NovelToon NovelToon
My Ashford Side

My Ashford Side

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.

Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.

Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.

Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.

Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.

Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#4

Sudah Bonna duga kalau Dorris tidak akan memberikannya banyak waktu untuk bersantai.

Janji manis detektif itu tentang kamar hotel yang nyaman hanyalah jeda singkat untuk bernapas, bukan fasilitas untuk memanjakan diri.

Bonna hanya dibiarkan menikmati empuknya ranjang hotel selama satu malam saja. Pagi ini, saat mata Bonna baru saja terbuka dan sinar matahari tipis menembus celah gorden, Dorris sudah berdiri di dalam kamarnya.

Pria itu datang membawa tiket pesawat menuju Texas. Semuanya sudah siap; dokumen, penerbangan, hingga jadwal ketat yang telah diatur rapi. Bonna hanya perlu membawa dirinya dan mengikuti semua instruksi tanpa banyak tanya.

°°

Sesampainya di Texas pun, La Bonna tidak mendapatkan waktu istirahat sedikit pun setelah melewati penerbangan yang cukup melelahkan. Tubuhnya yang belum pulih sepenuhnya makin terasa pegal.

Begitu mendarat, La Bonna langsung dibawa oleh Dorris menuju sebuah hotel lain di pusat kota. Di sana, seorang wanita paruh baya bersenjatakan tas makeup berukuran besar sudah menunggu kedatangan mereka di dalam salah satu kamar.

Tanpa sepatah kata pun, wanita itu meminta Bonna duduk di depan cermin rias. Selama hampir dua jam, ia merias Bonna sedemikian rupa.

Yang paling krusial dari tugas wanita itu adalah menutupi lebam-lebam keunguan pada tubuh La Bonna—mulai dari bahu, leher, hingga tulang pipinya—menggunakan ramuan foundation dan concealer tebal bernuansa waterproof.

Melihat dirinya sendiri didandani dengan gaun malam yang minim dan polesan riasan yang menonjolkan keindahan mata serta bentuk bibirnya, La Bonna mulai menduga-duga. Tugas yang akan Dorris berikan padanya mungkin saja adalah menggoda seseorang.

Namun yang jadi pertanyaannya sekarang: Siapa yang akan La Bonna goda?

Dorris tidak akan mungkin mau repot-repot membebaskan La Bonna beserta ibunya dari hukuman penjara, memalsukan dokumen, dan menerbangkannya melintasi negara hanya demi menggoda pria jelata.

Jika La Bonna memang ditugaskan untuk memikat seorang laki-laki, pasti laki-laki itu bukanlah orang sembarangan. Seseorang yang sangat berkuasa, atau mungkin sangat berbahaya.

Ceklek!

Suara pintu kamar hotel tempat La Bonna dirias oleh wanita suruhan itu mendadak terbuka. Dorris muncul di ambang pintu dengan wajah datarnya yang kaku.

"Apakah sudah selesai?" tanya Dorris melangkah masuk ke dalam kamar hotel tanpa mau repot-repot menutup pintu kembali.

"Cepat, kita tidak punya banyak waktu," ucap Dorris seraya mengarahkan telunjuk jarinya pada Bonna yang masih duduk membelakanginya di depan meja rias.

Saat La Bonna berdiri dan berbalik menghadapnya, langkah Dorris mendadak terhenti. Pria itu terlihat seperti tertegun, seolah-olah ada sesuatu yang mendadak muncul di pikirannya saat melihat penampilan baru La Bonna.

Sorot matanya menajam, mengevaluasi setiap senti lekuk tubuh dan potongan rambut baru sebahu milik Bonna. Namun, itu pasti bukan rasa terpesona. Raut wajah Dorris justru terlihat menegang dan menyiratkan amarah yang tertahan saat menatap La Bonna.

La Bonna sempat berpikir kalau dandanannya kurang menarik di mata pria itu, atau mungkin luka-lukanya masih membayang. Namun, Dorris tidak menyuruh si penata rias untuk merubah dandanannya. Pria itu justru kembali menggerakkan jarinya, mengisyaratkan perintah dingin agar La Bonna cepat mengikutinya keluar dari kamar tersebut.

Di dalam lift yang bergerak turun menuju area parkir bawah tanah, Dorris menoleh ke arah La Bonna setelah menekan tombol lantai dasar. Suara berdenging pelan dari mesin lift menemani kata-katanya.

"Kau akan ikut seorang perempuan. Dia akan membawamu ke suatu tempat sebagai stripper pengganti... dan pakai ini," ucap Dorris seraya menyodorkan sebuah alat earpiece kecil berwarna warna kulit ke tangan La Bonna.

Kening La Bonna mengernyit saat menatap benda mungil di telapak tangannya. Itu adalah alat komunikasi tersembunyi yang biasa ia lihat di film-film action yang pernah ditontonnya dulu.

Melihat benda itu, La Bonna jadi semakin yakin kalau tugas yang akan ia jalankan ini bukan sekadar penyamaran biasa, melainkan sangat berbahaya.

Tapi persetan soal bahaya. Di dalam penjara, dimusuhi dan dipukuli oleh hampir semua penghuni lapas juga sama bahayanya. Pilihan La Bonna saat ini hanya ada dua: mati membusuk di lapas, atau mati di luar sana demi menjalankan tugas dari Dorris. Setidaknya pilihan kedua memberinya peluang untuk menang.

"Kau tidak mengerti cara memakainya? Aku bisa membantumu kalau kau mau," kata Dorris kemudian, mengulurkan tangannya hendak mengambil kembali alat itu.

La Bonna sontak menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tidak butuh bantuan Dorris hanya untuk menekan masuk benda kecil itu ke dalam lubang telinganya. Tanpa ragu, Bonna menyelipkan earpiece tersebut hingga terpasang sempurna dan tersamar di balik helai rambut sebahunya.

Tiiing.

Pintu lift terbuka. La Bonna melangkah cepat mengikuti jejak langkah Dorris yang keluar dari lobi hotel menuju pelataran parkir yang redup. Dorris berjalan mendahuluinya, lalu membukakan pintu belakang sebuah sedan hitam yang kacanya dilapisi kaca film ekstra gelap.

Di dalam mobil tersebut sudah duduk seorang wanita berpenampilan serba hitam lengkap dengan kacamata gelapnya. Wanita itu menoleh, menurunkan sedikit kacamata hitamnya seraya menatap ke arah Dorris dan Bonna secara bergantian.

"Dorris, ini terakhir kalinya aku terlibat soal obsesimu itu," kata wanita itu dengan suara gemetar yang ditahan. "Ke depannya aku tidak akan bisa terlibat lagi. Kamu mungkin tidak takut dengan Nolan, tapi aku takut! Laki-laki itu bisa saja menggorok leherku dengan belati kesayangannya jika dia sampai tahu apa yang kita lakukan!"

Dorris yang mendengarkan celoteh ketakutan wanita itu hanya tersenyum tipis. Wajahnya tetap tenang tanpa dosa.

"Ini untuk yang terakhir kalinya, Elisabeth," sahut Dorris pendek.

Tanpa membuang waktu lagi, Dorris menutup pintu mobil dengan keras, meninggalkan La Bonna di dalam kabin bersama wanita bernama Elisabeth tersebut.

Sedan itu langsung melaju membelah jalanan kota Texas yang mulai dipenuhi lampu-lampu neon.

Di dalam mobil yang mengarungi malam, Elisabeth menoleh ke samping, menatap Bonna dengan pandangan menilai.

"Siapa namamu?" tanya Elisabeth.

La Bonna tidak menjawabnya. Ia hanya menatap lurus ke depan dengan rahang terkunci.

Melihat sikap dingin itu, Elisabeth mendesis seraya membetulkan kacamata hitamnya. "Tidak usah berkenalan. Lagipula kuharap kita tidak akan bertemu lagi di masa depan."

Mobil terus melaju membelah keramaian kota hingga akhirnya melambat dan berhenti di area belakang sebuah bangunan megah bertuliskan Velvet Noir.

Kota Texas memang terkenal dengan rumah hiburannya, dan klab malam Velvet Noir ini sekilas tampak tidak ada bedanya dengan rumah hiburan kelas atas lainnya dari luar—penuh gemerlap lampu neon merah-keemasan, deretan mobil mewah yang mengantre, dan dentuman musik bass yang bergetar hingga ke jalanan.

Namun, atmosfer di sekitarnya menyimpan aroma bahaya yang pekat.

Pintu mobil terbuka.

"Kau ikut aku," kata Elisabeth singkat sambil memegang lengan La Bonna dan memandu langkahnya.

Elisabeth tidak membawa Bonna masuk melalui pintu utama tempat para tamu kaya berkumpul, melainkan menyusuri lorong samping yang gelap dan masuk melalui pintu besi bertuliskan Staff Only.

Baru beberapa langkah melangkah masuk ke dalam lorong bagian dalam, seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, berpakaian serba hitam dan berkulit gelap, mendadak mengulurkan tangannya yang kekar, menghalangi langkah Elisabeth dan La Bonna.

"Siapa wanita ini, Elis?" tanya pria penjaga itu dengan suara berat yang menggelegar. "Kau tahu kan kau tidak bisa membawa sembarangan orang kemari selain pekerja resmi?"

Elisabeth melipat tangannya di dada, mencoba tampil tenang walau matanya menyiratkan kecemasan. "Apa kau lupa kejadian kemarin? Seorang stripper jatuh saat melakukan pole dance dan kepalanya terluka parah sampai memerlukan sepuluh jahitan! Aku membawa penggantinya malam ini. Aku sudah bilang padamu kemarin!"

Namun, pria berpakaian hitam itu tetap kukuh pada posisinya. Ia menggeleng tegas. "Tapi Tuan Nolan bilang kau tidak boleh membawa pekerja baru tanpa persetujuannya secara langsung."

Elisabeth menghembuskan napas kasar, memutar matanya dengan raut wajah ngotot. "Apa kau pikir aku bodoh? Apa kau pikir aku akan berani membawa orang asing kemari tanpa persetujuan Nolan?"

Penjaga berbadan kekar itu terlihat ragu-ragu. Garis wajahnya menunjukkan keraguan yang mendalam. "Tapi Tuan Nolan tidak memberitahu saya kalau akan ada pekerja baru yang datang menggantikan slot malam ini..."

"Lalu kau mau menghalangi wanita ini masuk ke dalam sampai Nolan kemari?!" potong Elisabeth dengan nada suara naik satu oktav. "Kau mau posisi stripper kekurangan pekerja di panggung utama begitu? Apa kau mau menggantikan posisi yang kosong sebagai stripper di atas tiang sembari menunggu Nolan datang?"

Penjaga tersebut tampak sangat bimbang. Ia berada di persimpangan jalan antara membiarkan dua wanita itu masuk atau menahannya sampai pemilik klab datang. Namun, jam pertunjukan utama sudah tinggal hitungan menit dan musik di panggung luar sudah makin bergemuruh.

Tanpa pikir panjang lagi, pria itu akhirnya mengibaskan tangannya. "Baiklah, silakan masuk."

Ia membiarkan kedua wanita itu lolos dibandingkan harus memicu keributan di pintu staf.

Lagipula, pria itu tidak punya uang atau nyawa untuk mengganti kerugian jika Tuan Nolan murka karena pelanggan VIP Komplain atas kurangnya penari di atas panggung.

Kemarin malam saja, Tuan Nolan sudah marah besar akibat ulah stripper yang mengacau di saat pelanggan tengah menikmati hiburan. Penari yang kemarin itu tergelincir dari tiang dansanya dan terluka hingga membuat banyak pelanggan protes karena pertunjukan menjadi berantakan dan tidak seanggun biasanya.

Setelah berhasil melewati penjaga pintu, Elisabeth membawa Bonna menyusuri lorong-lorong sempit beraroma parfum Mahal dan asap rokok. Ia mengarahkan Bonna ke sebuah pintu ganda tebal, mendorong Bonna masuk ke dalam ruang ganti utama.

"Tugasku hanya sampai di sini saja," bisik Elisabeth di dekat telinga Bonna, matanya bergerak gelisah ke sekeliling. "Aku hanya bertugas membawamu kemari. Setelah ini, jadi urusanmu dan Dorris."

Tanpa menunggu balasan dari Bonna, wanita itu berbalik cepat dan menghilang di balik lorong, meninggalkan Bonna seorang diri di tempat terkutuk itu.

Bonna berdiri mematung di tengah ruangan ganti yang luas namun terasa sesak. Di dalam ruangan itu, ada belasan wanita dan pria berpakaian sangat minim.

Suasana di sana sangat riuh; ada yang sedang memoles riasan tebal, menyemprotkan glitter ke kulit mereka, hingga menyesuaikan kostum panggung yang ketat.

Semua orang tengah sibuk bersiap untuk sebuah pertunjukan malam yang panas di bawah kekuasaan sosok bernama Nolan—pria yang baru saja disebut sebagai ancaman mematikan.

Di balik rambut sebahunya, earpiece kecil di telinga Bonna mendadak berdesis pelan, menyalurkan suara dingin Dorris dari kejauhan: "Kau sudah di dalam, Bonna. Lakukan Tugasmu."

......................

Mohon dukungannya untuk meninggalkan Komentar sebanyak-banyaknya Kaa Readers 🌷

1
Yusry Ajay
ditunggu updatenya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kaa🫶
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
nah lho gak semudah itu dariush di kalahkan🤣
Rosdianah 🌷: Hahahaha Pria iblis memang agak lain🤭🤣
total 1 replies
Nita Nita
brian gimana nasibnya 🤔
Nita Nita
pasti pd merinding sebadan2 😰
Rosdianah 🌷: wkwkwkw🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up trus ya Thor 💪💪🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳 siap kaa
total 1 replies
Debu Nakal
semenjak terpikir olehku akan ada adegan slow living tahu2 udah dibuat dari der dor sama othor 😵
Rosdianah 🌷: wkwkw semoga suka ya kaa🤭 boleh saran dan masukannya ya kaa, author terima🫠
total 1 replies
Asriani Rini
Lanjut 🙏🏻🙏🏻❤️
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Kok q jd kasihan sama duarius yaa,,, 🤔🤔🤔🤔
Rosdianah 🌷: Dariush butuh disemangati Kaa Readers 🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Astogeeee,,, duarius ikutan kabur! 😌
Nita Nita
makin panas ini,, lanjut kak😍💪
Rosdianah 🌷: Uhuuuuuiii siap kaa🥳
total 1 replies
Nita Nita
waduh waduh. apa lg lg ini 🤔
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪💪
Rosdianah 🌷: siap makasih ya kaa
total 1 replies
Yusry Ajay
deg...deg...bgt Thor 🤗
pika shu
next thor
Rosdianah 🌷: siap kaa
total 1 replies
Debu Nakal
next... next... next...
Rosdianah 🌷: siap kaa🫶
total 1 replies
Debu Nakal
ahhhh... jadi suka 🥰
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
brarti korban aslinya dariush dong korban konspirasi lucifer dll😭😭 dan nanti kalo bona punya kesempatan buat bunuh dariush pasti gak bakal bunuh sih 🤭
Rosdianah 🌷: Huhuhu Ditunggu kelanjutannya kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
alurnya seruu kak😭tp kasian nolan jg atau dariush😭
Rosdianah 🌷: Semoga suka kaa ya🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
sedih bangett kak jadi Bona 😭😭
Mia Camelia
kok jadi kasian sama nolan yaa🤭🤭🤭,di kelilingin pengkhianat semua.
semoga la bonna gk jadi kabur🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!