Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.
Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!
Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25: Laboratorium kuno dan buruh zirah hitam
Pagi hari tiba dengan cuaca yang sangat cerah di ibu kota. Papan nama kayu jati bertuliskan Apotek Ruozi Jaya Medika yang terpasang sejak hari pertama ruko ini disiapkan kini telah resmi ditambahi goresan tinta emas dan ukiran cap naga merah milik Jenderal Besar Long Tianxu di sudutnya.
Namun, Ruozi sama sekali tidak punya waktu untuk mengagumi "jimat politik" barunya itu. Begitu tirai bambu disingkap, pemandangan di lantai satu ruko masih jauh dari kata siap buka rak-rak obat masih kosong melompong, dan bau belerang sisa ledakan kemarin masih samar-samar tercium dari lantai atas.
"Target buka toko tinggal tiga hari lagi, tapi stok produk siap jual masih nol besar! Fokus, Ruozi, waktu adalah tael emas!" seru Ruozi menyemangati diri sendiri sambil mengikat rambutnya tinggi-tinggi dan menggulung lengan bajunya hingga ke siku.
Ruozi segera turun ke gudang belakang tempat berkarung-karung herbal mentah kiriman Tianxu ditumpuk. Ia menatap tumpukan itu seperti seorang jenderal yang sedang menginspeksi pasukan.
Masalahnya, meracik obat di zaman kuno ini membutuhkan tenaga ekstra: herbal harus dipilah, dicuci, dijemur ulang, ditumbuk dengan lumpang batu, hingga direbus berjam-jam untuk diekstrak menjadi pil atau salep. Jika hanya mengandalkan dua tangan kurusnya, apotek ini baru bisa buka tahun depan.
Mata licik Ruozi perlahan-lahan beralih kepada empat pengawal elit berzirah hitam yang sedang berdiri tegap berjaga di sudut ruangan. Pria-pria bertubuh kekar itu mendadak merinding, merasakan firasat yang jauh lebih mengerikan daripada saat menghadapi kepungan musuh di medan perang.
"Nah, Abang-Abang berzirah hitam yang gagah berani..." Ruozi mendekat dengan senyuman paling manis namun penuh muslihat. Ia menyodorkan empat buah lumpang batu berukuran raksasa beserta alat penumbuknya. "Daripada kalian cuma berdiri tegap sampai berlumut, mending bantu aku menumbuk daun dewa dan akar ginseng ini sampai halus. Anggap saja ini latihan fisik untuk memperkuat otot bisep kalian!"
Para pengawal elit itu saling pandang dengan wajah melongo. Mereka adalah pasukan khusus bentukan Dewa Perang yang dilatih untuk mencabut nyawa musuh, bukan mencabut tangkai daun herbal! Namun, mengingat perintah mutlak Long Tianxu adalah mematuhi dan melindungi Ruozi, pemimpin pengawal akhirnya menghela napas pasrah. Dengan canggung, keempat pria berotot itu duduk melingkar di lantai gudang, mulai menumbuk herbal dengan ritme tenaga dalam yang konstan hingga ruangan itu dipenuhi suara dentuman batu yang teratur.
Sementara para pengawalnya beralih profesi menjadi buruh dadakan, Ruozi kembali naik ke lantai tiga yang berfungsi sebagai laboratorium kunonya.
Memanfaatkan fasilitas kuali perunggu dan peralatan kaca sederhana yang ia rancang sendiri, Ruozi mulai bereksperimen menggabungkan pengetahuan medis modern dengan khasiat herbal murni dunia ini.
Mengingat sebagian besar warga ibu kota kuno sering mengeluhkan masalah pencernaan akibat makanan berlemak dan penyakit kulit karena sanitasi, Ruozi memutuskan untuk memproduksi tiga produk ikonik pertamanya: Pil Pencahar Detoks, Salep Kurap Instan, dan Teh Herbal Pelangsing.
Hingga matahari terbit tepat di atas kepala, suasana di dalam ruko berubah menjadi pabrik obat yang sangat sibuk. Ruozi dengan jeli mengawasi suhu kuali rebusan, sementara di bawah, suara tumbukan lumpang batu para pengawal berzirah hitam terdengar semakin cepat.
Persiapan besar-besaran untuk hari pembukaan perdana Apotek Ruozi Jaya Medika baru saja dimulai dengan peluh dan aroma jamu yang menyeruak kuat.
Di sela-sela kesibukannya mengawasi kuali, Ruozi berjalan ke arah jendela lantai tiga yang menghadap langsung ke jalanan pasar utama. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat beberapa orang dengan gerak-gerik mencurigakan tampak sering berlalu-lalang di depan tokonya, sesekali melirik ke arah papan nama kayu jati berstempel naga miliknya.
Ruozi menyipitkan mata, langsung tahu bahwa itu pasti mata-mata kiriman Perdana Menteri Li yang diutus untuk mengawasi aktivitasnya setelah insiden pendobrakan pintu kemarin.
"Cih, dasar kaki tangan kakek kosmetik ungu. Bukannya bekerja yang halal, malah sibuk jadi mandor toko orang lain," cibir Ruozi sambil bersedekap dada. Namun alih-alih merasa takut, otaknya yang dipenuhi jiwa pebisnis modern justru melihat hal ini sebagai peluang emas untuk mematangkan strategi pemasaran terselubung.
Ruozi berbalik badan dan berteriak ke arah tangga, "Abang Pengawal yang di bawah! Tolong ambilkan sisa papan kayu jati bekas perbaikan engsel pintu kemarin, lalu bawa kuas dan tinta hitam ke atas!" Tak butuh waktu lama, salah satu pengawal zirah hitam yang napasnya sudah beraroma daun dewa akibat menumbuk herbal seharian, datang mengantarkan barang yang diminta dengan wajah lelah namun tetap siaga.
Dengan seringai licik, Ruozi mulai menggoreskan kuas di atas papan kayu bekas tersebut dengan tulisan berukuran besar dan mencolok. Tulisan itu berbunyi: “Apotek Ruozi Jaya Medika Tiga Hari Lagi Buka Perdana! Menyediakan Pil Ajaib Pembersih Racun Tubuh, Direkomendasikan Langsung oleh Kedianan Jenderal Besar Long!” Ia sengaja mencantumkan nama sang Jenderal agar para mata-mata itu segera melaporkannya ke atasan mereka.
Ruozi menyuruh pengawal tersebut untuk memaku papan pengumuman itu tepat di bawah papan nama utama ruko agar bisa dibaca dengan jelas dari seberang jalan.
Benar saja, begitu papan itu terpasang, beberapa pria bercaping di seberang jalan langsung kasak-kusuk dan salah satunya buru-buru pergi ke arah kediaman menteri untuk melapor.
Ruozi yang melihat dari jendela hanya tertawa puas karena tahu musuh politik Tianxu pasti akan makin kepanasan dan secara tidak langsung membantu mempromosikan tokonya ke kalangan pejabat tinggi.
Kembali ke meja laboratoriumnya, Ruozi mulai membagi hasil rebusan herbal yang sudah mengental menjadi bulatan-bulatan pil kecil berwana hitam berkilap.
Ia memasukkan pil-pil tersebut ke dalam botol-botol keramik kecil yang sudah ia bersihkan sebelumnya, lalu menempelkan label kertas bertuliskan Pil Detoksifikasi Jiwa pada masing-masing botol.
Dengan pengetahuan medis modernnya, ia tahu betul bahwa di zaman kuno ini, tren gaya hidup sehat dengan mendetoks tubuh belum ada, sehingga produk ini dipastikan akan menjadi komoditas yang sangat langka dan mahal.
Ketika matahari mulai tergelincir ke ufuk barat dan menumpahkan warna jingga di langit ibu kota, gudang lantai satu akhirnya dipenuhi dengan ratusan botol obat yang tersusun rapi di atas rak kayu.
Empat pengawal berzirah hitam tampak duduk bersandar di dinding dengan tangan yang gemetar dan pegal-pegal akibat menumbuk herbal tanpa henti selama hampir delapan jam penuh.
Pemimpin pengawal bahkan sampai menatap pedangnya sendiri dengan tatapan rindu, merasa bahwa menebas leher ratusan musuh di medan perang jauh lebih ringan daripada menghadapi tuntutan standar kehalusan bubuk herbal milik Ruozi.
Ruozi berjalan turun sambil membawa nampan berisi beberapa cangkir teh hangat yang mengeluarkan aroma melati dan madu yang menenangkan.
Ia membagikan cangkir-cangkir itu kepada para pengawalnya dengan senyuman tulus yang jarang ia tunjukkan. "Nah, minumlah ini untuk menghilangkan pegal di otot kalian. Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini, tanpa bantuan tenaga dalam kalian, stok obat ini tidak akan selesai dalam sehari," ucap Ruozi, yang seketika membuat rasa lelah keempat prajurit tangguh itu menguap digantikan oleh rasa hormat pada kegigihan sang gadis masa depan.