NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 DARAH YANG MENDIDIH DAN LAUTAN QI YANG TERBANGUN

 

Lin Mo melangkah keluar dari gua tersembunyi itu. Cahaya matahari pagi menyinari tubuhnya yang tampak masih kurus dan lemah. Pakaian yang dikenakannya masih sama persis seperti saat ia masuk ke dalam gua itu. Lusuh, tipis, dan penuh tambalan. Namun siapa pun yang menatap matanya saat ini pasti akan merasa seakan sedang menatap mata yang berbeda dari pemuda yang sama sekali berbeda. Matanya yang dulu selalu tampak redup dan penuh kesedihan kini bersinar jernih dan tenang. Di kedalaman matanya yang gelap itu kini tersimpan kedalaman yang tak terukur dan ketenangan yang tak tergoyahkan seakan telah melihat ribuan dunia dan memahami kebenaran yang tak pernah diketahui orang lain.

Lin Mo berdiri diam di mulut gua. Ia perlahan merasakan perubahan yang terjadi di dalam tubuhnya. Lautan Qi yang dulu nyaris tak terlihat dan nyaris tak terasa keberadaannya di perut bawahnya kini perlahan berdenyut lembut namun jelas dan kuat. Lautan Qi itu belum besar dan belum luas. Namun lautan Qi itu kini jernih bagaikan air mata air yang belum pernah tercampur debu sedikit pun. Setiap kali ia menarik napas, lautan Qi itu perlahan bergelombang menyerap hawa murni dari udara di sekelilingnya, menyaring dan memurnikannya sebelum mengalirkannya menyusuri meridian yang sempit dan tersumbat di dalam tubuhnya. Aliran lautan Qi itu belum lancar dan belum deras. Di banyak tempat aliran itu masih terhambat dan tertahan. Namun lautan Qi itu mengalir dengan kemurnian yang belum pernah dimilikinya sejak lahir ke dunia.

Saat Lin Mo melangkah turun dari bukit menuju lembah tempat ia tinggal selama ini, ia bertemu dengan beberapa pemuda dari desa yang sedang berjalan membawa kayu bakar. Saat melihat Lin Mo yang berjalan mendekat, para pemuda itu serentak berhenti melangkah. Mereka saling berpandangan seakan tak percaya dengan apa yang dilihat mata mereka. Pemuda yang dulu lemah dan tak berdaya itu kini berjalan dengan langkah yang tenang dan tegak. Wajahnya tak lagi tampak tertunduk lesu dan penuh rasa rendah diri. Wajahnya tenang dan matanya jernih menatap lurus ke depan tanpa ada sedikit pun rasa takut atau rasa malu.

Salah seorang pemuda yang bertubuh kekar dan berwajah kasar melangkah maju menghadang jalan Lin Mo. Pemuda itu bernama Hu San. Ia adalah salah seorang yang paling sering mengejek dan menindas Lin Mo sejak kecil. Hu San menatap Lin Mo dari atas hingga ke bawah dengan tatapan merendahkan dan penuh ejekan.

Bukankah itu Lin Mo si sampah yang tak berguna ujar Hu San dengan suara yang keras dan penuh nada mengejek. Kudengar kau pergi menghilang beberapa hari ini. Kukira kau sudah mati dimakan binatang buas di dalam hutan. Ternyata kau masih hidup dan berani kembali. Aneh sekali. Kau yang lemah tak berdaya ini seakan baru saja pergi berkeliling menikmati pemandangan yang indah. Lihatlah wajahmu itu. Tak tampak sedikit pun takut atau sedih. Apakah kau sudah menyerah pada nasibmu yang tak akan pernah berubah itu. Atau mungkin kau sudah gila karena terlalu lama kesepian di dalam hutan.

Para pemuda yang berdiri di belakang Hu San serentak tertawa terbahak-bahak. Mereka menatap Lin Mo dengan pandangan merendahkan seakan Lin Mo hanyalah serangga kecil yang dapat mereka injak sesuka hati kapan saja. Bagi mereka Lin Mo tetaplah pemuda yang lemah tak berdaya, tanpa keluarga, tanpa kekuatan, dan tanpa masa depan yang cerah. Tak ada yang menyadari perubahan kecil namun luar biasa yang baru saja terjadi di dalam diri Lin Mo. Tak ada yang menyadari bahwa lautan Qi yang dulu nyaris tak ada di dalam tubuh pemuda itu kini telah terbangun dan mulai berdenyut jernih dan murni.

Lin Mo berhenti melangkah tepat di hadapan Hu San. Ia tidak menunduk dan tidak pula marah. Ia hanya menatap Hu San dengan pandangan yang tenang dan jernih tanpa ada sedikit pun kebencian atau kemarahan. Lautan Qi di dalam perut bawahnya berdenyut lembut dan tenang. Energi Qi belum mengalir keluar dan belum berubah menjadi energi spiritual. Namun tubuhnya secara alami memancarkan ketenangan yang membuat udara di hadapan Hu San seketika menjadi hening dan berat.

Aku tidak gila ujar Lin Mo pelan namun suaranya terdengar jelas dan tenang menembus tawa mereka yang masih tersisa. Dan aku tidak pernah menyerah pada apa pun. Pergilah. Aku tidak ingin menyakiti kalian.

Mendengar kata-kata itu, Hu San dan teman-temannya seketika terdiam dan tertegun seakan tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Lin Mo si lemah tak berdaya itu kini berbicara dengan nada tenang dan meminta mereka pergi seakan ia adalah tuan yang menyuruh hamba-hambanya pergi. Rasa malu dan marah seketika membakar dada Hu San. Wajahnya memerah karena amarah. Ia mengangkat tangan kanannya yang besar dan kekar lalu menampar keras ke arah wajah Lin Mo.

Bajingan! Berani kau bicara seperti itu kepadaku! teriak Hu San dengan wajah penuh kemarahan. Hari ini aku akan memberimu pelajaran agar kau tahu siapa dirimu yang sebenarnya!

Tamparan itu datang dengan cepat dan kuat. Bagi siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa Lin Mo pasti akan terhempas jatuh dan terluka parah seperti yang sering terjadi dulu. Namun saat telapak tangan Hu San hampir menyentuh wajah Lin Mo, lautan Qi di dalam perut bawah Lin Mo perlahan berdenyut sedikit lebih kuat dari biasanya. Energi Qi mengalir perlahan menyusuri lengan kanannya tanpa terburu-buru dan tanpa berlebihan. Energi Qi itu belum berubah menjadi energi spiritual dan belum memancarkan cahaya yang menyilaukan mata. Namun energi Qi itu mengalir dengan kemurnian yang belum pernah dimiliki sebelumnya.

Lin Mo sedikit memiringkan kepalanya ke samping dengan gerakan yang tenang dan tak terburu-buru. Tamparan keras itu meleset melewati telinganya dan terayun di udara kosong. Hu San terkejut dan kehilangan keseimbangan seketika. Tubuhnya terhuyung ke depan. Sebelum kakinya sempat kembali menapak kuat, Lin Mo perlahan mengangkat tangan kirinya dan meletakkan telapak tangannya secara lembut di dada Hu San.

Energi Qi yang mengalir di lengan kiri Lin Mo perlahan mengalir keluar dari telapak tangannya dan berubah wujud menjadi energi spiritual yang lembut namun padat dan murni. Energi spiritual itu tidak menyakiti dan tidak pula menghancurkan. Energi spiritual itu hanya mendorong perlahan namun membawa kekuatan yang tak dapat ditahan oleh tubuh biasa. Hu San merasakan dorongan yang lembut namun tak terelakkan itu. Tubuhnya seketika terangkat perlahan lalu terdorong mundur beberapa langkah hingga akhirnya jatuh terduduk di tanah yang berpasir.

Seluruh tawa dan ejekan seketika lenyap dari wajah para pemuda yang berdiri di tempat itu. Mereka menatap Lin Mo dengan mata terbelalak dan mulut ternganga tak percaya. Hu San yang kekar dan biasa berlatih bela diri setiap hari itu kini didorong jatuh oleh Lin Mo si lemah tak berdaya yang konon tak memiliki sebutir pun energi Qi di dalam tubuhnya. Dan yang lebih mengherankan lagi... dorongan itu tampak begitu lembut dan begitu tenang seakan Lin Mo sama sekali tidak menggunakan kekuatan sedikit pun.

Hu San bangkit berdiri dengan wajah pucat dan penuh ketakutan. Ia menatap Lin Mo seakan sedang menatap orang yang berbeda dari sebelumnya. Ia tidak merasakan kekuatan yang dahsyat dan menakutkan dari tubuh Lin Mo. Yang ia rasakan hanyalah ketenangan yang dalam dan kedalaman yang tak terukur seakan lautan yang tenang di permukaan namun menyimpan kedalaman yang tak terduga di bawahnya.

Kau... kau menggunakan sihir atau racun rahasia! teriak Hu San dengan suara yang sedikit bergetar karena takut. Tidak mungkin kau memiliki kekuatan seperti itu! Kau hanyalah sampah yang tak berguna!

Lin Mo berdiri diam di tempatnya. Wajahnya tetap tenang dan hatinya tetap damai. Lautan Qi di dalam perut bawahnya perlahan kembali berdenyut lembut dan tenang seperti sedia kala. Energi Qi yang tadi mengalir keluar dan berubah menjadi energi spiritual perlahan kembali masuk ke dalam tubuh dan menyatu kembali dengan lautan Qi yang berdenyut tenang di perut bawahnya. Ia tidak berniat melukai mereka dan tidak pula berniat memamerkan kekuatannya. Ia hanya tidak ingin ditampar dan tidak ingin menyakiti mereka yang dulu pernah menindasnya.

Aku tidak menggunakan sihir dan tidak pula menggunakan racun ujar Lin Mo pelan dan tenang. Aku hanya tidak lagi lemah seperti dulu. Pergilah. Jangan menghalangi jalanku. Dan jangan mencoba menampar orang lain dengan sembarangan. Karena tidak semua orang akan membiarkanmu melakukannya tanpa perlawanan.

Hu San menatap Lin Mo dengan pandangan yang bercampur antara rasa takut dan rasa malu. Ia tahu bahwa apa yang baru saja terjadi itu sungguh nyata. Namun ia tak sanggup menerimanya. Dengan wajah yang penuh rasa malu dan amarah yang tertahan, Hu San menoleh kepada teman-temannya lalu berbalik pergi dengan langkah tergesa-gesa. Para pemuda lainnya pun segera mengikutinya sambil terus menoleh ke belakang menatap Lin Mo dengan pandangan penuh keheranan dan ketakutan. Mereka merasa ada sesuatu yang telah berubah pada diri pemuda itu. Sesuatu yang kecil namun luar biasa penting dan tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Setelah mereka pergi menjauh, Lin Mo kembali melanjutkan langkahnya menuju desa. Ia tidak merasa bangga dan tidak pula merasa hebat. Ia hanya merasa sedikit lega karena kini lautan Qi di dalam tubuhnya akhirnya telah terbangun dan mulai dapat digunakan untuk melindungi dirinya sendiri. Ia tahu bahwa kekuatan yang baru saja ia miliki itu masih sangat kecil dan sangat lemah dibandingkan dengan para kultivator yang sesungguhnya. Namun lautan Qi-nya murni dan jernih. Dan itulah hal yang paling penting dari segalanya. Selama ia terus menjaga kemurnian lautan Qi-nya dan menjaga hatinya tetap jernih dan tenang... maka perlahan namun pasti ia akan semakin kuat dan semakin jauh melanggar di jalan kultivasi yang panjang dan sulit ini.

Lin Mo terus melangkah menuju desa. Cahaya matahari pagi menyinari tubuhnya yang kurus namun tegak dan tenang. Di dadanya, lautan Qi yang murni dan jernih itu terus berdenyut lembut dan abadi seakan menandakan bahwa perjalanan sejatinya baru saja dimulai. Dan tak ada yang tahu seberapa jauh pemuda yang dulu dianggap sampah dan lemah itu akan melanggar kelak.

 

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!