NovelToon NovelToon
Pada Akhirnya, Kamu

Pada Akhirnya, Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / CEO / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.

Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.

Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.

Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.

Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.

Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.

Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 Pertengkaran di Dalam Bus

Naira Alesha masih berdiri sambil memegangi tiang bus. Tas besar berisi laptop dan beberapa map desain menggantung di bahu.

Sesekali tubuhnya terdorong ke depan setiap kali bus mengerem mendadak. Pagi ini benar-benar tidak berjalan sesuai rencana. Mobil mogok. Kendaraan yang dipesannya terjebak macet. Dan sekarang ia harus naik bus yang penuh sesak.

Naira melirik jam di ponselnya. Masih ada empat puluh menit sebelum pertemuannya. Seharusnya cukup. Kalau bus ini tidak berhenti setiap lima menit.

Naira mengembuskan napas panjang. "Tenang..." Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Jangan panik."

Bus kembali mengerem. Tubuh Naira terdorong ke belakang. Tangannya hampir terlepas dari pegangan. Seseorang di sampingnya bergerak sedikit dan tanpa sengaja bahunya berbenturan dengan bahu Naira. Naira menoleh.

Pria itu masih berdiri dengan wajah datar. Jas hitamnya terlihat sangat rapi, bahkan terlalu rapi untuk seseorang yang sedang berdiri di dalam bus penuh sesak.

Rambutnya tertata sempurna. Sepatu kulitnya bersih. Dan wajahnya... Naira mengakui dalam hati bahwa pria itu memang tampan. Sangat tampan. Tapi sayangnya, ekspresinya membuat wajah tampan itu terlihat menyebalkan.

Pria itu melirik Naira. "Jangan terlalu dekat denganku."

Naira mengernyit. "Apa?"

"Bahumu."

Naira melihat bahunya sendiri, kemudian menatap pria itu. "Busnya penuh."

"Aku tahu."

"Ya sudah kalau sudah tahu. Heran banget."

Mikael Arsen menatapnya sebentar. Lalu melengos.

Naira mendengus pelan. Pria aneh. Ia kembali menghadap depan.

Beberapa detik kemudian, bus berhenti di halte berikutnya. Beberapa penumpang turun. Naira langsung melihat sebuah kursi kosong di dekat jendela. Matanya berbinar.

"Syukurlah."

Ia bergerak cepat. Namun tepat ketika tangannya hendak menyentuh sandaran kursi, seseorang mendahuluinya. Mikael. Pria itu duduk dengan santai.

Naira berhenti. Matanya membesar. "Hei."

Mikael menatapnya. "Ada apa?"

"Itu tempat duduk saya."

Mikael mengangkat alis. "Tempat dudukmu?"

"Iya."

"Kamu sudah memesannya?"

Naira terdiam. "Ya tidak."

"Kalau begitu ini bukan milikmu."

Naira menatapnya tidak percaya. Pria ini serius?

"Aku yang melihatnya terlebih dulu."

Mikael bersandar. "Tapi aku yang duduk duluan."

"Itu curang."

"Curang?"

"Iya."

Mikael tertawa pendek. "Kita sedang naik bus, bukan mengikuti lomba."

Naira semakin kesal. "Aku sudah berdiri dari tadi."

"Aku juga."

"Tapi kamu cuma berdiri beberapa menit."

"Bagaimana kamu tahu?"

Naira menunjuk jasnya. "Ya kelihatan."

Mikael melihat pakaiannya sendiri. "Lalu kenapa?"

"Kamu kelihatan seperti orang yang tidak pernah naik bus."

Mikael terdiam. Naira langsung menyadari ucapannya, namun ia tidak menariknya kembali.

Mikael menyandarkan punggung. "Memangnya kenapa kalau aku tidak pernah naik bus?"

"Tidak kenapa-kenapa."

"Jadi?"

"Jadi kamu harusnya tahu diri."

Mikael menatap Naira beberapa detik. "Menarik."

"Apa?"

"Kamu galak."

Naira mengangkat alis. "Dan kamu menyebalkan."

"Baru kenal sudah berani menilai."

"Karena kamu memang menyebalkan."

Mikael justru tersenyum. "Nona, kursinya cuma satu."

"Aku tahu."

"Dan aku sudah duduk."

"Aku juga tahu."

"Jadi masalahnya apa?"

Naira menarik napas panjang. "Masalahnya adalah kamu tidak punya sopan santun."

Mikael menghela napas. "Baiklah." Ia berdiri.

Naira sedikit terkejut. Mikael menunjuk kursi itu. "Silakan."

Naira menatapnya curiga. "Benarkah?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Karena aku tidak ingin berdebat dengan orang yang sedang terburu-buru."

Naira mengernyit. "Aku tidak terburu-buru."

Mikael melihat jam tangannya. "Kamu sudah melihat jam ponselmu tujuh kali sejak naik bus."

Naira terdiam. "Memangnya kamu menghitung?"

"Tanpa sengaja."

Mikael kemudian berjalan menuju bagian belakang bus. Naira akhirnya duduk. Begitu tubuhnya menyentuh kursi, ia mengembuskan napas lega.

"Nyaman sekali..." Ia menyandarkan kepala sebentar. Namun rasa nyaman itu hanya berlangsung beberapa detik.

Bus kembali berhenti. Mikael yang berdiri di belakang terdorong ke depan. Tangannya refleks meraih pegangan yang tepat berada di atas kursi Naira. Naira mendongak.

"Awas kalau jatuh di sini."

Mikael menatapnya. "Aku tidak akan jatuh."

"Ya bagus."

"Yang hampir jatuh tadi kamu."

Naira langsung memutar mata. "Kok diungkit?"

"Karena baru lima menit lalu."

Naira mendengus. Mikael tersenyum kecil. Entah kenapa, melihat perempuan itu kesal justru membuat perjalanan bus yang menyebalkan ini sedikit lebih menarik.

Sementara Naira mulai merasa pria itu sengaja memancing emosinya. Ia memasang earphone. Tidak mau bicara lagi. Namun baru beberapa detik kemudian, suara Mikael terdengar.

"Permisi."

Naira tidak menjawab.

"Permisi."

Naira menoleh. "Ada apa?"

"Aku mau duduk."

Naira melihat ke sebelahnya. Ada kursi kosong di sampingnya. "Silakan."

Mikael duduk. Naira langsung mengernyit. Kenapa harus di sini?

Mikael menyadari tatapannya. "Ada masalah?"

"Tidak."

"Kenapa melihatku seperti itu?"

"Aku cuma heran."

"Heran apa?"

"Bus ini besar."

Mikael menunggu.

"Kenapa kamu memilih duduk di sini?"

Mikael melihat kursi lainnya di belakang. "Karena ini kosong."

Naira mengangguk. "Baik." Ia kembali memasang earphone.

Mikael menatapnya. Beberapa saat kemudian, ia bertanya: "Kamu mau ke mana?"

Naira mencabut salah satu earphone. "Kenapa?"

"Karena dari tadi melihat jam."

"Aku ada pertemuan."

"Jam berapa?"

"Sebentar lagi."

"Kalau begitu kamu memang terlambat."

Naira langsung melihatnya. "Jangan membuatku panik."

"Aku cuma bilang apa adanya."

"Aku masih punya waktu."

Mikael melihat jam tangannya. "Kalau jalanan macet, tidak mungkin."

Naira menatap jalan di depan. Bus kembali bergerak lambat. Wajahnya mulai cemas. Mikael memperhatikannya.

"Pertemuan yang sangat penting?"

"Iya."

"Pekerjaan?"

"Iya."

"Kalau begitu seharusnya berangkat lebih awal."

Naira langsung menoleh. "Aku sudah berangkat lebih awal."

"Berarti salah memilih kendaraan."

Naira memelototinya. "Mobilku mogok."

"Oh." Mikael mengangguk. "Mobilku juga."

Naira terdiam. Kemudian menatapnya dari atas sampai bawah. "Kamu juga?"

"Iya."

"Makanya naik bus?"

"Iya."

Naira tiba-tiba tertawa kecil. Mikael menatapnya.

"Apa yang lucu?"

"Kamu."

"Kenapa?"

"Entahlah." Naira berusaha menahan senyum. "Kamu kelihatan sangat tidak cocok naik bus."

Mikael mengangkat alis. "Dan kamu kelihatan sangat cocok?"

"Setidaknya aku tidak memakai jas mahal."

Mikael melihat jasnya. "Memangnya jas ini masalah?"

"Tidak." Naira tersenyum. "Cuma kasihan."

"Kenapa kasihan?"

"Iya. Takut kotor."

Mikael tertawa pelan. Untuk pertama kalinya sejak naik bus, ia benar-benar tertawa. Naira ikut tersenyum. Kemudian keduanya terdiam.

Aneh. Beberapa menit lalu mereka bertengkar hanya karena tempat duduk. Sekarang mereka malah bisa tertawa bersama.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Bus mendadak mengerem. Naira yang tidak siap langsung terdorong ke samping. Kepalanya hampir membentur kaca. Mikael refleks mengulurkan tangan dan menahan kepalanya. Tangan mereka bersentuhan.

Naira membeku. Mikael juga diam. Mata mereka bertemu. Untuk beberapa detik, suara bus dan percakapan penumpang seolah menghilang.

Mikael perlahan menarik tangannya. "Kamu tidak apa-apa?"

Naira mengangguk. "Iya."

"Yakin?"

"Iya." Naira membenarkan rambutnya yang berantakan. "Terima kasih."

Mikael mengangguk. "Ya, Sama-sama."

Keduanya kembali menghadap ke depan. Tetapi kali ini suasananya berbeda. Naira tidak lagi merasa pria itu sepenuhnya menyebalkan. Sedikit saja. Mungkin hanya sedikit. Tidak lebih.

Bus akhirnya sampai di halte dekat tempat tujuan Naira. Naira segera berdiri. Ia memeriksa jam.

"Astaga!"

Mikael menoleh. "Kenapa?"

"Aku hampir terlambat."

Naira buru-buru mengambil tasnya. Namun tali tasnya tersangkut di bagian kursi. Ia menariknya. Tidak lepas.

"Kenapa sih..." Ia menarik lagi. Tetap tidak bisa.

Mikael berdiri. "Sebentar."

"Aku bisa sendiri."

"Tunggu, jangan keras kepala."

Mikael membantu melepaskan tali tas tersebut. Dalam satu gerakan, tas itu berhasil lepas. Naira mengembuskan napas.

"Terima kasih ya."

Mikael mengangguk. Naira kemudian turun dari bus. Sebelum pintu tertutup, ia sempat menoleh. Pria itu masih berdiri di dekat pintu. Mereka saling memandang sebentar. Naira tersenyum tipis.

Kemudian bus bergerak. Mikael melihat perempuan itu semakin jauh. Entah kenapa, ia merasa sedikit penasaran.

"Galak." Ia tersenyum kecil. "Tapi lumayanlah."

Naira berlari menuju gedung tempat pertemuannya. Begitu masuk, ia berhenti sebentar untuk mengatur napas. Kemudian menatap bayangannya di kaca. Rambut berantakan. Pipi memerah. Kemeja sedikit kusut. Dan wajahnya terlihat lelah.

Naira menghela napas. Hari ini benar-benar kacau. Namun ketika teringat pria di bus tadi, ia tanpa sadar tersenyum. Kemudian buru-buru menggeleng.

"Tidak." Ia menepuk pipinya sendiri. "Jangan pikirkan pria menyebalkan itu."

Beberapa kilometer dari sana, Mikael juga masih memikirkan perempuan yang sama.

Perempuan itu sangat galak. Dan entah mengapa... ia ingin bertemu dengannya lagi.

1
Evi Anggorowati
kasian naira.. takutnya mikail goyah stlh cinta masa lalunya kembali.. berharap naira bahagia ma mikail, g mengalami patah hati lagi
Evi Anggorowati
penasaran bgt ntar ada rahasia apa yg bikin naira jd galau lg pdhal sptnya mikail beneran tulus mencintai naira
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: karena sebelumnya mempunyai cinta yg besar tetapi dipendam ke Ravian selama bertahun2 kak😊
total 1 replies
Evi Anggorowati
suka ma novelnya gaya bahasanya jg suka semoga happy end ceritanya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
Suka banget sama alurnya, ringan tapi tetap bikin penasaran dan bikin pengen terus baca!”❤
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
mak mak doyan novel
mulai menyimak..
mudah2an cocok 💪
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya. semoga suka💖😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!