Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Kabar Bahagia Tiga Malaikat Kecil
Pagi itu, sinar matahari pagi yang hangat kembali menyinari kamar tidur mewah mereka, namun kali ini kehangatan itu sedikit terganggu oleh rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menyerang Grey. Wanita itu terbangun dengan perasaan aneh di sekujur tubuhnya, kepalanya terasa sedikit pening, dan perutnya terasa mual luar biasa. Tanpa sempat beranjak dari tempat tidur, Grey langsung menutup mulutnya dengan tangan, tubuhnya menegang sejenak, lalu rasa mual itu datang kembali lebih kuat dari sebelumnya.
"Davian…" panggilnya lirih, suaranya terdengar lemah dan tidak berdaya.
Davian yang sejak pagi sudah terjaga dan duduk di tepi tempat tidur sambil mengamati istrinya dengan tatapan penuh kasih sayang, seketika langsung berbalik dengan wajah penuh kekhawatiran. Dia melihat wajah istrinya yang pucat pasi, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, dan napasnya terlihat tersengal-sengal. Tanpa berpikir panjang, Davian langsung melompat naik ke atas kasur, berlutut di samping tubuh mungil itu.
"Sayang? Ada apa? Kau sakit di mana? Katakan padaku, Grey…" tanya Davian dengan nada panik, tangannya yang besar dan hangat langsung menyentuh dahi, pipi, dan perut istrinya, mencari tahu sumber rasa sakit itu. Jantungnya berpacu kencang, ketakutan lama kembali menghantuinya—ketakutan akan kehilangan wanita ini, ketakutan ada bahaya lain yang datang mengganggu kebahagiaan mereka.
Grey hanya bisa menggeleng pelan, kembali menahan rasa mual yang datang bergelombang. "Aku… aku mual sekali, Davian… kepalaku pusing… tubuhku terasa lemas sekali…"
Mendengar itu, Davian tidak mau menunggu lebih lama lagi. Dia tahu betapa pentingnya kesehatan Grey baginya, lebih penting daripada nyawanya sendiri. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, perlahan, dan penuh kelembutan luar biasa—seolah-olah wanita di hadapannya ini terbuat dari kaca paling rapuh yang bisa hancur hanya dengan satu sentuhan kasar—Davian memposisikan tubuh istrinya. Dia melingkarkan satu lengannya di bawah lutut Grey, dan lengannya yang lain menopang punggung serta leher wanita itu dengan sangat lembut dan aman.
Dalam satu gerakan halus, Davian mengangkat tubuh Grey ke dalam pelukannya, menggendongnya dengan gaya bridal style, memeluknya erat namun tetap sangat hati-hati. Tatapan matanya begitu penuh rasa takut dan perhatian, seolah dia berpikir jika dia sedikit saja menggunakan tenaga yang berlebihan, istrinya akan terluka atau jatuh dari pelukannya. Dia menopang tubuh itu seolah itu adalah harta paling berharga dan paling rapuh di seluruh dunia.
"Tenang saja, Sayang… aku ada di sini. Aku tidak akan membiarkanmu jatuh sedikit pun. Kita ke rumah sakit sekarang, sekarang juga," bisik Davian pelan di telinga istrinya, suaranya bergetar karena kekhawatiran yang memuncak. Dia berjalan keluar kamar dengan langkah cepat namun tetap menjaga keseimbangan agar Grey tidak terguncang sedikit pun. Di sepanjang lorong rumah yang luas itu, Davian terus menatap wajah istrinya yang bersandar lemas di dadanya, matanya tidak pernah lepas sejenak pun, tangannya mengusap lengan Grey berulang kali untuk menenangkannya sekaligus meyakinkan dirinya sendiri.
Para pelayan yang melihat tuannya berlari membawa Nyonya Argantha dengan wajah pucat dan penuh kekhawatiran langsung memberi jalan dengan cepat. Mobil sudah disiapkan di depan pintu masuk, dan Davian sendiri yang membaringkan Grey di kursi belakang, duduk di sampingnya dan membiarkan kepala istrinya bersandar di pahanya sepanjang perjalanan, tangannya menggenggam tangan mungil itu erat seolah takut wanita itu akan menghilang.
"Kuat sedikit lagi, Sayang… sebentar lagi sampai. Dokter terbaik sudah menunggu," gumam Davian berulang kali, mengecup punggung tangan Grey berkali-kali.
Perjalanan itu terasa sangat lama bagi Davian, meskipun rumah sakit itu tidak terlalu jauh. Begitu mobil berhenti di depan lobi rumah sakit yang mewah dan khusus itu, Davian kembali menggendong istrinya dengan cara yang sama—sangat hati-hati, sangat lembut, penuh perlindungan mutlak. Dia berjalan masuk ke dalam, tempat di mana dia adalah pemilik utamanya, sehingga seluruh staf dan dokter langsung bersiap menyambut mereka dengan sigap dan hormat.
Davian baru mau meletakkan tubuh Grey ke atas brankar rumah sakit setelah dokter kepala yang dia percaya sepenuhnya datang mendekat. Dia tidak mau beranjak sedikit pun dari sisi brankar itu, berjalan di sampingnya sepanjang koridor, tangannya masih tetap menggenggam tangan Grey erat, matanya penuh permohonan dan kekhawatiran yang mendalam.
"Selamatkan dia… tolong pastikan dia baik-baik saja, apa pun yang terjadi… jangan sampai ada yang salah sedikit pun," ucap Davian tegas pada dokter itu, suaranya berat dan penuh kecemasan.
"Tenang saja, Tuan Argantha. Kami akan memeriksa Nyonya Argantha dengan sebaik-baiknya, sangat teliti dan hati-hati. Mohon tunggu di luar sebentar, kami perlu melakukan pemeriksaan lengkap dan privasi selama prosedur berlangsung," jawab dokter itu hormat namun tenang, sama sekali tidak bertanya apa-apa mengenai riwayat hidup atau masalah pribadi mereka, cukup mengetahui tugasnya hanya menjaga kesehatan Nyonya Argantha.
Davian terpaksa melepaskan genggaman itu, namun dia berdiri tepat di depan pintu ruang pemeriksaan, kakinya terpaku di sana, tidak bergerak sedikit pun. Dia mondar-mandir dengan gelisah, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya, pikirannya dipenuhi segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Dia teringat kembali betapa berat masa lalu mereka, betapa banyak rasa sakit yang mereka berdua derita, betapa kerasnya hidup yang mereka lalui bersama sebelum akhirnya bisa saling memiliki. Dia takut kebahagiaan ini terlalu indah untuk menjadi nyata, dia takut Tuhan akan mengambil kembali wanita ini darinya sebagai bayaran atas segala dosa dan darah di masa lalu.
Menit-menit berlalu terasa seperti berjam-jam bagi Davian. Dia meremas kedua tangannya di belakang punggung, wajahnya tegang dan penuh kekhawatiran yang belum pernah ada sebelumnya, bahkan saat dia berhadapan dengan musuh-musuh mematikan sekalipun.
Hingga akhirnya, pintu ruangan itu terbuka perlahan. Dokter kepala keluar dengan wajah yang berubah drastis dari serius menjadi senyum lebar yang penuh kebahagiaan, diikuti oleh perawat-perawat yang juga tersenyum penuh sukacita namun tetap menjaga sikap profesional.
Davian langsung melangkah maju, tangannya mencengkeram bahu dokter itu karena panik dan tidak sabar. "Bagaimana dia? Apa yang terjadi? Apakah dia sakit parah? Katakan padaku sekarang!"
Dokter itu tertawa kecil, menepuk tangan Davian yang mencengkeram bahunya itu dengan lembut, lalu tersenyum lebar.
"Tenang, Tuan Argantha. Istri Anda tidak sakit sama sekali, beliau sehat dan kondisi tubuhnya sangat prima, bahkan jauh lebih baik dari rata-rata wanita pada umumnya. Justru… ada kabar yang sangat menggembirakan untuk Anda berdua. Kabar yang luar biasa indah dan sangat istimewa."
Davian mengerutkan kening, bingung namun hatinya mulai berdebar kencang karena firasat baik yang muncul. "Maksud Anda? Jangan bertele-tele, katakan apa hasilnya!"
"Masuklah, Tuan. Lihatlah sendiri buktinya," jawab dokter itu sambil membukakan pintu lebar-lebar.
Davian melangkah masuk dengan ragu namun penuh harap. Di atas brankar, Grey sudah duduk bersandar dengan bantuan bantal, wajahnya yang pucat kini sudah kembali berwarna cerah dan segar, matanya berbinar-binar penuh air mata bahagia yang tak tertahankan. Begitu melihat suaminya masuk, Grey langsung mengulurkan tangannya ke arah Davian dengan gemetar.
Davian langsung berlari mendekat, berlutut di samping brankar, langsung menggenggam kedua tangan istrinya, menatap wajah wanita itu lekat-lekat. "Sayang… kau tidak apa-apa? Dokter bilang kau tidak sakit… lalu kenapa kau mual dan lemas tadi? Aku hampir mati karena takut, Grey…"
Grey menangis bahagia, menggeleng pelan sambil tersenyum indah yang paling cantik yang pernah dilihat Davian. Dia mengangkat tangan suaminya dan meletakkannya di atas perutnya yang masih terlihat rata namun ada kehangatan dan kehidupan baru yang tumbuh di sana, mengusap punggung tangan besar itu dengan lembut.
"Karena ada mereka di sini, Davian…" bisik Grey dengan suara bergetar karena haru, matanya menatap lurus ke manik mata hitam suaminya seolah berbicara tentang rahasia terbesar dunia. "Dokter bilang… aku hamil, sayang… aku mengandung anak-anak kita."
Davian terpaku kaku. Matanya membelalak lebar, menatap wajah istrinya tak percaya, lalu menatap perut halus itu, lalu kembali menatap Grey. Air mata yang selama bertahun-tahun jarang keluar, bahkan saat dia terluka parah sekalipun, kini kembali menetes deras, jatuh membasahi pipi tegas dan gagahnya.
"Hamil…?" gumamnya lirih, suaranya pecah dan nyaris tak terdengar. "Anak kita? Kita akan punya anak?"
Grey mengangguk kuat-kuat, tersenyum di tengah isak tangisnya, lalu menyerahkan selembar foto hasil USG ke tangan suaminya yang gemetar hebat hingga hampir menjatuhkan kertas itu.
"Bukan satu, Davian… lihatlah foto ini… lihat baik-baik…"
Davian mengambil foto itu dengan tangan yang gemetar tak terkendali. Dia menatap gambar itu lekat-lekat, meneliti setiap garis dan bayangan di sana, dan saat itu dia melihatnya dengan jelas. Tiga titik kecil yang samar namun nyata. Tiga detak jantung yang terlihat jelas berdenyut teratur di layar. Tiga kehidupan baru yang tumbuh bersamaan, hidup dan berkembang di dalam rahim wanita yang dia cintai lebih dari nyawanya sendiri.
"Tiga…" ucap Davian nyaris berbisik, napasnya tertahan di tenggorokan, hatinya meluap dengan rasa bahagia yang tak terkira, campuran antara kaget, haru, dan rasa syukur yang meledak di dada. "Kita dikaruniai tiga kembar…?"
Dokter yang berdiri di samping mengangguk membenarkan dengan senyum bangga dan hormat, namun dia sama sekali tidak mengomentari lebih jauh, tidak bertanya mengapa pasangan ini terlihat sangat terharu seolah baru saja memenangkan seluruh isi dunia, dan tidak menyebutkan apa pun tentang masa lalu atau penderitaan mereka. Bagi dokter, itu adalah hal pribadi yang tidak perlu dia ketahui. Tugasnya selesai saat menyampaikan kabar baik dan memastikan kesehatan ibu dan anak.
"Benar sekali, Tuan Argantha. Tiga janin yang tumbuh sangat sehat, sangat kuat, dan berkembang dengan sempurna. Ini sangat jarang terjadi, dan jelas merupakan keberkahan besar bagi Anda sekeluarga. Kondisi Nyonya sangat baik dan kuat, jadi kehamilan ini pasti akan berjalan lancar," jelas dokter itu sopan, lalu memberi sedikit saran perawatan sebelum berpamitan keluar ruangan, memberi mereka waktu berdua.
Begitu pintu tertutup dan hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu, Davian dan Grey saling bertatapan dalam diam. Di mata mereka berdua, ada percikan pengertian yang mendalam, rahasia yang hanya mereka berdua yang pahami maknanya. Tanpa perlu kata-kata, mereka berdua tahu betul arti dari anugerah tiga malaikat kecil ini.
Seolah Tuhan benar-benar mendengar setiap doa yang terucap dalam tangisan, melihat setiap tetes air mata yang jatuh dalam kesendirian, dan mencatat setiap rasa sakit yang mereka telan berdua selama ini. Segala luka di masa lalu, pengkhianatan keluarga, bahaya maut, hidup dalam kegelapan, rasa sepi, dan penderitaan berat yang pernah menimpa hidup mereka berdua… semuanya seolah Tuhan kumpulkan, Tuhan hapus bersih, dan Tuhan ubah menjadi cinta yang berlipat ganda.
Dua jiwa yang dulu terluka parah, dua jiwa yang pernah hidup di ambang kematian dan kepahitan, kini disatukan oleh takdir dan dianugerahi tiga nyawa murni sebagai bukti kemenangan cinta mereka atas segalanya. Seolah Tuhan berkata: "Aku ganti setiap tetes darah kalian dengan kebahagiaan berlipat tiga kali."
Davian langsung bangkit berdiri, lalu kembali menggendong istrinya dengan cara yang sama—sangat hati-hati, sangat lembut, seolah kini tubuh istrinya menjadi sepuluh kali lebih berharga dan sepuluh kali lebih rapuh dari sebelumnya. Dia memeluk Grey seerat mungkin namun tetap sangat berhati-hati agar tidak menekan perut itu, membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu sambil menangis bahagia sejadi-jadinya, melepaskan segala beban berat yang tersisa di hatinya.
"Terima kasih… terima kasih Tuhan… terima kasih, Grey…" isak Davian dalam diam, suaranya penuh rasa syukur yang tak terhingga. "Semua rasa sakit itu terbayar lunas sekarang… bahkan jauh lebih dari itu… Kau adalah anugerah terbesarku, dan kini kau berikan aku tiga lagi anugerah tak ternilai… Aku tidak pantas mendapatkan ini, tapi Tuhan begitu baik pada kita…"
Grey memeluk leher suaminya erat, mengusap rambut hitam pria itu sambil ikut menangis bahagia, hatinya terasa penuh hingga meluap. "Lihatlah, Davian… kepahitan kita berubah menjadi kebahagiaan yang berlipat tiga kali lipat. Semua air mata itu diganti dengan senyum tiga anak kita. Semua bahaya yang dulu mengintai kini akan kita ganti dengan rasa aman yang paling lengkap. Kita lengkap sekarang, Suamiku… kita benar-benar lengkap."
Davian melepaskan pelukannya sedikit, lalu menatap wajah istrinya dengan tatapan yang begitu penuh cinta, kagum, dan perlindungan mutlak. Dia mengecup bibir Grey dengan penuh rasa hormat dan cinta yang mendalam, lalu mengecup perut halus itu berkali-kali dengan lembut, seolah berbicara langsung pada ketiga malaikat kecil mereka yang baru saja datang ke dalam hidup mereka.
"Aku berjanji pada kalian bertiga… dan pada ibumu… aku akan menjadi ayah dan suami terbaik di dunia. Aku akan menjaga kalian seumur hidupku. Aku akan membentengi rumah ini dengan ribuan pasukan agar tidak ada bahaya, tidak ada rasa sakit, dan tidak ada kegelapan yang boleh mendekat lagi. Kalian adalah bukti bahwa cinta kita mampu mengalahkan segalanya, bahkan masa lalu yang paling kelam sekalipun."
Sore itu, Davian kembali membawa Grey pulang ke rumah. Dia tetap menggendong istrinya sepanjang jalan, dari ruangan rumah sakit sampai ke dalam kamar tidur mereka yang hangat. Dia membaringkan Grey di atas kasur empuk dengan sangat lembut, menata bantal di sekelilingnya agar nyaman, dan duduk di sisi tempat tidur tidak mau beranjak, tangannya terus menggenggam tangan Grey atau mengusap perutnya dengan tatapan takjub dan bahagia yang tak pernah hilang.
Masa lalu yang penuh luka itu kini benar-benar tertutup rapat, hanya menjadi kenangan yang menguatkan mereka berdua. Rahasia berat dan kepahitan hidup mereka tetaplah milik mereka berdua saja, tidak ada orang lain yang perlu tahu, cukup mereka yang mengerti betapa mahalnya harga kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini.
Kini yang tersisa hanyalah masa depan yang cerah, penuh cinta, dan penuh keberkahan yang tak terhingga. Davian Argantha, pria yang dulu dikenal sebagai raja kegelapan yang kejam dan dingin, kini hidup hanya untuk satu tujuan: membahagiakan wanita yang dia cintai dan membesarkan tiga malaikat kecil yang menjadi penerang hidupnya selamanya.
17