NovelToon NovelToon
Under The Autumn Canopy

Under The Autumn Canopy

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: air sungai

​Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
​Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggung di Bawah lampu kristal

Hari yang ditunggu sekaligus dihindari akhirnya tiba. Gedung Grand Ballroom Park Lane di kawasan elite Mayfair, London, malam itu diselimuti suasana kemewahan yang megah. Cahaya dari puluhan lampu gantung kristal memantulkan pendar keemasan pada gaun-gaun malam bertabur payet dan setelan tuxedo berpotongan mahal.

Helios Foundation Gala Dinner bukan sekadar perayaan tahunan sains. Acara ini adalah ajang negosiasi kekuasaan, tempat di mana para ilmuwan kelas dunia bertemu dengan para penyokong dana raksasa. Dan malam ini, sesi puncak acara tersebut adalah pengumuman serta presentasi singkat dari tiga proyek independen yang lolos ke tahap pendanaan utama.

Di sudut ruangan yang agak terpencil, dekat pilar marmer, Rory berdiri sambil merapikan gaun malam sederhana berwarna biru dongker yang ia sewa dari kedai gaun bekas di Oxford. Gaun itu tidak memiliki hiasan berlian atau kain sutra termahal, namun potongan elegannya sangat pas di tubuh Rory, mempertegas garis leher dan keanggunan alaminya. Rambut cokelatnya disanggul rapi di belakang, menyisakan beberapa helai yang menjuntai lembut di sisi pipinya.

"Kamu gelisah?" sebuah suara bariton yang hangat menyapa di sampingnya.

Rory menoleh. Julian berdiri di sana, dan untuk sejenak, napas Rory tertahan. Julian mengenakan setelan tuxedo hitam klasik tanpa aksesori mencolok jas yang ia beli dari hasil tabungan pribadinya sendiri, bukan dari penjahit langganan keluarga Radcliffe di Savile Row. Kendati demikian, postur tubuhnya yang tegap, garis rahangnya yang tegas, serta aura aristokrat alami yang memancar darinya membuat Julian tetap menjadi pusat perhatian tanpa perlu berusaha.

"Sedikit," aku Rory jujur, menghembuskan napas pelan. "Melihat jajaran dewan penguji dan para penyokong dana di depan sana... tekanan akademisnya terasa sepuluh kali lipat lebih berat dibanding ujian di St. Jude’s."

Julian mengikis jarak di antara mereka. Ia mengulurkan tangannya, mengusap jemari Rory yang terasa dingin. Genggamannya hangat, mantap, dan menyalurkan ketenangan yang luar biasa.

"Fokus pada data yang kita miliki, Rory," bisik Julian, suaranya sangat dalam di tengah kebisingan musik klasik yang mengalun tipis. "Grup ini mungkin punya jutaan poundsterling di rekening bank mereka, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki pemahaman metodologi sedalam yang kamu susun. Malam ini, di atas panggung itu, kamu adalah ilmuwannya."

Rory menatap mata hazel Julian yang jernih dan penuh keyakinan. Rasa cemas di dadanya perlahan meluruh, berganti menjadi keberanian murni. "Terima kasih, Julian. Kita lakukan ini bersama."

Namun, keheningan hangat di antara mereka terganggu ketika kerumunan di tengah ballroom terbelah.

Seorang pria paruh baya dengan rambut beruban teratur, mengenakan setelan jas buatan tangan paling mewah dan memegang cangkir sampanye, melangkah mendekati mereka. Garis wajahnya dingin, angkuh, dan memiliki kemiripan yang mencolok dengan Julian.

Arthur Radcliffe.

Di belakangnya, menyusul Victoria Montgomery yang mengenakan gaun merah menyala bertabur kristal Swarovski, menatap Rory dengan cengiran penuh kemenangan.

"Suatu kejutan melihatmu berada di ruangan ini tanpa kartu undangan keluarga, Julian," kata Arthur Radcliffe. Suaranya tidak keras, namun mengandung dominasi yang mampu membekukan atmosfer di sekitar mereka.

Julian tidak bergeming. Ia tidak melepaskan genggaman tangannya dari Rory. Wajahnya tetap datar, menatap sang ayah lurus-lurus. "Saya berada di sini karena kapasitas akademis saya, Ayah. Bukan karena nama belakang."

Arthur melirik sekilas ke arah Rory dari atas ke bawah, tatapannya meremehkan namun penuh kalkulasi dingin. "Menukarkan seluruh masa depan dinasti Radcliffe demi eksperimen mahasiswa semenjana dan seorang gadis beasiswa..aku mengajarimu untuk menjadi pemimpin, Julian, bukan menjadi pemimpi yang naif."

Victoria tersenyum tipis di belakang Arthur, menikmati momen penekanan tersebut.

Rory bisa merasakan jemari Julian sedikit mengeras. Sebelum Julian sempat mengeluarkan balasan yang berpotensi memicu skandal di depan umum, Rory melangkah setengah pijakan ke depan, berdiri sejajar dengan Julian.

"Tuan Radcliffe," sapa Rory dengan nada bicara yang amat sopan namun berartikulasi sangat tajam. "Eksperimen yang Anda sebut naif ini berhasil menurunkan tingkat toksisitas senyawa uji hingga delapan puluh persen sebuah pencapaian yang gagal diraih oleh tim riset utama Radcliffe Corp dalam dua tahun terakhir. Jika sains yang memecahkan masalah kemanusiaan dianggap naif, maka saya rasa standar keberhasilan kita memang sangat berbeda."

Arthur terpaku sejenak. Alis tebalnya terangkat. Ia tidak menyangka seorang gadis muda tanpa latar belakang bangsawan berani menatap matanya tanpa sedikit pun gestur ketakutan, apalagi menyampaikan argumen teknis secara langsung di depan wajahnya.

Semburat merah kekesalan muncul di pipi Victoria. "Berani sekali kamu"

"Mr. Radcliffe! Mr. Radcliffe Jr.!"

Suara lantang seorang pria tua berambut putih memotong perdebatan dingin itu. Profesor Henrik Vance (tidak ada hubungan keluarga dengan Rory), ketua dewan juri Helios Foundation, melangkah mendekat dengan senyum lebar sambil membawa dua lembar dokumen bertanda tangan resmi.

"Luar biasa!" seru Profesor Henrik, menepuk bahu Julian dan membungkuk hormat pada Rory. "Draf pengajuan analisis kuantum yang kalian kirimkan kemarin sore dari Cambridge... itu adalah karya paling visioner yang diterima dewan juri tahun ini! Kami telah meninjau seluruh data mentahnya."

Arthur Radcliffe merapikan jasnya, berusaha menjaga ekspresi wajahnya. "Henrik, sebagai salah satu penyokong dana utama, saya rasa dewan harus memeriksa kembali kelayakan finansial dari tim independen ini"

"Kelayakan finansial?" potong Profesor Henrik sambil tertawa renyah, seolah-olah lelucon Arthur sangat menggelikan. "Arthur, apa kamu belum membaca pengumuman terbaru dari komite? Berdasarkan keunggulan mutlak dari hasil data mereka, Helios Foundation resmi menganugerahkan Grand Excellence Research Grant sebesar lima ratus ribu poundsterling secara penuh kepada Julian dan Aurora!"

Kata-kata itu bergema dengan sangat jelas di sekitar mereka.

Victoria membelalakkan matanya, mulutnya sedikit terbuka karena syok yang tak tertahankan. Arthur Radcliffe berdiri membatu, matanya menatap dokumen di tangan Profesor Henrik dengan raut tak percaya.

Hibah bernilai setengah juta poundsterling itu bukan sekadar dana riset itu adalah pengakuan tertinggi internasional yang secara otomatis membebaskan Julian dan Rory dari ketergantungan pada dana pihak mana pun, termasuk Radcliffe Corp.

"Sesi presentasi kehormatan akan dimulai lima menit lagi. Silakan bersiap naik ke panggung utama, Mr. Radcliffe, Miss Vance," tambah Profesor Henrik dengan wawasan bangga sebelum berbalik menuju podium.

Julian menatap ayahnya. Tidak ada rasa dendam atau kesombongan di matanya yang ada hanyalah ketenangan seorang pria yang telah membuktikan kebenarannya.

"Saya rasa Ayah tidak perlu mengkhawatirkan kelayakan finansial kami lagi," ucap Julian datar namun mematikan. "Permisi, Ayah. Kami harus naik ke panggung."

Tanpa menunggu jawaban dari Arthur yang terdiam kaku atau Victoria yang menahan malu luar biasa, Julian menggandeng tangan Rory dan melangkah meninggalkan mereka, berjalan mantap menuju panggung utama yang diterangi cahaya lampu kristal.

Di atas panggung megah itu, di hadapan ratusan ilmuwan dan investor terkemuka dunia, Rory dan Julian berdiri berdampingan. Saat giliran Rory berbicara memaparkan metodologi mereka, suaranya mengalun tenang, cerdas, dan memikat seluruh ruangan. Di sampingnya, Julian menatap Rory dengan binar cinta dan kebanggaan yang begitu murni.

Malam itu, di tengah kemewahan London yang biasa menindas orang-orang tanpa kekuasaan, Aurora Vance dan Julian Radcliffe membuktikan bahwa kecerdasan, kerja keras, dan kebersamaan yang tulus mampu menundukkan benteng takhta tertinggi sekalipun.

Dan perjalanan panjang mereka menuju puncak dunia baru saja dimulai.

1
stevany indri
maya sang cucu sj usianya sdh 50thn,,,, bgmn mgkn kejadian antara kakek Julian&nenek aurora terjd 50thn yg lalu... ada2 sj
stevany indri
aurora lahir thn 1969....kejadiannya thn 1968, bgmn mgkn terjd.... 😳
stevany indri
u maya... kakek&nenek tp u Julian junior mestinya uyut deh
Forta Wahyuni
maya tapi cucu, koq manggil ayah dan ibu n bingung thor. Julian cicit krn anak maya, hadeh suka2 thor lah. 🙏🙏🙏
Maya Elvin
siap kk👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!