OUTPLAYED BY YOU
He wins every game. She wins every argument.
"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"
Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."
"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."
Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."
Raka hampir tersenyum. Hampir.
Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
“Kalau dia mulai mengalihkan pembicaraan, kembalikan ke pertanyaan utama. Kalau dia mencoba menjawab dengan candaan, jangan ikut tertawa sebelum kamu mendapatkan jawaban yang kamu butuhkan.”
Dimas mengatakannya sambil menyerahkan selembar kertas berisi daftar pertanyaan kepada Nadira.
Nadira memeriksa catatan tersebut. “Aku tahu cara mewawancarai orang, Mas.”
“Saya tahu. Tapi narasumbermu kali ini agak istimewa.”
“Karena dia kapten esports terkenal atau karena dia pewaris Adhitama Global?”
“Karena kamu mengenalnya secara pribadi.”
Nadira mengangkat wajah.
Dimas menyandarkan tubuh ke kursinya. “Saya tidak perlu tahu apa yang terjadi di antara kalian. Itu bukan urusan kantor. Tapi saya perlu memastikan artikelmu tetap objektif.”
“Artikel saya akan tetap objektif.”
“Bagus. Kalau begitu, buktikan lewat tulisanmu, bukan lewat pernyataanmu.”
Nadira memasukkan catatan itu ke dalam tas.
Ia tidak berniat menjadikan wawancara hari ini sebagai ajang balas dendam. Ia hanya ingin mendapatkan jawaban yang seharusnya bisa diberikan Raka sejak awal.
Setidaknya, itulah yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri.
Pukul sepuluh pagi, ruang pertemuan ASTRAL sudah disiapkan untuk wawancara.
Raka duduk di salah satu ujung meja dengan kaus hitam dan jaket tim. Tidak ada setelan mahal, tidak ada lambang perusahaan, dan tidak ada Adrian Adhitama yang berdiri di sampingnya.
Hanya Raka, sebuah botol air, dan dua tangan yang sejak tadi sibuk memutar tutup pulpen.
Ketika pintu terbuka, ia langsung berhenti bergerak.
Nadira masuk bersama seorang fotografer Media Arena. Rambutnya diikat rapi, kemeja putihnya dimasukkan ke dalam celana hitam, dan sebuah buku catatan terselip di tangannya.
Ia terlihat seperti biasa.
Hanya saja, kali ini ia tidak tersenyum saat melihat Raka.
“Selamat pagi,” sapanya.
“Pagi.”
Nadira duduk di seberangnya. “Terima kasih sudah bersedia meluangkan waktu.”
Raka hampir mengatakan bahwa ia akan selalu menyediakan waktu untuknya.
Hampir.
“Sama-sama. Kita mulai saja.”
Nadira mengangguk kepada fotografernya, memastikan alat perekam menyala, kemudian membuka catatan.
“Pertanyaan pertama. Setelah pengumuman bahwa Anda merupakan calon penerus Adhitama Global, apakah ada perubahan dalam status Anda sebagai pemain profesional ASTRAL?”
“Untuk saat ini, tidak ada. Saya tetap terikat kontrak dengan tim dan menjalankan tanggung jawab sebagai kapten.”
“Apakah Adhitama Global memiliki investasi langsung di ASTRAL?”
“Tidak ada investasi langsung dari keluarga saya yang bisa saya konfirmasikan dalam konteks hubungan kepemilikan tim.”
Nadira menatapnya.
“Bisa Anda jelaskan lebih spesifik?”
Raka menyadari jawabannya terlalu kabur.
“Adhitama Global bukan pemilik ASTRAL. Saya juga tidak memiliki wewenang untuk mengubah struktur kepemilikan tim hanya karena posisi keluarga saya.”
“Apakah Anda pernah menggunakan sumber daya perusahaan keluarga untuk mendukung karier esports Anda?”
“Tidak untuk membiayai kegiatan kompetitif ASTRAL. Kontrak profesional saya dan pengelolaan tim berjalan melalui jalur mereka sendiri.”
Nadira mencatat jawabannya.
Tidak ada komentar sinis. Tidak ada pertanyaan tambahan yang sengaja dirancang untuk membuatnya terpojok.
Raka seharusnya merasa lega.
Anehnya, ia justru merindukan cara Nadira biasanya menantangnya.
“Apakah Anda berencana meninggalkan ASTRAL untuk mulai bekerja penuh waktu di Adhitama Global?” lanjut Nadira.
“Tidak dalam waktu dekat.”
“Bagaimana dengan lima tahun ke depan?”
“Saya tidak bisa menjanjikan apa yang akan terjadi lima tahun lagi. Tapi saya tidak akan meninggalkan tim hanya karena keluarga saya menginginkannya.”
Untuk pertama kalinya, Nadira mengangkat pandangan dari catatannya sedikit lebih lama.
“Jadi, keputusan itu tetap berada di tangan Anda?”
“Seharusnya begitu.”
“Seharusnya?”
Raka terdiam sesaat.
“Dalam praktiknya, ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Saya tidak ingin berpura-pura bahwa semuanya sesederhana memilih satu pekerjaan dan meninggalkan pekerjaan lain.”
Nadira mengangguk kecil.
“Jawaban yang lebih jelas. Terima kasih.”
Dulu, Raka akan membalas pujian itu dengan komentar bahwa Nadira akhirnya mengakui dirinya kompeten.
Sekarang, ia hanya mengangguk.
Jarak di antara mereka terasa nyata, meskipun lebar meja itu tidak lebih dari dua meter.
Setelah hampir dua puluh menit, Nadira menutup catatannya.
“Pertanyaan terakhir.”
Raka menegakkan tubuh.
“Apakah Anda merasa publik berhak mengetahui latar belakang keluarga Anda sejak awal karier profesional?”
Ia sudah memperkirakan pertanyaan itu akan muncul.
Namun, mendengarnya langsung dari Nadira membuatnya lebih sulit menjawab.
“Saya merasa publik berhak mengetahui informasi yang relevan terhadap karier dan keputusan profesional saya,” katanya. “Tapi saya juga percaya bahwa seseorang berhak memiliki kehidupan pribadi.”
“Bagaimana Anda menentukan batas antara keduanya?”
Raka memandang Nadira.
“Dengan mempertimbangkan apakah informasi itu bisa memengaruhi orang lain.”
“Dan jika informasi tersebut bisa memengaruhi kepercayaan seseorang terhadap Anda?”
Pertanyaan itu tidak tercantum dalam catatan yang dibacanya sebelumnya.
Raka tahu Nadira tidak lagi hanya berbicara sebagai wartawan.
Ia bisa saja mengingatkan Nadira bahwa wawancara ini membahas kariernya, bukan kehidupan pribadi mereka. Namun, bukankah itu justru akan menjadi cara lain untuk menghindari persoalan?
“Kalau informasi itu memengaruhi kepercayaan seseorang terhadap saya,” jawabnya pelan, “berarti saya harus menerima bahwa keputusan saya menyembunyikannya punya konsekuensi.”
Nadira terdiam.
Raka melanjutkan, “Saya tidak bisa meminta orang itu mengabaikan konsekuensinya hanya karena saya punya alasan sendiri.”
Selama beberapa detik, mereka saling menatap.
Kemudian Nadira mematikan alat perekam.
“Baik. Wawancaranya selesai.”
Raka menarik napas, berusaha mengumpulkan keberanian yang tidak pernah ia butuhkan untuk menghadapi lawan di arena.
“Nadira, boleh kita bicara sebentar?”
Ia melihat fotografer sedang mengemasi peralatan.
“Kalau tentang pekerjaan, silakan.”
“Bukan tentang pekerjaan.”
Nadira merapikan catatannya.
“Kalau begitu, maaf. Aku masih punya pekerjaan lain.”
“Nadira.”
Perempuan itu berhenti, tetapi tidak menoleh sepenuhnya.
“Aku tahu kamu belum siap mendengarkan penjelasanku. Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak pernah menganggap kedekatan kita sebagai sesuatu yang bisa kupakai untuk mendapatkan keuntungan.”
Nadira menatapnya akhirnya.
“Aku tidak pernah berpikir kamu mendekatiku demi keuntungan.”
“Lalu apa yang kamu pikirkan?”
“Aku sedang mencoba memahami bagian mana dari dirimu yang benar-benar kamu izinkan untuk kulihat.”
Raka tidak menjawab.
Nadira memasukkan pulpen ke dalam tas.
“Dan aku tidak ingin terus menebak-nebak.”
Ia berjalan menuju pintu.
Kali ini, Raka membiarkannya pergi tanpa memanggil lagi.
Bukan karena ia sudah menyerah.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia mencoba menghormati keputusan seseorang meskipun keputusan itu membuatnya tidak nyaman.
Di lorong menuju ruang latihan, Nadira berjalan lebih cepat daripada biasanya.
Ia berhasil mendapatkan jawaban yang dibutuhkan untuk artikelnya. Raka bersikap kooperatif, tidak berusaha memengaruhi pertanyaannya, dan bahkan mengakui bahwa tindakannya memiliki konsekuensi.
Semua itu seharusnya mempermudah pekerjaannya.
Namun, setiap kali ia mengingat percakapan terakhir mereka, langkahnya terasa semakin berat.
“Nadira!”
Suara yang familiar membuatnya berhenti.
Bima berlari kecil menghampirinya sambil membawa sekantong camilan.
“Wah, ternyata benar kamu datang hari ini.”
Nadira tersenyum tipis. “Kamu terdengar seperti baru melihat hantu.”
“Bukan hantu. Tapi kalau kapten gue terus memasang muka seperti orang kehilangan dompet, mungkin gue harus memanggil paranormal.”
Nadira tertawa kecil sebelum sempat menahannya.
Bima langsung menunjuk wajahnya.
“Nah! Itu dia. Ternyata kamu masih bisa tertawa.”
“Memangnya kenapa?”
“Tidak apa-apa. Ruangan ini belakangan terlalu tegang. Bahkan mesin pendinginnya seperti bekerja sambil menahan stres.”
Nadira menggeleng geli.
Bima melirik pintu ruang pertemuan di belakangnya, lalu kembali menatap Nadira.
“Gue tidak akan ikut campur urusan kalian,” katanya. “Tapi kalau suatu hari kalian memutuskan untuk bicara lagi, tolong lakukan di tempat yang tidak membuat gue harus mendengar kapten menghela napas setiap lima menit.”
“Dia sesering itu menghela napas?”
“Sejak konferensi? Rekor baru.”
Nadira terdiam sejenak.
“Dia terlihat baik-baik saja.”
Bima mendengus.
“Dia selalu terlihat baik-baik saja. Itu masalahnya.”
Kalimat tersebut membuat Nadira kehilangan senyumnya.
Bima tampaknya menyadari bahwa ia telah menyentuh sesuatu yang sensitif. Ia segera mengangkat kantong camilannya.
“Pokoknya, kalau kamu butuh data tambahan tentang ASTRAL, hubungi gue saja. Gue pemain profesional yang sangat kooperatif.”
“Bukankah kamu pernah bilang wartawan itu suka mencari masalah?”
“Benar. Tapi gue tidak pernah bilang semua wartawan menyebalkan.”
“Pujian yang luar biasa.”
“Gue memang orang yang luar biasa.”
Nadira tertawa lagi, kali ini lebih tulus.
Setelah berpamitan, ia melanjutkan perjalanan menuju lobi.
Di belakangnya, Bima menatap pintu ruang pertemuan dengan ekspresi prihatin.
Ia tahu Raka sedang belajar menerima konsekuensi dari keputusannya sendiri.
Namun, ia juga tahu bahwa tidak semua orang akan menunggu sampai Raka selesai belajar.
Malam itu, artikel Nadira diterbitkan dengan judul:
RAKA ADHITAMA DI PERSIMPANGAN: MASA DEPAN ASTRAL DI TENGAH TUNTUTAN KELUARGA
Tulisan itu menyajikan fakta tentang posisi Raka di Adhitama Global, komitmennya terhadap ASTRAL, dan kemungkinan tantangan yang akan dihadapinya sebagai atlet profesional sekaligus calon penerus perusahaan besar.
Tidak ada kalimat yang menyerang kehidupan pribadinya.
Tidak ada petunjuk bahwa penulisnya pernah makan malam bersamanya atau menerima pesan-pesan singkat darinya pada larut malam.
Artikel itu profesional, tajam, dan adil.
Raka membacanya di kamarnya setelah latihan selesai.
Ia berhenti pada satu paragraf yang membahas pengakuannya bahwa keputusan pribadi tetap memiliki konsekuensi bagi orang lain.
Nadira tidak menulis siapa yang dimaksudnya.
Ia tidak perlu melakukannya.
Raka membuka percakapan mereka sekali lagi. Pesan permintaan maafnya masih belum dibalas.
Ia mengetik satu kalimat.
Raka: Terima kasih sudah menulis dengan adil, meskipun aku membuatmu kecewa.
Kali ini, ia tidak menghapusnya.
Pesan itu terkirim.
Raka meletakkan ponselnya dan kembali membaca artikel tersebut sampai selesai.
Beberapa menit kemudian, layar ponselnya menyala.
Bukan balasan dari Nadira, melainkan notifikasi dari media sosial.
Nadira baru saja mengunggah foto secangkir kopi di meja kerjanya, disertai keterangan singkat:
Kadang, jarak diperlukan agar kita bisa melihat sesuatu dengan lebih jelas.
Raka membaca kalimat itu lama sekali.
Ia tidak tahu apakah tulisan itu ditujukan kepadanya. Ia tidak berhak menganggapnya demikian.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menekan tombol suka, tidak mengirim komentar, dan tidak mencari cara untuk membuat Nadira memperhatikannya.
Ia hanya meletakkan ponsel dan membiarkan perempuan itu memiliki ruang yang dimintanya.
Di luar jendela, Jakarta tetap sibuk seperti biasa.
Sementara itu, dua orang yang sebelumnya selalu menemukan alasan untuk saling membalas kini belajar menahan diri.
Bukan karena mereka kehabisan kata-kata.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, kata-kata saja tidak cukup.