NovelToon NovelToon
Suami Instanku Ternyata CEO Yang Ku Benci

Suami Instanku Ternyata CEO Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: fikafiky

Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.

Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.

Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandiwara Manis

Raka masih mengunyah potongan daging berlemak yang sebenarnya ingin sekali ia singkirkan dari piringnya. Senyum manis tetap terpasang di wajahnya, tetapi jemarinya yang menggenggam garpu tampak sedikit mengencang.

Di seberangnya, Naya menahan tawa puas. Melihat pria sedingin Raka terpaksa memakan makanan yang paling dibencinya hanya demi mempertahankan sandiwara di depan Nenek Rahma, rasanya seperti kemenangan kecil yang sangat memuaskan.

Namun, ketika wanita tua itu sibuk menikmati sup hangatnya, Raka diam-diam melirik Naya.

Istriku, ya?

Entah mengapa, dua kata yang baru saja diucapkannya sendiri terasa begitu menyenangkan. Bahkan, tanpa sadar, sudut bibirnya kembali terangkat.

Istriku.

Raka mengulang kata itu dalam hati. Ada perasaan aneh yang menghangatkan dadanya, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Padahal, pernikahan mereka hanyalah bagian dari sandiwara yang terpaksa ia jalani.

Anehnya, ia sama sekali tidak keberatan menyebut Naya sebagai istrinya.

Sementara itu, Naya justru merinding ketika mengingat panggilan mesra yang baru saja keluar dari mulutnya.

Suamiku tercinta? Ya ampun, Naya! Apa kamu sudah kehilangan akal sehat?

Ia hampir tersedak air putihnya sendiri.

"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Raka dengan nada lembut yang dibuat-buat.

Naya langsung menatapnya tajam, lalu buru-buru mengubah ekspresinya ketika menyadari Nenek Rahma sedang memperhatikan mereka.

"Tidak apa-apa, Mas. Saya hanya sedikit tersedak."

Raka mengulurkan serbet dengan wajah penuh perhatian. "Makanya, kalau makan jangan terburu-buru. Nanti suamimu ini khawatir."

Naya menerima serbet itu sambil tersenyum kaku.

Suamimu ini? Astaga, kenapa dia malah menikmatinya?

"Romantis sekali kalian," celetuk Nenek Rahma bahagia. "Nenek senang melihat Raka akhirnya punya istri yang bisa membuatnya lebih lembut."

Raka tersenyum lebar. "Saya juga senang, Nek."

Naya hampir menjatuhkan sendoknya.

Di bawah meja, ia diam-diam menginjak kaki Raka sebagai peringatan.

Raka meringis tipis, tetapi senyumnya tidak luntur.

"Sayang, kakiku kenapa, ya?" bisiknya.

Naya membalas dengan senyum paling manis yang bisa ia buat.

"Mungkin karena suamiku terlalu banyak bicara."

Raka menahan tawa. Untuk pertama kalinya, sandiwara pernikahan ini terasa jauh lebih menarik daripada yang ia bayangkan.

Setelah makan siang dan mengobrol panjang lebar mengenai rencana resepsi besar keluarga bulan depan, Nenek Rahma yang kelelahan akhirnya diantarkan oleh sopir menuju mansion utama keluarga Mahendra untuk beristirahat.

Pintu penthouse baru saja tertutup rapat di balik punggung Nenek Rahma ketika Raka langsung melepaskan tangannya dari tubuh Naya seolah-olah kulit wanita itu mengandung racun berbahaya. Pria itu mundur dua langkah, mengusap lehernya dengan raut wajah sangat geli.

"Gila," gumam Raka seraya menyapu bekas cubitan Naya di pinggangnya dengan wajah meringis. "Tanganmu itu terbuat dari tang atau apa? Sakit sekali!"

Naya bersedekap dada, menatap Raka dengan pandangan menang. "Itu balasan karena Anda berani merangkul dan memanggil saya 'Sayang'! Rasanya telinga saya mau tuli memanggil Anda 'Mas'!"

"Kamu pikir aku menikmati berakting mesra dengan staf tidak becus seperti kamu?!" Raka mendengus kasar, lalu berjalan menuju dapur dan meneguk air dingin langsung dari teko.

"Tapi harus kuakui ... refleksmu tidak terlalu buruk saat Nenek mulai curiga soal foto Kania."

"Saya hanya mencoba menyelamatkan leher saya sendiri dari jerat hukum Anda," balasan Naya tajam. "Sekarang Nenek Anda sudah pergi. Saya mau masuk kamar dan istirahat."

Namun baru saja Naya memutar badannya menuju lorong kamar tamu, ponsel pintar Raka yang tergeletak di meja makan berdering nyaring. Raka mengangkatnya dengan malas.

"Ya, Sekertaris Aris?" kata Raka dingin.

Naya menghentikan langkahnya saat mendengar nama 'Aris'. Aris adalah manajer muda dari Divisi Sumber Daya Manusia (HRD) di Mahendra Group—seorang pria ramah, hangat, dan satu-satunya atasan yang pernah memperlakukan Naya dengan manusiawi sewaktu ia bekerja di sana.

Suara Aris terdengar agak keras dari pengeras suara ponsel Raka yang tak sengaja terpencet. "Pak Raka, mohon maaf mengganggu waktu libur Anda. Ini mengenai kekosongan posisi staf administrasi utama di Divisi Pengembangan Produk. Berkas proyek pembebasan lahan untuk pusat perbelanjaan baru menumpuk dan staf baru belum ada yang lolos kualifikasi."

Raka mengernyitkan dahi. "Lalu? Cari orang baru secepatnya. Jangan ganggu saya dengan masalah sepele."

"Masalahnya, Pak... berkas-berkas lama di sistem arsip digital itu menggunakan kode format khusus yang dulu disusun oleh Naya Kanindita," jelas Aris. "Staf lain tidak ada yang paham cara membuka enkripsi berkas proyek itu. Kita butuh Naya kembali, minimal untuk beberapa minggu sampai sistemnya dialihkan."

Mendengar namanya disebut, Naya menoleh cepat dengan mata berbinar. Naya dibutuhkan lagi?

Raka membeku di tempatnya. Matanya perlahan teralih menatap Naya yang berdiri beberapa meter di depannya. Pria itu baru ingat fakta rumit ini: Naya adalah Naya Kanindita, wanita yang baru saja ia pecat seminggu lalu dan sekarang berstatus sebagai istri rahasianya!

"Tidak bisa," potong Raka cepat, suaranya mengandung nada panik yang samar. "Cari orang lain untuk memecahkan kode itu."

"Tapi Pak Raka, batas waktu pengajuan izin ke pemerintah tinggal tiga hari lagi!" desak Aris dari seberang telepon. "Kalau proyek ini tertunda, kerugian perusahaan bisa mencapai puluhan miliar. Lagipula... bukankah kemarin Pak Raka sendiri yang bilang bahwa masalah pemecatan Naya hanya karena salah ketik dokumen? Saya sudah menghubungi Naya tadi pagi tapi ponselnya mati. Saya mohon Pak, izinkan saya memanggil Naya kembali bekerja."

Raka memegang pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Ini benar-benar situasi gila. Membiarkan Naya, istri rahasianya yang seharusnya disembunyikan dari dunia, kembali bekerja di kantornya sendiri sebagai staf biasa? Itu sama saja dengan menaruh bom waktu di dalam ruang kerjanya!

Namun, kerugian puluhan miliar bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja oleh seorang CEO pragmatis seperti Raka.

Naya melangkah mendekati Raka, lalu berbisik sangat pelan dengan nada mengejek yang amat puas: "Kenapa, Pak Bos? Butuh bantuan dari 'staf tidak becus' ini?"

Raka memberikan tatapan membunuh ke arah Naya. Ia menghela napas panjang dan berat, berusaha menguasai suaranya agar terdengar tetap tenang di depan Aris.

"Sediakan kontrak kerja sementara untuk Naya Kanindita," jawab Raka akhirnya dengan nada berat yang terpaksa. "Tapi posisikan dia langsung di bawah pengawasan ketat. Dia hanya boleh bekerja di lantai eksekutif agar tidak banyak berinteraksi dengan staf lain."

"Baik, Pak Raka! Terima kasih banyak. Saya akan segera menghubungi Naya!" Aris menjawab dengan nada lega sebelum mematikan telepon.

Raka menurunkan ponselnya, lalu menatap Naya dengan sepasang mata elangnya yang sarat akan peringatan keras.

"Jangan gembira dulu, Naya," kata Raka dingin, melangkah satu cengkeram mendekati wanita itu. "Kamu memang kembali bekerja di Mahendra Group mulai besok. Tapi ingat... di kantor, kamu adalah mantan karyawan yang dipanggil kembali karena terpaksa. Kita tidak saling kenal, tidak ada hubungan apa pun, dan kamu harus bersikap profesional."

Naya justru tersenyum lebar, sebuah senyuman penuh kemenangan yang membuat Raka makin jengkel.

"Tentu saja, Pak Raka Mahendra yang terhormat," sahut Naya mantap, sedikit membungkuk secara formal dengan gaya mengejek. "Di kantor, Anda adalah bos arogan yang paling saya benci. Dan di rumah... Anda adalah suami kontrak yang juga paling saya benci. Sangat mudah dibedakan, bukan?"

Raka mengetatkan rahangnya, tak mampu membalas kata-kata tajam wanita di hadapannya itu. Perang dingin mereka tidak lagi hanya berlangsung di dalam penthouse mewah ini, melainkan akan segera meluas ke gedung pencakar langit tempat Mahendra Group berdiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!