dengan penampilan yang paling mencolok di Desa Sukmawarna melangkah masuk ke dalam halaman rumah dengan gaya berjalan yang centil dan berlenggak-lenggok. Gadis itu mengenakan blus merah muda ketat yang dipadukan dengan celana jins belel, lengkap dengan riasan bedak wajah yang cukup tebal dan lipstik merah merona. Di tangannya, ia sedang menjinjing sebuah kantong plastik berisi beberapa botol minuman dingin berenergi dari minimarket kota.

Namun, begitu sepasang mata gadis itu menangkap sosok pria asing yang sedang berdiri di samping Pak Barkah, langkah kakinya langsung terhenti di tempat. Mulutnya sedikit terbuka karena terkejut. Gadis itu menatap Arkan tanpa berkedip sama sekali dari ujung rambut hingga ujung kaki, terpesona oleh aura ketampanan luar biasa yang memancar dari diri sang Tuan Muda kota. Meskipun hanya memakai kaus oblong putih polos, Arkan di matanya terlihat seperti pangeran dari ibu kota yang tersesat di desa mereka.

"Ya ampun... Pak Barkah, ini... siapa?" tanya Ratih dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat manja dan lembut, sementara matanya mengerling genit, melemparkan pandangan menggoda ke arah Arkan.

Pak Barkah hanya bisa menghela napas pendek. Sebagai orang tua di desa itu, beliau sudah sangat hafal dengan tabiat centil anak dari Juragan Karno, pemilik toko grosir terbesar dan paling kaya di Desa Sukmawarna ini. "Ini Arkan, Ratih. Keponakan jauh yang sedang menumpang tinggal di rumah kami untuk sementara waktu."

"Oh... Mas Arkan..." Ratih melangkah mendekat dengan berani, sengaja mengibaskan rambut panjangnya yang telah disemprot minyak wangi beraroma menyengat hingga membuat hidung Arkan mengkerut tidak nyaman. Gadis desa itu mengulurkan tangannya yang lentik dengan kuku-kuku yang dicat warna merah menyala. "Kenalin, Mas. Aku Ratih. Anak Juragan Karno yang punya toko grosir paling besar dan lengkap di depan jalan raya sana. Kalau Mas Arkan butuh apa-apa selama di desa ini, atau kalau Mas Arkan bosan di rumah sederhana ini, main saja ke toko aku ya, Mas? Nanti aku dengan senang hati bakal temani Mas Arkan keliling desa sepuasnya."

Arkan menatap uluran tangan Ratih dengan dahi berkerut dalam dan tatapan mata yang dingin. Pengalaman hidupnya selama bertahun-tahun dikelilingi oleh wanita-wanita sosialita dan model papan atas di Jakarta membuat Arkan langsung tahu dengan sekali lirik; gadis di depannya ini adalah tipe wanita agresif, bermuka dua, dan berotak dangkal yang hanya silau oleh penampilan fisik. Arkan hanya menganggukkan kepalanya dengan kaku tanpa berniat membalas jabatan tangan Ratih, membuat tangan gadis itu menggantung di udara. Senyuman Ratih sempat membeku sesaat karena penolakan dingin itu, sebelum akhirnya ia memaksakan kembali senyum manisnya yang dibuat-buat.

Tepat pada saat suasana di teras rumah mulai terasa canggung, dari arah jalan setapak depan pagar, Nayla berjalan mendekat dengan langkah kaki yang konstan dan tegas. Gadis itu tampak anggun dengan rambut yang dikuncir kuda, memegang sebuah tas anyaman kecil berisi buku-buku catatan desa. Namun, langkah kaki Nayla seketika terhenti tepat di pintu pagar saat melihat Ratih sedang berdiri sangat dekat di depan Arkan sambil memasang wajah genit yang menggemaskan.

Nayla menghela napas panjang, menatap Arkan yang tampak risih dan Ratih yang sedang membusungkan dadanya dengan tatapan mata yang luar biasa malas.

"Ratih, masih pagi-pagi buta begini sudah bertamu ke rumah orang lain dan mengganggu kesibukan pemilik rumah. Memangnya tokomu yang besar itu tidak perlu dibuka hari ini?" sindir Nayla dengan nada suara yang sangat tenang namun menusuk.

Mendengar suara musuh bebuyutannya dalam hal persaingan di desa, Ratih langsung membalikkan badannya dengan cepat. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Nayla dengan wajah yang mendadak berubah menjadi sangat ketus, sinis, dan penuh permusuhan.

"Heh, suka-suka aku, dong! Aku kan ke sini dengan niat baik mau mengantarkan minuman segar dan mahal untuk Pak Barkah dan Mas Arkan yang baru datang. Memangnya kamu, Nayla? Datang-datang pagi begini cuma mau mengajak Mas Arkan yang tampan dan bersih ini untuk panas-panasan di ladangmu yang kotor dan penuh lumpur bau itu. Sengaja ya kamu mau menyiksa Mas Arkan?!" semprot Ratih dengan nada ketus yang melengking.

1
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian Author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya Author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!