karena ambisi untuk menjadi kaya, seseorang rela menukar bayinya dengan bayi dari pria masa lalunya....
yuk ikuti kisah nasib bayi yang di tukar...
akankah berakhir bahagia atau semakin menderita....
Assalamualaikum....
masih biasa, bertemu lagi dengan Author receh... yang masih asal njeplak kalau bikin cerita... tanpa memikirkan plot dan twist...asal ngalir saja di pikiran...
yang masih setia dengan cerita-cerita author,mohon dukungannya... yang tidak suka , bisa di skip tanpa meninggalkan bintang satu....
dukungan kalian, adalah motivasi author...
terimakasih...
salam sehat selalu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Ketegangan di pintu kedatangan Bandara Soekarno-Hatta semakin memuncak. Seina berdiri dengan kaku, jantungnya berpacu hebat bukan karena rasa rindu pada mertuanya, melainkan karena rasa takut yang mulai menjalar. Kalimat Kakek Harison tentang mata Maudi yang mirip Ambar adalah alarm bahaya baginya.
"Papa, biar Eliza saja yang duduk di mobil bersama Papa dan Kakek," ucap Seina berusaha memperbaiki situasi. "Maudi biar ikut Saka naik mobil lain bersama asisten Papa. Maudi kan masih kotor bekas naik angkot tadi, nanti kursi mobil Kakek kotor."
Kakek Harison menoleh dengan tatapan yang sangat tajam, membuat Seina bungkam seketika. "Seina, aku tidak peduli soal kursi mobil yang kotor. Hati yang kotor jauh lebih berbahaya. Maudi tetap di sini. Eliza, kalau kau tidak mau satu mobil dengan saudaramu sendiri, silakan cari kendaraan lain."
Eliza menghentakkan kakinya dengan emosi. "Kakek pilih kasih! Kenapa Kakek membela monster ini?!"
"Eliza! Jaga mulutmu!" Doni membentak putrinya. Ia merasa sangat malu di depan ayahnya. "Cepat masuk ke mobil belakang , Kalau tidak,Papa akan meninggalkan mu di Bandara, biarkan kamu di culik!" Ancam Doni tidak main-main, itu cara yang mudah, mengingat Eliza adalah putrinya yang penakut..
Saka menarik lengan Eliza" Ayo masuk...." Sementara itu, Maudi dengan tenang mulai mendorong kursi roda Kakek Harison menuju parkiran VIP. Di balik cadarnya, ia memantau layar kecil di jam tangannya. Akhirnya mereka memutuskan untuk satu mobil di mobil yang besar, karena tidak ada yang mau mengalah.
____
Sementara itu, di depan toilet wanita, dua pengawal berbadan tegap masih berdiri seperti patung. Mereka telah menunggu hampir lima belas menit, namun gadis cantik bersyal pink yang mereka cari tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Laki-laki misterius yang duduk di ruang tunggu mulai kehilangan kesabarannya. Ia berdiri, merapikan jas abu-abu gelapnya, lalu berjalan mendekat.
"Tuan, belum ada tanda-tanda gadis itu keluar. Hanya ada beberapa wanita paruh baya dan seorang gadis bercadar yang baru saja keluar tadi," lapor salah satu pengawal.
Laki-laki itu menyipitkan matanya. Ia mengingat kembali pertemuan singkatnya tadi. Gadis bersyal pink itu memiliki aroma parfum oud yang sangat langka dan berkelas, bahkan ia yang anti bakteri saja sampai menghirup aroma itu dalam-dalam, Padahal Maudi tidak memakai parfum apapun, ia hanya membuat sabun khusus untuk di pakai sendiri dengan aroma alami dari bunga.
"Gadis bercadar?" gumamnya pelan. Ia menoleh ke arah pintu keluar dan melihat sosok Maudi yang sedang mendorong kursi roda dari kejauhan. "Mustahil dia berubah secepat itu... tapi, bandara ini memiliki protokol keamanan yang ketat. Tidak mungkin dia hilang ditelan bumi."
Ia mengeluarkan ponselnya, menekan sebuah nomor. "Cari data penerbangan dari Swiss atas nama gadis muda yang memakai syal pink hari ini. Jika tidak ada di manifes, cek semua rekaman CCTV toilet zona VIP. Aku ingin tahu siapa dia sebenarnya."
Di dalam mobil mewah milik Kakek Harison, Maudi duduk di samping kakeknya. Doni duduk di depan bersama sopir pribadi Kakek. Sementara di belakang, Seina dengan wajah pucat, Eliza dengan wajah kesal serta Saka duduk saling berdesakan....Sepanjang jalan, Kakek Harison tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Maudi yang tertutup sarung tangan hitam.
"Maudi," panggil Kakek lembut. "Kenapa tanganmu kasar sekali, Nak.. walaupun kau memakai sarung tangan,tapi ini sangat terasa? Apa yang kau lakukan selama di pesantren?"
Maudi menunduk, ia menggunakan suara yang dibuat sedikit serak. "Maudi sering membantu di dapur umum dan mencuci pakaian sendiri, Kakek. Pesantren mengajarkan Maudi untuk mandiri."
Doni yang mendengar itu merasa dadanya sesak. Padahal uang yang kukirim sangat cukup untuk dia hidup mewah di sana. Kenapa dia harus bekerja kasar, Apa Maudi berbohong hanya ingin belas kasihan?' batin Doni. Ia tidak tahu bahwa uang itu tidak pernah sampai ke tangan Maudi karena dicegat oleh Seina.
Sementara itu, Seina yang berada di belakang bersama Eliza dan Saka, terus mencoba menghubungi Bram. Tangannya gemetar.
"Ma, kenapa sih? Mama dari tadi gelisah terus," tanya Saka curiga.
"Nggak apa-apa, Saka. Mama cuma... cuma pusing. Eliza, diamlah, jangan terus-terusan mengeluh soal Maudi!" bentak Seina karena sarafnya sudah hampir putus.
Seina melihat ke luar jendela. Ia melihat sebuah truk boks logistik lewat di samping mobil mereka. Ia tidak tahu, bahwa di dalam truk itulah, tiga anak buah kepercayaannya sedang terkapar pingsan dan menuju gudang interogasi milik gadis monster yang sedang duduk manis bersama kakeknya.
Saat mobil memasuki area perumahan elit, Maudi diam-diam menekan tombol di ponselnya yang disembunyikan di balik khimar.
"Lakukan interogasi tahap pertama. Aku ingin rekaman pengakuan mereka soal penukaran obat jantung itu selesai sebelum jam makan malam. Kirim ke server rahasia M-1," ketik Maudi dengan cepat.
Sebuah balasan masuk "Siap, Nona. Tawanan mulai siuman. Mereka tampak ketakutan."
Maudi tersenyum dingin. Di sampingnya, Kakek Harison tampak tertidur lelap karena kelelahan, namun tangannya masih menggenggam tangan Maudi.
"Aku tidak jadi kesana, aku serahkan semuanya pada kalian".
''Ibu Seina... kau pikir kau sudah menang dengan membawaku pulang untuk dihina? Kau salah. Kau baru saja membawa singa masuk ke dalam sarangmu sendiri,'' batin Maudi sambil menatap gerbang mansion yang mulai terlihat.
Di sisi lain kota, laki-laki misterius tadi yang ternyata adalah Rasya, seorang pengusaha muda yang sangat perfeksionis menatap layar tabletnya.
___
Rasya , si pria paling higienis melangkah keluar dari area bandara dengan aura yang membuat orang-orang di sekitarnya secara insting memberi jalan. Ia tidak hanya tampan, ia adalah definisi dari presisi dan sterilisasi. Di tangannya, ia mengenakan sarung tangan kulit tipis yang sangat mahal, dan di saku jasnya, selalu tersedia cairan sanitasi khusus medis.
Baginya, dunia ini adalah tempat penuh kuman, bakteri, dan kekacauan. Namun, insiden tabrakan tadi telah merusak ritme hidupnya yang sempurna.
"Tuan Rasya, , kami sudah memeriksa seluruh pangkalan data manifes penerbangan internasional," lapor asistennya, seorang pria bernama Kevin yang juga memakai masker medis demi kenyamanan tuannya. "Gadis bersyal pink itu tidak terdaftar di penerbangan mana pun yang mendarat dalam rentang waktu dua jam terakhir."
Rasya berhenti melangkah. Ia mengeluarkan sehelai sapu tangan dan menyeka bagian dadanya yang tadi bersentuhan dengan bahu Maudi, meskipun gadis itu terlihat sangat bersih dan modis.
"Tidak mungkin. Dia tidak mungkin muncul dari udara tipis, dia sudah berani mengotori Pakaian ku seperti Bakteri," suara Rasya terdengar rendah dan dingin. "Cek rekaman CCTV secara manual. Perhatikan setiap inci gerakan gadis itu dari saat dia menabrakku sampai dia masuk ke toilet."
"Sudah kami lakukan, Tuan. Dan hasilnya... membingungkan. Gadis itu masuk ke toilet, namun tidak pernah keluar. Yang keluar dari toilet itu hanyalah seorang gadis bercadar dengan pakaian lusuh yang kemudian dijemput oleh keluarga Daneswara," jawab Kevin ragu.
Rasya menyipitkan matanya. Ia adalah laki-laki yang sangat berpengaruh, pemegang kendali di berbagai sektor teknologi dan farmasi tingkat dunia. Baginya, identitas seseorang adalah hal yang paling mudah untuk dibongkar. Tapi kali ini, sistem keamanan yang ia banggakan seolah-olah ditertawakan oleh bayangan.
"Daneswara?" gumam Rasya. "Keluarga yang sedang menunggu kepulangan Harison?"
Eliza bakalan jadi musuh lagi buat Maudi, bakalan mengira kalau Maudi merebut Rasya darinya 🤣🤣🤣🤣 padahal Rasya menyelamatkan Eliza karena Maudi 😂 ahh elahhj Elizaaaa jangan jadi kacang lupa kulit kau, atau kami piteeeessss palamu yaaa 😏
Kata Rasya si Maudi orang asing ehh kata Hans, maudi datang bersama suaminya 🤣🤣🤣🤣🤣 ucapnmu bagian dari doa yg ku aamiin kann hans 🤣🤣
Tahan napas pas Maudi lompat dari pintu Helikopter untuk misi penyelamatan Eliza, smg setelah ini Eliza tidak akan melupakan jasa Maudi yg bertaruh nyawa untuk menyelamatkan dirinya dari racun Ibu kandungnya sendiri 🙄
Seina Seina.... bisa²nyaa seorang ibu tapi tak memiliki jiwa keibuan sama sekali bahkan dengan anak yg dilahirkan dari rahimnya sendiri, benar² wanita gila yg haus dan serakah akan harta.