“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Rumi baru saja pulang dari rumah sakit setelah beberapa hari menjalani perawatan. Tubuhnya memang sudah sedikit membaik, tetapi dokter masih memintanya menjaga pola makan dan tidak terlalu banyak pikiran.
Sementara itu, Haikal baru saja pulang dari kantor.
Ia meletakkan tasnya di sofa ketika melihat Intan duduk dengan wajah cemberut.
"Ada apa?" tanya Haikal.
Intan tidak langsung menjawab.
Ia justru menatap suaminya dengan tatapan penuh arti.
"Mas..."
"Hmm?"
"Aku baru saja melihat sesuatu yang membuatku kaget."
Haikal mengernyit.
"Melihat apa?"
Intan mengambil ponselnya, lalu menunjukkan sebuah foto.
Foto Tiara.
Mantan istrinya itu terlihat mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Wajahnya tersenyum begitu bahagia.
Haikal langsung terdiam.
"Ini..."
"Tiara," jawab Intan dingin.
Haikal mengambil ponsel tersebut.
Matanya tidak beranjak dari foto itu.
"Dia akan menikah."
Kalimat Intan membuat jantung Haikal berdegup lebih cepat.
"Menikah?"
"Iya."
"Dengan siapa?"
Intan tersenyum sinis.
"Pak Permana."
Tangan Haikal yang memegang ponsel seketika menegang.
"Permana?"
"Pemilik bank swasta itu."
Haikal terdiam.
Nama tersebut sangat dikenalnya.
Permana adalah orang yang memberikan pinjaman dalam jumlah besar kepadanya untuk mengembangkan bisnisnya.
Tanpa pinjaman dari Permana, mungkin ekspansi usaha Haikal tidak akan berjalan semulus sekarang.
Namun sekarang, laki-laki itu justru akan menikahi Tiara.
Mantan istrinya.
Haikal merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya.
Kesal.
Marah.
Dan entah kenapa, ada rasa sakit yang menusuk begitu dalam.
"Sejak kapan?" tanyanya.
Intan menyilangkan tangan di dada.
"Entahlah. Tapi dari fotonya, sepertinya mereka sudah mempersiapkan pernikahan."
Haikal kembali melihat foto itu.
Tiara tersenyum.
Senyum yang dulu sangat dikenalnya.
Senyum yang dulu sering ia lihat setiap pagi.
Senyum yang dahulu tidak pernah ia hargai.
Sekarang senyum itu diberikan kepada pria lain.
"Kenapa kau marah?" tanya Intan tiba-tiba.
"Aku tidak marah."
"Benarkah?"
Haikal tidak menjawab.
Intan mendekat.
"Atau kau cemburu?"
Haikal menunduk.
Pertanyaan itu membuatnya tidak mampu berkata apa-apa.
Intan menatapnya lekat-lekat.
"Masih menyukainya?"
Hening.
Beberapa detik berlalu.
Akhirnya Haikal menghela napas panjang.
"Jujur..."
Intan menunggu.
"Aku masih menyukai Tiara."
Mata Intan membesar.
Haikal menatap lantai.
"Aku tahu aku salah. Aku tahu sekarang dia bukan istriku lagi. Tapi ketika mendengar dia akan menikah dengan orang lain..."
Haikal terdiam.
"Ya, aku cemburu."
Wajah Intan berubah merah.
"Kau serius?"
Haikal tidak menjawab.
"Kamu masih mencintainya?"
"Aku tidak tahu."
"Jawab!"
"Aku bilang aku tidak tahu!"
Intan tertawa getir.
"Lucu sekali."
Ia menunjuk dirinya sendiri.
"Kau sudah punya aku."
Haikal diam.
"Aku adalah wanita yang kau pilih sendiri."
"Intan..."
"Aku bahkan lebih cantik, lebih seksi, dan lebih pintar dari Tiara!"
"Cukup."
"Tapi kenapa kau masih memikirkan dia?"
"Intan, cukup!"
Intan semakin emosi.
"Kenapa? Karena dia pernah menjadi istrimu?"
Haikal berdiri.
"Berhenti."
"Atau karena kau menyesal menceraikannya?"
Haikal mengepalkan tangan.
"Aku bilang cukup!"
Namun Intan tidak berhenti.
"Dia bahkan sudah melupakanmu. Dia akan menikah dengan laki-laki yang jauh lebih kaya darimu!"
"Berhenti mengejek Tiara!"
Suara Haikal menggelegar.
Intan terdiam.
Haikal menatapnya tajam.
"Walaupun dia membencimu, Tiara tidak pernah merendahkanmu."
Intan mengerutkan kening.
"Dia tidak pernah menjelek-jelekkan namamu kepada orang lain."
Haikal melanjutkan.
"Dia tidak pernah mengatakan kamu perempuan seperti apa. Bahkan setelah semua yang kamu lakukan kepadanya, dia tetap diam."
Intan semakin tersulut.
"Jadi sekarang kau membelanya?"
"Aku hanya mengatakan kenyataan."
"Kau membelanya di depanku!"
Haikal menghela napas.
"Karena kamu sudah keterlaluan."
Air mata mulai menggenang di mata Intan.
"Berarti aku tidak ada artinya?"
"Aku tidak mengatakan begitu."
"Tapi sikapmu mengatakan semuanya!"
Intan mengambil sebuah vas bunga yang berada di meja.
Haikal terkejut.
"Intan, jangan!"
Brak!
Vas itu dilempar begitu saja.
Benda tersebut menghantam televisi hingga layar televisi retak.
Haikal membeku.
"Intan!"
"Aku benci kau, Mas!"
Intan menangis histeris.
"Aku membencimu!"
Haikal menatap televisi yang rusak.
Ia tidak menyangka pertengkaran mereka akan menjadi separah ini.
"Kenapa kamu berubah setelah menikah denganku?" tanyanya lirih.
Intan terdiam.
"Seharusnya setelah menikah, kita menjadi semakin bahagia."
Haikal menggeleng.
"Tapi kenapa setiap hari rumah ini terasa seperti tempat perang?"
Belum sempat Intan menjawab, terdengar suara pintu depan dibuka.
Rumi masuk dengan langkah pelan.
Tangannya masih membawa obat dari rumah sakit.
Ia berhenti ketika melihat ruang tengah yang berantakan.
Televisi rusak.
Vas pecah.
Intan menangis.
Haikal berdiri dengan wajah penuh kemarahan.
Rumi menghela napas panjang.
"Ya Tuhan..."
Ia meletakkan obatnya di meja.
"Ada apa lagi?"
Tidak ada yang menjawab.
Rumi memandang keduanya bergantian.
"Kenapa rumah tangga kalian jadi seperti ini?"
Intan mengusap air matanya.
Rumi kemudian duduk perlahan.
"Sejak aku pulang dari rumah sakit, bukannya bisa tenang, aku malah mendengar kalian bertengkar terus."
Ia memijat pelipisnya.
"Tinggal di rumah ini rasanya seperti tinggal di medan perang."
Haikal terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia melihat betapa buruk keadaan rumah tangganya.
Dulu ia meninggalkan Tiara karena yakin hidupnya akan jauh lebih bahagia bersama Intan. Namun mengapa setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, ia justru merasa semakin kosong?
Bersambung....