NovelToon NovelToon
Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.

Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.

Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.

Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.

Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.

Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 - PERTEMUAN YANG TAK TERDUGA

Hujan turun deras ketika Celine Wang meninggalkan hotel tempat acara penghargaan investor Asia berlangsung.

Pesan anonim yang diterimanya masih terbayang di benaknya.

Jika ingin tetap hidup, jangan pernah bertanya kepada Alexander tentang malam kematian ayahmu.

Selama enam bulan terakhir, Celine telah menerima berbagai ancaman. Namun, pesan kali ini terasa berbeda. Pengirimnya mengetahui apa yang ia temukan di acara tersebut, mengetahui ketertarikannya terhadap Alexander, dan tampaknya memahami rahasia yang bahkan belum berhasil ia ungkap.

Celine memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu berjalan menuju lobi.

“Celine!”

Suara Adrian Shen terdengar dari belakang.

Ia berhenti dan menoleh. Adrian berjalan menghampirinya sambil membawa jas yang tadi dikenakannya di atas panggung.

“Kau pergi tanpa menungguku.”

“Aku membutuhkan udara segar.”

Adrian memperhatikan wajahnya. “Kau menerima pesan lagi?”

Celine terdiam sejenak sebelum menyerahkan ponselnya.

Adrian membaca pesan tersebut. Rahangnya mengeras, tetapi ia tidak menunjukkan kepanikan.

“Ini sudah keterlaluan. Kita harus melaporkannya kepada polisi.”

“Kita bisa melaporkannya, tetapi aku tidak yakin mereka akan menemukan pengirimnya tanpa bukti tambahan.”

“Bukan berarti kita harus diam.”

“Aku tidak akan diam.” Celine mengambil kembali ponselnya. “Namun, aku juga tidak akan membiarkan orang itu menentukan langkahku.”

Adrian menghela napas.

“Mobilku menunggu di depan. Aku akan mengantarmu pulang.”

“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.”

“Celine, ini bukan soal kau mampu atau tidak. Aku hanya ingin memastikan kau aman.”

Celine menatapnya. Ia menghargai kepedulian Adrian, tetapi pengalaman masa lalunya membuatnya sulit menerima perlindungan tanpa mempertanyakan maksud di baliknya.

“Aku tahu. Namun, malam ini aku ingin sendirian.”

Adrian akhirnya mengangguk.

“Baiklah. Kirimkan pesan begitu kau tiba.”

Celine berbalik menuju pintu keluar.

Ia tidak menyadari bahwa seseorang berdiri di balik pilar lobi, memperhatikan setiap gerakannya.

Hujan semakin deras ketika Celine tiba di area parkir.

Ia memesan mobil melalui aplikasi, tetapi kendaraan yang seharusnya menjemputnya tiba-tiba membatalkan pesanan. Saat ia mencoba memesan kembali, ponselnya kehilangan sinyal selama beberapa detik.

Celine mengerutkan kening.

Ia tidak suka kebetulan semacam ini.

Ketika akhirnya sebuah mobil hitam berhenti di depannya, pengemudi menurunkan kaca jendela.

“Nona Wang?”

Celine tidak langsung mendekat.

“Siapa yang memesan perjalanan ini?”

“Nama penumpangnya sesuai dengan aplikasi, Nona.”

Ia memeriksa ponselnya. Pesanan yang baru saja dibuat memang menunjukkan nomor kendaraan yang sama.

Namun, sebelum membuka pintu, ia melihat sebuah sedan hitam terparkir tidak jauh dari sana. Lampunya mati, tetapi seseorang tampak duduk di kursi pengemudi.

Celine memutuskan untuk tidak naik.

Ia berjalan kembali ke lobi dan menghubungi Daniel Zhou.

“Daniel, aku merasa sedang diawasi.”

“Apa yang terjadi?”

Celine menjelaskan tentang mobil yang mencurigakan dan pesan ancaman tersebut.

“Jangan pergi ke tempat yang sepi,” kata Daniel tegas. “Aku akan mengirimkan seseorang untuk menjemputmu.”

“Aku masih berada di hotel.”

“Bagus. Tetap di sana.”

Namun, sebelum percakapan berakhir, seorang pria muncul dari pintu samping hotel.

Pria itu mengenakan mantel hitam, membawa payung, dan berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Ketika melihat Celine, ia berhenti seolah sama terkejutnya dengan perempuan itu.

Alexander Wu.

Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling menatap.

Enam bulan bukan waktu yang cukup untuk menghapus seluruh kenangan. Celine masih mengenali cara Alexander mengerutkan kening ketika khawatir, juga sorot mata dingin yang dahulu sering membuatnya merasa kecil.

Namun, malam itu, ia tidak lagi merasa perlu menjelaskan dirinya.

Alexander adalah bagian dari masa lalu yang belum selesai, tetapi bukan lagi pusat kehidupannya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.

Alexander memandangnya dari ujung kepala hingga kaki, seolah memastikan bahwa ia tidak terluka.

“Aku seharusnya menanyakan hal yang sama.”

“Aku baru selesai menghadiri acara.”

“Aku tahu.”

Jawaban itu membuat Celine menatapnya tajam.

“Kau mengikutiku?”

“Tidak. Aku juga menghadiri acara tersebut.”

“Kalau begitu, kita tidak punya alasan untuk berbicara.”

Celine hendak melewatinya, tetapi Alexander melihat sedan hitam yang terparkir di seberang jalan.

Wajahnya berubah.

“Kau datang bersama siapa?”

“Tidak ada urusanmu.”

“Celine, dengarkan aku. Mobil itu sudah berada di sini sejak aku keluar dari hotel.”

Celine berhenti.

“Kau melihatnya juga?”

Alexander mengangguk.

“Ketika aku keluar, pengemudinya sedang mengambil foto pintu masuk hotel. Saat dia melihatku, dia mematikan kamera dan menunduk.”

Kecurigaan Celine semakin kuat.

Sebelum mereka sempat berbicara lebih jauh, sedan itu mendadak bergerak meninggalkan tempat parkir.

Alexander melangkah maju, tetapi mobil tersebut sudah melaju menembus hujan.

Celine memperhatikan arah kepergiannya.

“Apakah kau mengenali mobil itu?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa kau memperingatkanku?”

Alexander menatapnya. “Karena aku tidak ingin sesuatu terjadi kepadamu.”

Celine tertawa kecil, tanpa sedikit pun kegembiraan.

“Enam bulan lalu, kau tidak memikirkan apakah aku akan baik-baik saja setelah kau menceraikanku.”

Wajah Alexander menegang.

“Aku tahu aku melakukan kesalahan.”

“Tidak, Alexander. Kau baru mulai menyebutnya kesalahan setelah aku tidak lagi berada di sisimu.”

Kalimat itu membuat Alexander terdiam.

Ia ingin membantah, tetapi tidak menemukan kata-kata yang pantas diucapkan.

Sebuah mobil berhenti di depan hotel. Daniel Zhou turun sambil membawa payung.

Ia langsung menghampiri Celine, lalu memandang Alexander dengan waspada.

“Apakah semuanya baik-baik saja?”

“Untuk saat ini,” jawab Celine.

Daniel membuka payung dan berdiri di antara mereka.

“Tuan Wu, saya rasa Celine perlu pulang.”

Alexander mengangguk pelan. Ia mengenal Daniel sebagai pengacara yang selalu membantu Celine, tetapi baru sekarang ia menyadari betapa dekat pria itu dengan mantan istrinya.

Sebelum Celine pergi, Alexander memanggilnya.

“Ada sesuatu yang perlu kau ketahui tentang ayahmu.”

Langkah Celine terhenti.

Daniel langsung menoleh.

“Apa maksudmu?” tanya Celine.

Alexander melihat ke sekeliling, memastikan tidak ada orang yang berdiri cukup dekat untuk mendengar percakapan mereka.

“Aku tidak bisa menjelaskannya di sini.”

“Kalau begitu, jelaskan sekarang.”

Alexander menggeleng.

“Tidak di tempat terbuka.”

Celine menatapnya dengan curiga.

“Apakah kau sedang mencoba membuatku kembali mempercayaimu?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa baru sekarang kau berbicara?”

Alexander menarik napas panjang.

“Karena aku baru menemukan sebuah dokumen di ruang kerja ayahku. Dokumen itu berkaitan dengan William Wang dan transaksi yang terjadi sebelum kecelakaannya.”

Jantung Celine berdegup kencang.

“Dokumen asli transaksi 0917?”

“Aku belum tahu apakah itu dokumen yang sama. Tetapi ada nama ayahmu, ayahku, dan seseorang yang tidak pernah disebut dalam laporan perusahaan.”

“Siapa?”

Alexander menatapnya lama sebelum menjawab.

“Evelyn Zhao.”

Nama itu membuat Celine membeku.

Daniel segera menyela.

“Apakah Anda memiliki bukti bahwa nama itu benar-benar tercantum dalam dokumen?”

“Aku punya salinannya.”

“Kalau begitu, serahkan kepada pengacara Anda dan biarkan kami memeriksanya melalui jalur hukum,” kata Daniel. “Celine tidak akan pergi ke mana pun tanpa mengetahui isi dokumen itu terlebih dahulu.”

Alexander mengangguk.

“Aku akan mengirimkannya.”

Celine tidak langsung menjawab. Selama ini, ia mengira Evelyn hanyalah perempuan yang merebut suaminya dan memperkeruh rumah tangganya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa nama perempuan itu mungkin muncul dalam penyelidikan kematian ayahnya.

Namun, ia juga tidak bisa langsung mempercayai Alexander.

Pria itu pernah memilih mempercayai Evelyn daripada mendengarkan istrinya sendiri.

“Aku akan memeriksa dokumen tersebut,” ujar Celine akhirnya. “Tetapi jangan mengira ini berarti aku memaafkanmu.”

“Aku tidak meminta itu.”

“Bagus. Karena apa pun yang terjadi nanti, aku tidak akan membiarkan hubungan kita menghalangi pencarian kebenaran.”

Celine kemudian pergi bersama Daniel, meninggalkan Alexander sendirian di bawah hujan.

Di dalam mobil, Daniel menunggu hingga mereka meninggalkan kawasan hotel sebelum berbicara.

“Kau tidak seharusnya terlalu mempercayai apa yang dikatakan Alexander.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu, mengapa kau terlihat gelisah?”

Celine memandang lampu-lampu kota yang berpendar di balik kaca.

“Karena jika nama Evelyn benar-benar muncul dalam dokumen itu, berarti dia mungkin mengetahui sesuatu tentang kematian ayahku sejak awal.”

Daniel mengangguk.

“Aku akan meminta salinan dokumen tersebut diperiksa. Kita juga harus mencari tahu siapa pemilik sedan yang mengawasimu tadi.”

Celine mengeluarkan ponselnya dan menyimpan pesan ancaman sebagai bukti tambahan.

“Ada hal lain yang membuatku khawatir.”

“Apa?”

“Alexander mengatakan dokumen itu ditemukan di ruang kerja ayahnya. Jika Victor Wu menyimpan dokumen tersebut selama bertahun-tahun, berarti dia tahu ada sesuatu yang salah.”

“Dan jika dia tahu, kita perlu mengetahui mengapa dia memilih diam.”

Celine memejamkan mata sejenak.

Selama enam bulan, ia berusaha mengumpulkan bukti dari kejauhan. Kini, masa lalu yang ia cari mulai mendekatinya dengan cara yang tidak pernah ia duga.

Alexander mungkin menyimpan jawaban.

Evelyn mungkin menyimpan kebohongan.

Dan Victor Wu mungkin menjadi orang yang mengetahui seluruh kebenaran.

Namun, Celine tidak akan membiarkan siapa pun mengarahkannya tanpa bukti.

Malam semakin larut ketika Celine tiba di apartemennya.

Ia baru saja meletakkan tas ketika ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Pesan itu hanya berisi satu foto dokumen tua.

Pada bagian atasnya tercetak tulisan:

Perjanjian Pengalihan Aset Shengyuan — Rahasia Internal.

Di bagian bawah terdapat tiga tanda tangan.

William Wang.

Victor Wu.

Dan Evelyn Zhao.

Celine menatap layar dengan napas tertahan.

Tanggal yang tercantum pada dokumen itu adalah dua hari sebelum ayahnya meninggal.

Sebuah pesan baru muncul di bawah foto tersebut.

Alexander belum memberitahumu semuanya. Jika ingin mengetahui siapa yang sebenarnya mengkhianati ayahmu, jangan datang kepada Evelyn. Temuilah perempuan yang selama ini dianggap sudah mati.

Celine membaca kalimat itu berulang kali.

Perempuan yang dianggap sudah mati.

Shen Yiran?

Atau seseorang lain yang selama ini tersembunyi di balik runtuhnya Shengyuan?

Celine segera meneruskan foto tersebut kepada Daniel untuk diperiksa, lalu menyimpan salinannya dengan aman.

Pertemuan tak terduga dengan Alexander malam itu telah membuka pintu baru. Namun, di balik pintu tersebut terdapat lebih banyak rahasia daripada yang pernah ia bayangkan.

Celine berdiri di depan jendela, menatap Shanghai yang masih diguyur hujan.

Ia tidak tahu apakah Alexander sedang berusaha menebus kesalahannya atau hanya ingin menyelamatkan keluarga Wu.

Tetapi satu hal telah berubah.

Untuk pertama kalinya, Alexander bukan lagi satu-satunya orang yang memiliki rahasia tentang masa lalu mereka.

Kini, Celine memiliki sebuah dokumen yang dapat mengguncang tiga keluarga sekaligus.

Dan ia bertekad menemukan siapa yang menandatanganinya, siapa yang memalsukannya, serta siapa yang memastikan William Wang tidak pernah sempat mengungkap kebenaran.

Sebab kali ini, ia tidak akan berhenti hanya karena seseorang memintanya diam.

1
niaww
semngat kak jangan lupa mampir🥰❤
Isabell: siap kakak terimakasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!