Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.
Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.
Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Krieet.
Pintu laboratorium sains yang sudah diperbaiki itu terbuka perlahan pada sore hari yang mulai meredup.
Dimas melangkah masuk ke dalam ruangan dengan senyum manis yang selalu menempel di wajahnya.
Dia membawa sebuah map plastik berwarna biru tebal di tangan kanannya.
Di sudut ruangan, Nisa sedang duduk menghadap meja kerjanya sambil mencoret-coret kertas buram.
Srek srek srek.
Suara gesekan ujung pulpen Nisa terdengar sangat cepat dan konstan memenuhi ruangan sunyi itu.
"Selamat sore, Nisa."
Dimas menyapa dengan nada suara yang sangat lembut dan ramah seperti seorang kakak tingkat.
"Bapak lihat kamu dari tadi siang belum keluar dari laboratorium ini sama sekali."
Nisa menghentikan gerakan tangannya dan menoleh ke arah Dimas dengan ekspresi kelelahan.
Dia sengaja menurunkan sedikit letak kacamatanya agar terlihat seperti murid yang sedang pusing berat.
"Selamat sore juga, Pak Dimas."
"Saya sedang mencoba mencari referensi materi sains untuk tingkat provinsi, tapi buku di perpustakaan kita sangat terbatas."
Nisa memijat pelipisnya perlahan dan menghela napas panjang yang terdengar sangat meyakinkan.
"Pak Husen menyuruh saya belajar mandiri karena beliau bilang beliau sedang sibuk mengurus hal lain."
Dimas tersenyum penuh kemenangan di dalam hatinya mendengar keluhan Nisa tentang Husen tersebut.
"Sudah kuduga, guru sombong itu pasti lepas tangan karena dia sebenarnya tidak tahu apa-apa soal materi tingkat provinsi."
Dimas membatin dengan sangat angkuh dan merasa tugasnya di sekolah ini akan selesai jauh lebih cepat dari jadwal.
Tap tap tap.
Dimas berjalan mendekati meja Nisa dan meletakkan map biru tebal itu tepat di sebelahnya.
Tuk.
"Kamu tidak perlu pusing lagi memikirkan materi, Nisa."
"Bapak punya modul bimbingan khusus dari Dinas Pendidikan yang biasa dipakai oleh murid-murid Akademi Cakrawala."
Mata Nisa sedikit melebar dan dia mengambil map biru itu dengan kedua tangan yang sengaja dibuat sedikit gemetar.
"Ini sungguhan untuk saya, Pak Dimas?"
"Tapi bukankah materi seperti ini sangat rahasia dan mahal harganya?"
Dimas tertawa pelan dan mengusap puncak kepala Nisa dengan gaya sok akrab.
"Tentu saja untukmu, anggap saja ini bentuk dukungan pribadi Bapak untuk murid jenius seperti kamu."
"Bapak tidak tega melihat murid sepintar kamu ditelantarkan begitu saja tanpa bimbingan yang jelas."
Nisa membuka halaman pertama modul tersebut dan mulai membaca sekilas deretan rumus di dalamnya.
"Terima kasih banyak, Pak Dimas, Bapak benar-benar pahlawan penyelamat saya hari ini."
"Saya akan mempelajari setiap halaman modul ini sampai hafal di luar kepala untuk perlombaan nanti."
Dimas menganggukkan kepalanya dengan raut wajah yang terlihat sangat puas dan bahagia.
"Bagus sekali, pelajari semuanya dengan teliti ya, Nisa."
"Bapak harus kembali ke ruang guru sekarang untuk membereskan dokumen akreditasi, jangan pulang terlalu malam."
Dimas membalikkan badan dan berjalan keluar dari laboratorium dengan langkah kaki yang terasa sangat ringan.
Dia merasa sudah berhasil menyuapkan racun mematikan langsung ke dalam mulut ujung tombak SMA Garuda Kelam.
Krieet.
Pintu laboratorium tertutup kembali dan meninggalkan Nisa sendirian di dalam ruangan itu.
Satu menit berlalu dalam keheningan total tanpa ada suara apa pun.
Tiba-tiba, suara langkah kaki lain terdengar dari arah ruang penyimpanan alat di bagian belakang laboratorium.
Tap tap tap.
Husen berjalan keluar dari ruangan gelap itu sambil membawa secangkir kopi hitam hangat di tangannya.
"Dia sudah pergi cukup jauh menyusuri koridor, Nisa."
"Kamu bisa berhenti memasang wajah memelas seperti anak kucing kelaparan itu sekarang."
Nisa langsung mendengus kasar dan mendorong kacamata tebalnya kembali ke posisi semula di pangkal hidungnya.
Ekspresi kelelahan di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh tatapan sedingin balok es.
"Bapak tahu tidak, rasanya aku ingin sekali muntah saat dia berani menyentuh kepalaku tadi."
"Akting menjadi murid bodoh yang butuh diselamatkan ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada merakit generator magnet."
Husen tertawa pelan dan menarik sebuah kursi kosong untuk duduk tepat di seberang meja Nisa.
"Bara dan Rico saja bisa menahan rasa jijik mereka saat memakan piza dari tangan pengkhianat itu kemarin."
"Kamu pasti bisa menahannya sedikit lebih lama lagi demi rencana besar kita, Nisa."
Husen meletakkan cangkir kopinya dan menunjuk ke arah map biru tebal yang baru saja diberikan oleh Dimas.
"Sekarang coba kamu periksa, hadiah jebakan macam apa yang dikirimkan Pak Surya untuk kita kali ini."
Nisa membuka map itu lebar-lebar dan membalik halamannya dengan gerakan yang sangat cepat dan kasar.
Srek srek srek.
Mata Nisa bergerak menyapu deretan angka dan rumus fisika kuantum terapan yang tertulis di kertas putih itu.
Hanya butuh waktu kurang dari dua menit bagi siswi genius itu untuk menemukan kebusukan di dalamnya.
Brak!
Nisa menggebrak mejanya pelan dan tertawa hambar dengan nada yang sangat merendahkan.
"Orang bernama Dimas ini benar-benar menganggapku sebagai anak kecil yang baru belajar berhitung."
"Dia menukar variabel konstanta tekanan pada rumus hidrolik ini dengan variabel suhu ruang, Pak."
Nisa memutar map itu agar menghadap ke arah Husen dan menunjuk salah satu paragraf panjang di sana.
"Jika aku mengikuti teori di buku ini untuk merakit alat pameran di provinsi nanti, alatnya tidak akan sekadar gagal menyala."
"Tekanan cairan di dalamnya akan meledak tepat di depan wajah juri karena salah memperhitungkan titik didih."
Husen menatap rumus yang ditunjuk Nisa dengan tatapan mata yang sangat tajam dan serius.