Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."
Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Darah yang Berbeda
BAB 17: Darah yang Berbeda
Malam itu, hujan turun membasahi ibu kota, menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke dalam ruang makan rumah keluarga Maharani. Namun, keheningan di dalam rumah itu terasa jauh lebih membekukan. Luna Maharani berdiri mematung di dekat meja makan kayu yang lapuk, kepalanya tertunduk dalam.
Visual Luna malam itu tampak begitu layu dan melankolis. Blus sutra dusty rose yang dikenakannya sejak pagi kini tampak kusut, sewarna dengan hatinya yang telah remuk redam. Kulit kuning langsatnya yang pucat diterangi oleh pendaran lampu bohlam kuning yang temaram, mempertegas lingkaran hitam di bawah sepasang matanya yang bulat. Mata yang biasanya bening itu kini redup, dilapisi kaca-kaca air mata yang siap runtuh. Sanggul rendahnya sudah terlepas, membiarkan rambut hitamnya yang panjang tergerai kusut di bahunya yang ringkih.
Di hadapannya, Bu Rahma dan Siska duduk dengan wajah yang mengeras, menatap Luna seolah-olah gadis itu adalah seorang terdakwa yang baru saja melakukan kejahatan besar.
"Ibu... Kak Siska... Luna mohon," lirih Luna, suaranya bergetar hebat, tercekik oleh rasa sesak yang menggumpal di dadanya. Kedua tangan kuning langsatnya yang dingin saling meremas di depan perut. "Tolong izinkan Luna berhenti kerja dari perusahaan Tuan Devano. Luna... Luna tidak sanggup lagi."
Brak!
Bu Rahma menggebrak meja makan dengan sangat keras hingga cangkir teh di atasnya berdenting nyaring. Wanita paruh baya itu berdiri dengan mata yang mendelik marah, menatap Luna dengan pandangan yang penuh kebencian murni.
"Kamu bilang apa, Luna?! Berhenti kerja?!" Suara Bu Rahma melengking tinggi, membelah kesunyian malam. "Kamu sudah gila, ya?! Kamu mau melihat Ibu mati terkena serangan jantung karena dikejar-kejar penagih utang, hah?!"
"Bukan begitu, Bu... tapi Tuan Devano benar-benar membenci keluarga kita. Setiap hari di kantor, Luna hanya menjadi pelampiasan dendamnya. Harga diri Luna diinjak-injak, Bu..." air mata yang sejak tadi ditahan Luna akhirnya luruh, membasahi pipinya yang tirus.
Siska berkacak pinggang, lalu bangkit dari kursinya dengan senyuman sinis yang teramat merendahkan. Dengan gaun tidurnya yang mewah, dia melangkah mendekati Luna, menatap adiknya dari atas ke bawah dengan pandangan muak.
"Halah! Jangan sok dramatis, Luna! Cuma dihina sedikit saja langsung cengeng!" cibir Siska kejam. "Kamu pikir kamu itu siapa, hah? Anak kandung di rumah ini?! Sadar diri, Luna! Kamu itu cuma anak tiri! Ayahmu yang pecandu judi itu sudah mati, meninggalkan gunungan utang untuk kami! Kalau bukan karena kebaikan Ibu yang mau menampungmu setelah ayahmu meninggal, kamu sudah jadi gelandangan di jalanan!"
Deg.
Hantaman kata-kata Siska seolah membuka kembali luka lama yang paling berdarah di dalam batin Luna. Fakta bahwa dia tidak memiliki hubungan darah dengan wanita yang dipanggilnya 'Ibu' dan 'Kakak' itu selalu menjadi cambuk yang mengerikan. Sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu, statusnya di rumah ini berubah total menjadi tak lebih dari seorang pembantu yang berutang budi.
Bu Rahma melangkah maju, mencengkeram rahang Luna dengan jari-jarinya yang kasar, memaksa wajah melankolis gadis itu untuk mendongak menatapnya.
"Siska benar! Kamu harus tahu diri, Luna!" desis Bu Rahma dengan nada suara yang sarat akan racun intimidasi. "Ingat ya, siapa yang membiayai makanmu dari kecil? Siapa yang membayar uang sekolahmu sampai kamu bisa kuliah dan memegang ijazah itu?! Semuanya pakai uang keluarga ini! Sekarang, saat keluarga ini sedang terpuruk dan butuh uang dari Devano untuk bertahan hidup, kamu malah mau bertingkah egois dan mengundurkan diri?!"
"Tapi Luna juga manusia, Bu... Luna punya harga diri..." tangis Luna pecah, suaranya terdengar begitu pilu dan putus asa. Rahangnya terasa perih dalam cengkeraman Bu Rahma, namun hancurnya batin Luna jauh lebih menyiksa.
"Harga diri?!" Bu Rahma melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, membuat tubuh ringkih Luna agak terhuyung ke belakang. Bu Rahma tertawa sumbang, seolah mendengar lelucon paling bodoh. "Anak tiri tidak punya hak untuk bicara soal harga diri di rumah ini! Utang judi almarhum ayahmu itu miliaran, Luna! Dan Devano bersedia melunasinya hanya karena kamu bekerja di sana sebagai jaminan!"
Siska kembali menimpali, melipat tangan di dada dengan keangkuhan yang murni. "Besok, kamu harus tetap datang ke kantor Mas Devano. Dan ingat, cari tahu kenapa parfum melati yang aku titipkan kemarin belum membuat dia menghubungiku! Kalau sampai kamu berani keluar dari pekerjaan itu, aku sendiri yang akan menyeretmu keluar dari rumah ini dan membuang semua barang-barang peninggalan ayahmu ke tempat sampah!"
Bu Rahma membalikkan badannya, melangkah pergi meninggalkan ruang makan tanpa ada sedikit pun rasa iba melihat Luna yang kini kembali merosot jatuh berlutut di atas lantai yang dingin.
"Ibu tidak mau tahu, Luna. Besok pagi kamu harus tetap masuk kantor. Jika Devano sampai menghentikan aliran dana pengobatan Ibu gara-gara kamu mengundurkan diri, kamu adalah pembunuh Ibu!" ancam Bu Rahma dingin sebelum bayangannya menghilang di balik pintu kamar.
Luna bersujud di atas lantai marmer yang dingin, menyembunyikan wajah pucatnya di balik kedua telapak tangan. Isak tangisnya terdengar begitu menyayat hati di dalam kesunyian malam yang pekat. Bahunya terguncang hebat meratapi nasibnya yang begitu malang. Di kantor dia menjadi mainan pelampiasan dendam Devano yang kejam, dan di rumah... dia hanyalah seonggok budak penebus utang bagi ibu tiri dan kakak tirinya. Darah yang berbeda di dalam tubuhnya telah mengunci takdirnya untuk selalu menjadi pihak yang paling dihancurkan.