NovelToon NovelToon
Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:50.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.

Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.

Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.

Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu calon mertua

Disaat Azarin sedang merayakan cinta barunya. Berbeda dengan sang mantan suami yang masih dirawat di rumah sakit.

Setiap malam Nyonya Fanya menangisi nasib sang putra. Tidak tau kapan putranya akan sadar dari koma. Seperti seorang ibu yang begitu mencintai sang buah hati, jiwanya begitu rapuh melihat nasib putranya yang sangat tidak beruntung.

Bukan tanpa alasan Fajar bernasib seperti ini. Ia juga tau itu, bahwa putranya. Memang pantas mendapat karma.

Dan sebagai seorang ibu, ia hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuknya.

Nyonya Fanya tatap haru sang putra, mengelus pipi Fajar lembut. Lagi-lagi rasa sesak memaksa air matanya turun.

"Mau seperti apapun dunia memperlakukanmu, ingatlah bahwa ibu akan selalu berada di sisimu, Fajar."

Nyonya Fanya tidak pernah hengkang dari sisi sang putra. Ia akan selalu menjaga dan menemani hingga Fajar siuman.

Sementara Fajar. Dia sudah sadar, bahkan dari beberapa jam yang lalu. Namun sangat lelah jika ia harus berurusan dengan dunia. Dan memilih untuk sedikit melonggarkan hati agar lebih tenang.

Hanya diam, menatap langit-langit di atas kosong saat tidak ada siapa-siapa. Lalu berpura-pura tidur saat sang ibu menjaganya semalaman.

Masih ada sisa sesak dalam hatinya. Rasa sesak yang begitu menyakitkan. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tidak ingin berada di posisi ini.

Andai waktu bisa kembali ke masa persidangan. Ia pasti akan memilih memohon dan berlutut di kaki Azarin agar tidak ditinggalkan.

Namun penyesalan, tetap penyesalan. Yang bisa Fajar lakukan sekarang hanya mencoba untuk ikhlas, dan menata hidup jauh lebih baik.

Sudut bibirnya tertarik tipis, bersama air mata yang meleleh di pelupuk mata. Fajar tersenyum.

"Berbahagialah Azarin. Dengan siapapun kamu, aku tidak akan lagi memaksamu. Aku akan mendukung setiap langkahmu, dan menjadi pelindung dibalik bayangan untuk putri kita." batin Fajar dengan berlinang air mata.

"Ma."

Mendengar suara sang putra memanggil. Nyonya Fanya yang tengah tertidur itu langsung terbangun, bangkit dengan gugup.

"Fajar...?"

Nyonya Fanya tersenyum haru melihat putranya sudah membuka mata, ia raih kedua pipi sang putra. Tangisnya semakin histeris.

"Fajar putraku!! Akhirnya kamu siuman juga sayang....!"

Tak terbendung rasa syukur di hati sang ibu yang mendambakan kesembuhan sang putra. Ia peluk Fajar penuh rasa syukur.

"Sayang putraku, hiks! Putraku..."

Nyonya Fanya cek sekujur tubuh Fajar dari atas sampai bawah. Tak membiarkan putranya mendapatkan luka yang tidak diketahui.

Senyum tipis nan rapuh terpancar di bibir pucat Fajar. Pria itu raih kedua tangan ibunya lembut, menggenggamnya erat.

"Ma...terimakasih sudah selalu berada di sisi putramu yang bodoh ini."

Nyonya Fanya menangis seraya memeluk sang putra erat. Melihat putranya mengucapkan dengan suara yang gemetar begitu menyakitkan di dengar.

"Tidak putraku....kamu putraku, mama akan selalu berada di sisimu apapun yang terjadi. Mama...hiks, mama...." Nyonya Fanya tak sanggup menahan air matanya.

Disaat putranya hampir sekarat, Ia justru mendengar Fania sudah mulai menjalin asmara dengan pria lain.

Ia tidak tau harus berbuat apa. Rasanya takut sekali jika putranya sampai tau ketidak pedulian mantan istrinya. Ia takut, kesehatan Fajar akan semakin memburuk nantinya.

"Fajar, mantan istrimu..." Nyonya Fanya tutup mulutnya kuat, menahan tangis.

Fajar raih pipi sang mama lembut, menghapus air mata ibunya perlahan. Melihat ibunya menangis jauh lebih menyesakkan daripada melihat Fania bersanding dengan pria lain.

Ia menggeleng lemah, "Ibu jangan khawatir, aku sudah tidak memikirkan wanita itu lagi."

Setidaknya ucapan sang putra sedikit memberi rasa lega dalam hatinya. Sang ibu peluk putranya erat, menangis sesegukan.

"Sembuhlah, Fajar. Masa depanmu masih cerah. Mama sudah berfikir matang, Fajar. Tentang Azarin, biarkan Azarin memilih pria yang ia cintai."

Hening.

Entah mengapa mendengarkannya langsung dari sang ibu sesaknya menjadi berkali-kali lipat. Namun Fajar tak marah. Apa yang ibunya ucapkan benar.

"Iya, Bu. Aku gaakan ganggu hidup Azarin lagi. Tapi, aku cuma ingin putriku tau siapa ayah kandungnya, Bu."

Bu Fanya mengangguk dengan tangis histeris, mengusap air mata di pelupuk mata sang putra.

"Maka memohonlah, Fajar. Memohon meski kamu diusir berkali-kali. Berilah nafkah untuk putrimu, sayangi ia seperti ibu menyeyangimu, yah?"

Tangis mereka berdua pecah bersamaan. Ada rasa sesak, namun rasa lega jauh lebih mendominasi.

Meski ikhlas itu berat. Masih ada waktu untuk membenarkan yang hancur. Pelan, dan perlahan. Semua ada waktunya. Dan Fajar yakin Tuhan masih memberinya hidup agar ia bisa memperbaiki apa yang harus diperbaiki.

"Mia, putriku. Tunggu papa yah, nak."

****

Sudah tiga hari berlalu sejak pesta itu. Kini hubungan Dean dan Azarin semakin dekat.

Dari jalan bareng, makan bersama bareng. Hingga kini waktunya Dean membawa Azarin menemui orang tuanya.

Ada rasa gugup dalam hati. Namun ia yakin ibunya akan menerima Azarin, apapun latar belakang dan kondisi wanita itu.

Dean menoleh ke samping, dimana Azarin berada di sisinya, menatap pias bangunan megah di depan matanya.

Genggamannya semakin erat di tangan Dean. Ia tau calon istrinya ini sedang gugup.

Pandangannya beralih ke arah Mia yang berada di pelukannya. Untuk sejenak ia bisa tersenyum lega. Melihat Mia dengan ekspresi yang berubah-ubah itu cukup membuat Dean gemas.

"Bismillahirrahmanirrahim..."

Dean beranikan diri melangkah ke dalam dengan Azarin di gandengannya.

Dapat Dean rasakan getaran kecil di genggaman mereka. Rasa gugup dan takut di tolak itu benar-benar mengusik hati Azarin.

"Ya tuhan, apa aku akan di terima?" batin Azarin gugup.

Genggaman tangan itu berubah menjadi rangkulan lembut, "Tenang saja, Azarin. Mama pasti menerimanya." bisik Dean di telinga sang calon.

Azarin menoleh, memaksakan senyumnya terbit. Anggukan kecil tapi ragu setidaknya sedikit membuat Dean tenang.

"Duduklah."

Dean persilahkan Azarin untuk duduk, lalu meletakkan Mia kecil di samping ibunya.

Pria itu tatap ujung tangga yang masih kosong.

"Ma..." panggil sang putra.

"Iya sebentar sayang!" seru ibu dari lantai atas.

Mendengar suara lantang ibunya Dean saja sudah membuat bulu kuduk Azarin terjingkit, merunduk dalam.

Rasa gugup dan takut menjalar hingga tak terbendung. Beribu tanda tanya muncul di benak Azarin.

Apa ia akan di terima, apa putrinya juga akan diterima.

"Setidaknya aku harus menyiapkan mental jika ditolak."

Sebisa mungkin Azarin tidak berharap lebih. Bahkan mendirikan benteng kokoh agar apapun yang mamanya Dean ucapkan nantinya, tidak terlalu menyakiti dirinya dan sang putri.

"Tahanlah, Azarin. Semua akan baik-baik saja." batin wanita itu lagi.

"Mama turun sayang! Mana calon menantu mama?!" seru Nyonya Diana berlari kecil menuruni tangga.

Senyumnya merekah lebar melihat seorang wanita duduk di sofa ruang tamu mereka. Namun tanda tanya besar muncul di kepalanya.

Siapa anak kecil itu?

1
Rahma Inaya
azrin jgn lagi km menoleh keblkng ttp kedepan masa.depn menantimu .biarkn fajr mau masuk rumh sakit mau depresi krn tu mmg pantas utk dia
Rahma Inaya
karma mu di bayr kontan fajar ..
Rahma Inaya
malu sendri fajr dpt istri sdh speak bidadari di lepas malah milih yg mirip ondel2
Rahma Inaya
ank kecil aja tau riasan mirip ondel2 .sekrg km menyesal fajar klu azrin bs bahgia tnp mu dan mendptkn calon suami lebih kaya dr km fajr
Rahma Inaya
hahaha ank kecil aja tau klu riasan mirip ondel2
Rahma Inaya
papa baru bs membahagikan mia melebihi papa kandung nyq
Rahma Inaya
semoga ibu nya dean merestui hub dean dan azrin
Rahma Inaya
semoga ibu nya dean merestui hub dean dan azrin
Rahma Inaya
dean akn syg dan tulus ttm mia malh kasih sayg nya nnt tdk di dpt dr ayah kandung nya fajar yh mn tega mau buang mia ke panti asuhan demi mau nikahi pelakor rela buang istti dan anknyq
Rahma Inaya
ya ..cr azrin krn istri muda mu gk bs hamil dan ibu mi sllu merengek mnt cr smpe ktm azrin dan mia coba klu km punya ank dr pelakor mn mkn km cr2 azrin dan mia tuhan tu adil karma di bayr dgn kontan
Rahma Inaya
awas azrin hati2 nnt fajar ambil hak asuh mia .mknya km hrs perawatn seridknya utk dr mu sendri bkn utk orng lain
Rahma Inaya
semoga dean berjodoh dgn azrin
Rahma Inaya
makasih thor terkabul doa ku istti ke dua gk bs punya ank .sdh punya ank cantik,gemes dan lucu mau di buang ke panti sekrg kena karma allah murka gk guna hidup kaya tp ank gk punya
Rahma Inaya
wanita kedua yg km jadikan istri blm lama km nikahi sdh byk ngatur km akn menyesal sdh menyiak nyiakan azrin moga di pernikahn kedua mu ssh dpt punya ank
Rahma Inaya
good azrin wanita pintr biar aja dia.selingj yg pentg aset beharga ada di tangan mu pergi sejauh mingkin
Rahma Inaya
bawk semua yg beharga yg mmg hak km azrin tglkn suami kang singkuh
Cicih Sophiana
serba salah ya Nay..
Maria Magdalena
itu tante menor tante jalang mia tante murahan yg maunya harta doang 😁 tante mata duitan.
Cicih Sophiana
betul itu rumah di jakarta gak semurah di kampung Nay...
Cicih Sophiana
selama 7 tahun Dean setia menanti yg belum pasti bertemu kembali...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!