Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.
Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.
Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.
Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERMAIN API DENGAN CINTA BAB 24_ TOPENG YANG RETAK DI PANTRI
BERMAIN API DENGAN CINTA
BAB 24_ TOPENG YANG RETAK DI PANTRI
Sindiran tajam Valen tentang 'keahlian khusus' Cinta hanya ditanggapi Maxim dengan keheningan yang dingin. Sang CEO kembali menatap layar komputernya, seolah-olah perdebatan dua wanita di ruangannya tidak lebih penting dari pergerakan saham harian.
Sadar bahwa suaminya sama sekali tidak memedulikan sindirannya, Valen mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih.
Valen memutar tubuhnya dengan anggun, menatap langsung ke arah meja kerja Cinta dengan sorot mata yang tidak lagi menyembunyikan ketegangan.
"Nona Cinta," panggil Valen, suaranya kembali datar namun dipaksakan terdengar ramah di permukaan.
"Tenggorokanku agak kering setelah perjalanan kemari. Bisa tolong buatkan aku secangkir kopi hitam tanpa gula di pantri luar? Aku ingin meminumnya sebelum pulang."
Cinta yang sejak tadi mengamati perang dingin itu langsung menyunggingkan senyum profesional terbaiknya. Ini adalah umpan yang dia tunggu-tunggu.
"Tentu, Nyonya Valen. Mari saya antar ke area pantri eksekutif."
Cinta bangkit dari kursi oak barunya, merapikan rok pensil abu-abu gelapnya, lalu berjalan mendahului Valen untuk membuka pintu kayu mahoni besar ruangan CEO.
Begitu mereka berdua melangkah keluar, atmosfer lorong eksekutif yang sunyi langsung menyambut mereka.
Langkah kaki stiletto mereka berdua terdengar ritmis beradu di atas lantai marmer menuju area pantri khusus yang terletak di sudut lorong.
Pantri eksekutif itu sangat mewah, dilapisi marmer putih dengan peralatan pembuat kopi kelas premium, dan yang paling penting—suasananya benar-benar sepi dari staf lain di jam kerja seperti ini.
Begitu pintu kaca pantri tertutup rapat di belakang mereka, topeng keanggunan Nyonya Valen runtuh seketika.
Sebelum Cinta sempat menyalakan mesin espresso, Valen melangkah cepat dan langsung mencengkeram kasar pergelangan tangan Cinta, membalikkan tubuh wanita itu hingga punggung Cinta membentur tepi meja marmer pantri.
Sepasang mata Valen berkilat berapi-api, memancarkan gumpalan amarah, kepanikan, dan kecemburuan yang meledak-ledak.
"Apa-apaan ini, Cinta?!" desis Valen setengah berteriak dengan suara tertahan, napasnya memburu cepat tepat di depan wajah Cinta.
"Aku menyewamu dan membayarmu sepuluh miliar rupiah untuk menjadi umpan agar Maxim mengalihkan obsesinya dariku! Aku menyuruhmu menggodanya, bukan menyerahkan dirimu sepenuhnya sampai meletakkan meja kerjamu tepat di samping kursinya!"
Cinta tidak meronta. Dia hanya menatap pergelangan tangan-nya yang dicengkeram, lalu perlahan menaikkan pandangannya untuk mengunci manik mata Valen.
Rasa dongkol akibat perlakuan Maxim siang kemarin mendadak berganti dengan rasa jemawa. Ego berkelasnya tersenyum dalam hati melihat betapa paniknya wanita kalangan elit di hadapannya ini.
"Lepaskan tangan Anda, Nyonya Valen," ucap Cinta dengan nada suara yang sangat tenang, dingin, dan tertata rapi, sama sekali tidak terpengaruh oleh ledakan amarah Valen.
Valen menyentak tangannya kasar, melepaskan cengkeraman tersebut dengan napas yang masih memburu frustrasi.
"Jelaskan padaku, bagaimana bisa dalam waktu beberapa hari saja kamu sudah bisa masuk ke dalam ruangan pribadinya? Maxim itu pria yang sangat tertutup dan tidak pernah membiarkan siapa pun mengusik ruang privasinya! Tapi dia malah mengurungmu di sana seharian!"
Cinta mengusap pergelangan tangannya yang sedikit memerah, lalu bersandar santai di tepi meja marmer pantri. Dia menyilangkan kedua tangan di depan dada, menatap Valen dengan tatapan menilai yang amat tajam.
Kecurigaan yang dia bangun di dalam ruangan kerja Maxim tadi kini mulai dia susun menjadi senjata interogasi psikologis.
"Nyonya Valen, bukankah Anda seharusnya bersenang-senang dan merayakan keberhasilanku?" tanya Cinta dengan seringai miring yang penuh intrik di bibir merah menyalanya.
"Meja kerjaku dipindahkan ke dalam adalah bukti bahwa pesonaku bekerja terlalu baik pada suamimu. Sesuai perjanjian kita, aku sedang memancing seluruh perhatian dan rasa kepemilikannya agar dia melupakan Anda, bukan?"
Cinta melangkah maju satu tapak, mengikis jarak di antara mereka hingga Valen terpaksa mundur setengah langkah karena terintimidasi oleh aura dingin sang penipu.
"Tapi yang membuatku penasaran adalah reaksi Anda hari ini," bisik Cinta dengan nada suara yang sengaja ditekan rendah namun sarat akan ancaman terselubung.
"Anda datang ke sini membawakannya makan siang, lalu menyerangku dengan nada cemburu yang sangat nyata di depan Tuan Maxim. Reaksimu tidak terlihat seperti seorang istri trauma yang putus asa ingin melarikan diri dari suaminya yang posesif, Nona Valen."
Wajah Valen memucat samar mendengar analisis tajam dari Cinta. Dia mencoba membuang muka, namun Cinta menolak melepaskan mangsanya.
"Aku melihat sendiri bagaimana Tuan Maxim memperlakukan Anda di dalam sana. Dia sama sekali tidak peduli, dingin, dan mengabaikan Anda seolah Anda tidak ada," lanjut Cinta dengan senyuman licik yang semakin lebar, menguliti kebohongan targetnya satu per satu.
"Pria yang Anda sebut terobsesi gila kendali sampai membuat hidup Anda seperti di neraka, ternyata bahkan tidak sudi menatap wajah istrinya sendiri saat membawakannya makanan. Jadi katakan padaku, Nyonya Valen... kebohongan apa lagi yang sedang Anda sembunyikan dariku tentang alasan asli pernikahan bisnis ini?"
Ancaman investigasi psikologis dari Cinta membuat Valen terdesak mundur hingga punggungnya menabrak pintu kaca pantri. Bukannya menjawab pertanyaan tajam tersebut, kemarahan Valen justru mencapai puncaknya karena merasa dipojokkan oleh orang sewaannya sendiri.
Plak!
Suara hantaman yang begitu keras dan kasar bergema nyaring di dalam ruangan pantri yang sunyi. Valen mendadak melayangkan tangan kanannya dengan kekuatan penuh, menampar keras pipi kiri Cinta hingga wajah cantik wanita itu terlempar kasar ke samping. Kekuatan tamparan itu begitu brutal, membuat ujung bibir Cinta pecah dan mengeluarkan tetesan darah segar yang mengalir kecil di dagunya.
Cinta terdiam membeku. Kepalanya masih miring ke kanan, dan rambut hitam gelombangnya berantakan menutupi sebagian wajahnya. Sentuhan rasa perih yang berdenyut di pipinya membuat pasokan oksigen di otaknya mendadak tersendat selama beberapa detik karena syok yang amat sangat.
Valen melangkah maju, mencengkeram rahang Cinta dengan jemarinya yang dihiasi cat kuku mahal, memaksa wanita itu untuk menatapnya. Matanya berkilat penuh kebencian yang mendalam.
"Jaga bicaramu, Cinta!" desis Valen dengan nada suara yang sangat kejam, menekankan setiap kata dengan penuh penghinaan.
"Jangan pernah berani mendikteku atau mempertanyakan urusanku! Ingat posisimu, kamu itu murni cuma seorang penipu rendahan yang kubayar mahal menggunakan uangku! Lakukan saja tugasmu dengan benar untuk memancing Maxim, dan jangan pernah berani melanggar batas yang sudah kubuat!"
Valen menyentak kasar rahang Cinta, lalu berbalik dengan anggun. Tanpa memedulikan kopi yang tadi dia minta, Valen membuka pintu kaca pantri dengan sentakan emosi, lalu melangkah lebar pergi meninggalkan lorong eksekutif dengan kemarahan yang masih membara di dadanya.
Keheningan yang mencekam kembali menguasai pantri. Cinta masih berdiri mematung di tempat yang sama selama beberapa detik, menatap nanar ke arah lantai marmer di bawahnya. Perlahan, dia menegakkan kepalanya, merapihkan rambut hitamnya yang berantakan ke belakang bahu. Jemari lentiknya bergerak naik, menyeka tetesan darah segar di ujung bibirnya yang pecah dengan ibu jarinya.
Cinta menatap noda merah di ujung jarinya, lalu tiba-tiba... sebuah tawa getir yang pelan keluar dari tenggorokannya. Tawa itu terdengar sangat dingin, kosong, dan sarat akan dendam yang mendadak membakar habis sisa kesabarannya. Egonya yang tinggi merasa diinjak-injak sampai ke titik terendah oleh tamparan seorang wanita kalangan elit.
"Terima kasih... terima kasih sudah mengingatkan posisiku yang sebenarnya, Nyonya Valen," bisik Cinta dalam batinnya dengan seringai miring yang sangat mengerikan di bibir berdarahnya.
Matanya berkilat dengan kegelapan yang pekat. Kamu mengira bisa memperlakukanku seperti sampah setelah membayarku? Kita lihat saja nanti, saat aku berhasil merebut Maxim sepenuhnya, akulah yang akan menendangmu keluar dari lingkaran kemewahan ini tanpa menyisakan sepeser pun untukmu.
Cinta sama sekali tidak pernah menyadari, bahwa dari balik celah pintu kaca pantri yang sedikit terbuka di ujung koridor yang remang, sesosok pria dengan postur tubuh tinggi tegap sejak tadi sedang berdiri diam di sana.
Tuan Maxim menyaksikan seluruh kejadian itu dari awal hingga akhir di balik bayangan lorong yang sunyi. Sepasang mata hitam sang CEO menyipit tajam, berkilat dengan gelombang kemurkaan dan amarah posesif yang luar biasa dahsyat saat melihat bagaimana wajah cantik Cinta ditampar hingga ujung bibirnya mengeluarkan darah.
Rahang kokoh Maxim mengeras sempurna dengan urat-urat leher yang menegang kencang hingga mengepalkan tinjunya kuat-kuat di samping tubuh.
Milik eksklusifnya yang berharga baru saja disentuh dan dilukai oleh tangan kotor orang lain di depan mukanya sendiri, dan hal itu sukses memicu sisi iblis gila kendali di dalam dirinya untuk bangkit menghancurkan siapa saja yang berani mengusik sangkar emasnya.