Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saksi Bisu x Sidang Kampus 2
Belum selesai drama tersebut, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa namun ritmis, seolah sudah dilatih untuk sebuah adegan slow-motion di sinetron.
"Dini! Ya ampun, Dini!"
Semua kepala menoleh. Dari ujung jalan setapak, Kevin berlari menghampiri kerumunan dengan wajah yang disetel pada mode 'panik nan peduli tingkat dewa'. Rambut ber- gel-nya entah bagaimana tetap rapi. Ia menerobos masuk, langsung berlutut di depan Dini, menyodorkan air mineral dan mengusap bahu Siska dengan penuh simpati.
"Gue tadi baru aja selesai kelas, terus denger kabar dari anak-anak ada ribut-ribut di sini," bohong Kevin dengan sangat mulus. Matanya menatap Dini dengan pandangan iba yang palsu. "Dini sayang, kamu nggak apa-apa? Siapa yang berani ngelakuin ini sama kamu?"
Siska yang sudah termakan emosi langsung menunjuk Reza. "Dia, Kev! Si tukang cuci piring warkop ini! Dia nolak perasaannya Dini terus dendam, makanya dia nyerang Dini di sini!"
Kevin perlahan berdiri. Ia memutar tubuhnya menghadap Reza. Jika ini adalah film kartun, mata Kevin pasti sudah berubah menjadi lambang dolar atau piala piala kemenangan. Ia berjalan mendekati Reza, menatapnya dengan tatapan merendahkan.
"Gue udah curiga dari awal," kata Kevin dengan nada provokatif yang sengaja dikeraskan agar didengar Pak Yanto. "Orang-orang dari kelas bawah yang nggak punya etika kayak dia ini emang bahaya kalau dibiarin bebas di kampus. Ambisinya kegedean, tapi otaknya mesum. Pak Yanto, anak ini nggak bisa dibiarin. Ini kejahatan luar biasa!"
Poltak yang sejak tadi menahan diri akhirnya meledak. "Heh, Tuan Muda tukang pamer kunci mobil! Muka kau itu yang mesum! Tahu apa kau soal kejadian ini?! Kau baru datang, sok-sokan jadi pahlawan! Jangan-jangan kau yang bayar preman itu?!" Insting Poltak menembak buta, namun entah bagaimana tepat sasaran.
Mata Kevin sedikit berkedut panik, namun ia segera menutupinya dengan senyum sinis. "Jaga omongan lo, gajah sumbang. Gue ke sini karena gue peduli sama Dini. Daripada elo, ngebela pemerkosa. Sepasang sahabat sampah."
Poltak mengaum, bersiap menerjang Kevin dan menjadikannya perkedel daging, namun Reza dengan cepat menyela.
"Tahan, Tak!" bentak Reza. Ia menatap Poltak lekat-lekat. "Jangan bikin masalah baru. Biarin aja dia ngomong. Gue bakal tunggu momen yang tepat buat bersuara. Sekarang, biarin mereka bawa gue."
Reza kembali menatap Kevin dengan sorot mata yang begitu dingin hingga membuat Kevin sedikit bergidik. "Nikmatin panggung lo sekarang, Kev. Seneng-seneng aja dulu."
Dengan pengawalan ketat layaknya teroris internasional, Reza digiring menuju pos keamanan, sementara Dini dibawa ke klinik kampus bersama Kevin yang terus bertingkah seperti malaikat pelindung. Di belakang mereka, Poltak hanya bisa meninju batang pohon beringin hingga tangannya lecet, menangisi sahabatnya yang terjebak dalam jaring laba-laba kelicikan.
Jaring yang dibuat oleh Kevin, dalang dibalik semua kejadian. Mulai dari perusakan Warkop Berkah hingga penculikan Dini oleh 2 preman yang sama. Namun Kevin datang bukan sebagai perencana tapi sebagai pelindung alias pahlawan kesiangan untuk melindungi Dini dan mengambil hatinya. Sementara Poltak masih meninju batang pohon beringin dan tak bisa berbuat apa-apa kepada Reza.