Dengan langkah lemah, Farin mencoba pulang dan meninggalkan semua kenangan tentang lelaki yang pernah menyelamatkannya. Namun baru beberapa langkah menjauh dari pematang sawah, tiba-tiba sebuah suara lirih memanggil namanya dari balik hutan.
“Farin…”
Tubuhnya seketika membeku.
Suara itu… suara yang dulu menemaninya di saat gelap, saat luka dan ketakutan hampir merenggut hidupnya. Suara Althaf.
Jantung Farin berdegup tak karuan. Dengan mata berkaca-kaca ia menoleh cepat ke arah hutan lebat di seberang sawah, berharap menemukan sosok yang selama ini terus ia cari dalam doa-doanya.
Tapi tak ada siapa-siapa.
Hanya angin, dedaunan yang bergoyang pelan, dan keheningan yang terasa begitu menyakitkan.
Air mata Farin jatuh tanpa bisa ditahan. Nama itu kembali menggema dalam hatinya, memenuhi dadanya dengan rindu yang selama ini ia kubur sendirian.
Di tengah sesak yang menghancurkan dadanya, tubuh Farin perlahan melemah. Pandangannya kabur, lututnya tak lagi mampu menopang luka dan rindu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosy_Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kakek Harun
“Kami mencarinya berhari-hari. Laut membawa segalanya… rumah, barang-barang… bahkan harapan.” Suara Bu Halimah mulai pecah oleh isak yang tertahan. “Dan saat akhirnya Nenek ditemukan… beliau sudah tak bernyawa…”
Farin memejamkan mata kuat-kuat, rasa kehilangan itu datang seperti ombak besar yang kembali menghantam dadanya, pelan, namun menghancurkan. “Nenek ditemukan terdampar di dekat pantai Panjeran,” lanjut ibunya lirih.
“Kami menguburkannya dengan doa dan segenap hati yang kami serahkan pada Allah.”
Tangis Farin pecah tanpa suara.
“Nenek pernah bilang… beliau ingin menjaga rumah sampai akhir hidupnya,” ujar ibunya sambil tersenyum getir. “Dan ternyata… rumah itulah tempat terakhir beliau berpulang.”
Farin menunduk dalam, dadanya terasa sesak oleh rindu yang tak sempat tersampaikan, namun sebelum kesedihan itu benar-benar menelannya, ibunya kembali menggenggam tangannya erat.
“Kakekmu masih ada, Nak,” ucap beliau pelan. “Tapi sejak kejadian itu, tubuhnya melemah. Sekarang beliau tinggal bersama bibimu di kota sebelah.”
Senyum kecil muncul di wajah sang ibu. “Tapi anehnya… Kakekmu selalu yakin kamu masih hidup.”
Air mata Farin kembali jatuh.
“Beliau sering menyebut namamu, terutama saat malam tiba. Dan setelah ibu mengabari bibimu kemarin… insyaAllah mereka akan datang menjenguk mu.”
Farin tak mampu berkata apa-apa lagi, hatinya terlalu penuh, terlalu banyak rasa yang bertabrakan dalam dadanya.
Duka, rindu, syukur, dan cinta keluarga yang ternyata tidak pernah hilang meski diterjang gelombang sebesar apa pun.
“Kamu tahu, Nak…” suara Ibu Halimah kembali terdengar lirih. “Yang paling menghancurkan untuk ibu dan ayahmu… bukan hanya tsunami itu.”
Beliau mengusap kepala Farin perlahan. “Tapi kehilanganmu.” Tangis beliau akhirnya pecah.
“Setelah ombak besar itu datang… ayahmu tidak pernah berhenti mencari kamu. Dari pagi sampai malam, beliau menyusuri pantai… berharap ada keajaiban yang mengembalikan putrinya.”
Farin menutup mulutnya pelan, menahan sesak yang terasa begitu dalam. “Kami pasrah… tapi tidak pernah berhenti berharap,” lanjut ibunya dengan suara gemetar. “Teman-temanmu juga ikut mencari. Aisha datang hampir setiap hari. Mereka menangis, bertanya, ikut ke posko bencana… semua ingin tahu di mana kamu.”
Air mata Farin terus mengalir tanpa bisa ditahan lagi. “Doa kami tidak pernah putus, Farin,” bisik ibunya. “Setahun inu rasanya seperti kehilangan separuh jiwa…” Beliau menggenggam wajah putrinya dengan kedua tangan gemetar. “Tapi Allah baik… sampai akhirnya kabar itu datang. Bahwa kamu ditemukan hidup… dan masih bisa memanggil ibu.”
Tangis Farin pecah, di tengah luka dan proses pemulihan itu, tumbuh rasa syukur yang begitu besar di dalam hatinya, karena ternyata… setelah semua yang terjadi, ia masih diberi kesempatan untuk pulang.
Matahari mulai meninggi, sinarnya menembus sela dedaunan dan memantul hingga membuat mata Farin terasa silau.
Ia menggenggam tangan ibunya pelan. “Ibu… ayo kita kembali ke kamar,” bisiknya lirih.
Ibunya mengangguk pelan, lalu mendorong kursi roda Farin kembali menuju ruang rawat.
Dan di sepanjang perjalanan itu, angin berembus lembut seolah ikut mengerti.
Farin memang belum sepenuhnya pulih.
Namun semangatnya mulai tumbuh perlahan, setapak demi setapak.
Begitu kursi roda itu tiba di depan kamar rawat, langkah mereka mendadak terhenti.
Dari dalam kamar terdengar suara tua yang bergetar pelan, suara yang terasa begitu familiar di hati Farin, tubuhnya membeku.
Meski pandangannya masih samar, ia mengenali suara itu, suara yang dulu meninabobokannya saat kecil. “Kakek…?” bisiknya nyaris tak terdengar.
Saat kursi rodanya melewati ambang pintu, waktu seolah melambat. Di sana duduk seorang lelaki tua dengan sorban lusuh dan tubuh yang tampak renta. Matanya memerah penuh air mata, namun sorotnya langsung bergetar saat melihat Farin. “Farin…” bisiknya lirih, seolah takut semua itu hanya mimpi.
Air mata Farin langsung jatuh. “Kakek…” suaranya pecah.
Suasana kamar mendadak penuh sesak oleh haru, tak ada satu pun yang berani menyela.
Karena momen itu terasa terlalu dalam untuk dirusak oleh kata-kata.
Kakek Harun menggigil saat tangannya menyentuh jemari cucunya. “Kamu pulang, cucuku…” suaranya bergetar hebat. “Kamu benar-benar pulang…”
Tangis pun pecah, Farin tak lagi mampu menahan dirinya, meski dunia di matanya masih buram, suara dan sentuhan itu berhasil menembus semua kabut yang menyelimuti hidupnya.
Kakek Harun mendekat perlahan, lalu merentangkan kedua tangannya, ketika Farin memeluk tubuh renta itu, semua luka di dadanya seperti runtuh begitu saja.
“Maafkan Kakek…” suara lelaki tua itu pecah oleh tangis. “Maafkan kami yang terlambat menemukanmu…”
Farin menggeleng cepat sambil menangis dalam pelukan itu, tak ada kemarahan, tak ada salah. Yang ada hanya rindu yang terlalu lama tertahan.
Di dalam pelukan kakeknya, Farin kembali merasa seperti anak kecil, dicintai, dilindungi.
Dan diterima sepenuhnya.
Pelukan itu bukan sekadar pelukan, melainkan rumah yang akhirnya kembali ia temukan setelah sekian lama tersesat.
Setelah suasana sedikit tenang, satu per satu anggota keluarga lainnya mulai mendekat.
Tante Rina memeluk Farin erat sambil menangis. “Alhamdulillah kamu kembali, Nak…”
Paman Dani menepuk bahunya pelan sebelum menariknya ke dalam pelukan singkat penuh kehangatan.
Sepupu-sepupunya bergantian memeluk Farin sambil tertawa di sela tangis. “Kita semua kangen banget sama kamu…”
Farin hanya mampu tersenyum kecil di tengah air mata yang terus jatuh.
Dan hari itu, kamar rawat sederhana itu menjadi saksi… Bahwa kehilangan bukan akhir dari segalanya, karena sejauh apa pun seseorang tersesat, cinta keluarga akan selalu menjadi tempat paling hangat untuk pulang.
Setelah suasana sedikit mencair, Kakek Harun mengambil piring kecil berisi potongan buah segar dari meja samping ranjang. Tangannya yang renta menyuapkan sepotong apel ke mulut Farin dengan penuh kasih. “Masih ingat? Ini buah kesukaan cucu Kakek,” ucapnya sambil tersenyum hangat.
Farin tersenyum kecil di sela mata yang masih sembab. “Iya, Kek… rasanya masih sama.”
Kakeknya tertawa pelan sambil mengusap kepala Farin penuh sayang, suapan demi suapan itu sederhana.
Namun bagi Farin, rasanya seperti sedang menebus seluruh rindu yang sempat hilang bertahun-tahun.
Tak lama kemudian, suasana kamar mulai dipenuhi tawa kecil. “Awas ya, Kek. Nanti Farin jadi manja terus,” goda salah satu sepupunya sambil tertawa.
Farin tersenyum malu. “Nggak apa-apa… mumpung masih di rumah sakit,” balasnya pelan.
Kakek Harun ikut tertawa. “Selama Kakek masih kuat, Kakek mau nyuapin cucu Kakek yang paling hebat ini.”
Tawa kecil kembali pecah memenuhi ruangan.