NovelToon NovelToon
Sumpah Badai

Sumpah Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Fantasi
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: andre kurnia

11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lanjutan

Kereta kuda kerajaan berhenti tepat di depan penginapan. Sambil memapah tubuh Yuse yang penuh darah dan terlihat sangat lemas, Cindy bergegas menuju kamar dan mengetuk pintu dengan napas terengah-engah.

“Brisa! Tolong buka! Yuse terluka parah!”

Cklek!

Pintu terbuka seketika. Begitu melihat kondisi Yuse yang tergolek lemah dan bersimbah darah, wajah Brisa seketika pucat pasi. Tanpa buang waktu sedikit pun, ia langsung berlari maju, ikut memapah tubuh Yuse bersama Cindy, lalu dengan hati-hati membaringkan pemuda itu di atas kasur.

Melihat butiran air mata yang mulai menetes di pipi Brisa karena cemas luar biasa, Yuse memaksakan diri tersenyum tipis meski rasa nyeri menjalar di seluruh dadanya.

“Aku nggak apa-apa, Brisa… Jangan menangis,” bisiknya lemah.

“Mana mungkin aku nggak panik lihat kamu sehancur begini?!” sahut Brisa dengan suara bergetar, air matanya makin deras menetes.

Yuse terkekeh pelan meski terasa sakit. “Makasih ya… udah khawatirin aku.”

Sadar bahwa luka itu harus segera diobati, Brisa buru-buru berbalik badan hendak keluar mencari bahan obat ke pasar terdekat. Tapi begitu pintu terbuka, ia melihat Cindy masih berdiri di koridor dengan wajah yang juga penuh kekhawatiran.

“Gimana… gimana keadaan Yuse di dalem?” tanya Cindy buru-buru begitu melihat Brisa keluar.

Sambil menyeka sisa air matanya, Brisa menjawab sebaik mungkin agar tidak makin menambah kegelisahan gadis itu.

“Luka dalemnya cukup parah, tapi untungnya nggak membahayakan nyawa. Dia cuma butuh perawatan dan istirahat total.”

Mendengar itu, napas Cindy keluar panjang lega. Ia menatap Brisa yang tampak terburu-buru.

“Kamu mau ke mana? Boleh aku ikut bantu?”

“Tentu aja boleh. Ayo, kita harus cepat!” jawab Brisa tanpa ragu.

Sepanjang jalan menuju pasar, suasana sempat hening. Tapi tiba-tiba Cindy menunduk dalam, pipinya perlahan memerah merona sampai ke telinga. Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia memberanikan diri bertanya:

“Emm… Brisa, kalau boleh tahu… hubungan kamu sama Yuse itu sebenarnya apa ya?”

Brisa tersentak kaget, lalu menoleh melihat wajah sang putri yang sudah merah padam karena malu dan penasaran. Melihat pemandangan itu, senyum tipis tersungging di bibir Brisa. Ia menutup mulutnya sedikit menahan tawa.

“Hubungan kami? Nggak ada apa-apa kok. Aku baru ketemu dia kemarin malam pas dia masuk ke Desa Angin. Kita emang sama-sama jalan bareng aja, nggak ada ikatan apa pun.”

Brisa makin mendekatkan wajahnya, menatap mata Cindy sambil menyeringai jahil. “Kenapa? Kamu jangan mikir yang enggak-enggak dulu lho ya…”

Wajah Cindy makin merah padam karena isinya terbaca habis. “Ah Brisaaa! Apaan sih!” serunya malu-malu sambil menutup wajah dengan kedua tangan.

Setelah semua bahan obat terkumpul, mereka kembali ke depan penginapan. Tapi hari sudah makin larut, dan Cindy sadar ia harus segera kembali.

“Aku sepertinya harus pamit sekarang,” ucapnya berat hati. “Aku harus lapor ke guru di perguruan soal kejadian tadi.”

Brisa tersenyum lembut. “Hati-hati di jalan ya, Cindy. Makasih banyak udah bantuin tadi.”

Melihat sosok Cindy menghilang di tikungan jalan, Brisa langsung masuk ke dalam. Ia buru-buru ke dapur untuk meracik ramuan obat herbal. Tak lama kemudian, ia kembali ke kamar membawa semangkuk cairan berwarna gelap yang baunya sangat menyengat.

Begitu mencium aromanya, dahi Yuse langsung berkerut. Saat mangkuk itu didekatkan ke mulutnya, ia refleks memalingkan wajah dan menolak. Rasanya pasti sangat pahit, dan dia nggak suka obat!

“Minum sekarang! Jangan manja-manja!” hardik Brisa dengan tatapan galak yang nggak bisa dibantah.

Terpaksa, dengan wajah masam, Yuse meneguk habis ramuan pahit itu sampai mulutnya berkerut-kerut menahan getir. Setelah itu Brisa dengan telaten dan lembut membersihkan sisa darah di tubuhnya, lalu membalut setiap luka dengan kain bersih. Ia membiarkan Yuse berbaring tenang supaya bisa pulih kembali.

1
broken home
semoga lebih diperbaiki kosakata dan penempatan katanya
andara
berikan saran kalian terhadap karya ini, pendapat kalian adalah kunci ku untuk terus maju agar lebih berkembang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!