NovelToon NovelToon
Cahaya dalam Kegelapan Sang Don

Cahaya dalam Kegelapan Sang Don

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mafia / CEO / Lari dari Pernikahan / Tamat
Popularitas:365
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Ferrer

Di Roma, satu nama diucapkan dengan bisikan dan rasa takut: Il Macellaio. Matteo Vitalle, Don 'Ndrangheta yang berdarah dingin, sudah lama mengubur hatinya, sejak perempuan yang dicintainya lenyap tanpa jejak sembilan tahun silam.

Ribuan kilometer jauhnya, di sudut kumuh sebuah kota, Ágata berjuang mati-matian demi satu hal: mengumpulkan biaya operasi yang akan mengembalikan penglihatan putra kecilnya yang buta sejak lahir. Terdesak ke tepi jurang, ia mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya, menjual diri kepada seorang pria kaya raya. Yang tak ia duga, klien pertamanya adalah hantu dari masa lalunya sendiri, sang Don yang paling ia takuti.

Satu malam itu membuka kembali luka lama, cinta yang membara, dan sebuah rahasia yang bisa meruntuhkan sebuah imperium: bocah cerdik berbola mata dua warna itu adalah darah daging Sang Jagal.

Namun bayang-bayang masa lalu tak pernah benar-benar mati. Pengkhianat dalam keluarga, perintah pembunuhan yang tak kunjung padam, dan seorang musuh yang bersembunyi di antara orang-orang terdekat, semuanya mengintai. Untuk melindungi perempuan dan anak yang nyaris direnggut takdir darinya, Matteo siap menjungkirbalikkan dunia dan membakar siapa pun yang berani menghalangi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Ferrer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kuil yang Tak Tersentuh dan Bayang Sang Ular

Jet pribadi itu mendarat di bandara Roma di bawah langit jingga senja. Rombongan SUV hitam melaju beriringan dalam konvoi rapat menuju properti megah keluarga Vitalle. Bagi Ágata, melewati gerbang besi tempa itu berarti menjejakkan kaki langsung ke masa lalu, sebuah tempat yang sarat kenangan pedih dan janji-janji yang teringkari.

Namun, ketenangan kedatangan itu hanya bertahan selama waktu yang mereka butuhkan untuk menaiki tangga utama.

Begitu Matteo, Ágata, dan Pietro, ditemani Tomasso serta Júlia, menjejakkan kaki di koridor sayap pribadi, pintu kamar Matteo terbuka lebar dari dalam.

Gia keluar dari sana mengenakan gaun tidur sutra, menggenggam segelas anggur. Tapi senyum kemenangan di wajahnya membeku dan runtuh pada seperseribu detik yang sama saat matanya jatuh pada Ágata… dan pada bocah yang berdiri di sampingnya.

"Apa-apaan ini?!" jerit Gia, suara melengkingnya menggema di dinding-dinding istana. Gelas anggur bergetar di tangannya. "Matteo! Lelucon murahan apa ini?! Perempuan ini seharusnya sudah mati! Sedang apa jalang ini di sini?!"

Reaksi Matteo seketika dan mengerikan. Mata sang Don memerah dipenuhi amarah. Aura kendali dan ketenangannya menguap, digantikan kemurkaan buta yang membuat para prajurit di ambang pintu pun mundur selangkah.

"Sedang apa kau di kamarku, Gia?!" geram Matteo, suaranya bagai guntur. Ia melangkah lebar, mencengkeram lengan perempuan itu dengan kekuatan brutal dan menyeretnya keluar dari suite. "Siapa yang memberimu izin menginjakkan kaki di rumah ini, apalagi di kamarku?!"

"Matteo, sayangku! Aku datang untuk menunggumu! Aku ini tunanganmu, kita…" perempuan itu kehilangan kendali, panik menguasainya melihat kondisi sang pria.

"Kau sudah gila, Gia?!" bentak Matteo, suara menggelegarnya membuat dinding seakan bergetar. "Kita TIDAK PERNAH bertunangan! Kita TIDAK PERNAH menjadi apa-apa dan TIDAK AKAN PERNAH!"

Dengan cepat, Matteo berusaha menutup telinga Pietro dengan kedua tangannya untuk melindungi putranya dari keributan hina itu, tapi sia-sia. Pietro menepis tangan ayahnya dengan tepukan ringan lalu terus menyimak segalanya.

Matteo menatap Gia dengan jijik murni dan menyemburkan kata-kata tanpa saringan sedikit pun.

"Aku cuma sesekali meniduri kau! Kau tak pernah lebih dari pelampiasan saat aku sedang mabuk! Tanamkan itu baik-baik di kepalamu!"

"Matteo!" pekik Gia, marah dan menangis penuh kebencian.

Matteo membuka pintu kamar dengan keras agar semua orang bisa melihat isinya. Ágata melongok ke dalam dan jantungnya melonjak. Kamar Matteo persis seperti yang ia tinggalkan sembilan tahun lalu. Pakaiannya masih tergantung di lemari, parfum-parfum imporannya tertata rapi di meja rias, buku-buku kedokterannya yang tebal terbuka di meja kerja, dan tas-tasnya tersimpan di rak. Tak ada sebutir debu pun. Tak ada perempuan lain yang pernah menjejakkan kaki di ruangan itu. Matteo tak pernah membawa siapa pun ke dalam kamar atau rumah itu; tempat itu adalah kuil duka dan kenangannya.

"Kalian sudah gila?!" bentak Matteo pada kepala pelayan dan dua pengurus rumah yang gemetar di koridor. "Berapa kali sudah kutegaskan bahwa TAK SEORANG PUN boleh masuk ke sini?!"

"Tuan… Nyonya Gia bilang Anda sudah mengizinkan, kami takut membantah…" kepala pelayan itu berusaha menjelaskan, wajahnya pucat bagai mayat.

"Kalian bertiga DIPECAT!" putus Matteo, rahangnya mengeras karena murka. "Kalian kehilangan posisi di rumah utama! Besok juga kalian melapor ke gudang pelabuhan untuk membersihkan kompleks 'Ndrangheta! Enyah dari hadapanku sebelum sisa kesabaranku habis!"

Ketiga pelayan itu berlari terbirit-birit, ketakutan.

Gia mulai menangis tersedu-sedu, air mata melunturkan riasannya sementara ia menyaksikan runtuhnya mimpi untuk mengukuhkan diri sebagai nyonya rumah itu.

"Ambil barang-barangmu dan pergi dari propertiku hari ini juga, Gia," geram Matteo, melepaskan lengan perempuan itu dengan jijik. "Kalau kau menginjakkan kaki di rumah ini lagi, aku sendiri yang akan menyeretmu keluar!"

Di sudut koridor, Pietro hanya mengamati semuanya. Bocah itu tak bisa melihat adegannya, tapi pendengarannya menangkap tiap detail: kemarahan ayahnya, tangisan palsu perempuan itu, dan aib yang terkuak di depan umum.

Pietro mengangkat dagu dan sebuah senyum penuh ejekan muncul di wajahnya. Ia sangat menikmati melihat sang ular diusir tanpa ampun sedikit pun.

Justru di saat penghinaan itulah Gia menelan tangisnya sejenak. Matanya yang licik menyapu bocah di samping Ágata. Ia memperhatikan cara Pietro menahan wajahnya sedikit miring, tongkat lipat di tangan, tanpa mengarahkan pandangan ke titik mana pun di ruangan.

Dia buta… kesadaran itu meletup di benak Gia yang beracun bagai sebuah wahyu. Pewaris sah Matteo Vitalle ternyata bocah buta.

Gia mengatupkan mulut. Ia tak mengucapkan sepatah kata caci maki lagi. Ia membenahi gaun tidurnya, menelan amarah, lalu berjalan menuju tangga dengan kepala terangkat, tapi otaknya berputar seribu kali lebih cepat.

Keserakahan dan kebencian berbicara lebih lantang daripada penghinaan. Ia bahkan pernah sanggup memicu serangan jantung terselubung yang membunuh ibunya sendiri ketika perempuan itu mengancam mengganggu rencananya. Menyingkirkan seorang anak buta yang tak berdaya dan merekayasa sebuah "kecelakaan fatal" di mansion yang penuh tangga, balkon, dan kolam renang itu akan menjadi tugas yang teramat mudah.

Sementara ia melangkah keluar, janji berdarah untuk melenyapkan pewaris Matteo sudah tergambar sepenuhnya di dalam benaknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!